
Martha meminta supir untuk melajukan mobil lebih cepat agar lekas tiba di rumah. Tadi saat Shiena menghubunginya, Martha sedang berada di perjalanan menuju rumah usai bertugas di rumah sakit.
Martha cemas dengan kondisi kakaknya yang sepertinya akan 'berperang' dengan Shiena. Entahlah, mungkin Martha hanya khawatir berlebihan saja. Ia tetap berdoa semoga kakaknya akan baik-baik saja.
Tiba di rumah, Martha berlarian mencari sosok Willy. Saat dirinya melihat siluet Shiena ada di teras belakang, Martha ingin segera menemui mereka berdua.
Namun tangan Martha langsung dicekal oleh Litha dan Esti.
"Mama? Ibu? Lepasin! Aku harus nemuin kak Willy!"
"Jangan, Nak!" cegah Litha. "Biarkan Willy dan Shiena menyelesaikan masalah mereka sendiri."
"Tapi, Ma..."
"Yang dibilang mama kamu itu benar. Willy dan Shiena itu sudah dewasa. Mereka pasti bisa menyelesaikan permasalahan mereka sendiri." Esti ikut menyahut.
Martha akhirnya mengalah. Mereka membiarkan Willy dan Shiena bicara berdua.
Sementara itu, kesunyian masih melanda pasangan yang sedang duduk bersebelahan itu. Willy menatap Shiena lekat dari samping. Sungguh Willy tidak menyangka jika Shiena bersedia menemui dirinya.
"Apa Mas... Benar ingin meninggalkan aku?"
Akhirnya Shiena bicara. Matanya berkaca-kaca.
"Kenapa Mas selalu melakukan sesuatu tanpa membicarakannya dulu denganku? Kenapa? Apa Mas sudah menemukan penggantiku hingga ingin cepat berpisah denganku?" Suara Shiena tercekat. Ia tidak akan mampu bersuara lagi.
"Kamu salah, She. Justru kamulah yang sudah menemukan penggantiku..."
Shiena menatap Willy yang duduk di sampingnya.
"Maksud Mas?"
"Alex. Aku harap hubunganmu dengan Alex berjalan dengan lancar. Sejak dulu dia memang menyukaimu. Dan dia sangat marah saat tahu aku berniat menceraikanmu. Sekarang dia bisa memilikimu, She."
Shiena berdiri dari duduknya. "Egois sekali pemikiran kamu, Mas. Kamu bahkan gak bertanya dulu apa benar aku punya hubungan sama kak Alex atau tidak. Aku gak tahu kalo dia datang ke rumah sakit saat aku koma. Aku gak tahu selama aku koma dia mendekati ayah dan bundaku. Tapi..."
Shiena mengatur napasnya lebih dulu. Bicara dengan emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Maka Shiena mencoba untuk berkepala dingin saat bicara dengan Willy.
"Tapi aku gak pernah menerima perasaan Kak Alex. Aku sama sekali gak punya perasaan apapun padanya!" tegas Shiena.
"Ooh, begitu kah? Kalau gak punya perasaan kok bisa kamu bersentuhan fisik dengannya? Sampai-sampai kamu digendong olehnya. Mesra sekali, Shiena!"
"Mas! Cukup! Apa yang kamu lihat gak seperti yang kamu pikirkan! Kamu sendiri juga bahkan berpelukan dengan terapismu sendiri. Apa kamu juga punya hubungan dengannya?"
Shiena dan Willy saling serang dengan argumen masing-masing.
"Renata hanya temanku!" balas Willy.
"Kalau begitu kak Alex juga hanya teman bagiku! Apa kamu percaya? Kamu..."
Tiba-tiba kepala Shiena terasa berdengung. Keadaan terasa berputar-putar di matanya.
"Kamu... Keterlaluan, Mas!"
Setelahnya Shiena ambruk tak sadarkan diri. Sontak saja Willy panik dan berteriak memanggil ibunya dan Litha.
"Ibu! Tante! Tolong!" seru Willy.
...****************...
Martha memeriksa kondisi Shiena. Kini tubuh Shiena direbahkan di kamar Willy.
"Tekanan darahnya rendah sekali. Sepertinya kak Shiena datang kesini masih dalam keadaan sakit," jelas Martha.
"Eh? Benarkah?" Litha dan Esti saling pandang.
Sementara Willy menunggu di luar kamar. Ia tak enak hati pada Shiena yang ternyata sedang sakit dan memaksakan diri menemui dirinya.
"Kak!" panggil Martha.
"Masuklah! Sebaiknya kalian jangan membicarakan masalah yang berat dulu. Kak Shiena sepertinya sangat tertekan akhir-akhir ini."
Penjelasan Martha membuat Willy makin merasa bersalah. Willy menatap Esti yang sedang menemani Shiena.
"Nak, jangan menyelesaikan masalah jika hatimu masih belum tenang. Kasihan Shiena." Esti mengusap lengan putranya.
"Sekarang temani Shiena ya! Ibu akan buatkan bubur untuknya!"
Sepeninggal Esti dan Litha, Shiena nampak membuka matanya. Ia memegangi kepalanya yang masih pusing.
