Before Divorce

Before Divorce
Bab 41 - Kita Harus Bicara!



Di dalam kamar rawat Anila, semua orang sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Anila yang masih syok setelah kedatangan Raffa. Dan Shiena masih bersedih karena teringat dengan mendiang Shandy dan juga masalahnya dengan Willy.


Friska yang tidak memikirkan apapun mencoba memecahkan suasana hening itu.


"Ehem! Kurasa kita harus melakukan sesuatu."


Suara Friska membuat Anila dan Shiena menatap kearahnya.


"Sesuatu apa?" sahut Shiena.


"Come on! Dari tadi kalian hanya diam. Jika kita hanya diam gimana masalah bisa selesai?"


Apa yang dikatakan Friska memang ada benarnya. Anila menghela napas.


"Nila, suami lo udah datang kesini. Lo harus selesaikan masalah lo sama dia. Gue bakal bantuin lo. Jangan takut!" Friska menggenggam tangan Anila.


"Saya juga akan bantu Anila!" Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar rawat Anila.


"Dokter Shandy?" lirih Anila.


"Maaf jika saya lancang. Tapi saya gak suka dengan sikap suami Anila yang arogan itu. Di tambah lagi dia juga ingin menyakiti Shiena. Kamu bersedia kan jika saya membantu kamu?"


Pertanyaan Dokter Shandy membuat Anila tersipu malu. Bagaimana bisa Anila menatap Dokter Shandy yang begitu mirip dengan pria yang tak pernah hengkang dari hatinya?


"Bo-boleh, dokter. Tapi saya gak mau merepotkan dokter. Apalagi kalau dokter sampai celaka gara-gara suami saya."


Friska menyenggol lengan Shiena. "Kayaknya dokter Shandy suka deh sama Anila," bisik Friska.


"Sstt! Udah jangan kebanyakan ngegosip. Kita tungguin aja keputusan Anila nantinya," balas Shiena juga dengan berbisik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga hari telah berlalu sejak kedatangan Raffa menemui Anila dan Shiena. Anila kini sedang mengajukan gugatan cerainya kepada Raffa. Dengan bantuan Friska dan Dokter Shandy, Anila bisa menyewa pengacara yang akan membuatnya lepas dari Raffa.


Friska malah rela bolak balik dari kota ke daerah asal Anila untuk mengurus perceraian Anila karena kondisi Anila yang masih dirawat di rumah sakit. Sementara Shiena juga ikut sibuk dengan merawat Anila hingga membantunya terapi dan malah mengabaikan kesehatannya sendiri.


Shiena kembali ke rumahnya dan disambut oleh kedua orang tuanya dan satu orang yang tidak ia kenali.


"Shiena, kamu sudah pulang, Nak? Duduk dulu sini!" Wulan mengajak Shiena untuk duduk di sofa ruang tamu bersama dengan tamu asing yang tak dikenalnya.


"She, kenalkan. Ini Pak Molina, dia itu pengacara terkenal. Dia yang akan menjadi pengacara perceraian kamu dengan Willy," jelas Wulan.


Mata Shiena membeliak sempurna. Bagaimana bisa mereka melakukan ini tanpa sepengetahuan Shiena.


"Bunda, Ayah! Apa yang kalian lakukan? Aku dan Mas Willy belum tentu akan..."


Kalimat Shiena terputus karena Yitno segera menyahutnya.


"Willy sudah melayangkan kembali gugatan cerainya ke kamu! Apa kamu akan tetap diam meski dia menggugatmu?"


"A-apa?! Mas Willy menggugat cerai aku? Itu tidak mungkin..."


Shiena beranjak dari duduknya. Ia ingin menuju ke kamarnya saja. Rasanya tubuh dan hatinya begitu lelah.


"Shiena! Dengarkan Bunda dulu, Nak!" Wulan mencegah kepergian Shiena.


"Bunda hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Jika memang dengan berpisah dengan Willy kamu bisa lebih bahagia, kenapa harus ditunda-tunda?"


Shiena memejamkan matanya. Kekesalannya pada sang bunda sudah di ambang batas.


"Bunda, Ayah! Aku mohon jangan melakukan apapun tanpa sepengetahuan aku! Biarkan aku bicarakan ini dulu dengan Mas Willy! Kalian bisa gak sih hargai aku?" Shiena nampak berkaca-kaca.


