
Willy berjongkok di depan Shiena yang sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit. Hatinya tercubit karena melihat sang istri seakan tak bisa move-on dari kepergian Shandy.
"Sayang..."
Panggilan Willy menyadarkan Shiena.
"Mas Willy? Mas ada disini?"
"Iya, aku datang buat jemput kamu..."
Shiena menatap sendu wajah Willy. "Maafkan aku ya, Mas. Maaf karena aku selalu membuatmu cemas."
Shiena mulai terisak. Willy menghapus air mata Shiena.
"Aku tahu kamu teringat dengan Shandy kakakmu. Tapi, Shandy yang sekarang dihadapanmu, bukanlah Shandy kakakmu. Dia orang lain. Mereka orang yang berbeda. Pastilah mereka memiliki takdir yang berbeda juga."
Shiena menatap Willy dengan mata yang tergenang air mata.
"Maafkan aku, Mas. Aku terlalu emosional. Aku bermimpi buruk tentang dokter Shandy, jadi aku... Aku pikir apa yang akan dia alami sama dengan yang akan Bang Shandy alami. Mimpi itu terlalu nyata, Mas."
Willy membawa Shiena dalam dekapannya. "Aku mengerti. Aku mengerti. Sekarang kita pulang ya! Ibu dan Mama sangat khawatir denganmu."
Shiena mengangguk. Ia menatap dokter Shandy yang berada disana juga.
"Maafkan aku, Dokter. Aku harap pernikahan dokter dan Anila berjalan dengan lancar."
Dokter Shandy tersenyum. "Tidak apa. Aku tidak marah kok. Aku senang karena kamu mengkhawatirkan aku. Sekarang, sebaiknya kamu memikirkan tentang masa depanmu saja. Aku dan Anila akan membuka lembaran baru. Begitu juga dengan Friska. Jadi, kuharap kamu bisa melangkah maju dan melupakan masa lalu."
Shiena membalas dengan sebuah senyuman. "Terima kasih, Dok. Kami permisi!"
#
#
#
Setahun ini banyak hal yang kualami. Duniaku terasa berjungkir balik. Kesedihan, kekecewaan, kebahagiaan. Semuanya seakan melebur jadi satu.
Waktu tidak akan pernah bisa terulang. Waktu hanya bisa berjalan maju.
Tapi kadang kita manusia hanya mengingat yang lalu-lalu. Padahal waktu tak pernah menuntutmu untuk itu.
Aku belajar menghargai hidupku. Menghargai apa yang aku miliki. Menghargai apa yang aku cintai.
Aku ingin mempertahankan mereka. Aku ingin menjalani hidupku bersama mereka...
#
#
#
"Pelan-pelan dong sayang, kamu kan lagi hamil."
Suara Willy sejak tadi selalu berisik memperingatkan Shiena agar tidak terlalu lelah dalam bekerja.
Shiena dan Willy memutuskan untuk membuka jasa konsultan pernikahan. Ya, semua berawal dari pengalaman mereka yang jungkir balik dalam menghadapi pernikahan.
"Iya, Mas. Ini juga udah hati-hati kok. Lagian aku gak angkat yang berat-berat kok. Kamu tenang aja!"
Shiena mengatur dekorasi gedung kantor mereka yang baru. Sebenarnya ini ide dadakan mereka ketika mereka melakukan pillow talk beberapa bulan lalu.
Shiena ingin memiliki pekerjaan yang bisa menolong orang-orang bermasalah seperti mereka. Masalah rumah tangga yang ujungnya mengarah ke perceraian.
Memang tidak semua masalah bisa selesai dengan damai. Tapi tidak semua masalah harus diselesaikan dengan perceraian. Masih ada jalan-jalan lain yang bisa di tempuh selain perceraian. Kecuali untuk beberapa masalah yang sudah sangat gawat.
Willy memberi ide jika mereka membuka jasa konsultan pernikahan. Mereka juga menggaet beberapa kawan yang bisa membantu bisnis baru mereka ini.
"Kalian ini ribut saja kerjaannya. Kapan selesainya kalau ribut terus?"
Wulan menengahi anak dan menantunya itu. Shiena yang kini hamil lima bulan di jaga ketat oleh calon nenek dan kakek yang siap sedia membantu di saat di butuhkan.
"Iya nih, tau tuh menantu bunda tuh! Cerewet banget dari tadi." Shiena menjulurkan lidahnya kearah Willy.
Willy hanya bisa diam dan mengalah. Disini posisi seorang pria sudah pasti salah. Karena wanita memang selalu benar.
"Iya, aku ikut kata bunda dan istriku saja! Kalian kan ahli mendekor ruangan." Willy pasrah pada akhirnya.
#
#
#
Hari pembukaan kantor baru SW Consultant akhirnya tiba juga. Shiena dan Willy mengundang beberapa kolega bisnis dan juga sahabat-sahabat mereka.
"Shienaaaa!" Seru Friska yang memang selalu heboh.
