
Willy menatap penampilan Shiena sebelum melajukan mobilnya. Menurutnya, ada yang aneh dengan istrinya itu.
"Mas kenapa? Kok ngeliatin aku gitu?"
Willy menggeleng. "Aku ... Hanya ngerasa aneh aja sama kamu."
Shiena menyipitkan mata bingung. "Ha? Maksudnya?"
"Lihat penampilan kamu, She!" ucap Willy hati-hati. Ia tidak ingin Shiena marah karena kritikannya.
"Memangnya kenapa denganku?" Shiena menatap tampilan dirinya sendiri dengan matanya sendiri.
"Hah?! Astaga! Jadi, aku sedari tadi cuma pakai daster rumahan dan gak pakai sandal?" Shiena menepuk jidatnya sendiri.
Willy menahan tawa. "Aneh sekali istriku ini. Jadi dia gak sadar kalo penampilannya sangat aneh?" batin Willy.
Shiena menundukkan wajah malu. "Aku bahkan gak sempat ganti baju dan juga gak inget untuk pakai sandal. Aku terlalu takut kamu kenapa napa, Mas."
Wajah Shiena terlihat sendu.
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa ada di apartemen Renata."
Shiena menghela napas panjang.
"Ceritanya panjang, Mas. Aku sendiri juga gak paham, apakah ini beneran nyata atau masih mimpi..."
Wajah lelah Shiena menjadi hiburan tersendiri untuk Willy. Ciuman singkat dia daratkan di bibir Shiena.
"Mas!" pekik Shiena kaget.
"Aku cuman nyadarin kamu aja kalo ini bukan mimpi."
Shiena merengut. Dan Willy malah tertawa terbahak.
"Ya sudah, jangan cemberut terus. Kita akan langsung ke rumahku saja ya! Aku akan mengirimkan pesan pada Bunda."
Willy meraih ponselnya dan menghubungi Wulan. Shiena sendiri baru sadar jika dirinya tidak membawa apapun termasuk ponsel.
"Astaga! Hari ini benar-benar membuatku lelah!" Shiena menyandarkan tubuhnya ke sofa mobil.
#
#
#
Kedatangan Shiena dan Willy di sambut meriah oleh kedua keluarga yang sudah berkumpul. Wulan langsung mendelik ketika melihat penampilan Shiena yang awut-awutan.
"Ya ampun anak Bunda!" Wulan menggelengkan kepala.
"Biar Shiena bersihin diri dulu di kamar, Bun. Ayo She!"
Willy menarik lembut tangan Shiena dan masuk ke dalam kamar. Para orang tua berbisik-bisik menanyakan apa yang terjadi dengan Shiena dan Willy.
"Aku juga gak tahu, Mbak. Shiena tiba-tiba aja pergi tanpa bilang apapun. Kalo kata Mang Pur sih, Shiena minta di antar ke apartemen Prince Town," jelas Wulan.
Esti masih tetap merasa cemas dengan keadaan kedua anaknya itu.
"Sudah, Mbak. Jangan terlalu dipikirin. Yang penting mereka pulang dengan selamat kemari." Litha mengusap punggung Esti.
Usai membersihkan diri, Shiena dan Willy kembali berkumpul dengan anggota keluarga mereka. Gelak tawa kini terdengar riuh dan menggema.
Shiena berharap, kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir cepat. Hingga malam semakin merangkak, dan kini Shiena telah berebahan di tempat tidur bersama Willy.
Shiena memeriksa ponselnya siapa tahu ada hal yang penting. Shiena membulatkan mata ketika melihat nama Alex tertera di panggilan tak terjawab.
"Kak Alex?" Shiena menunjukkan layar ponsel kepada Willy.
Shiena tak ingin Willy salah paham lagi terhadapnya dan Alex.
"Hmm, kamu mau telepon dia balik? Siapa tahu ada yang penting," balas Willy.
Shiena berpikir sejenak. Ia rasa tak perlu mencari tahu apa tujuan Alex menghubunginya. Shiena tahu jika Alex sekarang menjalin hubungan dengan sahabat Shiena. Jadi, Shiena memilih untuk bersikap bijak saja.
"Maaf ya, Mas. Aku gak akan telepon balik kak Alex. Jika ada yang penting dia bisa mengirim pesan. Betul kan?" Shiena mengulas senyumnya.
Willy sangat senang karena Shiena mulai mengubah sifat dan sikapnya. Willy mengusap pelan pucuk kepala Shiena.
