
“Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila ingin membun*h anakmu sendiri, hah?” teriak Beren yang setengah mengancam Bella.
“Aku tidak perduli! Aku memang gila, kau mau apa?” bantah Bella pada Beren dengan wajah penuh emosinya.
“Bella, cukup! Hentikan!” bentak Beren yang menepis kasar tangan Bella hingga terus memukuli perutnya tanpa belas kasih.
Terlihat jelas wajahnya yang menangis karena rasa penuh penyesalannya. Sungguh Bella ingin sekali mengembalikan semua tentangnya.
Setelah Beren meyakinkan dirinya yang sudah tidak memiliki perasaan apa pun pada Dinar perlahan mampu meluluhkan hati Bella.
Beren bisa melihat tubuh kelelahan Bella saat ini yang begitu meluapkan emosinya. Wajahnya tampak kusam dengan air mata yang terus menetes membasahi wajahnya.
Beren yang bisa merasakan kesedihan Bella sunggu menyesal. Ia begitu sangat menyayangi Bella.
“Jangan menangis lagi, dan jangan bertingkah bodoh seperti tadi lagi. Aku mohon.” ucap Beren dengan lirihnya.
Bella yang tidak bergeming kini hanya berdiam tanpa kata. Tubuhnya yang saat ini sudah jatuh ke dalam pelukan Beren mulai terlihat luluh.
Pria itu sungguh mampu melembutkan hati kekasihnya. Ada perasaan legah di dada Beren kali ini.
Sementara Bella yang masih tidak bisa menerima kenyataan ini terus mengingat semua yang baru saja terjadi.
“Jelaskan sekarang juga apa hubunganmu dengan wanita itu?” Bella bertanya dengan penuh emosinya kembali.
“Aku sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Dia hanya wanita yang setiap hari aku kunjungi untuk menagihkan pinjaman di kantorku.” jelas Beren.
Bella menatap dalam wajah kekasihnya hingga ia lagi-lagi luluh dengan ucapan yang Beren lontarkan kali ini.
“Kau tidak berbohong?” tanya Bella lagi.
Beren tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Perlahan tangannya pun mengusap lembut kedua pipi Bella yang masih terlihat basah.
Mereka berdua pun kembali memikirkan langkah apa yang harus mereka ambil untuk hubungan keduanya kali ini.
Setiap hari Beren selalu melamun di mana saja ia berada. Fikirannya sungguh tak bisa tenang sebelum ia berbicara dengan kedua orangtuanya.
Bella yang takut jika ayahnya mengetahui hal ini sangatlah ragu untuk membuka mulut. Tak ada satu pun orang yang tahu tentang masalah yang Bella hadapi kali ini.
Segera wanita itu pun meraih ponselnya dan menghubungi Bella.
“Ada apa Ibu menghubungiku?” gumam Bella yang merasa gugup.
“Halo, Bu.” tutur Bella lembut.
“Kau baik-baik saja, Bella?” tanya Kirana dari seberang telfon itu.
“I-ya Bella baik-baik saja, Bu. Memangnya ada apa?” jawab Bella dan kembali bertanya pada ibunya.
“Em...Ibu hanya sedikit khawatir padamu. Yasudah kalau begitu jaga dirimu baik-baik yah.” tutur Kirana pada putrinya dan segera mengakhiri telfon itu.
Bella yang menutup ponsel itu merasa jika Ibunya ada filing tidak baik tentangnya. Dan itu sangat benar adanya jika filing seorang Ibu pada anaknya sungguh sangatlah kuat.
***
“Ada apa, Beren? Mengapa kau selalu melamun terus belakangan ini?” tanya Ibunya Beren.
Beren enggan menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya saja. Matanya yang bulat begitu sempurna seakan terlihat menyembunyikan sesuatu.
Lagi-lagi firasat ibu sangatlah kuat, ibunya beberapa hari ini juga ikut merasakan kegelisahan putranya yang tidak biasanya. Beren adalah anak yang begitu pendiam dan tidak dekat dengan kedua orangtuanya.
Sifatnya yang penyayang dengan keluarga namun tidak bersikap lembut selalu mampu membuat hati ibunya begitu paham.
“Apa yang harus ku lakukan saat ini? Apa aku harus bicara terus terang dengan keluargaku atau keluarga Bella terlebih dulu? gumam Beren dalam hati.
Empat bulan berlalu, usaha Bella yang mampu menutupi dirinya yang tengah berbadan dua berhasil mengikuti ujian di sekolah hingga berakhir kelulusannya.
Meskipun nilai yang begitu jatuh dari target Bella. Setiap hari Bella terus menunjukkan keanehan-keanehan pada teman-teman sekelasnya.
Mereka heran dengan porsi makan Bella yang bertambah dua kali lipat hingga Bella tak sungkan membawa bekal untuk ia makan di kelas.
Namun keadaan fisik Bella yang lemah tak membuat teman-teman hingga gurunya curiga ketika Bella selalu jatuh pingsan saat upacara bendera berlangsung.
Semua tentu tahu dengan kelemahan Bella yang sering jatuh sakit hingga di larikan ke rumah sakit dan menjalani operasi usus buntu.