Before Divorce

Before Divorce
Bab 40 - Kedatangan Raffa



"Kamu harus bawa istri kamu kembali, Raffa!"


Suara seorang wanita paruh baya terdengar tegas dan bersifat memaksa.


"Sudah enam bulan dia pergi dari rumah. Istri macam apa yang lari dari rumah suaminya? Keluarganya pasti tidak mendidik dia dengan baik!"


Hari ini kembali keluarga Raffa mendatangi keluarga Anila dan memberikan bermacam cacian dan makian untuk menantu mereka yang melarikan diri.


Amina, ibu Anila hanya bisa menangis mendengar putrinya dicaci seperti itu. Terlebih Ibu Raffa membawa mereka kedalam masalah ini. Dengan menyebut mereka tak becus mendidik putri mereka.


"Kami tidak pernah mengajarkan Anila untuk membantah suaminya. Jika Anila akhirnya menyerah, maka itu artinya Nak Raffa lah yang sudah membuatnya pergi." Akhirnya Amina berani menyanggah perkataan besannya itu.


"Apa kamu bilang?! Kalian orang miskin hanya bisa membantah saja! Jelas-jelas kalian yang salah!" kesal ibu Raffa.


"Bu, sudahlah. Kita kemari untuk menanyakan pada ayah dan ibu mertuaku tentang keberadaan Anila. Aku yakin mereka tahu sesuatu soal ini."


Raffa menatap Arman, ayah Anila dengan tajam. "Katakan dimana Anila? Dia adalah istriku, jadi aku berhak tahu dimana dia berada. Jangan menutupinya lagi, Pak. Sudah cukup aku bersabar." Raffa bicara dengan nada penekanan di dalamnya.


Arman memejamkan matanya sejenak. Ia juga menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Raffa.


"Baiklah, aku akan katakan dimana Anila."


"Pak!" Pernyataan Arman membuat Amina menggeleng. Tentunya ia tidak ingin membuat putrinya dalam masalah. Meski ia dan Arman tak bisa membantu Anila karena terpentok oleh peraturan adat di daerahnya.


Raffa tersenyum menyeringai. Akhirnya kedua mertuanya ini menyerah juga. Begitulah pikir Raffa.


"Tapi dengan satu syarat!" tegas Arman.


Wajah Raffa yang semula sumringah kini berubah menjadi bingung.


"Syarat? Apa kalian pikir kalian berhak mengajukan syarat di saat seperti ini?" remeh Raffa.


"Ya! Sudah cukup kalian menghina putriku dan membuatnya menderita. Akulah yang bersalah disini, jadi jangan bawa Anila dalam masalah ini. Dan kamu!" Arman menunjuk Raffa.


"Jika kamu ingin tahu dimana Anila, maka kamu harus berjanji akan menceraikan dia dan mengembalikannya pada kami! Jika tidak, aku tidak akan memberitahumu dimana Anila berada. Yang terpenting Anila sudah ada di tempat yang aman!" Kini giliran Arman yang tersenyum menyeringai.


Tangan Raffa terkepal sempurna. Hatinya mendidih mendengar syarat yang diajukan Arman.


"Sialan! Tua bangka ini ternyata punya otak yang licik juga! Apapun yang terjadi aku gak akan melepaskan Anila! Dia itu mainan yang sangat menyenangkan!" batin Raffa.


"Kenapa diam saja?! Berpisah dengan Anila atau kamu akan pulang dengan tangan kosong!" ucap Arman sekali lagi.


"Baiklah!" Raffa terpaksa mengucap kata itu.


"Aku akan ceraikan Anila. Cepat beritahu dimana dia berada!"


Arman menatap Amina. Menurut Arman, sudah saatnya Anila menyelesaikan masalahnya dengan Raffa. Ditambah lagi, Arman sudah mendengar jika Anila sudah kembali sadar dari komanya.


Sebenarnya bukan Arman tak ingin menjenguk Anila. Tapi karena keluarga Raffa selalu mengawasi gerak gerik Arman dan Amina, akhirnya membuat Arman berkata pada ayah Shiena jika mereka tak bisa menjenguk Anila karena terpentok adat di daerah mereka.


Saat itu Arman masih ingin melindungi Anila karena tak ingin putrinya tambah menderita. Namun setelah kini kondisi Anila sudah membaik, maka Arman akan membiarkan Raffa menemui Anila dan menyelesaikan masalah mereka.


Arman menyerahkan semua keputusan kepada Anila. Arman tahu jika selama pernikahan, Anila tidak hidup bahagia di rumah mertuanya. Arman sudah memberi neraka bagi Anila. Maka sekarang biarkan putrinya memilih surganya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi itu Shiena bersiap untuk berkunjung ke rumah sakit. Beberapa barang ia bawa untuk Anila. Sejak keluar dari rumah sakit, kegiatan Shiena hanyalah memikirkan soal Anila saja. Shiena ingin membantu sahabatnya itu.


