
Davin tidak bisa fokus bekerja setelah mengetahui jika dirinya bertemu lagi dengan Devina. Davin tak menyangka jika Devina akan kembali hadir dalam kehidupannya.
"Astaga!" Davin mengusap wajahnya kasar.
"Pertanda apa ini? Kenapa aku...malah bertemu lagi dengan Devina disaat aku sudah menikah dengan Wilona?"
Davin mengamati Devina yang sedang belajar tentang pekerjaannya bersama Romi dari ruangannya. Mereka terlihat akrab dan saling bercanda gurau.
"Ck, si Romi keganjenan banget sih? Ngapain dia deket-deket sama Devina!" Davin menggerutu kesal sambil mengepalkan tangan.
Satu hari telah berlalu. Jam pulang kantor pun telah tiba. Davin sengaja mengikuti langkah Devina untuk pulang ke rumahnya. Davin ingin tahu seperti apa kehidupan Devina yang tanpa dirinya.
Di usia Devina sekarang, seharusnya ia sudah memiliki satu anak jika menikah dengan Davin. Namun ternyata Devina berhasil mengejar impiannya hingga ke universitas dan mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus di perusahaan yang sama dengan Davin.
"Ibuuuuuu!" sapa Devina riang ketika tiba di rumah.
Davin melihat dari kejauhan sosok ibu mertuanya di masa yang lalu.
"Kamu udah pulang? Gimana hari pertama kerja?"
"Umm, menyenangkan, Bu. Teman-teman kantornya juga baik dan ramah."
"Hmm, apa ada yang menarik perhatian kamu?"
"Ish, Ibu! Masa nanyanya gitu? Udah yok kita masuk dulu! Ceritanya di dalam aja!" Devina mendorong tubuh ibunya memasuki rumah.
Davin tersenyum melihat kehidupan Devina yang jauh lebih baik ketimbang dulu.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku jadi gak merasa bersalah karena sudah mengubah takdir kita."
#
#
#
Keesokan harinya, Davin kembali bertemu dengan Devina. Ternyata gadis itu sedang menunggu bus di depan gang rumahnya.
Davin yang melihat Devina berinisiatif untuk memberinya tumpangan. Namun ketika mobilnya hendak berhenti, tiba-tiba saja muncul motor dari arah belakangnya dan langsung berhenti tepat di depan Devina.
"Hai, Dev. Bareng yuk!"
Devina nampak memindai penampilan si pengendara motor.
"Ini aku, Dev. Romi."
"Eh? Kak Romi?" Devina tersenyum senang.
"Ayo bareng aja! Dari pada kamu telat karena nungguin bus."
Devina melirik jam tangannya. "Oke deh!"
Romi menyodorkan sebuah helm untuk Devina.
"Widih, sampe nyediain helm segala. Jangan-jangan Kak Romi emang sengaja sediain helm buat pacar nih!"
Romi malah tertawa. "Aku gak punya pacar, Dev. Ayo naik!"
Dengan senang hati, Devina membonceng Romi hingga tiba di kantor. Sementara Davin, menggeram kesal karena niat untuk mendekati Devina gagal ulah Romi, sahabatnya. Namun di masa ini, Romi hanyalah salah satu anak buah Davin saja dan bukanlah sahabat.
Tiba di kantor, beberapa karyawan sempat menggoda Devina dan Romi yang datang bersamaan.
"Gak kok! Tadi dijalan gak sengaja ketemu kak Romi. Beneran!" Devina menjelaskan dengan gamblang. Ia tak mau di cap sebagai gadis genit yang menggoda para karyawan pria.
#
#
#
Sore harinya ketika jam pulang kantor...
"Ehem!" Davin berdeham di belakang Devina yang akan memasuki lift karyawan.
"Pak Davin! Silakan, Pak!" Devina menyapa Davin ramah.
"Terima kasih. Kamu ... mau pulang?"
Devina tertawa kecil. Tawa yang begitu manis dan jarang dilihat oleh Davin setelah mereka menikah dulu.
"Ya iyalah, Pak. Emang mau kemana? Ini kan udah waktunya jam pulang."
Davin menggaruk tengkuknya canggung.
"Kamu... Pulang sama siapa?"
Devina dan Davin memasuki lift yang sama. Kebetulan karyawan lain sudah pulang dan tersisa Devina saja yang memang baru selesai menuntaskan pekerjaan.
"Apa kamu gak takut naik bus sendirian?"
Devina kembali tertawa kecil. "Saya kan udah besar, Pak. Masa iya gak berani!"
