
Setelah hampir dua minggu berada di rumah sakit, kondisi Shiena akhirnya membaik dan dinyatakan boleh pulang. Tentu saja hal ini menjadi berita yang menggembirakan untuk kedua orang tua Shiena.
"Syukurlah hari ini kamu sudah boleh pulang, Nak." Wulan mengusap puncak kepala Shiena dengan lembut.
"Iya, Bun. Aku juga udah gak betah tinggal disini. Aku udah pengen tidur di kasur empukku."
Wulan menatap penuh tanya. "Kamu... Akan kembali ke rumah kita kan Nak?"
"Eh?!" Ternyata Shiena sendiri masih bingung dengan kondisinya saat ini.
Malam itu, Shiena pergi dari rumah tanpa memberitahu Willy. Shiena kembali ke rumah orang tuanya. Bahkan saat Willy datang untuk menemuinya, Shiena tidak bersedia bertemu dengan Willy.
Hingga beberapa hari setelahnya, Shiena bersedia menandatangani surat perceraian yang diberikan Willy padanya.
Shiena memejamkan matanya. Ia mengatur napas sebelum menjawab permintaan Wulan.
"Iya, Bun. Aku akan pulang ke rumah kalian. Rumah kita!" Shiena mengulas senyumnya.
Wulan membalas dengan senyuman juga. "Bunda mau beresin barang-barang dulu. Kamu duduk aja di sofa."
"Umm, Bun. Apa aku boleh menemui Anila sebelum pergi?" tanya Shiena.
"Iya, tentu saja. Kasihan juga dia masih belum sadarkan diri."
Shiena mengangguk kemudian keluar dari kamar. Hari ini langkah kakinya sudah lebih cepat dari sebelumnya.
Saat sedang menuju ke kamar rawat Anila, Shiena melihat jika ayahnya sedang bicara dengan seseorang. Shiena menajamkan pandangan matanya. Shiena juga berjalan mendekati sang ayah.
"Martha?" Shiena mengenali sosok gadis muda yang sedang bicara dengan ayahnya.
Shiena menghampiri mereka berdua. "Ayah! Martha?"
Prayitno cukup terkejut melihat kehadiran Shiena. "She, kok kamu disini?" tanyanya dengan nada dibuat tenang.
"Aku mau ke kamar rawat Anila, Yah. Martha, kamu disini?" Shiena beralih menatap Martha.
"Iya, Kak. Aku ingin menjenguk kak Shiena."
Ucapan Martha membuat Shiena menunda kepergiannya ke kamar Anila. Shiena memutuskan untuk bicara dengan Martha lebih dulu.
Prayitno memperbolehkan Shiena bicara dengan Martha. Sebenarnya Yitno ingin mencegah Martha untuk menemui Shiena. Baginya, hubungan Willy dan Shiena sudah hampir berakhir.
Shiena dan Martha duduk di bangku taman rumah sakit.
"Maaf ya Kak. Aku baru sempat menjenguk kakak. Gimana kondisi kakak sekarang? Om Yitno bilang kalo kak Shiena akan pulang hari ini."
Shiena tersenyum kecut. Entah kenapa ia merasa senang sekaligus kecewa karena keluarga Willy baru menjenguknya. Apa arti Shiena sebenarnya untuk Willy? Begitulah pemikiran Shiena.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja. Dan ya, aku akan pulang ke rumah hari ini. Tapi... Aku akan pulang ke rumah orang tuaku!" Nada bicara Shiena penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Martha hanya tersenyum tipis. "Iya, Kak. Gak apa. Lagi pula kondisi kak Willy juga masih belum membaik. Kak Willy masih menjalani terapi untuk kakinya. Kaki kak Willy terluka cukup parah saat kecelakaan."
Shiena tertegun mendengar cerita Martha.
"Apa? Benarkah Mas Willy terluka parah? Kenapa Ayah gak bilang apapun ke aku?" batin Shiena.
"Terus, sekarang kondisinya gimana?"
Martha senang karena Shiena mau bertanya tentang kakaknya. "Kak Willy sudah bisa sedikit berjalan. Ya walau masih langkah kecil. Aku akan mencari fisioterapis untuk kak Willy."
Shiena memalingkan wajahnya. Entah kenapa rasanya aneh saat mendengar cerita tentang Willy. Apakah Shiena sudah mati rasa? Atau ia masih kecewa dengan keputusan Willy yang ingin bercerai darinya.
"Maafkan kesalahan kak Willy ya? Aku harap hubungan kalian bisa segera membaik. Jujur saja aku sangat senang ketika pengadilan memutuskan kalian batal bercerai karena sama-sama mengalami kecelakaan. Mungkin saja ini sebuah pertanda jika semesta gak ingin melihat kalian berpisah."
