Before Divorce

Before Divorce
Bab 29 - RESTART



Shandy kembali ke rumah dengan perasaan penuh kebahagiaan. Shiena sangat bahagia melihat kakaknya berwajah ceria dan merona ketika ia menggodanya.


Shiena sendiri kini sedang mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Willy dan keluarganya. Malam ini akan diadakan acara lamaran secara resmi oleh keluarga Willy untuk meminang Shiena.


Dulu Willy tidak sempat melamar Shiena dengan resmi karena ia hanya tinggal sendiri dan ibunya masih tinggal di rumah sakit. Di kesempatan kali ini, Willy ingin menunjukkan kesungguhannya dalam mencintai Shiena. Willy datang dengan keluarga lengkapnya. Arya dan Litha juga Martha turut hadir malam ini.


Tatapan Shiena dan Willy bertemu ketika gadis itu datang ke ruang keluarga dengan anggun. Gaun pesta yang indah dan riasan make-up natural yang membuatnya terlihat sangat cantik malam ini.


Arya memulai percakapan dengan berbasa basi dilanjut dengan maksud kedatangan mereka yang datang untuk meminang anak gadis Prayitno dan Wulan.


"Bagaimana Shiena? Apa kamu menerima lamaran Nak Willy?" tanya Prayitno yang menyerahkan semuanya pada sang putri.


Shiena mengulas senyumnya pada semua yang hadir. Shiena menatap Willy kemudian menjawab.


"Maaf, aku gak bisa..."


Sontak saja jawaban Shiena membuat semua orang tercengang.


"She, jangan main-main! Willy udah datang sama keluarganya. Kamu mau bikin keluarga kita malu?" Shandy ikut terbawa emosi dengan sikap Shiena yang masih santai.


"Astaga, abang. Aku kan belum selesai bicara. Makanya dengerin dulu sampe selesai dong!" balas Shiena sambil menahan tawa.


"Aku tau kamu gak bakalan bisa menolak aku, Shiena." Kali ini Willy ikut menyahut dengan senyum mengembang di wajahnya.


Shiena menundukkan wajahnya karena malu. Ternyata ia tak bisa mengerjai Willy.


(Aku sudah tahu rencana kamu, Shiena. Kamu pikir bisa mengerjaiku?)


"Shiena, jadi bagaimana? Kamu menerima atau...?" Prayitno ikut bingung dengan sikap putrinya yang seakan plin plan.


"Aku menerimanya, Ayah..." lirih Shiena.


Semua orang langsung bernapas lega dan gelegar tawa mulai menggema.


"Maafkan putri kami ya, Jeng Litha." Wulan ikut tak enak hati dengan ulah Shiena.


Litha mengulas senyumnya. "Gak apa, Mbak. Namanya juga anak muda. Mereka pasti punya segudang cara untuk menarik simpati lawan jenisnya. Ditambah lagi Willy juga sangat mencintai Shiena. Dia malah udah gak tahan pengen nikahin Shiena, haha."


"Tante!" Willy tersipu malu dengan ucapan Litha.


Semua orang malah tergelak karena sikap malu-malu Willy dan Shiena.


Dan akhirnya status dua orang yang tadinya sebagai orang asing kini berubah menjadi calon jodoh. Hmm, takdir memang tak bisa ditebak ya.


#


#


#


Setelah acara lamaran selesai, Willy meminta izin pada para orang tua karena ingin mengajak Shiena untuk menjenguk Esti di rumah sakit. Willy sudah menceritakan semua masalah keluarganya. Beruntung keluarga Shiena menerima dengan hati yang lapang.


Willy menggenggam tangan Shiena dan berjalan menuju kamar rawat Esti.


"Sejak tadi Bu Esti menolak untuk tidur. Sepertinya beliau tahu jika mas Willy akan datang kemari," ucap seorang perawat.


Shiena mengulas senyum. "Ayo kita temui Ibu!"


Saat pintu kamar terbuka, Esti sudah berdiri dan menyambut kedatangan Shiena dan Willy.


"Anakku..." Esti merentangkan kedua tangannya.


Willy berjalan menghampiri Esti dan memeluknya dengan erat.


"Maaf aku datang terlambat, Bu..."


"Tidak apa, Nak." Esti mengurai pelukan dan merangkum wajah Willy.


"Selamat ya, Nak. Apakah dia... Shiena?"


Willy beralih menatap Shiena. Sejak hubungannya membaik dengan Arya, Willy sering bercerita tentang Shiena pada Esti.


"Iya, Bu. Dia adalah Shiena. Kemarilah!" Willy mengulurkan tangan kearah Shiena.


Shiena menyambutnya dan tersenyum pada Esti.


"Perkenalkan, saya Shiena." Shiena mencium punggung tangan Esti.


Esti mengusap puncak kepala Shiena dengan penuh kasih.


"Terima kasih karena sudah menerima Willy dan segala kekurangannya."


"Iya, Bu. Saya juga punya banyak kekurangan. Dan Mas Willy mau menerimanya."


Setelah menemui Esti, Willy dan Shiena melanjutkan perjalanan menuju tempat favorit mereka. Bukit berbintang.


#


#


#


Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini dalam hidupku?


Terkadang aku bertanya pada semesta kenapa aku harus mengulang waktu. Terkadang aku juga bertanya apakah ini nyata, atau tidak.


