Before Divorce

Before Divorce
Bab 39 - Kejutan Tak Terduga



Renata mengantarkan Willy kembali ke rumah. Selama perjalanan, Willy hanya terdiam. Renata melirik sekilas tapi tak berani bertanya apapun.


"Sebenarnya apa yang terjadi tadi? Apa Shiena gak mau bertemu Willy? Atau keluarga Shiena menghalangi Willy untuk ketemu sama Shiena?" Renata menerka-nerka dalam hatinya.


Hingga akhirnya mobil Renata memasuki halaman rumah keluarga Willy. Renata menawarkan bantuan untuk membantu Willy karena pria itu masih menggunakan tongkat untuk berjalan, tapi Willy menolaknya.


Rupanya kekesalan dalam hati membuat Willy memiliki kekuatan lebih hingg memaksa kedua kakinya untuk berjalan cepat. Renata mengerti sikap Willy. Ia hanya menggeleng pelan dan berjalan mengikuti Willy.


Willy masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Martha dan Litha yang melihatnya pun menjadi bingung dengan sikap Willy.


"Kak Renata, apa terjadi sesuatu di rumah kak Shiena?" tanya Martha.


Renata hanya mengedikkan bahunya. "Aku gak tahu, Martha. Tapi sepertinya memang terjadi sesuatu disana."


"Aku akan menemui kak Willy." Martha akan beranjak pergi namun dihentikan oleh Litha.


"Jangan, Nak. Biarkan kakakmu sendiri dulu. Nanti malah suasana hatinya bertambah buruk. Kamu lihat kan tadi bagaimana wajah kakakmu?"


Martha mengurungkan niatnya. Ia menatap pintu kamar kakaknya yang tertutup. Sejak dulu Willy bukan tipe orang yang terbuka mengenai masalahnya. Bahkan masalah perpisahannya pun tidak diketahui oleh Litha dan Martha jika saja petugas pengadilan tidak mendatangi mereka.


"Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Martha, Tante." Renata memilih pergi dan tak ikut campur urusan keluarga Willy. Apalagi status Willy yang masih sah menjadi suami Shiena. Pastinya Renata tahu posisinya disini sebagai apa. Ia hanya teman yang berusaha membantu Willy saja.


"Iya, Kak. Sekali lagi makasih ya udah bantu kak Willy."


"Iya, sama-sama."


"Aku antar sampai depan ya! Ma, aku antar kak Renata dulu ya!"


Litha mengangguk. Ia tersenyum melepas kepergian Renata. Lalu Litha menatap pintu kamar Willy yang tertutup.


"Padahal aku ingin memberinya sebuah kejutan. Tapi sepertinya suasana hati Willy sedang buruk. Mungkin aku harus menundanya dulu." Litha menghubungi seseorang dari ponsel.


...***...


Di rumah Shiena


Alex menggendong Shiena hingga ke kamar wanita itu. Alex merebahkan tubuh Shiena dengan pelan ke atas ranjang.


"Apa masih sakit?" tanya Alex. Raut wajahnya terlihat cemas.


"Sudah baikan. Makasih, Kak." Shiena memalingkan wajahnya.


Alex berniat memakaikan selimut ke tubuh Shiena, tapi tangan Shiena segera menepisnya.


"Gak usah, kak. Sebaiknya kakak pergi saja. Aku gak mau orang-orang salah paham soal hubungan kita." Dengan tegas Shiena memberi peringatan pada Alex. Sudah cukup selama ini Alex selalu membantunya. Dan Shiena tidak ingin jika Alex salah mengartikan semuanya dan mengiranya memberi harapan pada Alex.


Tanpa sebuah kata, Alex tahu jika Shiena menolaknya dengan terang-terangan. Alex langsung keluar dari kamar Shiena dengan langkah gontai.


Tampaknya sekeras apapun usaha yang dilakukan Alex, tidak bisa meluluhkan hati Shiena dengan mudah.


"Tante?" Alex terkejut karena melihat Wulan di depan kamar Shiena.


"Maafkan sikap Shiena ya, Nak Alex. Mungkin Shiena masih butuh waktu untuk menerima Nak Alex."


Alex tersenyum kecut. Ia tahu usahanya akan tetap sia-sia jika Shiena masih bersama Willy. Apalagi belum ada tanda jika Shiena akan melanjutkan perceraiannya dengan Willy.


Alex keluar dari rumah Shiena. Sebelum pergi, Alex menatap rumah Shiena. Setelahnya Alex melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Shiena.


