
...-Misi Penyelamatan-...
Setelah berhasil menahan Shandy untuk tetap berada di rumah, Shiena merasa jika apa yang dilakukannya hari ini sudah berhasil. Siapa sangka ternyata sang bunda malah meminta tolong pada Shandy untuk diantar ke suatu tempat.
"Bang, anterin Bunda ke toko kue favorit bunda dong!"
Jelas saja apa yang dilakukan oleh Wulan membuat mata Shiena membola.
"Bunda sama Mang Pur aja deh!" sela Shiena.
Wulan mendelik tak suka dengan sikap posesif putrinya itu.
"Kamu itu lagi kenapa sih? Tadi pagi minta abangmu jangan pergi, udah diturutin. Sekarang bunda mau minta tolong abangmu juga gak boleh?" Wulan mulai kesal.
"Gak papa, Shie. Abang akan antar bunda sebentar ya!" Shandy ikut menyahut.
(Duh, gimana nih? Kalo abang pergi, kan belum tentu abang aman di luaran sana. Bisa aja kecelakaan itu masih bisa terjadi. Dan ada bunda pula. Bisa bisa aku kehilangan dua orang kalo begini)
"Aku ikut!" Seru Shiena hingga membuat Shandy dan Wulan menatap kearahnya.
"Ya udah, ayo!" Ajak Wulan.
"Aku ganti baju dulu, Bunda."
"Abang mau panasin mobilnya dulu."
#
#
#
Akhirnya Shiena, Shandy dan Wulan pergi bersama menuju ke toko kue langganan Wulan. Shiena yang duduk di depan menemani Shandy menjadi lebih tenang karena ia bisa menjaga sang kakak untuk tetap hidup.
Tiba-tiba mata Shiena tertuju pada motor yang melaju di belakang mobil mereka. Shiena merasa kenal dengan motor berpengendara pria itu.
Shiena mengamati lebih teliti lagi melalui kaca spion. Sepertinya tidak ada yang menyadari tentang motor itu karena memang jalanan sedang ramai.
(Bukankah itu motornya mas Willy? Ngapain dia ngikutin aku? Iya, aku yakin itu motor dia. Awas aja kalo dia mau macam-macam)
Setibanya di toko kue, Shandy menemani Wulan memilih kue yang akan dibeli.
"Bang, abis ini anterin bunda ke rumah tante Mala ya. Bunda ada arisan abis ini."
"Hmm, pantes aja bunda dandan cantik kayak gini."
Wulan tersipu malu. "Emangnya selama ini bunda gak cantik, Bang?"
"Cantik lah, Bun. Bahkan cantiknya melebihi gadis manapun di dunia."
Wulan tertawa mendengar gombalan putranya. "Kamu bisa aja, Bang! Coba pilihin kue mana yang mau bunda bawa ke arisan nanti."
Shiena tersenyum melihat interaksi ibu dan kakaknya. Secara tak sengaja Shiena melihat jika motor yang mengikutinya juga ikut parkir di area toko kue. Shiena bermaksud menemui si pengendara yang ia yakini adalah Willy.
"Bun, aku ke toilet dulu bentar ya!" Pamit Shiena.
"Iya, sayang."
Shiena bergegas menuju parkiran. Ia berdiri tepat di depan motor pas di saat si pengendara melepas helmnya.
"Jadi beneran lo?!" Suara Shiena terdengar ketus.
Si pengendara yang tak lain adalah Willy terkejut melihat kehadiran Shiena.
"Lo ngikutin gue?" tanya Shiena sambil melipat tangannya di depan dada.
Willy yang sudah tertangkap basah menjadi gugup. Apalagi wajah Shiena terlihat tidak bersahabat sama sekali.
"Gue tanya, lo ngikutin gue?"
"Saya... Ini gak seperti yang kamu kira."
"Oh, trus apa?"
"Saya... saya..."
"Kenapa lo ngikutin gue?"
Willy tidak mungkin bilang jika dirinya mengikuti mobil Shandy untuk memastikan jika Shandy baik-baik saja hari ini.
Ya, Willy ingat jika hari ini adalah hari kecelakaan Shandy. Karena saat itu yang menemukan Shandy saat kecelakaan adalah Willy. Bahkan Willy juga yang membawa Shandy ke rumah sakit. Hingga terucaplah sebuah janji yang meminta Willy untuk menjaga Shiena ketika Shandy sudah tiada.