Lalu, apakah di masa depan aku akan mengalami hal yang sama dengan apa yang kualami sebelum aku mengulang waktu. Jawabannya, aku sendiri masih tidak tahu.


#


#


#


Pertanyaan Shiena membuat Willy menatap calon istrinya itu.


"Entahlah. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah melakukan yang terbaik untuk hidup kita, hubungan kita."


Jawaban Willy membuat Shiena terdiam. Memang benar mereka tidak akan bisa menebak apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.


"Baiklah. Mari kita lakukan yang terbaik." Shiena mengulurkan jari kelingkingnya kearah Willy.


"Apa ini?"


"Berjanjilah kalau kita akan melakukan yang terbaik."


Willy tersenyum. Lalu menautkan jari kelingkingnya dengan milik Shiena.


"Janji!" ucap mereka bersama.


Dua bulan setelah acara lamaran, Shiena dan Willy menggelar pesta pernikahan yang cukup meriah. Kebahagiaan jelas terpancar di wajah keduanya.


Shiena memeluk sahabatnya satu persatu.


"Makasih ya udah datang jauh-jauh kemari."


"Apaan sih She? Deket lah, kan tinggal naik pesawat," canda Friska hingga membuat ketiga sahabat itu saling tergelak.


"Trus kapan nih Anila sama bang Shandy nyusul?" goda Friska.


Anila tersenyum malu-malu. "Doain aja, Fris. Bang Shandy masih sibuk ngurus kerjaannya."


"Trus lo sendiri kapan nih?" tanya Shiena menyenggol lengan Friska.


"Umm, gue... gue..."


"Kita cariin jodoh buat Friska aja, She. Gimana? Mungkin orang kantornya bang Shandy atau Kak Willy ada yang cocok sama dia." Anila tertawa usai mengemukakan ide jahilnya.


"Nah ide bagus tuh!" Shiena ikut tergelak.


"Apaan sih kalian ini?" Friska mencebikkan bibirnya karena terus digoda oleh Shiena dan Anila.


Canda tawa ketiga sahabat itu membuat Willy dan Shandy geleng-geleng kepala.


#


#


#


Setelah menikah, Shiena dan Willy masih tinggal di rumah keluarga Shiena sambil mencari hunian yang cocok untuk keluarga kecil mereka.


Dan hari ini, karena keduanya libur kerja, mereka memutuskan untuk keluar dan mencari-cari rumah yang mereka idamkan.


Entah kenapa mobil Willy malah memasuki area perumahan yang mereka tempati di masa depan.


"Mas, kenapa kesini?"


"Eh? Entahlah, aku hanya mengikuti instingku saja."


Shiena mulai panik karena ingatannya mengenai rumah lama mereka kembali menyeruak.


"Mas, jangan kesini!" pinta Shiena.


Willy tahu kekhawatiran istrinya. Hanya saja Willy ingin tahu saja kondisi rumah mereka di masa ini.


"Mas!" suara Shiena makin lantang.


"Tenanglah, She. Kita kemari bukan berarti kita akan membeli rumah itu kan?"


Tiba-tiba Willy menghentikan mobilnya tepat di depan rumah mereka itu.


"Mas, kenapa berhenti?"


"Tuh, lihat!" tunjuk Willy dengan dagunya.


Shiena segera menoleh kearah yang ditatap Willy.


"Hah?!" Shiena melongo ketika melihat sebuah keluarga kecil sedang bermain di halaman rumah lama mereka.


"Rumah itu sudah jadi milik orang lain, She."


Shiena berkaca-kaca. "Ternyata rumah itu sekarang jadi rumah yang penuh dengan cinta dan keceriaan ya, Mas. Sangat berbeda dengan kita dulu. Kita hanya berdua dan sepanjang hari rumah itu kosong."


Willy menggenggam tangan Shiena. "Makanya sekarang aku mohon kita jangan menunda memiliki momongan, kamu setuju kan?" Willy berucap dengan sangat hati-hati. Ia takut menyinggung perasaan Shiena. Hamil dan memiliki bayi pastinya membutuhkan mental yang cukup kuat. Karena menjadi ibu tak semudah yang dibayangkan.


Shiena membalas dengan sebuah senyuman. "Iya, mari kita memiliki banyak anak. Agar rumah kita menjadi ramai seperti mereka."


Willy langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah.


"Jangan ke rumah, Mas. Gak enak kalo kedengeran bunda sama ayah," ucap Shiena malu-malu.


"Trus kita mau kemana?"


Shiena berpikir sejenak. "Gimana kalo kita ke hotel aja? Atau liburan kemana kek. Kita nginap di villa."


Willy langsung bersemangat. "Oke! Siapa takut! Aku pastikan kamu akan kewalahan bermain denganku, She."


Shiena memukul lengan Willy. "Enak aja! Kamu sendiri emangnya kuat berapa ronde, hah?" tantang Shiena.


"Wah, jangan meremehkan singa jantan ya, She. Kita buktikan aja nanti!"


"Siapa takut!"


Dan perjalanan mereka diisi dengan perdebatan siapa yang terkuat di ranjang. Hmm, kalau menurut author sih tidak ada yang kuat dan menang ya. Karena pastinya mereka akan sama-sama terkapar, hahaha.