...***...


"Surprise!" Seru Friska yang tiba-tiba datang ke kamar rawat inap Anila.


"Friskaaaaaa!" teriak Shiena tanpa tahu tempat.


Shiena menghambur memeluk Friska. Mereka berpelukan cukup lama dan erat.


"Gue kangen banget sama lo!" aku Shiena.


"Gue juga kangen kalian!" balas Friska.


"Ehem! Jadi, kalian cuma mau pelukan berdua aja nih? Gue gak diajak?"


Shiena dan Friska menoleh menatap Anila. Mereka tertawa kemudian menghampiri Anila. Mereka bertiga pun berpelukan. Saling melepas rindu dengan bersenda gurau.


Dokter Shandy yang melihat interaksi ketiga sahabat itu pun ikut tersenyum bahagia. Dokter Shandy senang kondisi Anila sudah lebih baik karena kehadiran kedua sahabatnya. Raut wajahnya yang muram kini lebih ceria.


"Jahat lo! Datang kok gak bilang-bilang dulu!" Shiena memukul lengan Friska.


"Hahaha, sengaja lah. Gue mau bikin kejutan buat lo!"


Anila memeluk kedua sahabatnya. "Makasih ya. Kalian selalu ada buat gue. Di saat gue terpuruk kayak gini."


Suasana ceria kini mendadak menjadi haru biru dengan isakan tangis Anila.


"Maaf, selama ini gue gak pernah cerita ke kalian. Beberapa tahun ini berat banget buat gue. Gue..."


Shiena langsung memeluk Anila. "Sstt, jangan bilang gitu. Sekarang kita ada disini buat lo. Lo jangan takut ya!"


Friska ikut memeluk Anila. "Iya, Nil. Gue juga ada disini. Gue gak akan biarin si Raffa nyakitin lo lagi. Kalo perlu gue akan bantu cari pengacara hebat buat pisahin lo sama dia."


Shiena mendelik kearah Friska. Shiena memberi kode untuk jangan membicarakan Raffa saat ini, apalagi mengenai perpisahan. Shiena sendiri belum tahu apakah Anila ingin berpisah dari Raffa atau tidak. Meski sudah disakiti fisik dan batin, seorang wanita biasanya bersikap tegar dalam menghadapi permasalahan rumah tangganya. Termasuk yang terjadi pada Anila.


"Gue mau pisah dari Raffa. Gue udah gak bisa lagi pertahanin rumah tangga ini."


Ucapan Anila membuat Shiena dan Friska saling tatap. Shien tersenyum dan menggenggam tangan Anila.


"Apapun keputusan lo, gue akan dukung!"


Friska ikut mengangguk. Mengiyakan apa yang dikatakan Shiena.


"Dan lo, She. Gue minta lo jangan pisah dari kak Willy. Gue tahu kalian masih saling mencintai. Lo bisa kok perbaiki hubungan kalian ini."


Kali ini Shiena tidak menjawab. Ia hanya diam dan tertunduk.


...***...


Suasana hati Willy sudah mulai membaik. Malam ini Willy bergabung bersama Martha dan Litha untuk makan malam keluarga.


Namun kali ini terasa ada yang berbeda di rumah keluarga Pramudya. Kedatangan seseorang yang tak pernah Willy duga sebelumnya, membuat Willy lupa jika dirinya masih memakai tongkat untuk berjalan.


"Ibu!" Willy berteriak dan berlari menghampiri sosok wanita yang sudah lama tak dilihatnya.


"Ibu, maafkan Willy, Bu!" Willy menangis memeluk Esti.


Selama beberapa bulan ini, Litha mencari dokter terbaik untuk mengobati depresi yang dialami Esti. Dan ternyata usaha Litha tidaklah sia-sia.


Esti dinyatakan sembuh meski masih harus mengonsumsi beberapa obat dari dokter. Esti juga sudah membuka hati dan tangannya untuk menerima Litha dan Martha.


"Jangan menyalahkan dirimu, Nak. Ibu yang salah karena sudah melakukan kesalahan. Maafkan ibu, Nak!"


Tangis kedua orang itu pecah, hingga membuat Martha dan Litha juga Bik Sumi ikut terharu. Malam ini, Willy mendapatkan kejutan yang tidak terduga dari orang-orang yang menyayanginya. Sejenak ia melupakan masalahnya dengan Shiena. Mungkin Semesta meminta Willy agar memperbaiki hubungannya dengan keluarga lebih dulu sebelum dengan Shiena.