
Kedua sahabat Shiena menatapnya dengan tajam dan penuh tanya. Shiena tahu pastinya mereka sudah merasa kecewa dengan keputusan Shiena yang tetap menolak perasaan Willy.
Ya, semalam di bukti berbintang, Willy kembali mengajak Shiena untuk memulai hubungan mereka. Namun lagi lagi Shiena menolak, karena ingin fokus pada studinya. Shiena juga meminta Willy agar fokus pada keluarganya dulu.
Hubungan ayah dan anak itu baru saja membaik, Shiena ingin Willy bisa dekat dengan Arya dan juga Litha agar kebencian yang sudah terpatri dihatinya lenyap secara perlahan.
Apa yang dilakukan Shiena tidaklah salah. Toh mereka masih punya banyak waktu untuk bisa menjalin kasih. Masa pacaran yang lama tidak menjamin jika hubungan pernikahan juga akan bertahan lama. Shiena hanya ingin meyakinkan hatinya. Dan saat itu tiba, Shiena akan menerima Willy dengan hati yang terbuka.
"Kenapa lo nolak kak Willy lagi sih, She?" Tanya Friska.
"Gue kan udah jelasin. Untuk saat ini, gue mau fokus sama tujuan gue. Dan dia juga harus fokus sama tujuan dia."
Anila dan Friska tak bisa berkata-kata lagi.
"Kalo gue cerita soal ini, apa kalian bakal percaya?"
"Cerita apa?" Friska makin penasaran.
"Apa kalian percaya mesin waktu?"
"Mesin waktu?" Anila dan Friska saling pandang.
"Iya, gue dan mas Willy datang dari masa depan. Gue datang dari tahun 2023. Gue dan dia... Dikehidupan masa depan adalah pasangan suami istri. Tapi, kami akan bercerai."
Friska melongo mendengar cerita Shiena.
"Maka dari itulah, gue gak pengen ngalamin hal itu lagi. Gue pengen mengubah takdir jodoh gue. Tapi ternyata... Semua tetap mengarah pada mas Willy. Mungkin memang gue ditakdirkan jodoh sama dia."
Shiena menundukkan wajahnya. "Tapi kita berdua sama-sama ingin memperbaiki diri. Sama-sama pengen agar dalam pernikahan kami gak ada yang namanya perceraian."
"Jadi, lo sama kak Willy datang dari masa depan?" Friska memberanikan diri bertanya kembali agar lebih jelas.
Shiena mengangguk mantap. "Iya, kami datang dari masa depan."
Friska nampak antusias. "Trus lo pasti tau dong apa yang terjadi sama gue dan Anila. Lo tau gak siapa jodoh gue?"
Shiena menggeleng. "Gue gak tau. Kayaknya ingatan gue kehapus karena emang pengen ngerubah jalan hidup gue. Makanya banyak hal yang gue gak inget. Termasuk soal jodoh kalian berdua."
Friska menunduk pasrah. Padahal ia ingin mengetahui hal yang terjadi di masa depan. Sementara Anila hanya diam dan tak banyak bicara setelah mendengar cerita Shiena.
"Gue penasaran kenapa lo sama kak Willy mau cerai? Bukannya lo sama dia udah kenal lama ya?" Tanya Friska penasaran.
"Wah kayaknya seru ya, She. Kalo bisa menjelajah waktu kayak lo. Tapi masa lo gak inget sama sekali soal kita. Kita kan sahabat baik lo, She."
Shiena menatap Friska. "Gue cuma inget sebagian aja. Gue ingat kalo diantara kalian berdua ada yang nikah, tapi gue lupa siapa orangnya.
"Oke deh, She. Kalo lo inget sesuatu, kasih tau gue ya, heheh."
Shiena tertawa, begitupun Friska. Berbeda dengan Anila yang tetap terdiam.
Setelah tawa mereka reda, Shiena melirik ponselnya dan terdapat satu panggilan dari Shandy. Shiena menjawabnya singkat lalu memutuskan berpamitan dengan kedua sahabat itu.
"Maaf ya, gue harus pergi. Bang Shandy udah nungguin di luar. Daaah!"
Shiena melambaikan tangan kepada kedua sahabatnya. Usai kepergian Shiena tinggalah Anila dan Friska yang masih duduk di kantin kampus itu.
Friska menatap Anila yang sejak tadi hanya diam.
"Nil, menurut lo gimana soal cerita Shiena tadi. Lo percaya gak kalo dia dan kak Willy datang dari masa depan? Kalo aja beneran ada mesin waktu kayak yang Shiena bilang, apa lo bakal ngerubah takdir lo?"
Pertanyaan Friska sama sekali tak digubris oleh Anila. Ia memilih untuk pergi.
"Maaf, Fris. Gue juga harus pergi. Gue duluan ya!" Anila bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan kantin.
"Yah, gimana sih? Kenapa mereka pada pergi? Trus gue mau ngobrol sama siapa coba?" Friska yang tak memiliki pilihan lain akhirnya ikut pergi dari kantin.
...***...
Tiba di rumah kosnya, Anila masuk ke dalam kamar dan terdiam. Apa yang dikatakan Shiena masih terngiang dalam ingatannya.
Jika memang benar mesin waktu itu ada, maka Anila juga mengalami hal yang sama dengan Shiena dan Willy.
Ya, Anila juga menjelajah waktu karena ingin mengubah takdirnya. Mata Anila mendadak memanas. Bayangan masa depannya yang suram dan penuh derita membuatnya bersedih.
(Jika Shiena dan kak Willy saja tetap berjodoh meski sudah menjelajah waktu. Maka, apakah aku juga akan tetap berjodoh dengan dia? Bagaimana ini?)
Anila menggeleng dengan kuat. Bulir-bulir air mata menetes deras dari kedua bola matanya.
"Gak, semesta! Aku gak mau ketemu sama dia! Aku ingin berjodoh dengan Bang Shandy. Tolonglah!"
Puas menangisi nasibnya di masa depan, Anila pun akhirnya tertidur masih dengan pakaian yang ia kenakan ke kampus tadi.