
Shiena terdiam selama dalam perjalanan menuju rumah. Ia merasa ada yang tak beres dengan sikap Anila tadi.
Shiena memang tidak menegur Anila secara langsung. Tapi ia tahu jika gadis itu menyembunyikan sesuatu dari Shiena dan Friska.
"She!" panggilan Shandy membuat Shiena tersadar.
"Eh? Iya Bang."
"Udah sampe. Kamu ngelamunin apaan sih sampe gak sadar kalo udah sampe rumah."
"Eh?" Shiena mengedarkan pandangan matanya. Ternyata mobil Shandy sudah masuk ke halaman rumah mereka.
"Heheheh, maaf Bang." Shiena menggaruk tengkuknya.
"She, kalo ada yang mau kamu ceritain ke abang, cerita aja. Abang siap kok dengerin cerita kamu."
Shiena mengulas senyumnya. "Gak ada apa-apa kok, Bang."
"Trus soal kamu sama..."
Tanpa melanjutkan kalimatnya pun, Shiena tahu jika yang dimaksud sang kakak adalah Willy.
"Aku sama Mas Willy baik-baik aja. Kami berteman, Bang."
Shandy mengangguk paham. "Ya udah, jangan terlalu membebani pikiran kamu dengan hal-hal yang belum tentu bakal terjadi. Sskarang fokus aja ke kuliah kamu biar cepet bantuin abang di perusahaan nanti."
Shiena mengangguk.
"Willy akan keluar dari perusahaan. Dia akan bergabung dengan perusahaan ayahnya."
Shiena tersenyum lega. Itu artinya usahanya selama ini tidaklah sia-sia.
...***...
Keesokan harinya, Shiena mencari keberadaan Anila. Namun yang dicari tak ada dimanapun. Bahkan saat Shiena menghubungi nomor ponselnya, Anila juga tak menjawab panggilan darinya.
"Kemana sih dia? Apa terjadi sesuatu sama dia?" gumam Shiena.
Shiena menghubungi Friska dan bertanya padanya. Tapi ternyata Friska juga tidak tahu tentang keberadaan Anila. Friska bahkan hari ini tidak ke kampus. Mereka mengambil jadwal yang berbeda.
Tak ingin terus mencemaskan Anila, Shiena memutuskan pergi ke rumah kos Anila. Dan benar saja, Shiena berhasil menemukan sahabatnya itu.
"Shiena?" Wajah Anila terlihat pucat saat melihat kedatangan Shiena.
"Nila, lo gak kenapa-napa kan? Lo sakit?" Shiena melengos masuk ke kamar Anila.
"Gue baik-baik aja, She. Cuma sedikit lemes aja. Kecapekan mungkin. Makanya gak masuk kuliah hari ini."
"Nil, sekarang lo jujur deh sama gue. Sebenarnya ada apa sih?" Shiena mengajak Anila bicara dari hati ke hati.
Anila nampak menundukkan wajahnya. Ia tahu jika ia tidak akan bisa bersembunyi dari Shiena. Sejak dulu Shiena memang perasa, dan dia selalu peduli pada teman-temannya.
"Jangan bilang apa yang gue pikirin ini bener, Nil. Lo ... juga datang dari masa depan kayak gue...?"
Pertanyaan Shiena dijawab dengan anggukan lemah Anila.
Shiena menutup mulutnya tak percaya. "Kok bisa? Apa jangan-jangan lo juga mengalami apa yang gue alami?"
Anila tidak menjawab dengan suara, tapi hanya dengan anggukan saja.
"Hah?! Jadi..." Shiena tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Iya, She. Gue juga lagi dalam proses cerai kayak lo." Tangis Anila akhirnya pecah.
"Gue sendiri gak tau kenapa gue bisa kembali ke masa ini. Mungkin karena gue mengharapkan seseorang yang jadi jodoh gue di masa depan. Tapi impian itu sirna di masa sekarang. Makanya kami gak pernah berjodoh..." Anila menghapus bulir bening yang membasahi pipinya.
Shiena mencoba memahami posisi Anila saat ini. Dari yang Shiena lihat, apa yang dialami oleh Anila jauh lebih berat dari apa yang dialami Shiena.
