
Bella kini di bantu oleh Jiko untuk mengerjakan tugas dari Brian perlahan Jiko terus menjelaskan pada Bella, cara Jiko menjelaskan sangat membuat Bella begitu paham dengan cepat. Berbeda jika Brian yang menjelaskan pada Bella sangat kasar dan selalu membuat Bella mengerjakan sesuatu dengan rasa ketakutan.
"Paman, sudah selesai." ucap Bella yang menyodorkan buku pada Jiko.
"Baiklah, Paman periksa dulu yah." ucap Jiko mengambil buku Bella.
Setelah lama memeriksa akhirnya Jiko memberi tahu Bella jika semua yang ia kerjakan sudah benar, Bella yang senang mendengarnya kini segera mengemasi bukunya. Kemudian ia dengan bahagianya mendekat pada Barbie yang sejak lama sudah tersusun rapi.
"Akhirnya kita bertemu lagi." gumam Bella sembari memeluk erat para boneka kesayangannya.
Jiko yang dari kejauhan memperhatikan Bella bermain begitu sangat bahagia hatinya juga ikut merasakan senang karena kedatangannya di rumah itu ternyata bukan tanpa alasan. Belum cukup lama Bella bermain kini tampak terdengar suara motor Brian yang mendekat ke rumahnya.
Dengan cepat gadis kecil itu segera menyimpan semua mainannya, meskipun pekerjaannya sudah selesai untuk bermain Bella tentu tidak akan semudah itu di ijinkan oleh Brian untuk bermain.
"Bagaimana, sudah selesai?" tanya Brian pada Bella yang sudah berdiri di hadapannya.
"Iya, sudah Ayah." jawab Bella.
Brian yang tampak sudah lelah hari itu memilih untuk beristirahat karena besok waktunya untuk pergi ke luar kota. Bella yang merasa legah kini tampak senang sekali karena malam ini ia tidak akan belajar dengan Ayahnya lagi.
Hari berlalu begitu sangat cepat Brian yang sudah pergi dari rumah meninggalkan tiga orang di rumahnya belum juga memberi kabar pada Kirana. Sedangkan Jiko yang sudah bekerja di sebuah perusahaan terus semakin dekat dengan Kirana.
Entah sejak kapan kedekatan mereka di mulai yang jelas semua berjalan begitu saja tanpa ada yang menyadarinya, Kirana begitu nyaman dengan perlakuan Jiko yang sering membantunya memasak dan mengajari Bella tanpa kekerasan.
Rumah itu sudah berubah menjadi hangat semenjak kepergian Brian yang ternyata tidak sebentar, Kirana yang tidak berani bertanya apa pun pada suaminya hanya menunggu kepulangannya. Sampai tiba waktunya Brian pulang dan membuat suasana rumah itu kembali seperti semula.
Beberapa bulan berjalan seperti kehidupan sebelum-sebelumnya, Brian yang masih terus keluar hingga larut malam setelah mengajari Bella tanpa menyadari jika Kirana semakin hari semakin dekat dengan Jiko.
Sampai suatu hari ketika Brian pulang kerja ia mendapati Kirana yang tengah berduaan dengan Jiko di dalam kamar. Brian yang tanpa sengaja melihat istrinya merasa sangat terbakar hatinya tubuhnya sangat ingin marah namun semua tertahan. Rasanya tidak tepat jika ia hanya mendapati Kirana untuk sekali saja, Brian ingin lebih meyakinkan dirinya.
Setiap malam Brian terus keluar seperti biasanya, dan tanpa Kirana dan Jiko sadari diam-diam Brian tengah mengintip semua yang mereka lakukan.
Sampai akhirnya Brian yang tidak bisa menahan semuanya hari itu mengajak Jiko untuk keluar bersamanya, semua terjadi di luar kendali. Brian yang dengan brutalnya terus memukuli Jiko tanpa ampun sedikit pun. Sementara Kirana yang tidak mengetahui hal itu hanya berdiam di rumah menemani Bella belajar menulis.
Sampai saat di mana Bella tertidur Brian yang pulang dengan wajah merah padamnya dan baju terlihat bercak darah membuat Kirana terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kirana yang tampak begitu ketakutan.