Davin kembali kalah telak. Dan ketika Devina keluar dari lift dan berpamitan, Davin hanya menatap punggung Devina yang kian menjauh.
Tak mau kehilangan jejak Devina, Davin pun mengikuti Devina seperti kemarin. Ia menguntit Devina hingga tiba di rumahnya. Namun sepertinya kali ini Davin salah langkah, karena Devina mengetahui apa yang dilakukan Davin.
"Bapak ngikutin saya?"
Pertanyaan Devina membuat Davin tak bisa lagi berkutik. Davin hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Hmm, saya hanya kebetulan saja lewat sini." Davin segera berbalik badan dan meninggalkan Devina.
"Ck, dasar bos yang aneh!"
#
#
#
Satu bulan telah berlalu. Devina masih bersikap biasa terhadap sikap Davin yang kadang terlalu berlebihan terhadapnya. Bagi Devina, sikap Davin tak ayal hanyalah sikap bos yang berusaha 'baik' terhadap karyawannya.
Hingga akhirnya ketika Romi menyatakan perasaan terhadap Devina, gadis itu malah bimbang. Devina meminta waktu agar bisa berpikir dengan jernih.
Malam ini Devina duduk di depan teras rumahnya dan memikirkan kata-kata Romi tadi. Mereka memang baru mengenal selama satu bulan. Dan itu bukanlah waktu yang lama.
Devina masih terlalu muda untuk memikirkan hal yang berhubungan dengan pernikahan. Apalagi... Devina sadar jika dirinya mengulang waktu.
Devina memejamkan mata. Ia mengingat beberapa tahun lalu ketika dirinya bertemu dengan Davin. Devina ingat jika saat itu harusnya dirinya dan Davin bisa bersatu dan memperbaiki semuanya.
Bukankah itu tujuannya ketika mengulang waktu? Pernikahan mereka tidak berjalan dengan baik dan akhirnya mereka kembali ke masa dimana mereka belum saling mengenal.
Namun kenyataannya berbeda. Setelah pertemuan hari itu, Devina tak lagi mendapati Davin di matanya. Sosok Davin seakan menghilang dari kehidupannya.
Tentu saja Devina melanjutkan hidupnya. Ia bertekad ingin mengejar cita-citanya dan masuk ke universitas favoritnya.
Hingga akhirnya mereka kembali dipertemukan ketika Davin sudah menikah dan kini menjadi bosnya di kantor.
"Mas Davin..." gumam Devina.
"Jika kamu memang ingin mengubah takdir kita dengan menikahi Wilona, maka... Aku juga akan mengubah takdirku. Aku akan menerima perasaan kak Romi."
#
#
#
"Sayang... Gimana kerjaan kamu? Maaf ya akhir-akhir ini aku sibuk banget."
Wilona menyapa Davin yang sudah duduk di meja makan dan akan menyantap sarapannya. Kedua tangannya ia lingkarkan ke leher Davin, lalu mencium pipi Davin.
"Duduklah dan kita sarapan bersama."
Wilona menolak. Ia malah terus menciumi pipi Davin hingga ke leher dan sesekali mengecup bibir Davin.
"Wilo, kita akan berangkat bekerja, kamu jangan aneh-aneh deh!"
"Kita sarapan yang lain dulu yuk!" Wilona menarik tangan Davin lalu membawanya ke kamar.
"Wilo, kamu..."
Davin tidak bisa melanjutkan protesnya karena Wilona membungkamnya dengan bibir tipisnya. Tangan Wilona bergerilya melepas satu persatu kancing jas yang sudah melekat rapi di tubuh Davin.
"Wilo, No! Kita akan terlambat!" Davin memegangi tangan Wilona.
"Terlambat sedikit tidak apa kan?"
Wilona kembali melanjutkan aksinya. Ia bahkan mendorong tubuh Davin ke tempat tidur. Akhir-akhir ini mereka sangat sibuk bekerja dan jarang melakukan hubungan intim layaknya pasangan yang lain.
Ketika tubuh Davin sudah setengah polos, ia segera membalik posisi hingga Wilona yang kini berada di bawahnya.
"Kamu akan menyesal karena sudah membangunkan singa yang tertidur, Wilo."
Wilona menyeringai. Inilah yang ia suka dari Davin. Pria itu bisa seketika bergairah meski hanya dipancing sedikit.
"Akh, Kak Davin!" Wilona menjerit ketika Davin membuka rok span miliknya dengan kasar.