Before Divorce

Before Divorce
Bab 43 - Memories



Willy tertegun setelah percakapannya di telepon berakhir dengan Shiena. Willy masih belum percaya jika rencana perpisahan yang kini ia sesali malah akan jadi kenyataan.


Willy menghubungi pengacaranya untuk menanyakan apakah masih ada harapan untuknya dan Shiena kembali bersama atau tidak.


"Sebelum hakim menyetujui perpisahan kalian, pastinya kalian akan melakukan mediasi terlebih dahulu. Jika dalam mediasi ada jalan yang bisa membuat kalian kembali bersama, tentunya perpisahan kalian bisa saja batal."


Willy tersenyum lega. "Baiklah, Pak. Terima kasih infonya. Aku akan berusaha agar Shiena bisa kembali padaku."


Seminggu telah berlalu setelah Shiena menyetujui untuk berpisah dengan Willy. Akhirnya sidang pertama perceraian mereka akan di gelar


Pihak Willy dan Shiena sama-sama datang dan duduk berdampingan. Agenda hari ini adalah sidang mediasi. Kedua belah pihak diberikan nasehat-nasehat mengenai pernikahan dan serba serbinya.


"Apa kalian pernah mengenang masa-masa indah kalian saat bersama?" tanya Pak Hakim.


Shiena dan Willy saling pandang. Sejak menikah, mereka hanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bahkan saat hari libur tiba, mereka hanya memilih berada di rumah atau berkunjung ke rumah orang tua Shiena.


"Sekarang cobalah kalian datangi tempat-tempat yang memiliki kenangan indah berdua. Setiap pasangan perlu melakukan itu. Karena tidak akan ada masa kini jika tak ada masa lalu."


Shiena mencoba mencerna apa maksud dari pak hakim mengatakan itu kepada mereka berdua. Pastinya agar mereka bisa memperbaiki hubungan mereka dan perceraian dibatalkan.


...****************...


Keesokan harinya, Shiena izin pamit pergi pada ibunya. Wulan kini tak banyak bicara dan membiarkan Shiena memilih jalan hidupnya sendiri. Wulan hanya bisa berdoa jika Shiena akan kembali bahagia setelah melalui badai ini.


Shiena memesan taksi online dan menuju ke suatu tempat. Shiena baru sadar jika jalan yang dilaluinya sudah banyak berubah.


"Sudah berapa tahun aku gak kesini? Kok kayaknya banyak yang berubah ya?" gumam Shiena.


Tiba di tujuan, supir taksi itu menghentikan mobilnya.


"Maaf, Mbak. Mobilnya hanya bisa sampai sini aja."


Shiena menatap ke luar area itu. "Emang gak bisa masuk lagi ya, Pak?"


"Gak bisa, Mbak. Lagian mbaknya kenapa pengen kesini sih? Tempat ini sudah ditutup. Tuh ada tanda larangan masuk juga, Mbak."


Shiena memilih turun untuk melihat yang sebenarnya. Shiena celingukan mencari tempat yang dulu sering dikunjungi Willy dan dirinya.


"Masa sih bukit berbintang udah ditutup? Kok aku sama Mas Willy sampe gak tahu?"


Shiena mendekati bukit yang kini sudah di tutup pagar rantai berduri. Shiena menghela napas.


"Tempat kenangan kami ternyata udah ditutup. Apakah hubungan kami juga bakal ditutup dengan palu hakim?"


"Mbak!" panggilan supir taksi membuat Shiena tersadar.


"Iya, Pak." Shiena kembali masuk ke dalam mobil dan menuju ke tujuan selanjutnya.


Shiena memasuki sebuah komplek perumahan yang beberapa bulan lalu ditinggalkannya.


"Berhenti, Pak! Saya turun disini saja! Ini pak uangnya!"


Shiena membayar ongkos taksi lalu turun. Shiena menatap rumah yang sudah ditinggalinya selama lima tahun terakhir.


"Dijual? Rumah ini akan dijual?" gumam Shiena sambil menatap rumah yang dibeli Willy dengan hasil kerja kerasnya sendiri.


Shiena mendekati rumah itu dan melihat ada dua orang yang sedang berbincang di dalam rumah.


"Baiklah. Makasih banyak, Pak. Semoga nanti betah tinggal disini." Willy berjabat tangan dengan seorang pria yang sepertinya akan membeli rumah itu.


Willy mengantar orang itu hingga ke depan rumah hingga orang itu pergi dengan mobilnya.


Willy menatap Shiena yang ada di depan rumahnya.


"She? Kamu disini?"


Shiena menatap Willy. "Rumah ini mau dijual, Mas? Kenapa?" Shiena terlihat sedih.