"She, mau pergi lagi ke tempat Anila?" tanya Wulan.


"Iya, Bun."


"Gak sama Nak Alex?"


Pertanyaan Wulan membuat Shiena menatap ibunya.


"Bun, kenapa bunda begitu membela kak Alex? Bunda tahu kan kalo aku ini siapa? Aku ini istri orang, Bun. Masa iya bunda jodoh-jodohin sama cowok lain sih." Shiena mulai memprotes apa yang dilakukan Wulan.


"Bunda! Kok ngomongnya begitu? Aku sama Mas Willy hanya sedang memcari waktu yang tepat saja. Selama ini aku menghormati dan menyayangi Bunda. Jangan sampai karena masalah ini aku jadi benci sama bunda. Aku bukan anak kecil lagi, Bun. Jadi tolong biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri."


Shiena berlalu pergi dan berpamitan ala kadarnya pada Wulan.


Wulan mengusap dadanya. "Anak itu kok keras kepala sekali sih? Kalau dia gak bisa menyelesaikan masalahnya, maka lebih baik orang tua saja yang menyelesaikan. Mau sampai kapan masalah ini berlarut-larut?"


Yitno yang mendengar perdebatan istri dan anaknya hanya mengusap lengan Wulan dengan lembut.


"Sabar, Bun. Jangan terpancing emosi. Bunda kan tahu gimana Shiena. Semakin dipaksa nanti malah semakin menjauh."


"Ayah, lakukan sesuatu! Kita harus bertindak dari pada menunggu si Willy itu! Ujung-ujungnya gak jelas juga nanti!" kesal Wulan. Ia membujuk suaminya agar mau mengikuti keinginannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiba di rumah sakit, Shiena membawa cukup banyak barang yang akan ia berikan untum Anila. Namun di tengah perjalanan menuju kamar rawat Anila, Shiena bertemu seseorang.


"Oh jadi kamu yang sudah mempengaruhi istriku buat kabur dari rumah?"


DEG


Jantung Shiena berdegup sangat kencang. Tangan dan kakinya mulai gemetar melihat sosok yang sangat dihindari Anila, yaitu Raffa.


"Teman macam apa yang menyetujui seorang istri kabur dari suaminya, hah?!"


Raffa begitu mengintimidasi Shiena. Bahkan Shiena tak berani menjawab ucapan Raffa.


"Aku yakin kamu yang sudah membuat Anila kabur dari rumahku, benar kan?"


Shiena menggeleng. Ia menolak semua tuduhan Raffa.


"Gak! Aku gak mempengaruhi Anila. Dia sendiri yang pergi dari pria jahat seperti kamu! Kamu itu gak pantas disebut suami! Karena kamu hanya menyakiti Anila saja! Lebih baik lepaskan Anila dan biarkan dia hidup bahagia!" seru Shiena tak mau kalah. Entah dapat keberanian dari mana ia berkata seperti itu.


"Apa katamu?! Berani sekali kau bilang begitu!"


Raffa sudah mengangkat tangannya ingin memukul Shiena. Namun ternyata tangan Raffa hanya tergantung di udara. Ada seseorang yang mencekal tangannya.


"Hah?! Lepasin tanganku!" berontak Raffa.


Shiena yang terpejam kini berani kembali membuka matanya. Ternyata ada seseorang yang menolong Shiena.


"Pria macam apa yang berani memukul wanita? Hanya pria brengsek dan pengecut yang melakukan hal rendah seperti itu!"


"Bang Shandy..." gumam Shiena refleks.


Dokter Shandy menghempas tangan Raffa dengan kasar.


"Jadi, Anda adalah suami dari Anila? Sungguh pria yang menyedihkan!" cibir Shandy.


Raffa meradang. "Apa katamu?!"


Shandy memasang badan di depan tubuh Shiena.


"Ceraikan Anila! Jika tidak, perbuatan bejatmu akan membuatmu membusuk di penjara!"


Ancaman Shandy membuat Raffa sedikit takut. Raffa tahu jika pria yang ada didepannya adalah seorang dokter. Entah ada hubungan apa antara dokter itu dan Anila, Raffa tak bisa menebak. Tapi sepertinya Raffa memang tak memiliki muka disini. Jadi, ia memilih mengalah dan meninggalkan Shandy dan Shiena.


Sepeninggal Raffa, Shandy menelisik kondisi Shiena.


"Kamu baik-baik aja, She?"


Kalimat menenangkan itu sama persis dengan kalimat yang selalu kakaknya ucapkan di waktu dulu.


"Bang Shandy..." Entah kenapa Shiena merasa ingin menumpahkan segala kesedihannya pada sang kakak.


Tanpa bisa menolak, dokter Shandy hanya diam ketika Shiena memeluk tubuhnya dan menangis dalam pelukannya.