Before Divorce

Before Divorce
Bab 37 - Salah Paham



Kondisi Willy yang cukup parah membuatnya harus ekstra sabar untuk bisa kembali ke kondisi semula. Martha sudah mendaftarkan Willy untuk mengikuti kelas fisioterapi milik terapis yang namanya cukup dikenal di negara ini.


"Kak, hari ini adalah jadwal kakak bertemu terapis. Kakak gak apa kan kalo aku tinggal sendiri? Nanti ditemani sama suster yang lain."


Willy tersenyum. "Iya, aku bisa sendiri kok. Kamu jangan anggap aku kayak anak kecil, Tha. Kamu ada tugas luar?"


"Iya, kak. Aku harus mengawal pasien yang akan dirujuk ke rumah sakit di luar kota. Ya udah, bentar lagi Kak Ita datang buat jemput kakak ke ruang terapi. Aku pergi dulu ya!"


"Hati-hati, Dek!"


"Iya, makasih kak."


Willy kembali menunggu perawat lain yang akan menemaninya terapi hari ini. Willy menatap kedua kakinya yang sampai saat ini masih sulit untuk bergerak.


"Bagaimana kabar kamu, She? Semoga kamu baik-baik aja bersama Alex."


Ingatan Willy terbang ke waktu dimana Yitno mendatanginya dan meminta Willy untuk melepas Shiena. Hari itu, ternyata Yitno tak hanya ingin menjenguk Willy. Tapi juga melanjutkan maksud yang pernah Willy pernah lakukan.


"Lanjutkan rencana perpisahan yang kamu inginkan. Biarkan Shiena bahagia dengan orang lain," ucap Yitno.


"Apa? Kenapa ayah berkata begitu? Aku yakin semua ini ada alasannya. Kenapa kami sampai mengalami kecelakaan dan pembatalan perceraian itu terjadi. Itu artinya semesta masih ingin kami bersama, Yah. Tolong jangan pisahkan aku dari Shiena," mohon Willy dengan mata berkaca-kaca.


"Semua sudah terlambat, Willy. Nak Alex setiap hari datang dengan membawa cinta untuk Shiena. Ayah yakin jika jalan yang kemarin kamu ambil, adalah jalan yang terbaik untuk kalian berdua."


"Tidak! Itu gak benar, Ayah! Saat itu... Saat itu aku hanya khilap. Aku tahu aku salah. Makanya izinkan aku memperbaiki semuanya. Kumohon, Yah!"


Yitno menghela napas dan menggeleng. "Ayah akan tanyakan pada Shiena. Mungkin saja kalian perlu bicara jika kondisi kalian sudah sama-sama membaik."


Willy memejamkan mata mengingat apa yang dikatakan ayah mertuanya saat itu. Rasanya sangat menyayat hatinya. Willy memang bersalah karena sudah mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Namun kini ia menyesal. Tak adakah sisa cinta yang bisa ia pertahankan bersama Shiena. Bahkan di dalam mimpi, Willy merasa bahagia karena bisa mengubah takdirnya.


"Pak Willy!" panggilan perawat membuat Willy tersadar dari lamunannya.


"Eh, iya suster. Apa sudah saatnya saya berangkat terapi?"


Perawat bernama Ita itu mengangguk. "Benar, Pak. Mari saya bantu naik ke kursi roda."


Kursi roda itu berjalan menuju ke ruang terapi. Saat tiba di depan ruangan serba putih itu, Willy merasa tak asing dengan seseorang yang berdiri di depan sana.


"Selamat pagi, Willy. Gimana kabar kamu?" tanya seorang wanita cantik yang memakai jas snelli putih yang melekat di tubuhnya.


"Renata? Kamu..." Willy tak melanjutkan kalimatnya karena ia tahu apa yang sedang terjadi sekarang.


"Benar! Aku adalah terapis kamu disini. Mari suster, bawa pasien masuk!"


Renata adalah kawan lama Willy saat SMA dulu. Mereka masih saling mengenal karena setahun sekali alumni SMA mengadakan reuni agar saling terjalin persaudaraan antar alumni.


"Gimana kondisi kamu?" Sebelum memulai terapi, Renata mengecek tekanan darah Willy sambil mengajaknya mengobrol ringan.