Rasanya berat jika mengingat tentang peristiwa itu. Willy merasa sangat bersalah karena janji yang ia ucapkan hanya bertahan selama 10 tahun. Willy sudah menghancurkan seluruh kepercayaan Shiena padanya.
"Ayo jawab!" Suara Shiena membuyarkan lamunan Willy.
"Saya akan jelaskan semuanya!" Ucap Willy.
"Kalo gitu jelasin!"
"Saya..."
Willy selamat dari cecaran Shiena karena ponsel gadis itu berdering. Panggilan dari sang bunda.
"Iya, bunda."
"Iya, iya. Shiena kesana sekarang."
Shiena menatap tajam kearah Willy. "Gue bakal tagih janji lo buat jelasin semua ini."
Shiena berlalu dan membuat Willy bernapas lega.
"Huft! Selamat selamat! Kenapa Shiena galak banget sih? Bukannya dia manja ya? Aku baru tahu kalo dia bisa jadi singa betina juga."
Akhirnya Willy tak lagi mengikuti mobil Shandy. Karena ia tidak ingin menambah masalah dengan Shiena. Sampai detik ini Shiena masih saja bersikap tak ramah padanya.
#
#
#
Shiena dan Shandy mengantarkan Wulan ke rumah teman arisannya. Hari sudah mulai malam dan Shandy masih baik-baik saja.
Shiena bernapas lega. Ia terus mengembangkan senyumnya.
Shiena kembali ke rumah bersama Shandy dan Wulan pulang bersama Prayitno. Shiena menghampiri Shandy yang sibuk di ruang kerjanya.
"Abang!"
"Hmm."
"Terima kasih ya!" Ucap Shiena dengan mata berkaca-kaca.
"Buat apa?"
"Karena abang selalu ada untuk Shiena."
Entahlah, tiba-tiba suasana menjadi melow. Shandy bangkit dari kursi dan menghampiri Shiena.
"Hei, kamu kenapa? Kok nangis?" Shandy mengusap air mata Shiena.
Shiena menggeleng. "Gak papa, Bang. Shiena cuma seneng aja karena abang masih disini."
Shandy mengerutkan dahi tak paham. "Kamu tuh lagi kenapa sih? Dari pagi kamu tuh aneh."
Shiena memilih untuk memeluk Shandy. "Aku gak papa, Bang. Aku cuma lagi pengen manja-manjaan sama abang."
Shandy tertawa. "Ya udah, abang akan selalu manjain kamu tiap hari."
Shiena ikut tertawa.
"Nah gitu dong! Lagian tumben amat kamu cengeng, She. Kayak bukan kamu aja."
Malam ini Shiena bisa tidur dengan nyenyak. Misi penyelamatan Shandy telah berhasil. Shiena memejamkan mata sambil terus mengulas senyumnya.
#
#
#
...-Penjelasan Willy-...
Seminggu telah berlalu sejak Shiena memastikan jika Shandy baik-baik saja. Bahkan kini Shandy juga rajin bolak balik ke kampus untuk mengurus skripsinya yang belum selesai.
Shiena bisa melihat gelagat aneh pada Anila ketika bertemu dengan kakaknya.
(Jangan-jangan Anila suka sama bang Shandy?)
Shiena tersenyum dalam hati. Shiena mengajak Anila bicara empat mata tanpa adanya Friska.
"Anil, lo suka sama bang Shandy ya?"
"Hah?! Apa keliatan banget ya?" Anila malah panik karena Shiena langsung bertanya tanpa berbasa-basi.
Shiena malah tertawa. "Santai aja kali, Nil. Gue gak papa kok."
"Ha? Maksudnya?"
"Ya, gak papa kalo lo suka sama bang Shandy. Suka sama orang kan gak salah."
Anila tersenyum mendengar jawaban Shiena. "Apa abang lo udah punya cewek?"
Shiena menggeleng. "Bang Shandy mana ada waktu buat nyari cewek. Tugas dia tuh jagain gue, ngurus kantor sama skripsi. Kalo nanti lulus juga bakal sibuk di kantor ayah."
Anila tersenyum tipis. "Jadi, menurut lo apa ada kesempatan buat gue untuk deketin abang lo?"
"Heh?! Jangan, She. Gue belum siap!"