Di dalam fikiran wanita itu sudah bisa menduga, meskipun ia merasa tidak percaya jika suaminya mengetahui tentang perselingkuhannya dengan Jiko.
Setelah Brian cukup lama memukul Kirana, kini ia duduk di kursi biasanya ia mengajari Bella. Pria itu duduk dengan memijat-mijat kepalanya sambil meneteskan air matanya membayangkan semua pengkhianatan yang Kirana lakukan.
Saat Bella baru saja bangun ia terkejut melihat Ayahnya yang sudah duduk termenung matanya menatap ke segala arah mencari keberadaan Kirana.
"Kemari sayang." ucap Biran.
Bella yang merasa takut dengan Brian, perlahan melangkah mendekat ke Ayahnya. Belum sempat Bella mendekat Brian sudah lebih dulu memeluk tubuh mungil Bella kemudian menangis histeris. Pria itu kini hanya bisa menangis dalam pelukan putrinya. Hanya hal itu yang bisa membuat Brian legah untuk melampiaskan rasa marah dan kecewanya.
Sedangkan Bella yang masih belum berani berkata apa-apa hanya berdiri diam mematung dan mendengarkan tangisan Ayahnya. Ia masih sangat bingung dengan apa yang terjadi semuanya tidak ada terdengar sedikit pun.
Brian yang sudah merasa legah saat menangis dalam pelukan putrinya kini pergi dari rumah tanpa bicara apa pun. Bella yang baru saja di panggil oleh Kirana di kamar belakang terkejut melihat Ibunya yang sudah menangis dan wajahnya yang begitu sembab.
"Sini sayang." panggil Kirana sembari mengusap air matanya yang terus berjatuhan.
Kirana juga tidak ada berbicara apa-apa pada putrinya hanya terus menangis, dan Bella yang menyadari Pamannya tidak ada merasa penasaran. Kemana perginya pria yang selalu terlihat ada di ruang depan menunggunya untuk belajar.
Seetelah Kirana puas menangis kini ia mulai bercerita pada Bella tentang Ayahnya yang sudah memukuli Pamannya, namun Kirana masih belum mengatakan apa yang terjadi sebenarnya sampai membuat Ayahnya semarah itu.
"Sayang, Pamanmu sudah tidak pulang lagi." ucap Kirana sambil menangis.
"Memangnya kenapa, Bu?" tanya Bella.
"Ayahmu marah padanya, sayang." jawab Kirana.
Bella yang semakin penasaran hanya bisa terdiam karena melihat keadaan Ibunya yang semakin sedih jika terus menceritakan tentang Pamannya. Yah memang Bella masih sangat kecil saat itu namun usianya tidaklah sepolos fikirannya.
Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat berfikir seperti orang dewasa membuat Kirana merasa legah setelah bercerita pada Bella. Brian yang sudah datang kembali membuat Bella terkejut karena Brian yang kini sudah sibuk mengangkat ranjang dari kamar.
Ranjang yang begitu berat dengan kuatnya ia seret keluar halam rumah dan memotong-motongnya kemudian membakarnya. Tidak berhenti sampai di situ saja, ia kini kembali masuk ke rumah mengambil beberapa pakaian dan selimut yang juga ikut ia bakar.
Kirana yang melihat dari rumah hanya menangis, sedangkan Bella yang terdiam tanpa ekspresi hatinya masih bertanya-tanya apa hubungan dari tempat tidur, perkelahian antara Ayahnya dan Pamannya kemudian Ibunya yang menangis tanpa hentinya.
Jiko yang sudah tidak tahu kemana perginya kini hanya meninggalkan luka pada Pamannya yang sudah membantunya memberikan pekerjaan yang baik dan tempat tinggal yang layak untuknya. Entah bagaimana fikiran Jiko bisa setega itu pada orang yang sudah membantunya terlebih lagi dia adalah keluarganya sendiri. Meskipun tidak bisa di sangkal jika Kirana memang sangatlah cantik dan menarik di mata pria mana pun.
Bagaimana bisa ia berfikir sekotor itu melakukan hubungan pada istri dari keluarganya sendiri yang jelas-jelas sudah baik padanya.