
"Dokter! Tolong segera periksa Anila!"
Suara Shiena membuat dokter Shandy tersadar. Ternyata ia juga masih kaget karena melihat pergerakan yang terjadi di tubuh Anila. Rupanya Anila merespon semua hal yang mereka lakukan di alam bawah sadarnya.
"Aduh, apakah dia mengingat dengan apa yang aku katakan tadi? Kenapa aku mendadak nervous begini?" batin dokter Shandy.
"Ah, iya iya. Saya akan memeriksanya!"
Dokter Shandy segera memeriksa kondisi Anila. "Nona, tolong panggilkan perawat untuk datang kesini!" ucapnya pada Shiena.
Shiena mengangguk patuh. Ia segera keluar dan meminta bantuan. Di saat begini Shiena malah tak fokus. Harusnya ia tinggal menekan bel saja dan tak perlu keluar kamar.
Tak lama kemudian, Shiena datang bersama dua orang perawat. Dokter Shandy memakai peralatan medisnya untuk memastikan kondisi Anila baik-baik saja.
"Nona Anila, apa Anda bisa merespon saya?" tanya dokter Shandy yang melihat mata Anila mulai terbuka.
"Nona Anila! Nona Anila..."
Buram. Hanya itu yang bisa Anila rasakan ketika matanya mulai terbuka perlahan. Tidur panjangnya telah usai. Akhirnya kini ia bisa melihat kembali dunia yang penuh dengan lika liku.
"Nona Anila!" panggil dokter Shandy sekali lagi.
"Bang Shandy..."
DEG
Jantung dokter Shandy serasa berpacu. "Suara itu...? Suara yang sama yang kudengar dalam mimpiku..."
...****************...
Shiena sedang dalam perjalanan menuju ke rumah orang tuanya. Setelah memastikan Anila baik-baik saja di tangan dokter Shandy, Shiena bisa pergi dengan tenang.
"Syukurlah Anila sudah siuman ya, She. Jadi, kamu bisa pulang dengan tenang." Wulan yang duduk disamping Shiena mengusap lembut lengan putrinya.
"Iya, Bun. Tapi... Aku masih boleh menjenguk Anila kan, Bun?"
Wulan mengangguk. "Iya, boleh. Tapi kamu harus ingat dengan kondisi kesehatan kamu sendiri. Ya?"
"Iya, Bun. Aku akan jaga diri kok!"
Shiena melirik ayahnya yang duduk di samping supir. Rasanya ingin bertanya tentang Willy pada Prayitno. Tapi, waktunya masih tidak tepat jika bertanya dalam mobil seperti ini.
Setibanya di rumah, Shiena disambut oleh Bik Imah yang sudah mempersiapkan kejutan kecil untuk Shiena. Shiena tersenyum karena banyak orang yang menyayanginya.
"Selamat datang kembali, Non Shiena!"
Shiena tersenyum lebar. "Makasih banyak, Bik. Bibi gak perlu melakukan ini!"
"Bukan bibi, Non. Tapi itu tuh!" Bik Imah menunjuk kearah dalam rumah.
"Welcome home, Shiena!"
Mata Shiena membola. "Kak Alex?"
Shiena menatap Wulan dan Yitno bergantian.
"Nak Alex bersikeras menyiapkan kejutan kecil untuk kamu," ujar Wulan.
Shiena nampak tersenyum canggung. "Kenapa semua orang mendukung kak Alex? Apa kalian gak sadar kalau aku masih sah sebagai istri mas Willy?" Shiena hanya mampu menjerit dalam hati. Tentunya ia tak ingin menyakiti hati kedua orang tuanya.
Belum selesai acara kejutan untuk Shiena, wanita itu malah memilih untuk beristirahat di kamarnya.
"Aku capek! Aku mau ke kamar dulu ya!" Shiena berpamitan dan berjalan menuju kamarnya.
Tak ingin menyiakan kesempatan, Alex segera mengikuti Shiena.
"She, aku temani ya!" Alex tersenyum lebar hingga membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.
"Hmm, terserah kakak saja!" Shiena memilih tetap melangkah dan tidak mempedulikan Alex.
Alex kembali menyusul Shiena. "She, kamu marah?"
Shiena menatap Alex. "Gak! Aku gak marah kok. Aku cuman capek, kak!"
Shiena tak mau berdebat. Meski sebenarnya ia masih kesal. Entah kepada siapa.
Alex tak lagi mengikuti Shiena. Ia memilih kembali bergabung bersama Wulan dan Yitno.
"Aku benar-benar kembali kesini..."
Buliran bening itu lolos begitu saja dari kedua bola matanya. Shiena dengan cepat menghapusnya karena mendengar suara ketukan di pintu.