Shiena memegangi kedua bahu Anila. "Nila, kalo lo masih gak siap juga, trus kapan lo mau siapnya? Cinta gak akan datang dua kali."
"Kita masih 19 tahun, She."
"Ya kan kenalan dulu. Emang mau langsung nikah?"
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Anila setuju. Shiena tersenyum lega. Shiena malah senang jika kakaknya bisa bersama dengan sahabatnya. Menurutnya Anila adalah gadis yang baik dan cocok untuk mendampingi kakaknya.
(Tapi, kenapa aku masih gak bisa ingat siapa suami Anila di masa itu? Apa ingatanku bener-bener udah kehapus? Ada beberapa memori yang gak bisa aku ingat)
Setelah bicara dengan Anila, Shiena mencari keberadaan Willy. Beberapa hari ini Willy tak kelihatan batang hidungnya di kampus.
"Kemana sih dia? Biasanya gentayangan kayak hantu. Gue harus tahu apa alasan dia ngikutin gue waktu itu."
Shiena menuju ke parkiran dan melihat motor Willy ada disana.
"Nah, itu motornya ada. Tapi orangnya kemana?"
Shiena celingukan mencari sosok yang sudah membuatnya penasaran selama beberapa hari ini.
"Kamu nyari saya?"
Shiena berbalik badan dan melihat sosok Willy ada disana. Jantung Shiena terasa ingin meledak seketika.
Sosok Willy yang lebih muda 10 tahun membuat Shiena terpesona.
(Astaga! Ini bukan saatnya untuk deg-degan! Lo ngertiin gue dong, jantung!)
"I-iya, gue nyari lo. Kita mau ngomong dimana?" tanya Shiena sambil memalingkan wajah.
"Kamu ikut saya!"
"Heh?! Ikut kemana?"
"Ikut saja! Mau gak nih?"
Shiena berdecak kesal karena lagi-lagi Willy membuatnya tak bisa berkutik.
Shiena naik ke motor Willy dan motor pun mulai melaju meninggalkan area kampus.
"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Shiena setengah berteriak.
"Nanti kamu juga tahu!"
"Ck, pake rahasia-rahasiaan segala!"
#
#
#
Willy membawa Shiena ke sebuah perempatan jalan yang sekarang masih ramai oleh lalu lalang kendaraan bermotor.
"Ngapain kita kesini?" Tanya Shiena.
Willy menatap pembatas trotoar yang menjadi saksi bisu kecelakaan Shandy saat itu. Willy mengusap pembatas beton itu dengan mata berkaca-kaca.
"Ck, lo sebenarnya mau jelasin apa sih? Gak jelas banget deh!"
"Disinilah kakakmu meregang nyawanya saat itu..."
DEG
Jantung Shiena berdetak lebih cepat dari biasanya.
"A-apa mak-maksud lo?" Shiena membulatkan mata menatap Willy.
"She... Entah ini nyata atau gak. Tapi yang jelas, harusnya seminggu yang lalu kakakmu mengalami kecelakan dan meninggal. Tapi, ternyata takdir bisa berubah. Dia masih hidup hingga saat ini. Siapa yang sudah mengubah takdirnya, saya juga tidak tahu. Tapi saat itu, saya mengikuti mobil Shandy hanya untuk memastikan jika dia baik-baik saja."
Shiena menelan ludah mendengar penjelasan Willy. Rasanya hampir tak bisa dipercaya.
(Apa ini? Apa mas Willy juga mengalami apa yang aku alami?)
"Jangan ngaco lo! Kakak gue masih hidup karena emang takdirnya masih hidup!" ucap Shiena lantang.
Shiena berbalik badan dan siap meninggalkan Willy. Namun dengan cepat Willy mencekal lengan Shiena.
"Saya tahu kamu juga mengalami hal yang sama dengan saya. Kita kembali ke masa lalu. Masa dimana Shandy masih hidup, dan masa sebelum kita saling mengenal."
Shiena membulatkan mata.
(Gak mungkin!)
Seketika mereka terdiam dengan tatapan yang saling beradu. Sama-sama saling menyelami perasaan hati masing-masing.
"Kita diberi kesempatan untuk mengubah kisah yang tidak sempurna itu agar menjadi lebih sempurna."
Shiena menggeleng. Ia melepaskan cekalan tangan Willy.
"Gak! Ini pasti gak mungkin!"
