
Willy turun lebih dulu dari mobil dan membukakan pintu untuk Shiena. Willy mengulurkan tangannya dan disambut oleh senyuman hangat Shiena.
Mereka berdua berjalan bersama memasuki pengadilan. Sebelumnya mereka sudah memberitahu pengacara masing-masing jika mereka membatalkan rencana perceraian mereka.
Tentu saja hal itu disambut baik oleh hakim dan jajarannya. Melihat kebahagiaan kini terpancar di wajah keduanya, hakim pun memberikan beberapa wejangan untuk Shiena dan Willy.
"Menikah itu mudah. Yang sulit adalah tetap bersatu di atas segala perbedaan dua hati yang kadang berseberangan. Kalian sudah melewati beberapa tahap dalam pernikahan. Semoga kedepannya kalian bisa lebih menghargai arti pernikahan itu sendiri dan jangan hanya mengingat kesalahan satu sama lain."
"Manusia memang tempatnya salah. Tapi bukan berarti nila setitik itu harus merusak susu sebelanga. Kami doakan kalian akan lebih bahagia menjalani pernikahan kalian. Meski badai menerpa, salinglah berpegangan tangan dan jangan saling melepas."
Willy dan Shiena menganggukkan kepala bersamaan.
"Terima kasih atas nasehat pak hakim dan bu hakim. Maafkan kami karena sudah merepotkan kalian."
Gelak tawa menggema seiring dengan kalimat permintaan maaf Willy.
#
#
#
Di rumah sakit, Renata menunggu kedatangan Martha yang akan bertugas dalam shift siang hari ini. Setepah menunggu beberapa saat, akhirnya yang ditunggu datang juga.
"Martha!" Senyuman manis Renata menyapa Martha.
"Eh? Kak Renata, ada apa kak?"
"Umm, begini. Gimana kondisi Willy? Sudah lama dia gak kontrol kakinya kemari. Aku cemas terjadi sesuatu dengan kakinya."
Martha malah tersenyum. "Kak Rena tenang aja. Kak Willy baik-baik aja kok. Kondisi kak Willy udah membaik. Aku sering memeriksa kondisinya. Aku kan juga perawat, Kak. Kakak jangan cemas."
"Iya, tapi... Alangkah lebih baik kalau diperiksa menyeluruh di rumah sakit."
Martha mengangguk paham. "Baik, kak. Nanti aku sampaikan ke kak Willy. Soalnya hari ini kayaknya kak Willy bakal sibuk banget."
"Eh? Sibuk? Sibuk apa?"
"Hari ini kak Willy dan kak Shiena baikan. Mereka membatalkan perceraian mereka. Kalau kakak bersedia, kakak bisa datang nanti malam di rumah kami. Kami adain pesta kecil-kecilan gitu di rumah."
Tiba-tiba saja tenggorokan Renata mendadak kering dsan tercekat. Ia tak percaya jika Willy akan kembali pada Shiena.
"Baiklah, aku masuk dulu ya kak. Mau absen. Permisi!"
Sepeninggal Martha, Renata menatap nanar ke depan.
"Rujuk? Yang benar saja! Aku sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun dan kalian akhirnya rujuk? Tidak! Tidak akan kubiarkan kalian bersama lagi. Aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku! Willy hanya milikku!"
#
#
#
Di rumah Willy, nampak Esti dan Litha sibuk memasak dan menyiapkan dekorasi untuk pesta nanti malam. Kedua ibu itu menyambut dengan sangat antusias kembalinya menantu mereka ke rumah itu.
"Setelah ini, semoga saja gak ada lagi badai yang menerpa mereka ya, Mbak." Litha sangat senang melihat Willy bahagia. Walau Willy pernah membencinya, tapi Litha tidak pernah membenci Willy. Menurutnya apa yang dilakukan Willy adalah wajar karena mengira Litha sudah menghancurkan keluarganya.
"Amin, dek Litha. Aku juga berharap mereka segera memiliki momongan ya!"
"Hahaha, iya ya Mbak. Semoga saja disegerakan."
"Hayooo, kalian pasti lagi ngomongin aku ya?" Willy tiba-tiba datang mengejutkan mereka berdua.
"Willy! Kebiasaan deh! Kami ini sudah tua, jangan mengejutkan kami seperti itu!" ucap Esti sambil mengusap dadanya.
"Hahaha, maaf, kedua ibuku yang kusayangi..." Willy mengecup pipi kedua wanita luar biasa dalam hidupnya.
"Eh, mana Shiena? Kok gak kelihatan?" tanya Litha.
"Tadi ku antar Shiena ke rumah Ayah. Dia bilang mau beresin barang-barang dulu sebelum pindah kesini. Nanti malam dia ikut ayah sama bunda kesini."
Litha dan Esti manggut-manggut. "Oh gitu. Ya sudah, kamu mandi dulu sana! Siap-siap pakai baju yang bagus di depan mertua kamu nanti."
"Ish, Mama. Aku ini udah tampan dari lahir. Jangan khawatir!"
Lalu ketiganya menggemakan gelak tawa di ruangan itu.
