
Davin menemani Misha di rumah sementara Devina mengantar Darrel ke rumah sakit untuk periksa. Sebenarnya Davin sudah menawarkan diri untuk mengantar Darrel ke rumah sakit, tapi ditolak oleh Devina.
Lagi dan lagi Davin adalah tersangka di mata Devina. Baru saja mereka berbaikan kini mereka harus bersitegang lagi.
Karena kelelahan, Davin ikut tertidur bersama Misha. Di saat yang sama Devina juga kembali ke rumah. Dokter bilang Darrel hanya terkena demam biasa dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Devina menghela napas melihat Davin yang sudah tertidur. Akhirnya mereka berempat tidur di ranjang yang sama karena malam ini Darrel tidak mau di tinggal di kamarnya sendiri.
Tengah malam, Devina yang merasa sesak akhirnya menendang tubuh Davin hingga terjerembab ke lantai.
"Aduh!" Suara mengaduh pun terdengar.
"Pindah sana! Disini sempit!" Gumam Devina.
Davin hanya bisa menggeleng lalu pindah ke kamar milik Darrel. Disana ia malah tertidur dengan pulas hingga terlambat bangun.
"Kenapa gak bangunin aku sih, Bun?" Kesal Davin yang memakai pakaian kerjanya dengan terburu-buru.
"Salah siapa tidur kayak kebo!" Jawab Devina santai.
Davin mendengus kesal. Tak ada gunanya berdebat.
"Lain kali tolong bangunkan aku kalo telat. Aku kan manajer baru di kantor, aku harus nunjukin kinerja yang bagus pada bawahanku!"
Devina hanya diam dan tak menjawab. Entahlah. Ia masih merasa kesal karena kejadian kemarin.
Tiba di kantor, Davin langsung di sibukkan dengan pekerjaannya. Beruntung ia belum terlambat untuk mengikuti briefing pagi yang biasa diadakan kantor cabang utama melalui video conference.
"Huft! Aku selamat!" Davin mengelus dadanya.
#
#
#
Saat jam istirahat siang, Mitha dan Sasha mengajak Davin untuk makan siang bersama di sebuah resto yang sudah di pesan oleh dua gadis tersebut.
"Umm, tapi aku gak bisa traktir kalian. Kalian tahu kan kalo aku..." Davin merasa tak enak hati dengan kedua bawahannya itu.
Pasalnya saat dulu Tony masih menjabat sebagai manajer, sering kali pria itu membelikan makan siang untuk bawahannya.
Sasha dan Mitha tersenyum kecut. "Iya, Pak. Gak apa kok. Kita bayar sendiri-sendiri aja!" Balas Sasha.
Davin balas tersenyum meski merasa tak enak hati.
"Makasih ya! Mungkin lain kali aku bakal traktir kalian kalo cabang kita berhasil mencapai laba lebih dari bulan lalu."
Senyum di wajah Sasha dan Mitha langsung mengembang.
"Makasih banyak, Pak Davin," Seru Mitha dan Sasha.
Tiba di sebuah rumah makan yang tidak terlalu mewah, Davin kembali dipertemukan dengan Wilona. Entah takdir apa yang sedang mempermainkan mereka.
"Lho, kak Davin disini juga?" Sapa Wilona.
"Hehehe, iya Wilo. Mereka berdua yang mengajakku kemari." Davin menunjuk kedua gadis yang bersamanya.
"Oh, begitu. Aku dengar ayam goreng disini cukup enak, makanya aku datang kesini. Eh gak taunya malah ketemu kak Davin. Mungkin jodoh kali ya!"
Ucapan Wilona membuat Sasha dan Mitha saling pandang. Mereka merasa kenal dengan sosok Wilona.
Wilona akhirnya pamit undur diri setelah pesanannya tiba. Wilona memang tidak memakannya di tempat melainkan ia bawa ke kampus agar tidak terlambat mengajar.
"Siapa dia, Pak? Kayaknya wajahnya gak asing," Celetuk Sasha.
"Dia Wilona. Dia adik tingkatku saat kuliah dulu," Jawab Davin.
"Hmm, gitu. Tapi kayaknya dia tertarik sama Bapak deh," Sahut Mitha.
"Ah kamu bisa saja. Kami memang cukup dekat. Tapi yaaa hanya sebatas itu saja. Gak lebih!" Davin membela dirinya sendiri. Tidak mungkin ia mengakui jika dirinya pernah menyukai Wilona. Bisa berabe urusannya jika Devina mendengar hal ini.
#
#
#
Malam harinya, Davin kembali ke rumah. Dan seperti biasa terjadi keributan dengan Devina.
"Tolong buang sampah itu! Sampahnya udah penuh itu!" Tunjuk Devina pada sekantong plastik besar sampah yang ada di rumah mereka.
"Aku mandi dulu ya, bun. Masa masih pakai jas gini suruh buang sampah sih?" Davin mencoba menawar.