Shiena mengusap lembut punggung Anila untuk membuatnya tenang.
"Makasih, She. Lo emang teman yang baik."
Shiena mengulas senyum. "Gue ambilin minum ya!"
Shiena menuju meja kecil di kamar itu dan mengambil air dari dalam drink jar.
"Kebalik, She. Harusnya gue yang nawarin lo minum." Anila terkekeh dengan sikap Shiena.
"Hahaha, gak apa-apa kali. Kan lo yang lagi sedih. Gue mah enggak! Ini minum dulu!" Shiena mengangsurkan gelas kearah Anila.
"Makasih, She." Anila mengatur napas sebelum menceritakan semuanya pada Shiena.
"Jadi, di hari kelulusan, bapak dan ibu menghubungiku kalo mereka gak bisa datang kesini. Mereka hanya bilang kalo gue harus segera pulang setelah wisuda karena ada hal penting yang ingin mereka bicarakan."
"Awalnya gue gak curiga apapun sama mereka. Tapi begitu sampe rumah, gue kaget karena gue udah dijodohin dengan anak saudagar kaya di desa gue itu. Alasannya klise, bapak gak bisa bayar hutang ke saudagar itu."
"Dan yang lebih bikin gue syok adalah, ternyata selama ini uang kuliah gue adalah hasil mengutang pada saudagar itu..."
Shiena menggenggam tangan Anila. Tangisnya kembali pecah.
"Gue gak nyangka bapak sama ibu tega bohongin gue. Kalo tahu begini harusnya gue bisa bantu-bantu mereka disini. Gue bisa kerja paruh waktu sambil kuliah."
Shiena sedikit bingung. "Tunggu bentar, kalo lo udah tau soal ini berarti..."
"Ya, She. Saat ini gue udah kerja sambilan di resto dekat sini. Gue kerja setelah pulang kampus. Makanya mungkin gue kecapekan karena gak kebiasa begini. Tapi gak apa-apa. Gue harus ngelakuin ini biar gue bisa bayar utang-utang bapak ke saudagar itu."
Anila sudah lebih tenang dan bisa sedikit tersenyum.
"Terus apa yang bikin lo mau pisah sama suami lo?"
Akhirnya pertanyaan inti yang menjadi akar masalah dicetuskan juga oleh Shiena.
"Dia ... melakukan kekerasan sama gue, She. Dia gak sebaik yang gue kenal saat pertama kali bertemu. Dia orang yang keras, dia selalu memaksakan kehendaknya."
"Yang gue ingat, gue kabur dari rumah dalam keadaan babak belur. Dari situ gue memohon sama semesta untuk mengembalikan waktu dimana gue belum ketemu sama dia. Dan ternyata besoknya, gue kebangun di rumah kos ini."
Shiena segera memeluk Anila. Mereka saling menguatkan karena sama-sama merasakan kekecewaan pada pernikahan mereka.
...***...
Sepulang dari rumah kos Anila, Shiena langsung menuju ke rumahnya. Shiena melihat Shandy sedang mengutak atik motornya di depan rumah.
"Abang ngapain?" Shiena ikut berjongkok mengikuti Shandy.
"Lagi bersihin si manis. Udah lama banget kan gak dipake. Kasihan dia. Dia itu kesayangan abang, She. Dia selalu menemani abang pas SMA dulu sampe kuliah."
Shiena mencebikkan bibirnya. "Pantes aja abang gak punya cewek, yang di elus-elus malah motor sih!" ejek Shiena.
"Wah, enak aja kamu! Abang juga mikirin soal cewek, She. Tapi abang gak mau kelamaan pacaran. Takut nanti banyak negatifnya. Jadi, abang maunya kalo udah ketemu sama yang klop, abang mau langsung nikahin aja."
Shiena tersenyum penuh makna. "Abang gak usah nyari jauh-jauh. Jodoh abang dari masa depan udah datang kok!" Shiena mengedipkan matanya.
Shandy langsung menatap adiknya penuh tanya.
"Maksud kamu?"
"Sini aku kasih tahu abang!" Shiena meminta Shandy untuk mendekatkan telinganya.
Shiena membisikkan sesuatu ke telinga Shandy. Dan hal itu sukses membuat kakaknya membelalak tak percaya.