Before Divorce

Before Divorce
Bab 57 - Ingin Mengulang Masa Lagi?



Malam ini Davin banyak merenung. Ia merenungi bagaimana nasib pernikahannya nanti dengan Wilona. Ternyata memiliki istri cantik dengan segala kelebihannya baik dalam segi kecerdasan otak, harta melimpah, dan status sosial di masyarakat, nyatanya tak selalu membuat orang bahagia.


Davin jadi ingat masa-masa dimana dirinya sebelum menikahi Wilona. Davin adalah pria yang biasa yang menikahi gadis biasa, Devina.


"Apa kabarnya gadis itu? Kenapa tiba-tiba... Aku merindukannya. Devina adalah gadis ceria yang apa adanya. Dia tidak perlu berakting didepan semua orang untuk menutupi kekurangannya."


Davin mengusap wajahnya kasar. Malam semakin larut namun matanya masih belum mau terpejam. Diliriknya Wilona yang sudah terlelap ke alam mimpi.


Davin bisa hidup nyaman seperti sekarang berkat Wilona. Ia mendapatkan kenaikan jabatan juga berkat Wilona. Orang-orang menghormatinya karena ia adalah suami Wilona, putri tunggal keluarga Pramudya.


Davin akhirnya memilih untuk keluar kamar. Davin juga keluar rumah. Rumah besar itu rasanya membuat dirinya sesak. Padahal banyak ruang kosong disana.


Ditatapnya dua mobil yang terparkir di halaman rumah. Di waktu dulu, bahkan boro-boro Davin bisa membeli mobil. Untuk kehidupan sehari-hari saja dia sangat berhemat.


Namun kenapa semua kemewahan ini tetap tidak membuatnya bahagia? Apakah ada yang salah dengan pemikiran Davin?


Davin berjalan menuju taman di sekitar komplek rumahnya. Tentunya taman bermain itu bisa digunakan untuk anak-anaknya bermain jika mereka memiliki anak. Tapi impian itu juga rasanya masih menjadi impian.


Wilona terlalu berambisi untuk menggapai mimpinya. Wilona hanya memikirkan dirinya sendiri. Begitulah yang kini dipikirkan oleh Davin.


"Arrrgghhh! Bisakah aku kembali ke masa lalu lagi? Aku ingin memperbaiki kehidupanku tapi tidak dengan cara begini!"


Davin mengusap wajahnya kasar. Air mata jatuh membasahi pipinya.


"Anak muda! Kau terlalu cepat menyerah!"


Suara berat seorang kakek tua membuat Davin mendongak.


"Kakek! Tolong aku, Kek! Kembalikan aku ke masa yang dulu lagi! Aku tidak mau menjadi kaya. Aku tidak mau punya istri cantik, kalau ujungnya akan sama menyakitkan!"


Kakek tua itu tersenyum. "Kau ini sangat aneh! Manusia memang sangat aneh. Saat sedang berambisi, mereka melakukan apapun agar ambisi mereka tercapai. Tapi setelah mendapatkannya, mereka malah tidak bersyukur." Kakek tua itu menggeleng pelan.


"Jika kau sudah menyadari kesalahanmu, itu bagus! Tapi untuk mengulang masa lalumu lagi. Kau tidak akan bisa. Perbaikilah masa sekarang dengan usahamu sendiri. Jangan pernah mengeluh lagi karena Tuhan itu maha penyayang. Sekarang kembalilah ke rumahmu. Buat kebahagiaanmu sendiri tanpa ada campur tangan siapapun."


Davin menatap rumah mewahnya yang tidak terlalu jauh dari taman.


"Wilona..."


#


#


#


Pagi harinya, Davin terbangun. Matanya mengerjap seolah mencari titik terang apakah dirinya masih di masa yang sama atau kembali menjelajah waktu.


"Kak!"


Suara Wilona mengejutkan Davin.


"Wilona?!" Davin membuka matanya sempurna.


Davin menghela napas melihat kepergian Wilona.


"Baiklah! Jika Wilona bisa melakukan apa yang dia sukai, maka... Aku juga bisa melakukan apa yang aku sukai!"


Davin beranjak dari tempat tidur. Ia segera membersihkan diri sambil berdendang ria. Ia akan mulai menikmati hari-harinya sebagai Davin yang berbeda.


Davin mengendarai mobilnya sambil bersenandung. Lagu favoritnya terputar di music player mobil.


Saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Davin berhenti dan melihat sekeliling. Matanya tiba-tiba berhenti pada seseorang yang ada di dalam bus di sampingnya.


"Hah?! Itu seperti... Devina?"


Ingin melihat lebih jelas siapa gadis itu tapi lampu sudah menunjukkan warna hijau. Bunyi klakson bersahutan mulai terdengar. Davin segera melajukan mobilnya hingga tiba di kantornya yang baru.


Saat memasuki kantor, beberapa orang menyapanya dengan ramah. Davin membalas dengan senyuman.


"Pak Davin, ruangan Anda di sebelah sana. Mari saya antar, saya Anna, saya sekretaris bapak sekarang."


Davin mengangguk. "Terima kasih, Anna."


"Oh ya, Pak. Hari ini ada perkenalan karyawan baru. Beberapa diantara mereka malah fresh graduate, Pak."


Davin manggut-manggut. Ia berjalan menuju ke ruangannya yang cukup luas dan nyaman.


"Sekarang kita temui karyawan baru di ruang meeting, Pak."


Davin mengikuti langkah Anna. Disana sudah ada beberapa orang yang duduk. Mereka berdiri untuk menyambut atasan mereka yang baru.


"Terima kasih. Saya tidak perlu penyambutan yang berlebihan. Setelah ini kalian boleh kembali bekerja. Dan... Silakan perkenalkan diri kalian."


"Halo semuanya, nama saya Romi Rafael."


Davin tersenyum mendengar kawannya yang dulu kini menjadi bawahannya.


"Halo semuanya, kenalkan nama saya Devina."


Davin terkejut mendengar nama Devina ada di bagian karyawan baru di divisinya. Davin segera memeriksa apakah itu adalah Devina istrinya atau bukan.


Mata Davin tak berkedip menatap Devina yang ada di masa sekarang. Wajah cantik itu terlihat dewasa dengan balutan seragam kerja.


"Pak! Pak Davin!" Anna memanggil Davin.


"Eh?! Iya, Anna?"


"Kita kembali ke ruangan bapak."


Davin mengangguk. Sebelum keluar dari ruang meeting, Davin sempat beradu tatap dengan Devina.