Before Divorce

Before Divorce
Bab 9



...-Kenalan Lagi-...


Hari ini Shiena berangkat kuliah dengan senyum melebar di wajahnya. Seperti biasa hari ini Shandy tidak bisa mengantar Shiena ke kampusnya. Tapi pastinya, Shandy semakin was-was karena adiknya kini dekat dengan Alex.


Shandy memang berteman dengan Alex, makanya ia tahu seperti apa kehidupan Alex bersama teman-teman modelnya. Shandy hanya ingin yang terbaik untuk adik kesayangannya itu.


"Tolong ya, Wil. Gue cuma percaya sama lo. Gue gak yakin sama cowok-cowok diluaran sana termasuk si Alex." Shandy menghubungi Willy dan meminta tolong padanya.


Di sisi Willy, pria itu hanya diam mendengar permintaan Shandy.


"Bagaimana bisa takdir ternyata tetap membawaku padamu, She. Dan yang lebih membuatku bingung adalah... Orang yang membuatku tetap dekat denganmu adalah Shandy, kakakmu sendiri, She." Willy mengulas senyum lalu bergegas pergi ke kampus. Beruntung hari ini ia harus bertemu dengan dosen pembimbing, jadi momennya sangat pas untuk bisa bertemu dengan Shiena.


#


#


#


Waktu bergulir dengan cepat. Pukul tiha sore perkuliahan Shiena telah selesai. Ia berpisah dengan Anila dan Friska karena mengambil jam kuliah berbeda.


Pagi tadi Shiena menghubungi Alex dan pria itu bilang akan menjemputnya pulang kuliah. Dan kini Shiena celingukan mencari keberadaan mobil Alex yang masih belum terlihat.


"Ck, lama banget sih kak Alex! Katanya mau jemput!"


Shiena mulai kesal. Ia seakan sudah lumutan menunggu Alex di depan gerbang kampus. Shiena menghubungi ponsel Alex tapi nomornya tidak aktif.


"Ish, nyebelin banget sih! Pake acara gak aktif segala! Duh, gimana nih? Apa aku pakai taxi online saja? Tapi, aku gak pernah naik taksi. Aku malah takut nanti supirnya jahat atau gimana." Shiena bergidik ngeri.


Di saat hatinya sedang dongkol, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.


"Ehem, lagi nungguin siapa? Pacar kamu ya?"


Shiena menoleh dan melihat Willy disana.


"Bukan urusan lo!" Shiena mengotak atik ponselnya masih berusaha menghubungi Alex.


"Kamu nungguin Alex?"


Pertanyaan Willy sama sekali tidak digubris oleh Shiena.


"Alex gak ke kampus hari ini atau kemanapun."


Shiena melirik tajam kearah Willy.


"Ini kan hari rabu, biasanya selasa malam Alex berpesta dengan teman-temannya. Dan setelah itu mereka memilih buat tidur seharian karena semalaman mabuk."


Shiena mendelik mendengar pernyataan Willy.


(Apa iya kehidupan dunia hiburan kayak gitu? Berpesta semalaman dan mabuk?)


"Jadi saran saya mending kamu pulang aja. Alex gak bakalan datang."


"Tapi dia bilang bakalan datang!" Kekeuh Shiena.


"Dia gak akan datang! Percaya deh sama saya!"


"Ck, berisik banget sih lo! Sana jauh-jauh! Kenal juga gak!"


"Kalo gitu kenalin, saya Willy!" Willy dengan percaya dirinya mengulurkan tangannya kearah Shiena.


Shiena hanya bengong menatap tangan Willy.


"Ngapaen?" Tanyanya.


"Kenalan! Kamu bilang kita belum saling kenal, makanya kenalan dong!"


"Ck, gak penting!" Shiena berjalan menjauhi Willy.


Willy menarik tangannya karena Shiena tak jua menyambutnya. Meski kecewa, Willy akan menerima semua perlakuan Shiena. Perjuangannya untuk mendapatkan hati Shiena tidak akan mudah, ia tahu itu sejak awal.


Willy memutuskan untuk menuju ke parkiran dan mengambil motornya. Saat melaju melewati Shiena, Willy berhenti.


"Kamu mau ikut gak? Kampus udah sepi. Dan disini jalanannya sepi."


Shiena masih berjalan dan Willy mengikutinya. Entah akan kemana langkah Shiena ini.


"Kalo kamu gak mau ikut, saya akan pergi."


Shiena kembali mengalami dilema.


(Duh, kenapa harus dia sih yang datang? Dear semesta, apa ini? Kenapa kamu masih membuatku bertemu dengannya?)


"Ya udah, saya pergi dulu ya!" Willy akan melajukan motornya lebih cepat, tapi tiba-tiba Shiena menghentikannya.


"Tunggu!"


Shiena tertunduk malu. "Aku... Ikut!"


Willy tersenyum penuh arti. "Ayo naik!"


Dengan terpaksa, Shiena harus ikut bersama Willy. Entah apa yang sekarang Shiena rasakan pada pria ini.


Perjalanan menuju rumah Shiena terasa lambat. Begitulah pikir Shiena.


"Udah sore banget nih, bisa lebih cepet gak nyetirnya?"


Mendengar komplain dari penumpangnya, Willy langsung tancap gas hingga membuat Shiena terkejut.


"Hei, pelan-pelan dong!"


"Tadi katanya suruh ngebut, sekarang pelan. Yang bener yang mana?"


Shiena malas berdebat dengan Willy. Tak ingin terjatuh dari motor, Shiena memegangi ujung jaket Willy.


"Pegangan yang erat ya!"


