
Setelah mendengar pekikan sang istri, tanpa menunggu lama lagi Davin segera pergi untuk menjemput Darrel di sekolahnya. Meski tak terima jika dirinya dibentak oleh Vina, tapi karena memikirkan Darrel, akhirnya Davin menurunkan egonya.
"Kasihan Darrel kalo aku terlambat jemput." Davin memesan taksi online untuk menjemput Darrel.
Maklum saja, kondisi keuangan Davin tidak memungkinkan dirinya untuk membeli sebuah mobil. Dan ya, Davin lebih suka menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Jika menaiki bus, Davin teringat dengan saat pertama kali bertemu dengan Devina.
Gadis manis itu akan berangkat ke sekolah dan Davin akan berangkat ke kampusnya. Mungkin itulah yang disebut cinta pada pandangan pertama. Namun entah kenapa, semua perlahan berubah. Karena manusia memang berubah kan?
Davin tiba di sekolah Darrel. Tinggal bocah lelaki itu yang belum dijemput oleh keluarganya.
"Darrel!"
"Ayah..." Darrel berlari memeluk Davin.
Sebelum berpamitan, Davin mengucapkan terima kasih pada ibu guru yang menemani Darrel.
"Nak, kamu gak apa kan kalo ikut ke kantor Ayah? Ayah masih banyak pekerjaan."
Darrel hanya mengangguk patuh. Pastinya ia masih belum paham dengan pekerjaan yang ditekuni kedua orang tuanya.
#
#
#
Kehadiran Darrel membuat suasana cukup riuh di kantor. Bocah tampan itu menghidupkan suasana kantor yang tadinya sunyi menjadi lebih ramai.
Hingga suara berat seorang pria mengejutkan semua orang.
"Ada apa ini?"
Kedatangan Pak Bambang membuat suasana mendadak sunyi kembali.
"Anak siapa ini?"
Darrel menghampiri Pak Bambang.
"Kenalkan, saya Darrel. Saya anaknya Ayah Davin." Darrel memang lucu dan menggemaskan.
Pak Bambang tersenyum. "Kenapa kau ada disini?"
"Ayah tadi menjemputku di sekolah. Ayah bilang hari ini adalah hari yang penting untuknya. Makanya aku harus nurut dan menyemangati Ayah."
Kalimat Darrel membuat Pak Bambang terenyuh. Ia juga menatap Davin yang juga ada disana.
"Davin, mari ikut saya!"
Davin mengangguk dan mengikuti langkah Pak Bambang memasuki sebuah ruangan. Sasha dan Mitha menyemangati rekan kerjanya itu dari kejauhan.
Setelah beberapa lama di dalam ruangan, Davin keluar dengan raut wajah sumringah. Sebelumnya Pak Bambang sudah menguji Romi saat tadi Davin pergi menjemput Darrel.
"Selamat ya, Davin. Kamu terpilih menjadi manajer cabang A ini." Pak Bambang mengulurkan tangannya kepada Davin.
Romi pun ikut menyalami Davin. "Selamat ya, Vin. Kamu emang pantas menduduki jabatan ini." Romi menepuk pelan bahu Davin.
Sebenarnya nilai antara Davin dan Romi tidaklah berbeda jauh. Hanya saja Pak Bambang juga menilai dari kepribadian Davin yang seorang ayah. Davin adalah ayah yang baik. Tentu saja dia akan membawa keberlangsungan Cabang A dengan baik. Sama seperti Davin memperlakukan putranya sendiri.
#
#
#
Davin pulang bersama Darrel dengan hati yang gembira. Mereka berdua sengaja ingin memberikan kejutan pada Devina.
Namun seperti biasa, raut wajah Devina terlihat lelah dan tak bersemangat. Wajah ayu nya kini tidak terawat. Dulu ia sangat memperhatikan penampilannya. Kini ia lebih sering berada di rumah dan mengurus kedua anaknya. Alhasil ia tak sempat lagi berbenah diri dan bersolek.
"Sayang, cuci piring nya besok saja. Aku tahu kamu pasti capek." Davin berusaha bermania kata di depan Devina.
"Tumben kamu pulang cepet. Abis kemana aja sama Darrel?"
Davin menggeleng. "Aku cuman di kantor aja sama Darrel. Dia anak yang baik. Anak-anak kantor suka padanya."
Davin mengeluarkan kantong kresek yang berisi martabak manis kesukaan Devina.
"Apa itu?"
"Ini, makanlah! Hari ini adalah hari yang spesial untuk kita."
Devina menyipitkan mata.
"Spesial apaan?"
"Sayang, aku berhasil lolos tes untuk jadi manajer cabang."
Mata Devina membola. "Kamu serius?"
Davin mengangguk. Spontan Devina memeluk Davin erat.
"Selamat ya, Ayah Darrel."
"Iya, sama-sama. Sekarang ayo kita makan martabaknya."
"Tapi... Darrel kan belum mandi..."
Davin tersenyum. "Tadi aku sudah memandikannya di kantor. Tinggal ganti baju aja. Kamu makan dulu aja, biar aku gantikan baju Darrel."
Davin meninggalkan Devina di ruang makan. Wanita itu langsung membuka bungkusan plastik yang dibawa oleh suaminya. Devina makan lahap.
"Hmm, enak banget!"
Dari kejauhan Davin memperhatikan istrinya yang memancarkan rona bahagia walau hanya memakan sepotong martabak manis.
"Apa ini salahku? Kenapa aku jarang memperhatikan istriku? Lihatlah dia, dia adalah wanita yang sudah melahirkan anak-anak lucu untukku. Dia wanita yang sudah menerimaku apa adanya. Maafkan aku, Devina... Aku bersalah padamu..."