
Davin berusaha tetap cuek dan tak menggubris Devina. Niatnya untuk menghindari gadis ini nyatanya gagal total gara-gara dirinya terlambat bangun.
"Kak, kakak ketinggalan bus tuh! Samaan ya kita!"
Gaya celotehan Devina yang ceplas-ceplos mengingatkan Davin akan masa lalu mereka. Tapi tidak! Davin tidak akan terjebak lagi.
"Aku harus segera pergi dari sini!" Batin Davin.
Perlahan Davin melangkah menjauhi Devina. Davin tak peduli dengan perasaan Devina. Yang jelas dirinya harus bisa menjauhi Devina.
"Eh, kak! Tunggu!" Devina memanggil Davin tapi pria itu tetap melangkah pergi.
"Huh, kakak yang aneh!" Gumam Devina.
#
#
#
Davin akhirnya tiba di kampus sedikit terlambat. Tapi keterlambatannya kali ini sepertinya membawa berkah. Davin berhasil bertemu dengan Wilona yang sedang berjalan di jalan setapak kampus.
"Wilo!" Panggil Davin.
"Eh? Kak Davin? Kok baru kelihatan? Kelas jam pertama udah mulai dari tadi lho!"
Davin menggaruk kepalanya. "Aku telat, Wilo. Aku mau bolos jam pertama aja. Oh ya, kamu mau kemana?"
"Aku mau ke perpus. Kak Davin mau ikut?"
Davin langsung mengangguk semangat. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke perpustakaan kampus.
Wilona mengambil beberapa buku yang sedang di carinya.
"Kamu lagi cari buku apa?" Tanya Davin.
"Hmm, buku yang bisa menunjang studiku di S2 nanti."
"Eh?! Jadi kamu tetap bakalan pergi ke luar negeri?"
Wilona menatap Davin heran. "Kak Davin tahu dari mana kalo aku mau ambil studi di luar negeri?"
"Heh?! Hahaha, aku hanya asal nebak aja!" Davin menggaruk tengkuknya. Rasanya hari ini Davin salah tingkah tak karuan di depan Wilona.
Wilona menuju ke kursi kosong yang ada di perpus. Davin kembali mengikuti langkah Wilona.
"Kak Davin kan bentar lagi lulus. Rencana kakak selanjutnya apa?"
Davin nampak berpikir sejenak. "Hmm, apa ya?" Davin berpura berpikir keras.
"Kasih tahu dong, Kak!"
"Aku punya satu impian. Tapi... Aku gak tahu apa impianku itu bisa terwujud apa enggak."
Wilona menatap Davin dengan penuh tanya.
"Apaan sih, Kak? Bikin penasaran deh!"
Davin menatap lekat kedua manik Wilona.
"Aku ingin menikah dengan seseorang," Ucapnya.
"Hah?! Menikah? Kak Davin mau nikah?"
"Siapa?"
Davin meraih tangan Wilona dan menggenggamnya. "Kamu!"
Wajah Wilona langsung bersemu merah. Ia menunduk agar Davin tidak melihat betapa malunya ia saat ini.
"Aku serius, Wilona! Aku ingin menikah denganmu!"
Wilona mendongak. Ia mengulas senyumnya.
"Apa ini adalah sebuah lamaran?"
Davin tertawa kecil. "Gak tahu juga! Tapi kalo kamu anggap begitu, yaaaa aku sih gak apa-apa. Aku tambah senang kalo kamu mau menerimanya!"
Dengan tersipu malu, Wilona mengangguk pelan hingga membuat Davin bersorak gembira. Sontak saja pertugas perpus langsung melerai mereka berdua.
Davin dan Wilona hanya menahan tawa saking malu dan kesal pada diri mereka sendiri.
#
#
#
Gedoran pintu di kamar Davin ternyata hampir setiap hari terjadi. Bahkan hingga bertahun lamanya.
"Davin! Cepat bangun!" Suara Ibu Davin nyatanya tak pernah absen memenuhi gendang telinga Davin.
"Ck, apaan sih, Bu? Ini kan masih pagi. Lagian ini hari libur, aku mau santai dulu!"
"Hari libur kepalamu! Hari ini hari pernikahanmu! Dasar payah! Apa kamu mau pengantinmu digondol sama orang lain?"
Seketika mata Davin terbuka lebar. "Pernikahan? Menikah? Ibu serius aku akan menikah?"
Ibu Davin mulai terlihat kesal. "Ya iyalah! Buat apa ibu bohong! Cepat bangun dan mandi!"
Secepat kilat Davin bangun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Meski merasa aneh dengan takdir yang terjadi, tapi Davin berusaha menerima semuanya.
"Perasaan baru kemarin aku ketemu Wilona, kok sekarang aku mau menikah? Lalu, dengan siapa aku menikah? Kenapa aku lupa bertanya sama ibu?"
Davin segera menyelesaikan ritual mandinya. Ia keluar dari kamar dan menemui ibunya. Sejak ayahnya meninggal, Davin hanya tinggal bersama ibu dan adik perempuannya.
"Mas Davin gimana sih kok belum siap?" Tanya Deswita, adik Davin.
Sang ibu muncul dari dalam kamar dan melotot padanya.
"Astaga, Davin! Dari tadi ngapain aja sih? Cepetan kita udah ditunggu keluarga calon istrimu!"
Davin berusaha mengurai benang kusut yang kini sedang terjadi. Seingatnya dulu suasana pernikahannya dengan Devina bukanlah seperti ini.
"Itu berarti... Apakah aku memang bukan menikah dengan Devina? Lalu, apakah aku menikah dengan...?"
"Bu, hari ini aku menikah sama siapa?"
Pertanyaan Davin membuat ibunya bertambah kesal. "Tentu saja dengan pacarmu, si Wilona! Memangnya kamu punya berapa pacar hah?!"
Jawaban ibunya membuat Davin tersenyum lega.
"Jadi, aku beneran akan menikah dengan Wilona?" Senyum penuh kemenangan tersungging di bibir Davin.