Shiena hanya diam. Seperti apa perasaannya saat ini hanya dirinya saja yang tahu.
"Aku harap kakak mau menemui kak Willy dan memberinya semangat agar lekas pulih."
Shiena tetap bungkam. Baginya saat ini bukan hanya tentang dirinya saja yang harus ia pikirkan, tetapi juga tentang Anila.
Setelah bicara sebentar, Martha pamit undur diri karena dirinya harus berangkat kerja.
"Aku pamit dulu ya, Kak. Hari ini aku ada shift siang. Semoga kak Shiena lekas pulih seperti sedia kala." Martha sedikit membungkuk kemudian pergi meninggalkan Shiena yang tetap bungkam seribu bahasa.
Shiena masih menikmati kesendirian dengan pikiran yang melayang jauh. Shiena ingin jujur pada dirinya sendiri jika hatinya memang masih tertambat pada Willy.
Namun keadaan lah yang membuat Shiena tak bisa menemui Willy. Ada Anila yang juga membutuhkan dirinya.
Sadar dengan lamunan yang sia-sia, Shiena segera bangkit dari duduknya dan melanjutkan langkahnya menuju ke kamar rawat Anila.
Di dalam kamar, Dokter Shandy baru saja selesai memeriksa kondisi Anila. Teringat dengan mimpinya semalam, dokter Shandy memutuskan untuk tinggal di kamar Anila dan meminta perawat untuk meninggalkannya saja sendiri.
"Nona Anila... Siapapun kamu... Aku..."
Dokter Shandy mencoba merangkai kata yang enak didengar oleh Anila meski hanya lewat alam bawah sadarnya.
"Umm, maaf ya. Saya tidak pandai merangkai kata. Tapi saya hanya ingin bilang... Entah apa maksud dari mimpi yang kualami ini. Tapi saya tahu jika mimpi itu terhubung dengan kamu. Kamu yang sedang tidak sadarkan diri muncul di mimpi saya seolah jika saya adalah orang yang kamu kenal."
Dokter Shandy mendekatkan bibirnya di telinga Anila. "Bangunlah, Nona. Aku ingin melihat mata indahmu yang menatapku. Aku ingin mendengar suaramu yang memanggil namaku..."
Dari balik pintu, Shiena tertegun melihat apa yang dilakukan dokter Shandy kepada Anila. Shiena tersenyum karena dokter Shandy mau membantu untuk membangunkan Anila dari tidur panjangnya.
"Apa mungkin dokter Shandy harus mencium Anila dulu seperti di film-film agar Anila terbangun dari koma?" batin Shiena mulai berkelana.
"Astaga! Apa yang kamu pikirkan? Dokter Shandy bukan lelaki mesum macam begitu, She. Dia gak akan melakukan hal negatif yang hanya akan merusak citranya sebagai dokter," lanjut batin Shiena.
Sadar jika dirinya sedang diperhatikan, dokter Shandy segera membalikkan badan dan menyapa Shiena yang terpaku di depan pintu.
"Nona Shiena?" Dokter Shandy menyapa Shiena.
"Eh?! Ah iya, dokter. Maaf kalau saya mengganggu." Shiena jadi tak enak hati dengan dokter Shandy.
"Tidak apa. Ayo masuk! Kamu ingin menjenguk Nona Anila kan?"
Shiena mengangguk kecil, lalu melangkah menuju brankar Anila.
"Wah, kamu hebat, Nona! Kaki-kakimu sudah bisa digunakan dengan baik. Sejak awal saya tahu kalau ketahanan tubuh kamu itu bisa dibilang bagus, makanya Kamu cepat pulih."
Shiena membungkuk hormat. "Makasih, Dok."
Dokter Shandy memberikan waktu untuk Shiena agar bisa berkomunikasi dengan Anila.
"Apa kabar, Nila? Ini aku, Shiena. Jangan bosen ya kalo aku setiap hari datang kesini untuk menjengukmu. Hari ini, aku dinyatakan boleh pulang oleh dokter. Tapi, aku akan kembali ke rumah orang tuaku."
Secara tak sengaja, jari-jari tangan Anila bergerak pelan. Shiena yang masih tertunduk sedih masih belum merasakan perubahan pada kondisi Anila.
Hingga akhirnya...
"Hah?! Dokter! Anila, Dok! Dia... bangun! Aku lihat jari tangannya bergerak!" seru Shiena hingga membuat dokter Shandy kembali mendekat ke brankar dan memeriksa kondisi Anila.