Willy malah tersenyum. "Iya. Kurasa kenangan di rumah ini, bukanlah kenangan yang bagus. Jadi... Lebih baik jika menjualnya saja."


Shiena terdiam.


"Kamu mau kemana?"


Setelah proses mediasi kemarin, hubungan Shiena dan Willy mulai mencair.


Willy tersenyum. "Apa ada acara lain setelah dari sini?"


Shiena menggeleng.


"Kalau gitu ikut denganku yuk!"


"Kemana? Mas bawa mobil sendiri?"


"Iya, aku harus mulai hidupku yang baru, She. Aku gak mungkin bergantung pada orang lain terus menerus."


Shiena kembali diam. Ia melihat Willy membuka pintu mobil untuknya.


"Ayo masuk!" ajak Willy.


Shiena tak menolak. Ia masuk ke mobil dan mengikuti kemana Willy ingin pergi.


"Mas, kita mau kemana?"


"Ke tempat yang memiliki kenangan indah untuk kita..."


Shiena mengerutkan kening. Masih tidak paham kemana Willy akan membawanya.


Hingga akhirnya mobil tiba di sebuah tempat yang sangat Shiena kenali.


"Kampus? Buat apa kita ke kampus?"


"Ayo turun dulu! Nanti kamu juga tahu."


Shiena turun dari mobil dan mengekori langkah Willy.


"Mas, kenapa kemari?" Pertanyaan Shiena membuat Willy menghentikan langkahnya.


"Saat aku koma, aku mengalami mimpi yang sangat aneh."


"Hah?!" Shiena tercengang. Sepertinya apa yang ia alami juga dialami oleh Willy.


"Aku kembali ke masa dimana aku pertama kali bertemu denganmu. Kita berjuang untuk memperbaiki hubungan yang retak ini."


Shiena masih bengong mendengar cerita Willy.


"Ayo!" Willy menggenggam tangan Shiena dan membawanya ke sebuah tempat di kampus.


"Kamu masih ingat tempat ini, She?"


Shiena menatap sekeliling. "Ini kan..."


"Tempat dimana pertama kali aku menyatakan perasaanku padamu. Cukup aneh karena aku memilih tempat sepi ini." Willy menggaruk kepalanya.


"Kamu tahu kan, aku bukan orang yang pandai berkata-kata. Aku juga bukan pria yang romantis. Tapi... Aku ingin membuatmu bahagia, She. Namun kadang aku gak tahu gimana caranya membahagiakan kamu. Aku tumbuh di keluarga broken home. Aku gak punya siapapun untuk berbagi..."


Shiena berkaca-kaca mendengar penuturan Willy. Mungkinkah selama ini jika Shiena tidak memahami perasaan Willy?


"Tapi saat aku mengenalmu, mengenal keluargamu. Aku merasa... Jika aku ingin menjadi bagian dari keluarga itu. Aku ingin dicintai dan tertawa bersama dengan orang-orang yang menyayangiku..."


Tangis Shiena pecah. "Maaf, Mas... Maaf karena sudah membuatmu berada dalam kesedihan. Kamu gak salah. Akulah yang salah. Karena aku slalu memintamu untuk menjadi yang aku inginkan. Aku memintamu tanpa memberi. Aku..."


Willy meletakkan jari telunjuknya di bibir Shiena. "Jangan bicara begitu. Aku sangat bahagia saat bersamamu. Kamu gak salah, She. Kita berdua sama-sama bersalah karena sudah melupakan semuanya. Harusnya semua hal indah itu tidak kita lupakan. Harusnya semua masalah bisa diselesaikan dengan hati dan kepala yang dingin."


Willy menggenggam tangan Shiena.


"Bisakah kita memulai semuanya dari awal? Kita gak bisa mengulang waktu. Tapi kita bisa melakukan yang terbaik untuk memperbaiki hubungan ini. Apa kamu bersedia?"


Tangis Shiena makin kencang. Hatinya begitu tersentuh dengan apa yang terjadi hari ini. Semua bagaikan mimpi.


"She...?" Willy meminta jawaban.


"Mas, apa kamu tahu kalo bukit berbintang udah ditutup? Kita gak bisa kesana lagi..."


Kalimat Shiena membuat Willy tertawa. "Jadi, kamu dari tadi memikirkan itu? Biarin aja kalo di tutup. Karena sekarang aku gak butuh bukit itu untuk berkeluh kesah."


Willy merangkum wajah Shiena. "Aku udah punya kamu untuk bisa menumpahkan perasaanku. Aku gak butuh bukit itu lagi."


Sontak saja apa yang dikatakan Willy membuat Shiena tertawa. Akhirnya mereka berdua tertawa bersama.