Before Divorce

Before Divorce
Bab 7 - Bertemu Kembali



"Buka helm lo! Gue harus lihat muka lo dulu!"


Dari balik helm nya, Willy menatap Shiena lekat. Wajah yang begitu ia rindukan kini bisa ia lihat dengan jelas. Shiena 11 tahun lalu yang penuh keceriaan dan berapi-api.


"Cepetan buka!" Mode galak Shiena memang tak bisa dibantah.


Perlahan tapi pasti Willy akhirnya mengalah. Ia membuka helmnya tepat di depan Shiena.


Willy menyibak rambutnya yang menutupi wajah. Willy bisa melihat seperti apa ekspresi Shiena saat ini.


Sejenak mereka saling tatap dalam diam. Meski syok dan terkejut, Shiena hanya diam dan tak mengatakan apapun. Berbeda dengan Willy yang masih terlihat cool saat menatap Shiena.


"Ayo cepet naik! Kok malah bengong?! Saya juga punya urusan setelah ini!"


Kalimat Willy menyadarkan lamunan Shiena.


"I-iya." Shiena naik ke atas motor besar Willy.


Willy memakai helmnya kembali dan menyalakan lagi motornya lalu melaju membelah jalanan kota. Langit senja menjadi saksi pertemuan kembali dua insan yang katanya ingin mengubah takdir mereka.


Selama perjalanan, Shiena hanya melamun dan memikirkan apa yang terjadi barusan.


(Bagaimana bisa aku bertemu lagi dengan Mas Willy?)


Banyak pertanyaan dalam benak Shiena. Hingga ia tak menyadari jika ada orang yang menyebrang jalan secara tiba-tiba dan membuat Willy mengerem mendadak.


"Aaaa!" Shiena berteriak dan langsung memeluk pinggang Willy.


"Kamu gak papa? Tadi ada orang nyebrang gak lihat-lihat."


"I-iya, aku gak papa."


Entah sadar atau tidak tapi Shiena masih melingkarkan tangannya di pinggang Willy dan itu membuat Willy tersenyum.


Motor kembali melaju dan Shiena tak melepaskan tangannya di tempat yang memang seharusnya. Shiena malah sibuk dengan pikirannya sendiri yang berkelana.


Motor Willy berhenti tepat di depan rumah Shiena.


"Mau sampai kapan kamu duduk disitu? Cepat turun!"


"Eh?!" Shiena baru sadar jika dirinya sudah tiba di rumahnya.


"Ma-maaf!" Shiena segera melepaskan tangannya dari pinggang Willy dan turun dari atas motor.


"Ma-makasih!" Ucap Shiena gugup.


"Hmm, gak masalah!"


Belum sempat Shiena menanyakan hal lain tapi Willy sudah lebih dulu berlalu dari halaman rumah Shiena.


"Eh eh..." Shiena tak sempat berkata lagi karena Willy melajukan motornya cukup kencang.


Shiena memegangi dadanya yang bergemuruh.


(Bagaimana ini? Kenapa aku bisa bertemu lagi dengan Mas Willy? Apa artinya semua ini?)


"Shiena! Ngapain kamu ngelamun disitu? Ayo cepat masuk! Kata orang tua jaman dulu gak baik anak gadis masih diluar di kala senja." Wulan mengajak anak gadisnya masuk ke dalam rumah.


"I-iya, Bunda." Shiena melirik ke belakang dimana Willy telah pergi menjauh.


Di sisi lain, Willy akhirnya tiba di rumah ayahnya dan disambut oleh Litha juga Martha.


"Kakak!" Martha memeluk Willy. "Aku senang karena kakak beneran datang."


Willy mengacak rambut Martha gemas.


"Papa kamu ada di kamarnya," Ucap Litha. "Kamu temui dia ya. Dia sudah menunggumu."


Willy mengangguk. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar sang ayah. Rumah megah ini sudah sangat lama tidak ia kunjungi. Bahkan dulu ia tidak pernah mau mengunjungi rumah ini sedikitpun.


Namun kini semua seakan berubah. Willy harus mengikis keegoisan dalam dirinya. Bukankah ia ingin mengubah takdirnya?


Willy membuka pintu kamar Arya dan melihat pria itu sedang terbaring di tempat tidur.


"Apa yang terjadi dengan papa?" Tanya Willy pada Litha yang mengantarnya.


"Papa kamu lagi gak enak badan. Dia bilang dia merindukanmu..."


Meski diliputi keraguan dihatinya, tapi akhirnya Willy melangkah masuk mendekati tempat tidur Arya. Willy duduk di kursi dekat tempat tidur.


"Mas, Willy sudah datang." Dengan lembut Litha mengusap lengan suaminya dan berbisik.


Mata Arya terbuka dan melihat Willy ada di depannya.


"Willy..."


"Iya, Pa. Ini aku..."


Arya meminta tolong Litha untuk duduk bersandar pada sandaran ranjang.


"Willy, makasih udah bersedia pulang..." Suara Arya terdengar lirih.


Tangan Arya terangkat untuk menyentuh wajah Willy, tapi ternyata Willy menolak.