#
#
#
Malam harinya, Shiena dan kedua orang tuanya datang ke rumah Willy. Mereka disambut dengan suka cita oleh Litha dan Esti.
"Akhirnya datang juga yang ditunggu! Gimana kabar kamu, Nak?" Esti memeluk Shiena.
"Baik, Bu. Ibu sendiri gimana?"
"Ibu juga baik. Ayo masuk!"
Shiena menapaki rumah besar itu dengan senyum mengembang.
Martha yang baru pulang kerja langsung menyambut kedatangan kakak iparnya.
"Kak Shiena!" Martha memeluk Shiena.
"Kamu tambah cantik, Martha. Udah punya pacar belom?"
Martha tersipu malu. "Jangan tanya itu, Kak. Kakak tahu sendiri posesifnya suami kakak itu!" Martha mengerucutkan bibirnya.
"Hahahah," gelak semua orang.
"Oh ya, dimana Mas Willy? Apa dia masih di kamar?" tanya Shiena yang tak melihat batang hidung suaminya.
"Oh, sebentar lagi pasti pulang. Tadi, dia bilang ada urusan sebentar," jawab Esti.
DEG
Entah kenapa perasaan Shiena mendadak tidak enak. Ia takut terjadi sesuatu dengan Willy.
"Nak, tenanglah! Willy cuman pergi sebentar kok. Ayo sekarang kita ke teras belakang. Mama bikin camilan banyak buat kamu. Willy bilang kamu suka ngemil." Litha mengajak Shiena menuju ke teras belakang dimana pesta akan dilangsungkan.
Sementara itu, Willy tiba di apartemen Renata. Beberapa saat yang lalu, Renata meminta Willy untuk datang ke tempatnya karena dirinya sedang kesulitan.
"Renata!" panggil Willy yang melihat pintu kamar apartemen Renata terbuka sedikit.
"Re! Kamu gak apa-apa kan?"
Willy memasuki kamar apartemen Renata tanpa curiga sedikitpun. Di kota ini Renata hanya tinggal sendiri, karena orang tuanya ada di luar negeri. Makanya Willy selalu siap menolong Renata jika gadis itu kesulitan. Apalagi sejak dulu mereka berteman baik.
"Renata! Kamu dimana?" panggil Willy lagi.
Suasana kamar yang temaram membuat Willy mencari-cari tombol saklar untuk menyalakan lampu.
"Rena...ta..."
Kalimat Willy terbata karena tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang menyuntik leher Willy.
"Argh!" Willy mengerang kesakitan. Tubuhnya mulai limbung dan akhirnya jatuh ke lantai.
PRANG!
Bersamaan dengan itu, gelas di tangan Shiena tergelincir dan jatuh.
"Shiena! Kamu gak apa-apa, Nak?"
Semua orang mencemaskan Shiena.
"A-aku gak apa-apa," jawab Shiena lirih karena masih syok.
"Ya Tuhan! Kenapa perasaan aku gak enak gini? Apa terjadi sesuatu sama Mas Willy?" batin Shiena.
Shiena meraih ponselnya dan menghubungi Willy. Tersambung tapi belum dijawab oleh Willy.
Di tempat berbeda, Renata tersenyum seringai menatap layar ponsel Willy yang sedang bergetar. Tertera nama 'Istriku Sayang' disana.
Renata tersenyum penuh kemenangan. "Teruslah menghubungi Willy, Shiena. Karena kamu gak akan dapat apapun selain kekecewaan."
#
#
#
Shiena makin panik karena sudah tiga jam lamanya dan Willy belum juga kembali ataupun menjawab teleponnya.
"Ayah, Bunda... Gimana ini? Kenapa Mas Willy belum juga kembali?" Shiena tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.
Begitu juga dengan semua orang yang ada disana. Mereka bahkan terus menghubungi ponsel Willy hingga akhirnya mesin penjawablah yang menjawab mereka.
"Ya Tuhan, ada apa ini sebenarnya?" Esti mulai cemas.
Shiena mengingat siapa saja yang bisa dimintai tolong oleh Shiena di saat seperti ini.
"Kak Alex?" Shiena hanya mengingat Alex dan akhirnya menelepon pria itu.
Beruntung Alex sudah kembali ke kota ini dan segera membantu Shiena. Alex melacak posisi terakhir ponsel Willy.
"Ketemu! Dia ada di..." Alex tak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa, Kak? Mas Willy ada dimana?" Shiena mendesak Alex untuk bicara.
"Dia ada di..."
Alex bingung bagaimana mengatakannya. Ia tahu pasti ada yang tidak beres disini.
"Renata? Apa yang kamu rencanakan, hah?! Bagaimana bisa Willy ada di apartemenmu?" Alex menatap iba Shiena yang sepertinya akan kembali dikecewakan oleh Willy.
...***...
Netizen; mak, parah lo mak cuman ngeprank doang nih kebahagiaan Shiena-Willy. Drama apa lagi ini mak? ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Emak; hehehe, harap bersabar ini ujian. Akhir bulannya masih lama, jadi emak harus bikin drama lagi nih, wkwkwkwkw. Selamat menikmati yak😘😘