
Shiena akhirnya tersadar dari lamunannya karena si perawat menegurnya. Shiena masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Mana mungkin ada orang dengan nama yang sama dan juga wajah yang hampir sama?" batin Shiena.
"Nona Shiena, dokter Shandy akan memeriksa kondisi pasien."
Ucapan perawat membuat Shiena kembali sadar jika dirinya harus menyingkir dari samping brankar Anila karena dokter Shandy akan melakukan pemeriksaan.
"Ah iya. Maaf ya dokter." Shiena menundukkan kepala tak enak hati.
"Tidak apa. Saya justru senang karena melihat pasien memiliki orang yang sangat menyayanginya."
"Bahkan suaranya pun hampir mirip. Ya Tuhan, apa lagi ini? Apakah semesta memang mengirim dokter Shandy sebagai pengganti bang Shandy?"
Dokter Shandy segera mendekati brankar Anila. Dokter Shandy mengamati kondisi Anila dari jarak yang cukup dekat.
"Dia...? Kenapa rasanya tidak asing?" batin dokter Shandy.
Di saat perawat menjelaskan kondisi Anila kepadanya, Shandy malah tertegun dengan perasaan yang berkecamuk. Sementara Shiena malah tetap mengamati dokter Shandy dengan air mata yang tergenang di pelupuk matanya.
"Bang Shandy... Aku sangat merindukanmu, Bang. Apakah kamu mengirim dokter ini sebagai penggantimu yang akan menjaga Anila?"
Selesai memeriksa kondisi Anila, dokter Shandy keluar dari kamar itu. Namun langkahnya terhenti saat Shiena memanggilnya.
Alex yang ads disana pun cukup terkejut ketika melihat dokter Shandy yang mirip dengan teman lamanya yang telah tiada.
"Tunggu, dokter!" Shiena menghampiri Shandy dengan langkah tertatih. Ketika Alex menawarkan bantuan, Shiena menolak. Ia ingin meraih pria yang mirip dengan abangnya dengan usahanya sendiri.
"Ma-maaf dokter jika saya lancang. Bo-bolehkah sa-saya memegang wajah dokter? Dokter sangat mirip dengan mendiang kakak saya," ucap Shiena dengan terbata.
Dokter Shandy cukup terkejut dengan permintaan Shiena. Namun karena melihat raut kesedihan di wajah Shiena, dokter Shandy pun mengangguk.
"Iya, boleh kok."
Dengan tangan yang gemetar Shiena menyentuh wajah dokter Shandy. Air matanya lolos begitu saja sambil membayangkan dirinya benar-benar bertemu dengan kakaknya.
"Ya ampun, apa-apaan sih nih cewek? Udah ada cowok nya yang nungguin juga! Pake tebar pesona sama dokter Shandy juga. Dasar perempuan gatel!" batin perawat yang mendampingi dokter Shandy.
Shiena menangis sesenggukan di hadapan dokter Shandy. Karena tak tega melihat kondisi Shiena yang makin bersedih, dokter Shandy meminta Alex untuk membawa Shiena ke kamar rawat nya sendiri.
"Tolong antar pasien ke kamarnya lagi, Tuan. Dia juga butuh istirahat."
Tanpa bisa menolak, Shiena duduk di kursi roda yang sudah disiapkan Alex. Alex pun berpamitan dan pergi dari sana.
Tiba di kamar Shiena, wanita itu terus terdiam. Air matanya sudah ia hapus karena tak ingin membuat Wulan khawatir.
"Gimana kondisi Anila? Apa sudah ada perubahan?" tanya Wulan.
"Belum, Bun," jawab Shiena.
Wulan menatap Alex. "Ya sudah, bunda tinggal dulu ya. Mau beli sesuatu untuk makan siang. Nak Alex, jangan sungkan ya!" Wulan menepuk pelan lengan Alex. Rasanya Wulan sangat senang jika memiliki menantu seperti Alex.
Bukan tanpa alasan Wulan lebih membela Alex dari pada Willy. Karena sebenarnya Willy sudah sangat baik dan pantas menjadi pengganti Shandy, putranya. Namun karena pernikahan mereka kini sedang di ujung tanduk, Wulan merasa jika Willy tidak tulus mencintai Shiena. Willy hanya merasa bertanggung jawab untuk menjaga Shiena saja tapi tidak mencintainya.
Wulan membiarkan Shiena bersama Alex agar putrinya bisa membuka hati untuk pria lain dan memilih untuk melanjutkan perceraiannya dengan Willy.
