Before Divorce

Before Divorce
Bab 15 - Siapa yang Cemburu?



Kondisi Shiena telah sepenuhnya pulih. Kakinya juga sudah bisa digunakan untuk berjalan bahkan berlari. Ketegangan yang sempat terjadi diantara Shiena dan Shandy kini telah mencair.


Meski Shiena tidak menjelaskan alasan kenapa dirinya menolak kedatangan Willy kepada Shandy, tapi Shandy berusaha menghormati keputusan sang adik. Shandy hanya berharap Shiena akan sadar sendiri jika pria baik yang pantas mendampinginya adalah Willy.


"She, nanti pulangnya kalo abang gak bisa jemput, kamu sama Mang Pur aja ya!" ucap Shandy ketika mengantar Shiena ke kampus.


"Iya, Bang. Santai aja!" Shiena mengulas senyumnya lalu turun dari dalam mobil.


Shiena melambaikan tangan ketika mobil Shandy mulai melaju. Shiena berjalan memasuki kampus. Pastinya ia mencari keberadaan kedua sahabatnya yang biasanya berkumpul di taman kampus.


"Shienaaaa!" seru Anila.


Shiena tersenyum dan memeluk Anila.


"Lo udah baikan?" tanyanya.


"Udah. Friska mana?" Shiena celingukan mencari sosok Friska.


"Gak tau tuh! Mungkin dia telat!" Anila mengedikkan bahunya.


Tak lama Friska datang bersama seseorang yang dikenali Shiena. Friska berjalan bersama Willy menuju ke tempat Shiena dan Anila berada.


Dari kejauhan Friska tampak mengobrol ringan dengan Willy sebelum akhirnya berpisah.


(Friska sama Mas Willy? Kok bisa?)


Batin Shiena bertanya-tanya ada hubungan apa antara Willy dan Friska. Dan sejak kapan mereka dekat.


"Hai, guys. Sorry ya gue telat!" Friska menyapa Anila dan Shiena.


"Hai, lo bareng kak Willy?" tanya Anila santai.


"Iya, dia bilang masih ada yang mesti diurus. Katanya sih biar cepat lulus."


Obrolan santai antara Friska dan Anila tentang Willy membuat Shiena tak nyaman.


(Apa-apaan mereka? Sejak kapan mereka dekat dengan Mas Willy? Kok aku bisa gak tahu?)


"Ya udah yuk kita ke kelas, bentar lagi kuliah dimulai." Shiena tak ingin mendengar lebih banyak lagi obrolan tentang Willy dan memilih mengajak kedua sahabatnya pergi.


...***...


Shiena terburu-buru keluar kelas karena ingin buang air kecil. Shiena berlari kecil menuju ke toilet.


Sesudah melakukan hajatnya, Shiena keluar dari toilet dan melihat pemandangan yang tak sedap untuk matanya. Lagi lagi Friska dan Willy terlihat sedang bersama.


Seolah sengaja memperlihatkan kebersamaan mereka, dengan santainya Friska melambaikan tangan pada Shiena dan berpamitan padanya.


"She, gue pulang duluan ya!"


Bahkan Willy ikut tersenyum kearahnya sebelum pergi. Betapa kesalnya Shiena melihat tingkah mereka berdua.


Tiba di rumah, Shiena membanting tubuhnya ke ranjang.


"Dasar brengsek! Apa semua cowok di dunia ini brengsek? Baru kemarin bilang cinta sekarang udah jalan sama cewek lain. Dasar menyebalkan!"


Shiena uring-uringan sendiri dan tak bisa mengontrol diri untuk tidak mengumpati Willy dan Friska.


"Lagian si Friska mau mau aja ditipu sama cowok macam si Willy."


Kekesalan Shiena berlangsung selama beberapa hari. Hingga akhirnya Shiena memutuskan untuk menemui Willy secara langsung.


Sejak tadi Shiena menanti kedatangan Willy yang tentunya bersama Friska. Melihat mereka selalu berdua membuat Shiena mendidih tak jelas dan meracaukan kalimat umpatan.


Willy yang baru keluar dari ruang dosen langsung dihadang oleh Shiena.


"Gue mau ngomong sama lo!" ucap Shiena ketus.


"Ya udah, ngomong aja," jawab Willy santai.


"Jangan disini." Shiena celingukan melihat sekelilingnya.


"Trus dimana?"


"Kita ke taman belakang kampus!"


Willy mengangguk. Shiena berjalan di depan diikuti Willy. Pria itu nampak santai dan tanpa beban. Berbeda dengan Shiena yang terlihat seperti gunung berapi yang hampir meletus.


Tiba di taman belakang, Shiena menyilangkan tangannya berhadapan dengan Willy.


"Gue gak mau basa basi. Kenapa lo deketin Friska?" ketus Shiena.


