
Willy yang memiliki tekad besar untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan Shiena, terus bersemangat mencari sosok Shiena diantara banyaknya orang yang hadir di pesta itu.
Dan ternyata matanya malah menangkap sang sahabat, Shandy yang sedang berbincang dengan para tamunya.
"Shandy?" Gumam Willy dengan mata berkaca-kaca.
Willy berjalan cepat menemui Shandy dan langsung memeluknya.
"Shandy!"
Shandy yang bingung hanya mengulas senyum karena sedikit risih dengan perlakuan Willy.
"Wil, kita dilihatin banyak orang. Bisa gak lo lepas pelukan lo ini?"
"Eh? Sorry, Shan. Gue refleks tadi." Willy menggaruk kepalanya. Rasanya terharu ketika melihat sosok yang dulu terbujur kaku kini ada di hadapannya dan masih bernapas.
"Thanks ya udah datang. Lo datang sendiri?" Tanya Shandy.
Willy mengangguk. "Eh, Shan..."
Willy ragu untuk menanyakan keberadaan Shiena.
"Kenapa?" Shandy yang tahu maksud Willy langsung menggodanya.
"Lo beneran pengen kenalan sama Shiena?"
Dengan ragu Willy mengangguk. Ia masih bingung apakah keputusannya ini tepat atau tidak.
"Tapi lo harus tahan sama sikap manjanya dia. Terus kalo mau apa-apa itu harus diturutin. Pusing gak tuh?" Shandy tergelak.
Willy pun ikut tergelak. Matanya masih menelisik satu persatu orang yang ada di pesta itu. Tapi masih belum menemukan sosok Shiena disana.
"Wil, lo nikmati dulu pestanya. Gue mau nyapa tamu yang lain sekalian nyari Shiena ya!" Shandy menepuk pundak Willy kemudian berlalu.
Willy masih terus berputar-putar mencari Shiena. Hingga ia lelah dan ingin mencari makanan atau minuman yang terhidang di pesta.
Wajah Willy sumringah karena melihat Shiena sedang berdiri di depan meja makanan. Willy segera mempercepat langkahnya.
Namun senyum sumringah memudar ketika melihat Alex lebih dulu mendekati Shiena. Dalam pandangan Willy, Shiena terlihat nyaman dan bahagia bicara dengan Alex.
Kemudian ia teringat jika Alex sangat marah padanya karena berniat menceraikan Shiena. Langkah Willy perlahan mundur.
"Mungkin Semesta emang gak ngijinin gue buat mendekati Shiena lagi. Sebaiknya gue pergi aja dari sini."
Willy melangkah keluar dari halaman rumah Shiena, tapi langkahnya terhenti ketika Shandy memanggilnya.
"Lo mau kemana? Katanya mau kenalan sama Shiena. Gimana sih?"
"Udah kok. Gue udah ketemu sama dia. Gue ada urusan, makanya gue harus pergi, Shan. Makasih ya udah ngundang gue!"
Tanpa kata lagi, Willy pamit pergi dari rumah keluarga Sasongko.
Shandy yang kembali masuk ke dalam runah malah disuguhi pemandangan dimana sang adik sedang mengobrol dengan Alex, yang terkenal sebagai playboy kampus. Shandy mengepalkan tangannya. Ia lebih setuju jika Shiena bersama dengan Willy.
#
#
#
Keesokan harinya, Willy mendatangi rumah sakit tempat ibunya dirawat. Bahkan di masa ini kehidupan ibu Willy sudah sulit karena kondisinya yang tidak stabil.
"Mas Arya?"
Esti sangat bahagia ketika melihat Willy. Ia mengira jika Willy adalah suaminya, Arya.
"Mas, akhirnya kamu pulang juga. Ayo sini, Mas!"
Esti mengajak Willy duduk di sebuah taman rumah sakit. Willy merasa miris melihat kondisi ibunya. Andai saja ia mengulang waktu ketika ibunya masih dinyatakan sehat. Pasti ia tidak akan membiarkan ibunya berada di tempat ini selama bertahun-tahun.
"Mas Arya, Mas gak akan ninggalin aku lagi kan? Mas janji ya, akan selalu disini nemenin aku." Esti memeluk lengan Willy dengan erat.
"Bu..." Suara Willy tercekat.
"Aku bukan Arya! Aku Willy, putra ibu..."
Esti tertegun. Ia menggeleng.
"Bukan, kamu itu Mas Arya, suami aku! Dan selamanya akan jadi suami aku!" Pekik Esti hingga membuat perawat menghampiri mereka.
