
Kita tidak pernah tahu akan seperti apa takdir yang akan kita jalani. Terkadang kita menginginkan semua terjadi sesuai dengan keinginan kita. Tapi kadang kita lupa, ada kekuatan besar yang akhirnya menuntun kita menuju jalan yang sekarang kita tempuh.
Shiena dan Willy, hanyalah sepasang manusia yang berusaha menerima suratan takdir yang mengikat mereka. Berusaha menolak dan berontak. Sekuat tenaga menginginkan takdir yang berbeda.
Namun ternyata semesta hanya ingin mereka memperbaiki diri. Memperbaiki hal yang retak itu. agar bisa kembali utuh dan menyatu.
Menyatukan ego meski sulit. Menyatukan amarah dan cinta meski tak mudah. Menyatukan dua hati yang berseberangan menjadi sebuah jembatan cinta yang berakhir indah.
#
#
#
Hari ini adalah hari pertama Shiena bekerja di perusahaan ayahnya. Shiena sudah sepakat dengan Willy bahwa Willy akan mengizinkan Shiena meraih cita-citanya terlebih dulu sebelum mereka menikah.
Hubungan yang sempat membeku selama dua tahun itu kini seperti musim semi yang penuh dengan bunga warna warni. Begitu juga dengan Anila dan Shandy. Hari ini Shandy ingin menemui keluarga Anila dan meminta restu dari mereka.
Shandy berpamitan dengan Wulan dan Prayitno.
"Hati-hati ya, Bang. Semoga penerbangan kalian menyenangkan," ucap Wulan.
"Iya, Bun. Doain semuanya lancer ya disana."
"Pasti Bunda doain lah. Bunda senang karena kamu mendapatkan jodoh yang baik seperti Anila." Wulan memeluk Shandy sebelum melepas kepergian putra sulungnya itu.
Restu dari keluarga Shandy sudah mereka dapatkan. Kini Shandy tinggal berjuang meyakinkan keluarga Anila jika dirinya bisa menjaga Anila dengan baik dan membahagiakannya.
Perjalanan yang mereka tempuh melalui jalur udara memakan waktu sekitar dua jam. Sebelumnya Anila sudah mengabari keluarganya jika dirinya akan pulang bersama dengan seseorang yang istimewa.
"Bapak, Ibu..." panggil Anila ketika tiba di depan rumahnya.
"Kak Nilaaaa!" Sambutan meriah terdengar dari ketiga adik Anila yang sengaja menunggu kakaknya itu.
Shandy ikut terharu melihat pertemuan adik dan kakak itu. Mereka kini saling berpelukan.
"Aku senang karena Kak Nila udah kembali." Satu adik Anila mengurai pelukan dan melirik kearah Shandy.
"Kak, itu siapa?" tunjuknya mengarah ke Shandy.
"Ah, ini adalah Bang Shandy. Dia adalah..."
Belum sempat Anila menjawab, adik Anila yang bernama Izza ini mengucap dengan lantang.
"Dia pacar kakak ya?"
Suara lantang Izza membuat kedua orang tua Anila keluar dari dalam rumah.
"Ada apa ini, Izza? Kok teriak-teriak begitu?"
"Ibu!" Anila berkaca-kaca menatap wanita yang sudah melahirkannya.
"Anila? Ini benar kau, Nak?" Amina tak percaya jika anaknya sudah kembali pulang.
Anila menghambur memeluk sang ibu. Tangis haru pun terdengar dari bibir Anila. Bagaimana tidak dirinya kini menangis bahagia, di kehidupan yang lalu, kedatangan Anila disambut dengan isak tangis kesedihan dari bibir Amina karena harus merelakan putrinya menikah dengan anak saudagar kaya hanya untuk membayar hutang.
Anila ingat bagaimana dirinya begitu menderita selama menjadi istri Raffa. Entah kenapa apa yang dialami Anila berbeda dengan kisah Shiena. Jika Shiena dan Willy tetap berjodoh meski bersikeras menolak berjodoh, tapi hal lain justru terjadi pada Anila.