"Sekarang kita tidur ya! Kamu pasti lelah setelah berlarian tadi.
#
#
#
Sontak saja Willy terkejut dengan teriakan Shiena.
"Sayang! Kamu kenapa?" Willy ikut panik karena melihat wajah pucat Shiena yang bercucuran keringat.
"Sayang, ada apa?"
Shiena masih mematung. Willy segera membawa Shiena dalam pelukannya.
"Sudah ya! Jangan takut! Aku ada disini..." ucap Willy berulang kali untuk menenangkan Shiena.
#
#
#
Keesokan harinya Shiena terus melamun dan mengingat tentang mimpinya. Litha dan Esti menatap Willy dan menanyakan apa yang terjadi dengan Shiena melalui kode kedipan mata.
Willy menggeleng dan meminta kedua ibunya untuk tidak menanyakan apapun pada Shiena. Biarlah Shiena sendiri dulu dan menenangkan diri. Mungkin kejadian kemarin masih membuat jiwanya terguncang, pikir Willy.
Usai sarapan, Willy berpamitan pada Shiena untuk pergi ke kantor. Hari ini Willy akan resmi bekerja di perusahaan milik ayahnya yang sekarang dipegang oleh Litha.
"Hati-hati ya, Mas." Shiena merapikan penampilan Willy agar terlihat sempurna.
"Makasih sayang. Kalo kamu bosan berada di rumah, kamu bisa jalan-jalan dekat komplek rumah. Ada taman yang cukup besar depan komplek."
Shiena mengangguk. Ia mengantar kepergian suaminya dengan senyuman lebar.
Siang harinya, Shiena menghubungi Anila untuk mengetahui bagaimana hubungannya dengan Shandy. Shiena bernapas lega karena Anila sebentar lagi akan menikah dengan Shandy.
"Syukurlah jika dokter Shandy baik-baik saja. Entah kenapa aku merasa semesta mempermainkan takdir kami. Kami kehilangan Bang Shandy lalu muncul seseorang yang mirip dengannya. Dan sekarang... Kamu seakan ingin mengambilnya kembali."
Shiena memejamkan matanya sejenak. Mimpinya semalam adalah tentang kecelakaan dokter Shandy yang menyebabkan dirinya meninggal. Shiena percaya pada mimpinya, maka ia harus memastikan jika kondisi dokter Shandy baik-baik saja.
"Benar! Aku harus menemui dokter Shandy. Dia gak boleh pergi lagi! Takdirnya berbeda dengan takdir Bang Shandy."
Shiena segera berpamitan pada ibu mertuanya. Meski sempat bingung dengan sikap menantunya yang terlihat aneh, tapi Esti tak dapat mencegah kepergian Shiena.
#
#
#
Shiena berdiri menatap nanar trotoar jalan yang sudah menewaskan Shandy, kakaknya. Air mata Shiena tiba-tiba menetes ketika mengingat bagaimana Shandy pergi meninggalkan dirinya.
"Gak! Aku gak mau kehilangan lagi!" Shiena bergumam sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
"Shiena!" Panggilan suara itu membuat Shiena menoleh.
"Bang Shandy!"
DEG
Tentu saja dokter Shandy bingung dengan sikap Shiena yang tiba-tiba memeluknya. Tadi saat melintas di jalanan itu, Shandy melihat sosok Shiena yang sedang berdiri sambil menangis. Karena tak tega, akhirnya dokter Shandy menepikan mobilnya dan menghampiri Shiena.
Tangisan Shiena yang menyayat hati sungguh tak bisa Shandy biarkan.
"Shiena, ada apa? Kenapa kamu berdiri disini sendirian?"
Shiena menatap sekelilingnya. Ternyata dirinya sekarang ada di taman dekat trotoar tadi.
"Dokter Shandy?" Shiena tak menyangka jika dirinya akan bertemu lagi dengan sosok yang mirip sang kakak.
"Abang, tolong jangan pergi!"
Kekhawatiran Shiena terlihat jelas di matanya.
"Hari ini aku akan menemani abang bekerja."
Dokter Shandy menatap Shiena bingung.
"Ada apa dengannya? Kenapa bicara begini denganku?" batinnya.
Setelah menuruti keinginan Shiena, Shandy menghubungi Willy agar menjemput istrinya di rumah sakit. Willy sangat terkejut karena ternyata sikap aneh istrinya adalah karena dokter Shandy.