"Ck, alasan saja! Kamu lihat gak nih anakmu gak mau ditinggal. Aku gak bisa kemana-mana kalo Misha belum tidur."
"Aku mandinya gak lama, bun. Tunggu sebentar ya!"
"Iiiih, sekarang! Lagian itu sampah udah bau banget! Apa hidungmu bermasalah heh?!"
"Ck, iya iya. Aku buang sekarang!" Meski masih kesal, Davin berusaha menyembunyikan perasaannya.
Usai membuang sampah, Davin malah menuju taman yang ada di dekat rumahnya. Davin duduk di kursi taman itu sambil menerawang.
"Haaaaah!" Davin menghela napas kasar.
"Wilona?" Gumam Davin. "Seandainya waktu bisa terulang, mungkin saja aku..."
Davin tak melanjutkan kalimatnya karena ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"Kau pasti sedang ada masalah hingga kau membayangkan yang tidak-tidak." Seorang kakek tua tiba-tiba muncul dan duduk disamping Davin.
"Hah?! Bagaimana kakek tahu? Apa wajahku sangat menyedihkan saat ini?"
Pertanyaan Davin membuat si kakek tua itu tertawa lepas.
"Kau yakin ingin kembali ke masa lalu?"
Davin mengernyitkan keningnya bingung. "Gak ada hal semacam itu di dunia ini, Kek. Sudahlah, aku sebaiknya pulang saja. Dan kakek, juga sebaiknya pulang saja."
Davin beranjak dari bangku taman.
"Tunggu, Nak!"
Davin berbalik. "Ada apa, Kek?"
"Berikan aku uang 5000 perak," Ucap si kakek.
Davin merogoh saku celananya. Dan ternyata uangnya pas. Ia segera menyerahkan uang itu pada si kakek tua.
"Ini, Kek! Semoga bermanfaat!" Davin kembali melangkah menuju rumahnya.
Si kakek tua itu tersenyum dan berkata, "Semoga kau bisa menggunakan waktumu dengan baik. Dan ya... Jangan pernah menyesali ini, karena itu adalah pilihanmu."
Setelahnya kakek tua itu menghilang entah kemana bak asap putih yang diterpa angin.
#
#
#
Masuk ke dalam rumah Davin kembali mendapat cecaran pertanyaan.
"Dari mana aja sih kok lama banget?"
Davin menghela napas. "Kan tadi disuruh buang sampah. Aku udah buang sampah, apa masih salah lagi?"
"Ya udah gak usah nyolot. Aku kan cuman nanya!"
Davin menggeleng. Ia memilih untuk menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Setelahnya Davin memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur. Davin tidur bersama dengan Darrel malam ini.
"Selamat malam, anak ayah..." Davin mengecup puncak kepala Darrel dengan penuh cinta.
Keesokan harinya, Davin merasa terganggu dengan gedoran di pintu kamarnya.
"Davin! Bangun!"
Suara itu sangatlah tidak asing di telinga Davin.
"Davin! Apa mau ibu dobrak pintu kamarmu ini hah?!"
Davin langsung terkesiap. "Tunggu! Itu suara Ibu? Kok bisa ibu ada di rumahku?"
Davin segera bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu.
"Astaga! Mau jadi bujang lapuk, hah? Jam segini baru bangun. Katanya ada kuliah pagi. Gimana sih?"
Davin bingung dengan kata-kata ibunya. "Kuliah? Bukannya aku udah kerja? Kok jadi kuliah?"
"Davin! Malah bengong! Cepetan mandi sono!"
Davin menutup pintu kamarnya dan melihat sekeliling.
"Ini... Bukan rumahku! Eh maksudku... Ini rumah lamaku! Rumah ibuku!"
Davin segera menuju ke meja rias. Ia mematut penampilannya di depan cermin.
"Hah?! Ini nyata? Aku kembali ke masa aku kuliah? Bagaimana mungkin?"
Meski masih sulit percaya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya, tapi Davin menjalaninya dengan senyum. Pagi ini ia pergi ke kampus dan bertemu dengan Wilona.
Davin menaiki bus yang biasa ia gunakan untuk menuju kampus, karena memang Davin adalah pria dari kalangan rakyat biasa dan bukan orang kaya.
"Hah?! Mati aku! Bukannya disini aku bertemu dengan Devina untuk pertama kali? Kalo begini aku harus menghindar."
Davin memilih turun dari bus dan menggunakan bus yang lain. Davin mengusap dadanya.
"Ya, aku mulai paham sekarang. Semesta sedang memberiku kesempatan untuk mengejar cinta yang tidak bisa kuraih di masa lalu."
"Kak! Maaf, kakak ketinggalan bus tuh!"
Karena sibuk melamun, Davin ketinggalan bus untuk ke kampus. Hingga seorang gadis berpakaian seragam SMA menepuk bahunya.
Davin menoleh dan terkejut. "Hah?! Devina? Bagaimana mungkin aku bertemu lagi dengannya? Harusnya kan dia ada di bus yang pertama tadi. Permainan takdir apa lagi ini?"