
Beruntung suasana kampus sudah sepi. Jadi tidak banyak orang yang melihat adegan mesra antara Shiena dan Willy. Meski bukan adegan mesra yang sesungguhnya, hehehe.
Tiba di parkiran kampus, Willy membuka pintu mobil dan mendudukkan Shiena di bangku samping pengemudi.
"Kamu bawa mobil? Ini mobil siapa?" Shiena bertanya.
Namun yang ditanya tak memberikan jawaban. Willy berjalan memutar dan duduk di bagian pengemudi. Ia men-starter mobil dan langsung melajukannya keluar kampus.
Shiena berdecak sebal karena Willy sama sekali tak menjawab pertanyaannya. Paham jika Shiena mulai kesal, Willy akhirnya buka suara.
"Ini mobil kantor. Tadi, saya sedang bertemu klien. Tapi tiba-tiba dapat telepon dari kampus. Makanya saya langsung datang kemari. Baru saja urusan saya selesai, Friska manggil saya katanya kamu pingsan. Kejadian setelahnya kamu bisa tebak sendiri. Sudah puas dengan penjelasan saya?"
Shiena melirik sekilas lalu memalingkan wajahnya lagi.
(Kenapa dia terus bicara formal denganku? Apa memang dia masih menganggapku sebagai orang asing?)
"Makasih udah nolongin aku."
"Jangan sungkan, saya melakukannya atas dasar kemanusiaan. Bukankah kita teman?"
Shiena tertegun.
(Teman? Ah iya, aku lupa kalau kami memutuskan untuk berteman. Tapi... Kenapa rasanya gak rela pas dia bilang kami adalah teman?)
Setelahnya tak ada perbincangan lagi diantara mereka. Hingga mobil telah sampai di rumah Shiena.
Shiena kembali mengucap terima kasih dan keluar dari mobil. Tak disangka ternyata Willy ikut turun dari mobil.
"Shiena!" Wulan datang menghampiri Shiena karena ia mendapat telepon dari Anila jika Shiena pingsan.
"Kamu gak apa-apa, Nak?" Wulan memeriksa kondisi Shiena.
Shiena menggeleng. "Aku udah baikan kok, Bun."
"Makasih banyak ya Nak Willy." Wulan menunduk hormat di depan Willy.
"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu."
Shiena dan Wulan melepas kepergian Willy. Shiena segera menuju ke kamarnya untuk beristirahat.
#
#
#
Malam harinya, Willy termenung di teras rumah kosnya sambil memetik gitar kesayangannya. Kali ini tak ada lagu sedih yang dia dendangkan. Hanya lagu penggugah rasa yang membuatnya berbunga-bunga.
Saat sedang memetik alunan melodi cinta, Willy dikejutkan dengan kedatangan Alex ke rumah kosnya.
"Alex?" Willy cukup terkejut dengan kedatangan Alex.
"Hai, Will. Sorry ya gue ganggu." Alex duduk di bangku sebelah Willy.
"Gak kok. Lo kemana aja selama ini? Ngilang gitu aja kayak hantu."
Alex tersenyum kecut. "Gue kesini mau pamitan, Will."
"Pamitan? Maksud lo?"
Alex menceritakan kenapa dirinya menghilang beberapa waktu ini.
"Gue mau pindah ke kota P. Yah, cari suasana baru mungkin."
Willy terdiam. Rasanya ia juga sedih karena kehilangan sahabat yang selama ini menemaninya.
"Lo serius?" Tanya Willy masih tak percaya.
"Iya. Gue serius. Oh ya, gimana hubungan lo sama Shiena? Udah ada kemajuan?" Alex sengaja mengalihkan pembicaraan.
Willy mengedikkan bahunya. "Kita mutusin jadi teman."
"Teman? Serius?" Alex terkejut.
"Iya, gue yang nawarin Shiena untuk jadi teman. Yah, mungkin untuk saat ini, ini adalah yang terbaik."
Alex menepuk pundak Willy. "Gue percaya kalo kalian itu berjodoh. Siapapun gak akan bisa misahin kalian. Lo hanya perlu bersabar aja. Dan meskipun lo gak jodoh sama Shiena, gue gak akan rebut dia dari lo."
"Thanks ya, Lex. Oh ya, lo gak pamitan sama Shiena?"
Alex kembali tersenyum hambar. "Gak, gue yakin dia masih marah sama gue."
"Jangan bilang gak kalo lo belum nyoba. Coba aja datang ke rumahnya. Gue yakin dia bakal mau nemuin lo kok."
Berbekal semangat dari Willy, akhirnya Alex memberanikan diri menemui Shiena di rumahnya. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Belum terlalu malam untuk bertamu, begitu pikir Alex.