"Tapi apa yang aku katakan itu benar, Sus. Aku bukanlah Arya! Aku ini Willy!" Willy tak kalah keras mengatakan jika dirinya bukan Arya.
Perawat itu menggeleng. "Jika Mas datang kesini hanya ingin membuat kondisi ibu Mas sendiri sekarat, sebaiknya Mas pergi dari sini."
Tanpa berpamitan Willy pergi meninggalkan Esti bersama seorang perawat. Saat ini pikiran Willh sedang kacau karena mengingat kejadian semalam.
Harusnya ia bisa bertemu dengan Shiena. Harusnya setelah berkenalan mereka lalu saling mengenal lebih jauh.
"Akh! Sial! Kenapa semua jadi begini?"
Willy memutuskan untuk kembali ke rumah kosnya yang berada di gang sempit. Ia mengendarai motor sport besar yang ia beli dengan uang hasil bekerja paruh waktu semenjak kuliah. Karena ayahnya tetap membiayai kuliah Willy hingga lulus dan Willy tidak bisa menolaknya. Willy hanya tidak mau tinggal bersama ayah dan ibu sambungnya. Itu saja yang ia tolak.
Mata Willy membola ketika melihat sosok yang berdiri di depan kamar kosnya. Willy turun dari motor dan menatap tajam wanita berusia 35 tahunan itu.
"Ngapain tante kesini?" Tanyanya ketus.
"Willy, apa kabar kamu?" Tanya balik Litha, istri muda ayah Willy.
Willy tersenyum sinis. "Gak usah basa basi. Mau ngapain tante kesini?"
"Papa kamu ingin ketemu kamu."
"Oh, masih ingat juga ya kalo dia punya anak?"
"Kakak!" Seorang gadis kecil berusia 12 tahun menghampiri mereka berdua.
"Kakak jangan bicara gak sopan sama mama!" Dialah Martha, adik satu ayah dengan Willy.
Willy terdiam. Ia tak bisa membenci Martha meski ia membenci wanita yang melahirkan Martha.
"Martha, kenapa turun dari mobil, Nak?" Tanya Litha lembut.
"Aku juga ingin ketemu sama kak Willy." Martha melirik Willy yang masih tertunduk.
"Ya sudah, sekarang sudah ketemu kan? Ayo kita pulang. Mama udah selesai."
Litha menggenggam tangan Martha dan membawanya pergi. Martha terus menatap Willy dan merasa iba dengan kakaknya itu.
Martha melepas genggaman tangan Litha dan berlari kearah Willy. Martha langsung memeluk Willy hingga membuat pria itu terhenyak.
"Datanglah, Kak! Aku kangen sama kakak. Datanglah ke rumah!"
Seingatnya adegan mengharu biru seperti ini tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Apakah karena Willy ingin mengubah takdirnya? Makanya semua hal sangat berbeda dengan sebelumnya.
Willy membalas pelukan adiknya dan mengangguk. "Iya, kakak pasti akan datang."
"Janji?"
Willy takut untuk berjanji. Baginya mengingkari janjinya pada Shiena adalah hal yang terburuk. Dan kini ia tidak ingin menjanjikan apapun pada Martha.
"Kak?! Kok diam?"
Willy mengulas senyum. "Kakak gak bisa janji. Tapi kakak akan berusaha."
Martha mengulas senyumnya. Ia mendongak untuk melihat wajah Willy.
"Beneran ya? Kakak harus berusaha."
Sekali lagi Willy mengangguk. "Iya, kakak akan berusaha. Kakak akan mengusahakan yang terbaik demi kamu."
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Litha terharu melihat kedekatan putrinya dengan putra sambungnya.
"Semoga kehadiran Martha bisa mengubah kerasnya hati Willy," Harap Litha dalam hati.
#
#
#
Sore harinya, ketika Willy sudah bersiap untuk berkunjung ke rumah Arya, ayahnya. Willy mendapat pesan dari Shandy untuk menjemput Shiena di kampusnya.
Willy tertegun. Bagaimana bisa semesta tetap membawanya pada Shiena?
Karena Willy tak kunjung menjawab pesan Shandy, akhirnya Shandy menghubungi Willy. Awalnya Willy takut untuk menjawab, tapi ia tak punya kesempatan lain jika tidak hari ini.
"Baiklah, gue bakal jemput adek lo!" jawab Willy dengan jantung yang berdegup kencang.