
Wilona duduk di taman kampus sambil menikmati sepoinya angin yang berhembus pelan membelai wajahnya. Wilona masih bingung dengan sikap Davin tadi.
Kegiatan panas yang harusnya merekatkan hubungan mereka malah berakhir karena Davin mengakhirinya lebih cepat. Kata-kata Davin sebelum pria itu pergi masih terngiang di benak Wilona.
"Apa kamu pikir hubungan kita baik-baik saja, Wilo? Apa kamu tidak merasa aneh dengan hubungan ini? Kamu dan aku...?"
Wilona memejamkan matanya. Sungguh ia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Davin. Selama ini mereka baik-baik saja. Pernikahan mereka baik-baik saja. Ya, meski Wilona menuntut untuk tidak ada anak di pernikahan mereka. Tapi itu hanya sementara. Sementara? Hingga kapan? Tiba-tiba saja benak Wilona bertanya demikian.
"Apa karena itu Kak Davin marah?"
"Apa selama ini aku gak peka terhadapnya?"
"Miss Wilona!"
Panggilan seseorang membuat Wilona membuka matanya. Dilihatnya seorang pria muda berdiri di depannya. Kaus dipadukan dengan jaket jeans, lalu celana jeans sobek dan juga topi. Tasnya ia sampirkan di bahu kiri dengan asal. Itulah sekilas penampilan dari pemuda di depan Wilona.
"Miss, kelas Anda harusnya sudah dimulai lima belas menit yang lalu. Kenapa Anda masih ada disini?"
Wilona mendengus kesal. "Sudah berapa kali saya bilang, kalau mau mengikuti kelas saya, pakailah pakaian yang sopan! Kamu pikir kampus ini tempat nonton konser anak punk, apa?!"
Wilona beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kelas. Ia tahu dirinya sudah terlambat memasuki kelas untuk mengajar. Ia sengaja menyendiri lebih dulu agar mood mengajarnya lebih hidup setelah sesi bercintanya dengan Davin gagal pagi tadi.
"Miss, apa Miss sedang ada masalah dengan suami Miss?"
Pertanyaan pemuda yang masih mengikuti Wilona itu membuatnya kesal.
"William! Berhenti mengikuti saya dan cepat masuk kelas sana!"
Pemuda itu bernama William Natasena. Pemuda berusia 20 tahun, mahasiswa semester enam.
Sejak Wilona mengajar di kampus almamaternya, William selalu berlalu lalang di hidup Wilona. Pemuda itu tertarik dengan dosen muda yang cantik itu. Namun sayangnya, Wilona sudah menikah dan William tahu itu.
"Oke! Aku akan ke kelas!" jawab William santai.
Wilona menggeram kesal. "Ganti bajumu dulu! Saya tidak akan mengizinkan kamu masuk ke kelas saya jika penampilan kamu masih urakan seperti itu!" seru Wilona.
William dengan santai melambaikan tangan dan meninggalkan dosen cantiknya itu.
"Dasar bocah sinting!" gumam Wilona.
#
#
#
Keesokan harinya, Wilona tak mendapati William hadir di kelasnya. Sejak pertemuan hari itu, itu adalah hari terakhir Wilona bertemu dengan William.
"Kemana anak itu? Kenapa dia membolos kelasku lagi?" batin Wilona.
Dan kejadian ini berlangsung hingga seminggu lamanya. Kelas Wilona yang biasanya diisi celetukan William, kini sunyi dan semua hanya fokus pada mata kuliah yang ia ajar.
Wilona ingat terakhir kali bertemu adalah saat Wilona duduk di bangku taman kampus. Tak ingin menduga atau menebak, Wilona duduk di taman kampus sambil memejamkan mata.
Entah kenapa Wilona merindukan sosok William yang urakan itu.
"William, kamu dimana?"
"Apa Miss Wilona merindukanku?"
Suara yang tak asing di telinga Wilona membuat wanita itu membuka matanya.
"William?"
Wilona mengerutkan kening karena bingung dengan sosok yang dilihatnya saat ini.
"Kamu...? William?"
Pemuda yang ada dihadapannya saat ini adalah pemuda tampan dengan pakaian rapi. Kemeja kotak-kotak dengan celana jeans yang sama sekali tak ada bagian yang robek.
"Iya, aku William. Apa aku terlihat berbeda sekarang?" William mengedipkan matanya pada Wilona. Membuat ibu dosen itu jadi salah tingkah.
Di tempat berbeda, Davin terus memperhatikan interaksi antara Devina dan Romi. Dari kejauhan mereka nampak terlihat mesra. Atau mungkin begitulah yang ingin ditampilkan Romi di depan teman-teman kantornya.