Alex menekan bel dan muncullah Bik Imah yang menyambutnya.
"Shiena nya ada Bik?"
"Ada, Den. Mari masuk!"
Shiena keluar dari kamarnya dan berniat menemui Alex. Namun langkahnya terhenti karena bertemu Shandy.
"Mau kemana?"
"Oh, ada kak Alex di depan."
"Apa?! Badjingan itu masih berani menampakkan batang hidungnya disini? Biar abang aja yang temuin dia!"
"Bang! Jangan! Biar aku aja!" Shiena mencekal lengan Shandy.
"She, kalo dia macam-macam lagi sama kamu, gimana?"
"Ck, gak akan Bang. Lagian ini kan di rumah kita. Mana berani dia macam-macam! Percaya deh sama aku."
Shandy nampak ragu mengizinkan Shiena keluar.
"Bang, aku bisa atasi ini kok!"
"Hmm, baiklah. Tapi kalo dia macam-macam, kamu langsung teriak ya!"
"Ish, abang. Iya iya!" Shiena melengos meninggalkan Shandy yang masih was was dengan Alex.
Shiena menemui Alex di teras depan rumah.
"Kak Alex? Kok gak masuk?"
"Eh, Shiena. Iya, gak apa. Kita ngomong disini aja."
Shiena mengangguk paham. "Ada apaan kak? Sampe datang malam-malam gini."
Alex menggaruk kepalanya. "Ah, maaf ya kalo aku ganggu. Aku kesini cuma mau pamitan aja sama kamu."
Shiena mengerutkan kening. "Pamitan? Kakak mau pergi?"
"Yah, begitulah." Sebenarnya dalam hati, Alex masih tidak rela meninggalkan kota ini dan melupakan Shiena. Gadis ini sudah mengisi hatinya sejak awal bertemu. Sulit baginya untuk melepas Shiena begitu saja. Tapi, Alex sadar jika cintanya tidak akan pernah terbalas.
"Kalau gitu, hati-hati ya Kak." Shiena tak mampu berkata apapun lagi. Baginya, Alex merupakan idola baginya. Mungkin bisa disebut cinta monyet Shiena.
Alex mengangguk. Setelahnya, Alex pamit undur diri. Penerbangannya pukul sepuluh malam ini. Maka Alex bergegas menuju bandara setelah dari rumah Shiena.
#
#
#
Hari-hari Shiena kembali seperti biasa. Tak ada Alex dan tak ada Willy juga. Meski masih memendam perasaan masing-masing, tapi baik Shiena maupun Willy tak ada yang mengajak berkomunikasi lebih dulu.
"Tega bener lo sama kak Willy, She." Dua sahabat Shiena yang begitu mendukung hubungan mereka, turut kecewa dengan keputusan Shiena.
"Yah, mungkin gue harus membiarkan dia menata hatinya lebih dulu. Begitu juga dengan gue. Gue juga lagi menata hati supaya lebih bisa menerima ini ke depannya."
Friska menggeleng tak paham. "Gue gak paham sama hubungan kalian!"
Shiena gemas dengan sikap Friska dan langsung mengacak rambut sahabatnya itu.
"Udah deh! Lo gak akan paham karena lo belum ngerasain jatuh cinta."
Setelahnya mereka bertiga tertawa bersama.
#
#
#
Hari itu Shiena dikejutkan dengan kedatangan Willy di kampus. Willy terlihat tersenyum sumringah saat menemui Shiena.
"Ada apa, Mas? Kok kayaknya seneng banget hari ini."
"Iya, She. Hari ini saya pengen ajak kamu ke suatu tempat."
Shiena tersenyum penuh bahagia. "Ayo! Tapi, gak ke tempat yang aneh-aneh kan, Mas?"
"Gak lah, mana berani saya bawa kamu ke tempat yang aneh. Kan belum halal."
Ucapan Willy membuat hati Shiena tersipu malu. Dengan mengendarai motor besarnya, Willy membawa Shiena ke sebuah rumah yang cukup luas.
"Ini rumah siapa, Mas?" Shiena menatap Willy penuh tanya.
"Ayo masuk dulu. Nanti kamu juga tahu."
Shiena berjalan di belakang Willy. Begitu pintu rumah terbuka, sambutan hangat penuh senyuman menyapa mereka.
"Willy? Shiena? Ayo masuk!"
"Heh?! Tante Litha?" Shiena menutup mulutnya saking terkejutnya.
(Jadi, Mas Willy mengajakku ke rumah orang tuanya? Aku masih gak percaya ini...)