"Mungkin saja, She. Karena nyatanya saya dan kamu kembali ke masa lalu."
Shiena terus menggeleng. "Gue gak mau ketemu sama lo! Gue gak mau berjodoh sama lo!"
Shiena melangkah pergi meninggalkan Willy yang masih mematung di tempatnya. Willy akan membiarkan Shiena mengambil waktu untuk berpikir. Pasti sangat sulit bertemu lagi dengan orang yang sudah menghancurkan hatinya.
"Maafkan aku, Shiena. Maafkan aku..."
#
#
#
...-Mengulang Masa Lalu-...
Shiena tiba di rumah dan langsung masuk ke dalam kamar lalu menguncinya. Shiena melemparkan tubuhnya keatas ranjang.
Air mata yang sedari ditahannya kini lolos juga. Entah apa yang Shiena tangisi. Yang jelas saat ini ia ingin menumpahkan segala rasa dalam hatinya.
Setelah puas menangis, Shiena menatap ponselnya. Di tatapnya kalender di ponselnya.
Februari 2013.
Shiena ingat jika hari itu Willy datang dan menawarkan cinta untuk mengobati rasa kehilangan yang dirasa saat Shandy tiada.
"Kenapa aku malah ingat hal-hal yang terus berhubungan dengannya?"
Shiena menghela napas kasar. "Apa maksud semua ini, semesta? Kenapa dia juga kembali ke masa lalu? Untuk apa dia kembali ke masa ini?"
Shiena beranjak dari ranjang dan menuju balkon kamarnya. Langit malam ini terasa indah. Bintang berkedip seakan menyapa Shiena.
"Kalian yang ada disana? Apa gak capek terus bersinar? Aku lelah. Aku capek. Aku gak mau sakit hati lagi. Tolong jangan pertemukan aku dengannya lagi..."
Di sisi lain, Willy juga mengalami kegalauan yang sama dengan Shiena. Niatnya menjelaskan pada Shiena adalah untuk membuat Shiena mengerti jika mereka mengulang masa lalu pasti ada maksud dan tujuannya.
Shiena yang ingin menjauh nyatanya terus dipertemukan dengan Willy.
"Apa yang kau inginkan, semesta? Kenapa kau mempertemukan aku lagi dengan Shiena tapi aku tidak bisa menggapainya?"
"Aku menjadi orang yang dibenci oleh Shiena! Padahal aku hanya ingin mengubah semuanya menjadi lebih baik. Kenapa rasanya sulit sekali?"
Dan malam ini ditutup dengan hati yang masih belum berlabuh pada tempat yang seharusnya.
#
#
#
Maret 2013
Shiena menjalani hari-harinya seperti biasa. Hubungannya dengan Alex juga masih baik meski sang kakak masih tidak memberikan restunya.
"Aku udah gede, Bang. Aku bisa jaga diri aku sendiri. Lagian aku sama kak Alex kan belum tentu menikah. Kami masih pacaran."
"Baguslah! Jangan menikah dengannya! Kamu bakal menyesal kalo menikah dengannya nanti," ucap Shandy pada akhirnya karena sudah terlalu kesal menghadapi keras kepalanya sang adik.
Shiena hanya menatap sang kakak dengan tatapan datar.
(Menikah? Pernikahan? Seperti apa pernikahan yang aku inginkan? Seperti apa jodoh yang aku inginkan?)
Shiena menatap foto keluarganya yang tertempel rapi di dinding.
(Dulu aku sangat menginginkan pernikahan seperti ayah dan bunda. Menginginkan pria yang baik seperti ayah. Tapi ternyata impian itu hancur. Impian itu pudar tak bersisa dengan sebuah surat yang kami tanda tangani)
Shiena menghapus air mata yang hampir terjatuh. Ia meraih ponselnya yang bergetar. Ada sebuah panggilan dari Alex.
"Ya, kak?"
"She, malam ini ada waktu gak? Aku mau ajak kamu jalan."
"Boleh, Kak. Jam berapa?"
"Jam tujuh malam."
"Oke, aku tunggu ya!"
Panggilan berakhir. Shiena menghela napas.
"Mungkin aja semesta membawa kak Alex datang untuk menjadi jodoh 'baru'ku di masa ini." Shiena tersenyum samar kemudian masuk ke dalam kamar. Ia akan bersiap untuk pergi bersama Alex malam ini.