(Mungkin karena aku membuat bapak tidak berhutang pada saudagar kaya itu, makanya aku juga tidak bertemu dengan Raffa. Terima kasih atas kesempatan yang sangat langka ini. aku janii akan menggunakannya dengan sebaik-baiknya)
#
#
#
"Jadi, Nak Shandy ini adalah kakak dari sahabat Anila? Kalian sudah lama saling kenal?" tanya Arman, ayah Anila.
"Iya, Pak. Saya sudah lama mengenal Anila. Tapi, saya hanya menganggapnya sebagai adik saja. Sama seperti teman-teman Shiena yang lain."
Jawaban Shandy membuat Arman tersenyum. "Lalu, sekarang apakah Nak Shandy masih menganggap Nila sebagai adik?"
"Eh?" Shandy menatap Anila dengan diiringi senyum manisnya.
"Semua berubah, Pak. Saya tidak lagi menganggap Anila sebagai adik, tapi..."
Shandy sengaja menggantung kalimatnya.
"Tapi apa, Bang?" Anila ikut tak sabar mendengar lanjutannya. Meski sebenarnya Anila tahu apa maksud Shandy, tapi ia tak ingin menduga-duga sebelum Shandy mengatakannya sendiri di depannya.
"Anila adalah calon istri saya, Pak, Bu. Itu juga kalau diizinkan oleh bapak dan ibu."
Jawaban Shandy membuat semua tersenyum lega.
"Bapak tahu kalau niat Nak Shandy itu baik. Tapi, Anila itu masih sangat muda. Dia juga harus mengurus adik-adiknya terlebih dahulu."
Shandy menghela napas sejenak. Ia tahu jika perjuangannya tidak akan mudah. Pastinya sebagai anak tertua, orang tua Anila berharap lebih padanya. Apalagi setelah Anila menimba ilmu di luar kota. Pastinya ada timbal balik yang harus Anila berikan sebelum meninggalkan rumah dan menjadi istri seseorang.
"Saya paham, Pak. Yang terpenting bapak dan ibu memberikan restu kepada saya dan Anila. Saya akan menjaga amanah bapak dan ibu dengan baik."
Mendengar penuturan Shandy yang penuh dengan kesungguhan, membuat Armand an Amina bersedia memberikan restu mereka pada hubungan Shandy dan Anila.
#
#
#
Sementara itu, Shiena dan Willy sedang berada di bukit berbintang. Shiena meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku usai seharian bekerja.
"Hah! Pegalnya!" Shiena memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Makanya kamu jangan terlalu maksain diri, She. Aku tahu kamu gak biasa kerja berat kayak gitu."
Shiena mendelik menatap Willy. "Apa kamu bilang? Aku ini wanita karir di kehidupan masa depan, mana mungkin aku menyerah hanya karena kecapekan."
Willy menggeleng pelan. "Iya, sayangku. Aku percaya kok! Tapi... aku masih belum percaya kalo Anila bisa mengubah takdir jodohnya."
Shiena menerawang jauh. "Entahlah, aku juga gak tahu kenapa semesta mengizinkan mereka bersama. Setelah dipikir-pikir... apa yang dijalani Anila sekarang ada campur tangan kita juga kan? Iya gak sih?"
Willy merangkul bahu Shiena. Mereka sama-sama menatap kerlip bintang yang ada di langit.
"Mungkin saja... kamu yang mencegah agar Shandy gak mengalami kecelakaan. Dan kamu juga yang menyatukan mereka berdua. Terdengar cukup masuk akal sih!"
Shiena tersenyum. "Terus setelah ini apa lagi? Apa yang akan terjadi dengan kita?" tanya Shiena sambil menatap Willy yang duduk disampingnya.
Sebelum menjawab, Willy balas menatap Shiena. "Apapun yang terjadi, kamu harus tahu kalau aku hanya mencintai kamu seorang, She. Percayalah akan hal itu..."
Shiena tersenyum. Ia bahkan tak sanggup menolak pesona Willy yang selalu membuatnya luluh.
Dengan penuh kelembutan, Willy menyatukan bibir miliknya dengan milik Shiena. Kali ini dunia serasa hanya milik mereka berdua saja. Dunia yang mereka buat sendiri yang diisi dengan kebahagiaan dan tawa.