"Kamu sudah bangun?"
Shiena menatap Willy yang duduk disamping tempat tidur.
"Aku dimana?" tanya Shiena.
"Kamu di kamarku. Kamu pingsan tadi. Kalau masih sakit kenapa memaksakan diri buat kemari?"
Shiena menatap tajam Willy. "Kamu pikir siapa yang bikin aku kayak gini?" kesalnya.
Shiena memalingkan wajahnya. "Aku mau pulang! Percuma saja aku kesini tapi kamu gak akan percaya padaku!"
"She..."
"Aku mau pulang!"
Willy menghela napas. "Baiklah. Supir akan mengantarmu."
"Gak perlu! Aku akan naik taksi online saja!" Shiena beranjak dari rebahannya. Membenahi pakaiannya dan keluar dari kamar Willy.
Ternyata negosiasi hari ini masih tak berjalan baik.
...****************...
Malam harinya, Alex datang berkunjung ke rumah Willy. Tatapan tajam menyambut kedatangan Alex.
"Mau apa lo kesini?" tanya Willy ketus.
"Hei, bro. Santai dong! Gue kesini mau jengukin sahabat gue lah!" Alex bersikap seolah tak terjadi apapun dengannya dan Willy.
"Ck, apaan sih? Yang ada lo kesini mau ngetawain gue kan? Lo seneng kan karena gue dipecat dari kerjaan gue?"
Willy duduk di tepi tempat tidur.
"Hahaha, tau aja lo! Nih, gue kesini mau bawain uang pesangon lo!" Alex menyodorkan sebuah cek pada Willy.
"Ck, sialan lo!"
"Hei, Will. Gara-gara lo kerjaan gue jadi tambah banyak. Gue bolak balik luar kota. Makanya gue baru sempet nengokin lo!"
"Jangan ngaco! Bilang aja selama ini lo nemenin Shiena. Lo pikir gue gak tahu, hah?!"
Alex merasa tak enak hati dengan kalimat Willy.
"Will, gue minta maaf soal itu. Tapi... Lo jangan khawatir. Karena Shiena sama sekali gak terpengaruh sama semua perhatian yang gue kasih ke dia."
Willy menatap Alex. "Maksud lo?"
"Shiena tetap jadi milik lo, Will. Shiena cintanya sama lo. Usaha apapun yang gue lakuin gak akan bisa ngerubah perasaan dia ke lo. Lo harus bersyukur karena Shiena gak pernah ninggalin lo!"
Pernyataan Alex membuat Willy tertegun.
"Apa benar jika Shiena masih mencintaiku? Apa Shiena hanya setia padaku saja?" batin Willy antara senang dan cemas.
Senang karena ternyata Shiena masih mencintainya. Cemas karena dirinya sudah melayangkan gugatan cerai kepada Shiena.
"Bagaimana ini?"
...****************...
Wulan dan Prayitno saling pandang saat Shiena mengundang pengacara Molina datang ke rumah mereka. Shiena meminta Molina menyiapkan semua berkas yang diperlukan.
"Shiena, apa-apaan ini, Nak? Kamu... Kamu jadi berpisah dengan Willy?" tanya Wulan yang cemas dengan kondisi putrinya.
Shiena sedang tidak baik-baik saja saat ini. Dan dia memutuskan untuk menandatangani berkas perpisahannya dengan Willy.
"Nak, tolong gunakan kepala dingin sebelum mengambil keputusan. Jangan gegabah, Nak!" Kini Prayitno ikut membujuk Shiena.
"Kenapa? Bukankah kalian menginginkan ini? Kalian yang ingin aku berpisah dengan Mas Willy?" teriak Shiena dengan tangisan terisak.
"Shiena..." Wulan memeluk Shiena.
"Maafkan kami, Nak. Bunda mohon jangan begini! Bunda sedih kalau kamu seperti ini..." Wulan ikut terisak bersama Shiena.
"Jadi, bagaimana ini, Bu Shiena? Berkasnya saya lanjutkan atau..."
"Lanjutkan saja!"
...****************...
Keesokan harinya, Willy menghubungi Shiena karena ia mendapat kabar dari pengacaranya jika Shiena sudah menandatangani surat perceraian mereka.
Willy cemas jika dirinya benar akan berpisah dengan Shiena. Willy sadar jika dirinya salah. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Shiena.
"Halo!" Suara Shiena terdengar datar dan dingin.
"She, kamu gak serius kan soal..."
"Aku serius, Mas. Aku sudah menandatangani surat perpisahan kita."
"She, aku minta maaf. Aku akan mencabut gugatanku padamu. Aku..."
"Mas, jangan mempermainkan pernikahan! Kemarin kamu minta pisah, sekarang minta baikan. Kamu pikir hatiku sekuat apa? Kamu selalu saja begini, Mas. Kamu gak pernah memikirkan perasaanku..." Shiena kembali menangis.
"She, aku mencintaimu. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Kita perbaiki semuanya. Tolong, She..."
"Terlambat, Mas! Sampai jumpa di pengadilan!"