Mata Shiena membola, refleks ia langsung memegangi pinggang Willy.


(Sialan! Sepertinya dia sengaja! Dasar menyebalkan! Apa sih maunya dia?)


#


#


#


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Tahun telah berganti dan Shiena juga Willy kini berada di tahun 2013. Tahun dimana mereka memutuskan untuk menjalin hubungan.


Namun sepertinya, itu tidak terjadi. Atau mungkin belum terjadi. Karena ternyata hubungan yang baru terjalin adalah milik Shiena dan Alex.


Shiena memutuskan untuk menerima perasaan Alex padanya. Kini mereka tidak canggung lagi memperlihatkan kemesraan ketika berada di kampus.


Para fans garis keras Alex agak sedikit kecewa dengan pilihan Alex yang jatuh pada Shiena.


"Padahal mah mukanya biasa aja ya!"


"Cantik sih! Tapi terlalu manja. Dan kayaknya terlalu posesif."


"Mungkin Alex deketin Shiena karena ada maunya. Ayahnya Shiena kan bos perusahaan yang bayar Alex, palingan Alex cuma manfaatin dia doang biar karirnya tetep bagus."


Begitulah segelintir komentar netizen terhadap pasangan baru Shiena-Alex. Shiena sendiri tak ingin ambil pusing dengan semua komentar miring itu. Yang terpenting hubungannya dengan Alex baik-baik saja.


Meski dalam lubuk hatinya, Shiena masih ragu apakah Alex memang jodoh baru untuknya. Dan malam ini, Shiena bermimpi sangat aneh.


Di dalam mimpinya, Shiena berada di sebuah ruangan kosong tak berpenghuni. Hanya dirinya sendirian disana.


Shiena memanggil nama ayahnya, bundanya, sang kakak. Tapi tak ada yang menyahut.


Higga Shiena melihat jika tubuh kakaknya terbujur kaku dan bersimbah darah.


(Bang Shandy?)


Shiena berlari menghampiri tubuh Shandy, tapi sejauh apapun Shiena berlari, ia tak bisa menggapai tubuh Shandy.


(Tidak!)


Shiena masih terus berlari hingga di dunia nyata keringat membasahi pelipisnya.


"TIDAAAAAKKKK!"


Shiena berteriak hingga membuat Wulan, sang ibu berlari ke kamar putrinya.


"Sayang, kamu kenapa?" Wulan membangunkan Shiena yang bermimpi buruk dalam tidurnya.


"Shiena!" Panggil Wulan.


Shiena mengerjap. Ia melihat siluet ibunya ada di depan mata.


"Bundaaaa!" Shiena terbangun dan segera memeluk sang ibu.


"Kamu kenapa, sayang?"


Shiena tak menjawab dan masih memeluk Wulan. Shiena mulai mengumpulkan kepingan puzzle yang masih belum tertata.


"Bunda, hari ini tanggal berapa?"


Wulan mengerutkan dahi. "Kenapa memangnya?"


Shiena segera mencari ponselnya dan melihat kalender disana. Mata Shiena membola.


(Itu adalah hari ini. Hari dimana Bang Shandy mengalami kecelakaan dan meninggal)


"Bun, abang dimana?"


"Abangmu lagi siap-siap mau berangkat ke kantor."


"Apa?! Naik apa, Bun?"


"Ada apa sih? Bunda gak tahu, sayang."


Shiena bergegas turun dari tempat tidur dan mencari keberadaan sang kakak.


"Abang!" Teriak Shiena. "Abang mau kemana?"


Shiena panik karena Shandy dengan memanasi motor yang akan dipakainya bekerja.


"Abang mau ke kantor lah!"


"Kok pakai motor?" Shiena ingat jika kakaknya meninggal karena kecelakaan motor.


"Udah telat banget soalnya. Kalo pake mobil gak keburu, She."


Shiena berhambur memeluk Shandy.


"Abang gak usah pergi ke kantor. Please!" Shiena memohon.


"She, abang ada meeting hari ini."


Shiena menggeleng dalam pelukan Shandy.


"Gak! Abang gak boleh pergi! Pokoknya gak boleh pergi!"


Shiena mulai menangis. Terlambat sedikit saja, Shiena tidak bisa mengubah takdir sesuai yang ia inginkan.


"Jangan pergi, Bang... Aku mohon..."


Shiena menangis terisak hingga membuat Shandy, Wulan dan Prayitno mengernyit bingung.


Berulang kali Shiena menggumamkan kata 'jangan pergi', dan akhirnya membuat Shandy tak tega hingga memutuskan untuk tetap di rumah.


Shiena tersenyum lega. Hari ini ia akan memastikan jika kakaknya akan baik-baik saja. Ini adalah kesalahannya yang membuat sang kakak terlambat ke kantor.


Semalam Shiena merengek minta diadakan pesta barbeque di taman belakang rumah. Shiena yang tidak ingat sama sekali dengan apa yang terjadi dimasa lalu hanya menikmati apa yang sedang mereka lakukan.


Tanpa Shiena sadari jika apa yang dilakukannya sama persis dengan kejadian sebelum kecelakaan Shandy. Pesta berlangsung hingga larut malam dan pagi harinya membuat Shandy terlambat bangun.


Namun semesta sepertinya masih berpihak pada Shiena. Shiena malah ingat tanggal dan hari terjadinya kecelakaan yang menimpa Shandy. Dan kini ia bisa mengubah keadaan.


Seharian ini Shiena meminta Shandy untuk menemaninya di rumah karena hari ini tak ada jadwal kuliah. Shiena terus mengembangkan senyumnya karena berhasil membuat kakaknya masih bernapas hingga kini.