Willy menahan tawanya. "Saya deketin Friska? Memang salahnya dimana?"


"Ya tentu aja lo salah! Baru beberapa hari yang lalu lo bilang cinta sama gue. Dan sekarang lo malah deketin sahabat gue. Brengsek banget lo jadi cowok!" kesal Shiena.


Willy tersenyum penuh arti. "Saya bilang cinta ke kamu bukan berarti saya gak bisa dekat dengan gadis lain dong! Saya pikir kamu sudah menolak saya kemarin. Jadi, wajar kalo saya mendekati gadis lain."


Shiena mengepalkan tangannya. Sejak tadi ia menahan emosinya di depan Willy.


"Ya gak bisa gitu dong! Kalo mau cari mangsa lihat-lihat dulu! Atau jangan-jangan lo sengaja ya?! Ngaku aja deh!"


"Mangsa? Saya bukan hewan buas, Shiena." Willy tertawa kecil. Rasanya menyenangkan melihat Shiena yang tampak diliputi api cemburu.


"Jadi, ceritanya kamu cemburu nih?" goda Willy dengan sengaja.


Shiena membelalakkan mata.


"Siapa yang cemburu?" seru Shiena dengan lantang.


Willy tak menjawab dan hanya menunjuk dengan dagunya. Hingga membuat wajah Shiena memerah bak kepiting rebus. Shiena pergi meninggalkan Willy tanpa sepatah kata apapun lagi.


Willy hanya diam dan menatap kepergian Shiena dengan hati yang penuh kepuasan.


"Sampai kapan kita melakukan ini, Kak?"


Friska dan Anila menghampiri Willy dan sama-sama menatap Shiena.


"Sampai dia menyadari perasaannya sendiri," balas Willy.


"Tapi kayaknya dia udah menyadarinya, Kak," timpal Anila.


"Belum. Saya tahu betul dia seperti apa."


Ucapan Willy membuat Anila dan Friska saling tatap tak mengerti.


"Kayaknya kakak sangat mengenal Shiena," selidik Friska.


"Ya, saya sangat mengenalnya..."


#


#


#


-Flashback-


Willy mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Setelah mendapat penolakan dari Shiena yang tak ingin menemuinya, otak Willy harus tetap waras bukan, meski hatinya kecewa.


Saat melewati halte bus, Willy melihat Friska dan Anila yang sedang menunggu kedatangan kendaraan umum. Willy pun menghampiri mereka berdua.


"Friska, Anila!" sapa Willy.


"Eh, Kak Willy," balas keduanya kompak.


"Bisa saya minta waktunya sebentar?"


Anila dan Friska saling tatap.


"Boleh, ada apa, Kak?" tanya Friska.


"Kita ngobrol di kafe depan sana," tunjuk Willy pada sebuah kafe tak jauh dari sana.


Mereka berdua mengangguk dan berjalan menuju ke kafe.


"Silakan kalian mau pesan apa," ucap Willy ramah sambil menyodorkan buku menu.


Sebenarnya Friska dan Anila memiliki banyak pertanyaan untuk Willy. Terutama tentang hubungannya dengan Shiena dan juga soal penolakan yang dilakukan Shiena.


"Jadi, Shiena tetep gak mau ketemu sama kakak?" Pertanyaan Friska membuat Anila menyenggol lengannya.


Willy menggeleng. "Shiena memang keras kepala. Saya tahu itu."


"Trus kenapa kakak mau ngomong apa sama kami?" Lagi-lagi Friska berani bertanya.


Willy tersenyum penuh makna. "Saya ingin minta tolong sama kalian."


"Minta tolong apa?" Kali ini Anila menyahut.


Willy menatap kedua gadis yang ada di depannya.


"Kita buat Shiena cemburu dan menyadari perasaannya."


Willy menceritakan semuanya pada kedua sahabat Shiena. Tentang pengakuan cintanya pada Shiena dan juga rencananya untuk membuat Shiena sadar dengan cinta yang dimilikinya untuk Willy.


"Gue gak bisa!" seru Anila. "Jangan gue kalo buat pura-pura dekat sama Kak Willy."


"Kenapa?" tanya Willy.


"Karena gue suka sama seseorang. Kalo orang itu tahu gue dekat sama Kak Willy, bisa-bisa gue gak bisa dapetin hati dia," jawab Anila sambil tertunduk malu.


"Oke, kalo begitu, kamu saja Friska," tunjuk Willy.


"Heh?!" Friska bingung dan melirik Anila.


Anila mengangguk. "Lo aja, Frisk. Lo gak lagi suka sama seseorang kan?"


Friska menggeleng.


"Bagus! Kita lakukan rencana kita saat Shiena sudah kembali kuliah." Willy tersenyum penuh kelegaan. Ternyata kedua sahabat Shiena bersedia menjalankan rencana bersamanya.