"She, boleh Ayah masuk?"
Suara Ayahnya membuat Shiena segera beranjak dari tempat tidur. Shiena membuka pintu.
"Boleh Ayah masuk?" tanya Yitno sekali lagi.
"Boleh, ayah. Masa aku gak bolehin ayah sendiri masuk ke kamar."
"She, ada yang ingin Ayah sampaikan. Ini mengenai..."
Belum sempat Yitno melanjutkan, Shiena sudah memotong kalimat Yitno.
"Apa ini soal Mas Willy?" tanya Shiena dengan menatap ayahnya lekat.
Yitno nampak menghela napas. "Nak, apa kamu masih sangat mencintai dia? Bukannya kamu udah setuju untuk berpisah? Dan kamu juga sudah menandatangani surat perceraian itu! Kita tinggal mengirim surat itu lagi ke pengadilan!"
Shiena memejamkan matanya sejenak. Yang dikatakan ayahnya memang benar. Dirinya sendiri yang sudah menyetujui untuk berpisah.
Namun mengingat mimpi aneh yang dialaminya, Shiena berharap jika hubungannya dan Willy bisa diperbaiki. Meski hampir terlambat.
"Ayah! Izinkan aku untuk menemui Mas Willy. Kami harus membicarakan soal ini lebih dulu. Aku mohon, Ayah..."
Melihat kesungguhan di mata Shiena, membuat Yitno tidak tega.
"Baiklah. Besok Ayah akan antarkan kamu ke rumah sakit."
Shiena tersenyum penuh kelegaan. "Makasih, Ayah. Makasih!" Shiena memeluk sang ayah.
...****************...
Esok harinya, Shiena bersiap untuk menjenguk Willy di rumah sakit. Hati Shiena cukup gugup mengingat ini adalah pertemuan pertama mereka setelah kata pisah yang diucapkan Willy malam itu.
"She, udah ditungguin ayah dibawah!" Wulan menginterupsi Shiena yang masih mematung di depan meja riasnya.
"Iya, Bun. Ini aku udah selesai." Shiena beranjak dari duduk dan berjalan bersama Wulan.
"Apa Ayah yang harus anterin aku, Bun? Kenapa gak Mang Pur aja?" tanya Shiena.
"Ayah kamu ingin memastikan putrinya baik-baik saja."
"Bunda! Mas Willy gak mungkin melakukan hal buruk sama aku. Aku ini istrinya!"
Entah kenapa Shiena kini malah membela Willy. Apakah mimpi aneh itu begitu berpengaruh padanya?
"Hah, iya Bunda percaya. Tapi Ayah kamu sendiri yang memang pengen anterin kamu. Kamu itu baru keluar dari rumah sakit, She. Jadi wajar kalo ayah sama bunda khawatir sama kamu. Kamu ngertiin perasaan kami dong!"
Rasanya Shiena tak akan menang jika berdebat dengan bundanya. Shiena memilih diam dan menurut.
Perjalanan menuju ke rumah sakit Harapan Sehat hanya di isi dengan keheningan diantara Shiena dan Yitno. Shiena sendiri tak berniat membuka obrolan setelah mendengar pernyataan Wulan tadi.
Yitno melirik putri semata wayangnya yang sejak tadi hanya diam.
"Saat ayah menemui Willy, dia hanya meminta maaf pada ayah. Dia tidak mengatakan apapun lagi. Mungkin saja dia ingin bicara banyak denganmu. Ayah tahu, kamu sudah dewasa. Jadi, ayah serahkan semuanya padamu. Ayah yakin kamu tahu mana yang terbaik untuk diri kamu."
Shiena yang sedari tadi fokus ke jalanan, kini menatap ayahnya. Shiena tersenyum.
"Makasih, Ayah. Makasih karena udah percaya sama Shiena. Maaf karena Shiena udah bikin ayah dan bunda kecewa dengan pernikahan ini." Mata Shiena berkaca-kaca saat mengatakannya.
Tiba di rumah sakit, Yitno meminta Shiena untuk datang sendiri ke kamar rawat inap Willy. Shiena berjalan dengan hati yang bergemuruh.
Apa yang akan dia katakan pada Willy? Apa Willy mau bicara dengannya? Semua berkecamuk didalam hati Shiena.
"Oh, pasien atas nama Willy sedang ada di ruang terapi, Mbak. Mbaknya lurus saja, setelah itu belok kanan," jelas si perawat.
"Makasih, Suster."
Shiena yang sejak tadi sudah gugup kini malah bertambah gugup ketika langkah kakinya hampir menuju ke tempat Willy berada.
Namun saat Shiena mulai melihat sosok Willy, ia malah dibuat mematung karena melihat Willy sedang berpelukan dengan seorang wanita.