Before Divorce

Before Divorce
Bab 47 - Jebakan Dalam Jebakan



"Mas Willllllyyyy!"


Teriakan Shiena membuat Wulan langsung mendatangi keberadaan sang putri.


"Shiena? Kamu kenapa, Nak? Kamu mimpi buruk?"


Shiena menatap Wulan dengan keringat yang membasahi pelipisnya.


"Bunda?"


Shiena menatap sekelilingnya. Ia berada di rumahnya. Sejak siang hari tadi Shiena sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawanya ke rumah Willy hari ini. Hingga tak tersadar dirinya kelelahan dan akhirnya tertidur di sofa kamarnya.


"Shiena, ada apa?"


Shiena masih mengatur napasnya yang memburu.


(Ternyata hanya mimpi. Tapi... Kenapa rasanya nyata sekali?)


"Bunda, sekarang jam berapa?"


"Hmm, jam lima sore. Kenapa memangnya?"


(Apa? Jam lima? Jika memang firasatku benar tentang mimpi itu maka... Mas Willy akan mendatangi apartemen Renata pukul setengah enam petang nanti. Kalau begitu... Aku harus bergegas mencegah Mas Willy!)


"Bunda, aku harus pergi. Mang Pur ada kan?"


"Heh?! Kamu mau kemana, Nak? Nanti malam kan kita ada acara di rumah Nak Willy."


"Bunda, aku cuman sebentar. Nanti kalo sampe jam 6.30 malam aku belum juga datang, bunda langsung ke rumah Mas Willy aja ya!"


Shiena langsung bergegas keluar rumah dan meneriakkan nama Mang Pur. Shiena bahkan tak sempat mengganti dress rumahannya dan tidak memakai alas kaki.


"Mang, cepat ke apartemen Prince Town!" Seru Shiena.


Mang Pur langsung tancap sesuai arahan Shiena.


Pukul 17.15, Shiena mulai panik. Karena jalanan memang sedang padat akibat banyaknya pengendara yang pulang kerja.


"Maaf, Non. Jalannya macet. Ini kan jam pulang kantor."


Shiena memejamkan mata.


(Gak ada waktu lagi. Aku harus cepat!)


"Ya udah, Mang. Aku turun disini aja!"


"Eh?!" Mang Pur bingung tapi tak bisa mencegah Shiena.


Shiena berlari melewati kendaraan yang bersahut-sahutan saling membunyikan klakson.


(Aku yakin ini bukan mimpi biasa. Renata punya niat jahat sama Mas Willy. Dan aku gak akan membiarkannya!)


Shiena tak mempedulikan kakinya yang langsung menempel aspal. Terasa panas tapi Shiena tak bisa menyerah sekarang. Pernikahannya sedang dipertaruhkan disini.


#


#


#


Di rumahnya, Willy baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi. Ponselnya berdering tanda sebuah pesan masuk.


"Renata? Kenapa dia?"


Willy mengerutkan kening karena Renata mengirim pesan suara kepadanya.


"Willy! Tolong aku! Tolong cepat datang! Ada seseorang yang masuk ke apartemenku. Aku sangat takut, Willy. Tolong aku!"


Sontak saja Willy panik karena suara Renata sangat meyakinkan untuk seseorang yang sedang terkena masalah. Willy langsung mengambil kunci mobil dan berlari keluar rumah.


"Willy, mau kemana Nak?" Tanya Esti saat melihat Willy berlari.


"Bu, aku keluar sebentar ya! Ada urusan. Aku akan kembali sebelum keluarga Shiena datang."


Esti tak mampu mencegah Willy dan hanya membiarkan putranya pergi.


Di sisi Shiena, ia datang ke apartemen Renata sebelum Willy datang. Sebenarnya Shiena ingin mencegah Willy untuk tidak datang.


Namun tiba-tiba terbersit rencana lain dalam hatinya. Shiena memilih mendatangi Renata ketimbang mendatangi Willy.


Shiena masih ingat berapa nomer kamar Renata. Dan memang benar, pintu kamar Renata tidak tertutup rapat seperti yang ada dalam mimpinya.


(Dasar perempuan sĂșndal! Mau macam-macam denganku, hah? Tidak akan bisa!)


Shiena memasuki kamar dengan mengendap-endap lalu mencari tombol saklar untuk menyalakan lampu.


Lampu menyala dengan benderang. Shiena melihat raut keterkejutan di wajah Renata yang sedang berdiri sambil memegang alat suntik di tangannya.


Shiena bertepuk tangan. "Luar biasa! Kamu wanita berpendidikan dan terhormat. Tapi aku gak menyangka kamu akan melakukan hal kotor seperti ini!"


Wajah Renata memucat karena rencananya digagalkan oleh Shiena.


(Sial! Bagaimana bisa Shiena datang kemari? Apa Willy memberitahukan pesan dariku pada Shiena?)