"Bunda tahu, Nak. Bunda hanya ingin membantu saja. Iya kan Yah?" Wulan meminta bantuan pada suaminya.


Mata Shiena mulai kabur seiring dengan obrolan yang terjadi diantara kedua orang tuanya. Hingga akhirnya...


BRUK!


"Shiena! Ayah! Shiena, Yah!" Wulan mulai panik.


"She, bangun She!" Wulan menepuk pelan pipi Shiena.


Yitno di bantu Mang Pur mengangkat tubuh Shiena menuju ke kamarnya. Dengan sigap Wulan menghubungi dokter keluarga untuk memeriksa kondisi Shiena.


"Tekanan darahnya sangat rendah. Dan sepertinya akhir-akhir ini banyak hal yang sedang Nona Shiena pikirkan. Tolong untuk keluarga jangan terlalu menekan Nona Shiena. Ini saya resepkan obat dan vitamin untuk Nona Shiena. Jika sudah tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya permisi dulu!" Dokter wanita itu memberi hormat dan berpamitan dengan Wulan dan Prayitno.


"Terima kasih, Dokter."


Sepeninggal dokter, Wulan dan Prayitno hanya diam dan saling pandang.


"Ini semua gara-gara Ayah!" Wulan mulai menyalahkan suaminya.


"Lho, kok jadi Ayah? Bukannya bunda juga yang maksa Ayah buat menghubungi Pak Molina?"


"Bisa diam tidak?" Tiba-tiba terdengar suara dari arah tempat tidur. Shiena sudah mulai siuman dan membuka matanya.


"Shiena? Kamu sudah bangun, Nak?" Wulan langsung duduk disamping Shiena.


"Tolong kalian keluar! Aku ingin istirahat!" tegas Shiena dengan suara lirih.


Prayitno melirik istrinya dan memintanya keluar dan meninggalkan Shiena sendiri di kamar.


"Kalau butuh sesuatu panggil Bunda ya, Nak!" pesan Wulan sebelum keluar.


Shiena menatap kepergian kedua orang tuanya hingga pintu kamarnya tertutup rapat. Setelahnya barulah tangis Shiena pecah. Entah kenapa hatinya begitu sakit setelah mendengar jika Willy berniat ingin berpisah darinya.


"Apa benar kamu ingin kita berpisah, Mas? Tapi kenapa?"


Shiena menangisi nasibnya sendiri hingga lelah dan tertidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kondisi Shiena sudah lebih membaik. Ia memutuskan untuk menemui Willy dan bicara dengannya. Benar apa kata Friska. Masalah tidak akan selesai jika kita hanya berdiam diri saja. Meski Friska belum menikah, tapi ternyata sahabat Shiena yang satu itu memiliki pandangan yang luas mengenai sebuah hubungan.


"Kamu mau kemana, She? Kamu kan baru aja sembuh." Wulan lagi lagi menghentikan langkah Shiena.


"Aku harus bertemu Mas Willy, Bunda. Tolong jangan halangi aku! Apapun keputusannya nanti, aku harap Bunda dan Ayah mau menghargainya!"


Kalimat Shiena tak lagi bisa dibantah oleh Wulan.


"Ya sudah. Kamu pergi diantar Mang Pur kan?"


Shiena menggeleng. "Aku udah pesen taksi online, Bun. Aku pergi dulu!"


Sebelum pergi, Shiena menghubungi Martha dan bertanya apakah Willy ada di rumah atau tidak. Ternyata benar, Willy ada di rumah. Kondisi yang belum sepenuhnya pulih membuat Willy harus lebih banyak istirahat di rumah.


Tiba di rumah kediaman Pramudya, Shiena menekan bel di pintu. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk Shiena.


"Apa Mas Willy ada?" tanya Shiena.


"Ada, Non. Den Willy ada di teras belakang. Non masuk saja ke dalam!"


Shiena mengangguk. Langkahnya mulai memelan ketika melihat sosok yang dicarinya sedang duduk membelakangi dirinya. Tampaknya Willy sedang menikmati suasana sore hari di rumah ini.


"Mas!"


Suara Shiena membuat Willy menoleh. Tentu saja Willy terkejut melihat kehadiran Shiena di rumahnya.


"Shiena?"


Willy memakai tongkat untuk menghampiri Shiena.


"Kita harus bicara, Mas!" Suara tegas Shiena membuat Willy tahu kemana arah pembicaraan yang akan mereka bicarakan.