Anila yang datang bersama Shandy hanya bisa berkalem ria. Pasalnya Anila juga sedang mengandung buah cintanya bersama Shandy. Kondisinya masih sering mual dan muntah.
Beruntung Anila memiliki suami seorang dokter yang menjaganya setiap saat.
"Kebiasaan banget sih lo! Dari dulu gak pernah berubah. Emang kak Alex betah ya sama sikap lo yang bar-bar itu?" cibir Shiena bercanda.
"Kak Alex itu terima gue apa adanya dong! Iya kan sayang?"
"Buruan nikah sana, jangan pacaran mulu!" ujar Willy.
"Iya, Bro. Rencananya bulan depan kita bakal nikah!" jawab Alex sambil mencoel hidung Friska.
"Ciyeee! Dasar bucin!" goda Shiena.
Kemudian semuanya ikut tergelak tawa dengan candaan yang dilontarkan untuk Friska dan Alex.
#
#
#
Usia kandungan Shiena sudah memasuki trimester ketiga. Willy makin siaga untuk mempersiapkan kelahiran anak pertama mereka itu. Shiena sendiri rajin mengikuti kelas senam ibu hamil agar nanti lancar dalam persalinan.
Shiena yang kini tinggal di rumah keluarga Willy sedang mempersiapkan kamar bayi untuk hadiah kelahirannya nanti. Shiena mengatur sendiri tata ruang untuk anaknya nanti.
Hingga sekarang Shiena dan Willy memilih untuk tidak mengetahui jenis kelamin si jabang bayi. Biarlah nanti menjadi kejutan untuk semuanya.
Alhasil kamar bayi mereka di hias dengan warna netral saja, yaitu putih. Setelah bayi lahir barulah mereka akan menata ulang dengan menambah aksen yang sesuai dengan jenis kelaminnya nanti.
"Aduh!"
Shiena mengaduh kesakitan. Ia baru saja keluar dari kamar bayinya.
"Shiena? Kamu kenapa, Nak?" Esti ikut panik karena Shiena kesakitan.
"Gak tahu Bu. Rasanya perutku sangat sakit. Apa aku...akan melahirkan Bu?"
"Heh?! Jangan-jangan iya! Sebentar ya! Ibu panggil Willy dulu. Kamu duduk dulu di sofa ya!"
Esti menuntun Shiena untuk duduk di sofa. Lalu dirinya mencari keberadaan Willy yang ada di dapur. Rupanya Willy sedang menyiapkan camilan untuk Shiena.
"Willy! Cepat, Will. Shiena akan melahirkan!"
Willy bergegas untuk menghampiri Shiena.
"Sayang!" pekik Willy.
"Mas... Kayaknya... Aku mau lahiran deh!"
"Iya, kamu tenang ya! Kita akan ke rumah sakit sekarang!"
Willy membopong tubuh Shiena dan segera membawanya ke rumah sakit.
#
#
#
Tangisan seorang bayi menggema di ruangan itu hingga terdengar sampai keluar ruang bersalin.
Anggota keluarga yang menunggu di depan ruangan segera mengucap syukur yang teramat dalam untuk kelahiran cucu pertama mereka.
"Selamat ya! Bayinya perempuan..."
Kalimat dokter itu membuat semua bernapas lega.
"Bagaimana kondisi ibunya, Dok?"
"Kondisi ibu dan bayinya stabil. Sebentar lagi ibunya akan di pindahkan ke kamar rawat inap. Kalau begitu saya permisi!"
Di dalam ruangan, Willy yang senantiasa menemani persalinan kini sedang menciumi seluruh wajah Shiena. Ia mengucap rasa terima kasih pada Shiena karena bersedia menjadi ibu untuk anak-anaknya kelak.
"Mas, kamu itu kenapa sih? Coba kamu lihat anak kita tuh!" lirih Shiena.
Willy yang masih terlampau senang, malah lupa dengan kehadiran bayi mungil yang akan menambah kebahagiaan di keluarga kecil mereka.
"Sayang, cup cup cup ini Ayah!" ucap Willy sambil mengusap pelan kepala bayinya.
"Mas, kamu mau kasih nama siapa bayi kita?"
Willy nampak berpikir sejenak. Ia bahkan belum menyiapkan nama untuk putra mereka.
"Hmm, siapa ya? Bagaimana kalau Wilona aja?"
"Wilona? Nama yang bagus. Tapi... Apa maknanya Mas?"
"Maknanya adalah... Willy loves Shiena. Jadi Wilona."
Jawaban Willy membuat Shiena tersipu. Ternyata suaminya ini bisa sweet juga di saat seperti ini.
"Baiklah, nama kamu adalah Wilona. Anak kesayangan ayah dan bunda..."
Willy mendekap kedua malaikat yang sudah memberinya kebahagiaan yang tak terkira. Semoga saja kebahagiaan mereka akan kekal abadi.
#Shiena-Willy Happy End
🥰🥰🥰🥰