Alex mendekati brankar Shiena. Shiena masih diam membisu dengan menundukkan kepala.
"She, kamu pasti teringat dengan kakakmu ya? Aku sendiri juga kaget saat melihat dokter itu. Kenapa dia bisa sangat mirip dengan Shandy?"
Shiena akhirnya membuka diri untuk bercerita pada Alex. Rasanya cukup melelahkan jika menyimpan hal ini sendirian. Ingin bercerita pada Willy, tapi pria itu bahkan tak kelihatan batang hidungnya.
Alex tersenyum dan mencoba mendengarkan cerita Shiena. Alex senang karena Shiena sudah mau membuka diri terhadap dirinya.
"Dan setelah melihat dokter itu... Aku merasa jika apa yang aku alami itu nyata, bukan mimpi!" Shiena menatap Alex dengan mata berkaca-kaca. Shiena kembali terbawa suasana.
"She... Apapun yang kamu lakukan di alam bawah sadarmu, biasanya adalah karena itu keinginanmu yang belum tercapai di dunia nyata. Jadi, mungkin saja kamu hanya menghubungkannya. Dan kebetulan saja wajah dan nama dokter itu mirip dengan mendiang Shandy."
Shiena menggeleng kuat. "Gak, kak! Semua yang terjadi bukanlah kebetulan. Tapi sebuah rencana semesta yang memang menjadi takdir kita."
Alex tak ingin berdebat dengan Shiena. "Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja ya! Kamu pasti lelah setelah terapi tadi." Alex membantu Shiena berbaring.
"Kak... Kenapa kakak datang? Bukankah kakak tahu jika aku masih menjadi istri mas Willy? Kenapa kakak melakukan ini?" Ternyata pikiran Shiena masih tidak tenang memikirkan banyaknya hal yang sudah terjadi selama dia koma.
Alex menghela napas. "She, tolong jangan memikirkan soal itu. Ya? Sekarang kamu istirahat saja, biar kamu cepat pulih. Memangnya kamu gak bosan ada di rumah sakit selama enam bulan?" Alex mencoba bergurau dengan Shiena.
"Aku baru seminggu disini, kak!" jawab Shiena tak mau kalah.
"Hahahah, iya deh iya. Kamu baru melek seminggu disini. Tapi sudah merem selama enam bulan."
Shiena yang kesal melempar bantal rumah sakit kearah Alex. "Apaan sih?! Menyebalkan!"
Alex malah tertawa keras melihat Shiena yang cemberut. "Udah, jangan cemberut. Nanti cantiknya hilang!"
"Kak Alex!" teriak Shiena dan malah membuat Alex terpingkal. Setidaknya kehadiran Alex bisa membawa sedikit tawa di wajah Shiena.
...****************...
Malam harinya, dokter Shandy kembali ke rumah dan disambut oleh asisten rumah tangganya.
"Malam Den, udah pulang ya?" tanya Bik Surti.
"Iya, Bik. Papa dan mama udah pulang?" tanya Shandy balik.
"Belum, Den. Malah tadi Nyonya Mona bilang katanya nyonya akan ikut tuan ke luar kota, Den."
Shandy menghela napas. "Ya udah, bibi istirahat saja ya. Aku juga mau ke kamar. Selamat malam, Bik."
"Malam, Den Shandy." Bik Surti hanya menatap kepergian Shandy dengan tatapan iba.
"Huft! Dari dulu Den Shandy selalu saja sendirian. Tuan dan Nyonya sibuk bekerja," gumamnya lalu pergi ke kamarnya.
Shandy tiba di kamar pribadinya dan langsung membersihkan diri. Saat sedang menyiram tubuhnya dengan air shower, bayangan wajah seseorang kembali menghantui.
"Hah! Wajah itu?!" Shandy mengusap wajahnya kasar.
"Jadi ternyata wajah wanita yang sering muncul di mimpiku itu adalah kamu...? Tapi, kenapa? Dan bagaimana bisa? Sebenarnya siapa kamu?"
Shandy menyudahi mandi malamnya dan bergegas menuju ke tempat tidur usai memakai piyamanya. Tubuh lelahnya ia rebahkan. Matanya ia pejamkan karena hari ini pasiennya lumayan banyak.
Tak lama Shandy terpejam, ia menuju ke alam mimpi. Lagi dan lagi Shandy melihat siluet wajah seorang wanita. Wajah yang baru saja ditemuinya. Wajah yang terbaring lemah diatas brankar rumah sakit.
"Bang Shandy..."
Suara lembut wanita itu memanggil namanya.