"Sudah lebih baik. Aku tidak tahu jika kamu..."


Renata menatap Willy. "Kamu mengalami kecelakaan setelah acara reuni sekolah kita. Mana mungkin aku kembali ke luar kota? Aku juga diminta oleh teman-teman agar bisa membantumu. Teman-teman juga sangat mengkhawatirkanmu."


Willy mengulas senyum tipis. "Maaf sudah merepotkanmu."


Willy mengangguk mantap. "Aku ingin segera bisa berjalan kembali dan menemui Shiena."


Alasan Willy membuat Renata tersenyum kecut. Willy bangkit dari kursi rodanya dibantu oleh suster Ita dan satu perawat pria.


"Bagus! Perlahan saja!" ucap Renata.


Willy berpegangan pada kedua sisi besi dan mulai menggerakkan kedua kakinya perlahan. Namun saat ingin melangkah lagi, kaki Willy mendadak kram dan membuatnya oleng.


Beruntung Renata segera menangkap tubuh Willy. Pemandangan ini membuat orang yang melihat jadi salah paham dan mengira jika mereka sedang berpelukan.


Hal ini juga yang membuat Shiena kecewa pada Willy karena kembali melukai hatinya. Shiena berbalik badan dan segera pergi dari sana.


Sekuat hati Shiena menahan air mata yang ingin lolos dari matanya. Namun Shiena tak mungkin menangis karena Yitno sudah berada di depannya.


"Nak, kenapa balik lagi? Apa Willy gak mau menemuimu?"


Shiena menggeleng. "Gak apa kok, Yah. Tiba-tiba saja aku gak enak badan. Aku mau pulang aja!" Shiena tetap tersenyum meski dalam hati merasa sakit.


"Siapa perempuan itu? Apa dia dokternya mas Willy? Tapi kenapa harus pake pelukan segala? Apa segitu mudahnya kamu ngelupain aku, Mas?" Shiena menangis dalam hati.


Yitno yang melihat gelagat aneh pada putrinya hanya diam dan memperhatikan. Untuk sementara ia ingin membiarkan Shiena dalam lamunannya.


...***...


"Sebaiknya kamu jangan memaksakan dirimu, Will. Kakimu belum sepenuhnya pulih. Kamu harus bersabar!" Renata menasehati Willy yang kini sudah kembali duduk di kursi roda.


"Maaf, Re. Aku emang gak sabar pengen bisa jalan lagi kayak dulu."


"Tapi semua butuh waktu, Will. Sekarang kamu balik ke kamar dulu ya! Istirahat dulu! Kita coba lagi besok. Gimana?"


Willy setuju dengan usul Renata. Mereka pun kembali ke kamar rawat inap Willy. Renata berkunjung sebentar di kamar Willy sebelum akhirnya ia harus kembali melakukan terapi dengan pasiennya.


Di sisi lain, Shiena langsung menuju ke kamarnya setelah tiba di rumah. Tentunya Wulan ikut bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada Shiena.


"Ayah, kenapa cepat sekali pulangnya? Willy dan Shiena bicara apa?"


Yitno hanya mengedikkan bahunya. "Ayah gak tahu, Bun. Sepertinya mereka hanya bertemu sebentar. Atau mungkin malah belum ketemu."


"Eh? Kok bisa, Yah? Apa Ayah gak ikut dengan Shiena saat menemui Willy?"


"Gak perlu lah, Bun. Itu kan urusan mereka. Ayah gak berhak ikut campur."


Wulan menatap kamar putrinya yang tertutup. "Tapi jika sampai Willy menyakiti Shiena lagi, Bunda gak akan tinggal diam, Yah. Shiena itu putri kita yang berharga. Berani sekali dia menyakiti putriku!"


Yitno memeluk bahu istrinya. "Sabar, Bun. Kita serahkan saja sama mereka. Ayah yakin Shiena bisa mengambil keputusan yang bijak."


Di dalam kamarnya, Shiena menangis dalam diam sambil membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Rasanya menyesakkan melihat Willy bersama dengan orang lain.


"Apa tidak ada harapan untuk kita bisa kembali bersama, Mas? Apa kamu memang sudah membuka hatimu untuk orang lain?"


Shiena memeluk guling dengan erat. Karena kelelahan menangis, Shiena pun akhirnya tertidur.