"Aku udah datang. Jadi, jangan menyuruh istrimu untuk datang ke rumah kosku lagi."


Litha terkejut dengan kalimat yang diucapkan Willy. Padahal siang tadi Willy terlihat ramah pada Martha.


"Semoga lekas sembuh! Aku permisi!" Willy bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar.


Litha ingin menahan Willy tapi Arya melarangnya.


"Biarkan saja, Ma. Papa tahu ini masih berat untuk Willy. Jadi biarkan saja. Yang penting dia sudah bersedia datang kemari."


"Kakak! Kakak mau kemana?"


Willy berhenti sejenak. "Kakak mau pulang. Urusan kakak udah selesai disini!"


Willy mengecup puncak kepala Martha dengan lembut. "Sampai ketemu lagi!"


Willy naik keatas motornya dan langsung melaju kencang meninggalkan rumah yang sudah membuatnya kehilangan banyak hal.


#


#


#


Di rumah, Shiena menyambut kedatangan Shandy yang baru pulang dari kantor dengan wajah yang di tekuk.


"Hai, Shie. Gimana tadi? Kamu pulang dengan selamat kan?"


Shiena tak menjawab dan masih menampakkan wajah kesalnya.


"Abang emang gak salah pilih orang kan? Dia itu orang kepercayaan abang di kantor." Shandy bercerita sambil melangkah dan Shiena mengikutinya.


"Siapa dia?" Shiena berpura-pura tidak mengenal Willy.


"Namanya Willy. Dia temen kuliah abang. Dia sudah mandiri sejak masih SMA. Dia menghidupi dirinya sendiri."


Shiena tahu hal itu. Shiena tahu seperti apa perjuangan hidup Willy.


"Emang keluarganya kemana?" tanya Shiena sambil memalingkan wajah.


Shandy menghela napas. Mereka kini telah sampai di lantai dua dimana kamar mereka berada.


"Panjang ceritanya. Kamu beneran pengen denger cerita tentang dia?"


Shiena menggeleng. "Abang mandi dulu sana! Aku mau bantu Bunda siapin makan malam."


Shiena berbalik badan lalu kembali ke lantai bawah. Ia menuju dapur dan membantu Wulan.


"Abang kamu udah pulang?"


Shiena mengangguk.


"Mau ikut bantu masak?"


Shiena kembali mengangguk.


Wulan hanya menggeleng pelan melihat tingkah putri bungsunya.


#


#


#


Selama makan malam berlangsung, Shiena hanya diam dan mendengarkan obrolan sang ayah dan kakaknya. Shiena juga tak berselera untuk makan. Ia hanya menyuap beberapa sendok saja.


Usai makan malam, Shiena kembali naik ke lantai dua.


"Eh, Shie." Shandy memanggilnya. "Kamu kenapa? Dari tadi diem aja. Apa terjadi sesuatu sore tadi?"


Shiena menggeleng.


"Trus?"


Shiena tersenyum. "Gak papa, Bang. Aku cuma capek aja. Aku istirahat dulu ya! Selamat malam, Abang."


Shiena melanjutkan langkahnya dan menuju kamar. Ia mengunci pintu lalu merebahkan diri di tempat tidur.


"Haaah! Sebenarnya apa yang diinginkan oleh semesta? Kenapa mempertemukan aku lagi dengan Mas Willy? Bukannya kemarin takdir mulai berubah, tapi kenapa aku tetap bertemu dengan mas Willy?"


Shiena mengusak rambutnya dan menghentakkan kakinya. Shiena bangun dari rebahannya, dan duduk sambil mengatur napas.


"Aku benar-benar bertemu dengan sosok mas Willy dari masa lalu. Tapi kenapa sikapnya dingin banget ke aku? Emang aku salah apa ke dia? Kenal juga enggak kan?"


Shiena uring-uringan sendiri. Ia melirik ponselnya yang menyala. Ia mengambilnya dan melihat ada sebuah pesan masuk dari Alex.


"Kak Alex?"


(Shiena, besok apa kamu ada waktu? Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat.)


"Haaaah!" Shiena menarik napas dan menghembuskannya kasar.


Dahi Shiena berkerut. "Tunggu sebentar! Bukannya di masa lalu kak Alex gak pernah sedikitpun deketin aku? Aku cuma kenal dia sebagai model di perusahaan ayah."


"Kenapa sekarang...?"


Shiena bangkit dari tempat tidur dan berjalan mondar mandir memikirkan segalanya.


"Aku ingin mengubah takdirku yang tidak ingin dipertemukan dengan mas Willy, dan ternyata semesta mengirimkan kak Alex. Trus setelah aku mulai deket sama kak Alex, kenapa mas Willy juga muncul?"


Shiena mengacak-acak rambutnya sambil terus mondar mandir.


"Aaaakkh! Gimana nih? Itu artinya sekarang ada dua cowok di hidup aku? Trus aku harus pilih siapa?"


Shiena kembali menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


...(Alex? Atau Willy?)...


Shiena memilih memejamkan matanya dan berusaha melupakan semua yang terjadi hari ini.