"Kamu jangan berpikir kalau Mas Willy yang menunjukkan pesan darimu padaku. Entah karena memang semesta masih melindungi kami atau apa, yang jelas rencanamu gak akan pernah berhasil. Sebaiknya kamu cari korban lain saja!" Seru Shiena berapi-api.


Penampilan Shiena yang berantakan karena berlarian sepanjang jalan, membuatnya terlihat menakutkan di mata Renata.


"Sekarang kamu gak punya pilihan lain selain mengakui perbuatan licikmu itu. Katakan! Kamu ingin menjebak Mas Willy agar terlihat tidur denganmu kan?"


Renata tak bisa berkutik karena Shiena terus saja memojokkannya.


"Cepat katakan!" Pekik Shiena.


"Kalau iya, kenapa? Aku sudah lebih dulu mengenal Willy ketimbang dirimu. Kamu hanyalah anak manja yang akan selalu merepotkan Willy. Kamu pikir aku gak tahu, kamu selalu menuntut Willy agar mengikuti apa yang kamu inginkan. Kamu egois, Shiena! Kamu selalu memanfaatkan Willy! Dan aku tidak suka dengan sikapmu itu!"


Akhirnya Renata mengatakan semua yang ada di hatinya secara gamblang.


"Jadi kamu menyuruhku datang kemari karena ingin menjebakku? Begitukah Renata?"


Suara Willy yang diliputi amarah memenuhi apartemen Renata. Wajah Renata bertambah panik karena tak menyadari kehadiran Willy.


"Willy? Ka-kamu datang?" Renata panik dan memucat.


"Sekarang aku tahu kalau hatimu busuk, Renata. Aku menyayangimu sebagai temanku, tapi kamu sudah membuatku kehilangan respek terhadapmu. Jangan pernah menggangguku lagi dan juga Shiena!"


Willy merangkul bahu Shiena dan membawanya pergi dari apartemen Renata.


Renata nampak syok, tubuhnya beringsut ke lantai dan terduduk lemas.


"Aaarrrgghh!" Renata berteriak. Ia menangis dan memukuli dadanya.


Seseorang tiba-tiba masuk dan berdiri di depan tubuh Renata yang sedang tertunduk dan menangis.


"Gue gak nyangka lo bisa senekat ini, Renata."


DEG


Renata mendongak. Terpampang jelas wajah kecewa Alex di depan matanya.


"Alex? Lo... Kok bisa ada disini?"


Alex menyeringai. "Gue sendiri juga gak tahu kenapa gue ada disini. Yang pasti, lo udah ngerendahin harga diri lo sebagai cewek di depan Willy. Harusnya lo bisa ngerti kalau sampai kapanpun cinta Shiena dan Willy gak akan pernah hilang. Gue udah mencobanya dan gue gak berhasil. Jadi, saran gue. Sebaiknya lo perbaiki diri lo dan cari cowok yang cinta sama lo, bukan yang lo kejar-kejar cintanya."


Setelah mengatakan semua hal itu pada Renata, Alex keluar. Alex menghela napas.


Alex baru saja tiba di kota ini usah mengantar Friska kembali ke kota halamannya. Di perjalanan Alex memimpikan Shiena yang menangis meminta tolong padanya.


Alex merasa mimpinya bukan mimpi biasa. Alex merasa jika Shiena memang sedang kesulitan.


Dan benar saja, Renata memiliki niat jahat terhadap Willy. Tapi berhasil di gagalkan oleh Shiena sendiri.


"Shiena Shiena! Kenapa kamu selalu saja mengganggu ketenangan hidupku." Alex menggeleng pelan.


Saat hendak meninggalkan area apartemen Renata, ponsel Alex berbunyi. Sebuah panggilan dari Friska.


"Halo, kak. Udah sampe apartemen?"


"Belum. Aku baru saja menolong Shiena."


Entah kenapa Alex ingin bicara jujur pada Friska.


"Hah?! Emang Shiena kenapa?" Friska mulai panik dan juga cemburu.


"Gak kenapa napa. Aku hanya memastikan dia baik-baik saja. Aku memimpikan hal buruk tentangnya. Dan ternyata benar, jika ada orang yang ingin melukai Shiena dan Willy. Tapi kamu tenang aja, mereka bisa mengatasi masalah mereka."


Friska terdiam.


"Sayang..."


"Kamu... Masih menyukai Shiena?"


Alex malah tertawa. "Aku sudah mengungkapkan semuanya padamu. Terserah kamu ingin menanggapinya gimana. Kita gak akan bisa menghapus masa lalu, namun kita bisa mengubah masa depan... Kamu percaya padaku atau tidak... Aku serahkan semuanya padamu."


Friska terharu dengan apa yang diucapkan Alex.


"Iya, kak. Aku percaya padamu..."