Namun bagi Davin, Ia merasa jika Devina tak benar-benar membuka hatinya untuk Romi. Davin yakin jika sebenarnya hati Devina adalah miliknya.
Dan di malam harinya, Davin sengaja menemui Devina di dekat rumah gadis itu.
"Apa yang Bapak inginkan? Kenapa terus mengusik hidup saya?"
"Kamu salah, Dev. Kamu sendiri lah yang sudah mempersulit hidup kamu. Sekarang aku mau tanya sama kamu. Apa kamu yakin kamu mencintai Romi?"
Devina diam. Baginya tak ada gunanya bicara dengan atasannya ini.
"Ayo jawab! Aku tahu kamu gak mencintai Romi dengan tulus. Kamu mencintai aku kan? Benar kan?"
Devina mendelik tajam. "Percaya diri sekali bapak ini! Bapak kan sudah menikah, kenapa masih mengejar wanita lain? Apa bapak gak kasihan sama istri bapak?"
Davin mengepalkan tangan. "Akui saja dulu jika maka aku juga akan mengakui semuanya!"
Davin tertegun mendengar kalimat Devina.
"Apa kamu bilang? Mengulang waktu?"
Devina tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya.
"Aku pikir kita akan tetap berjodoh meski kita kembali ke masa lalu. Tapi nyatanya kamu lebih memilih bersama Wilona. Gadis kaya yang selalu jadi impianmu, benar kan? Apalah aku yang hanya gadis biasa yang tak memiliki apa-apa. Aku hanya..."
Davin tak ingin mendengar kata apapun lagi dari bibir Devina. Sebuah ciuman tanpa aba-aba Davin daratkan dengan begitu lembut dan tak mendapat perlawanan dari Devina.
"Ternyata selama ini aku salah. Maafkan aku..."
#
#
#
Di sebuah bukit yang dipenuhi bintang-bintang, Wilona dan William duduk berdampingan dalam mode masih diam. Wilona menatap kerlipan bintang-bintang itu dengan penuh rasa kagum.
"Kamu suka bintang, Miss?"
Wilona mengangguk. "Kamu tahu dari mana tempat ini?"
William mengedikkan bahunya. "Aku sendiri gak tahu kenapa ada yang menuntunku untuk datang kesini."
Wilona mengernyitkan kening. Ia menatap pria muda yang usianya 4 tahun di bawahnya.
"Aku tahu aku ini tampan. Kamu boleh menatapku sepuasmu, Miss."
Wilona memalingkan wajahnya malu. "Apaan sih? Dasar berondong gila!"
"Aku dengar lho, Miss. Aku jadi gila itu kan karena kamu, Miss. Aku menyukaimu sejak pertama melihatmu. Aku tahu menggapaimu tidak akan mudah. Bahkan kamu memilih untuk menikahi orang lain yang sepertinya tidak kamu cintai dengan tulus."
"Eh?" Wilona terperanjat dengan kata-kata bijak dari pemuda ini.
"Mulai sekarang sebaiknya kamu tunjukkan perasaan kamu yang sebenarnya. Untuk apa berpura-pura bahagia jika ujung-ujungnya kamu sakit hati juga. Iya kan?"
"Liam..."
William menoleh dan menatap Wilona. "Kebahagiaan adalah kita sendiri yang ciptakan. Jadi, jangan bergantung pada orang lain untuk membuatmu bahagia."
"Terima kasih, Liam..."
William mengecup sekilas bibir Wilona. "Aku mencintaimu, Miss Wilona."
Disaksikan semesta, Wilona mengakui jika hatinya tertambat pada pria muda yang kini sedang memagut bibirnya dengan pelan dan lembut.
#
#
#
Davin pulang ke rumah dan mencari keberadaan Wilona.
"Bik, apa Wilona udah pulang?"
"Belum, Tuan. Nyonya belum pulang."
Davin menghubungi Shiena. Siapa tahu saja Wilona sedang mengunjungi orang tuanya.
"Wilona gak ada disini, Vin. Kalian baik-baik aja kan?"
Pertanyaan cemas dari Shiena membuat Davin harus berbohong.
"Iya, kami baik-baik saja, Bun. Ponsel Wilona gak aktif. Aku pikir dia ada di rumah bunda."
Terdengar suara deru mobil yang memasuki halaman rumah.
"Oh itu dia, Bun. Wilona udah pulang. Maaf mengganggu waktunya, Bun."
Davin mematikan sambungan telepon dan menanti kehadiran Wilona.
"Sayang, kamu udah di rumah?" tanya Wilona ketika memasuki ruang tamu.
"Iya. Kamu dari mana aja?"
"Ooh, tadi ada urusan sebentar."
"Wilo..."
"Iya?"
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu..."
"Aku juga, Kak. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu..."