Before Divorce

Before Divorce
Bab 31 - Mimpi Aneh?



"Ma, mama sudah boleh masuk ke kamar!" Suara seorang wanita muda membuyarkan lamunan Litha.


"Martha, apa kakak kamu sudah bangun?" Tanya Litha antusias.


Martha tersenyum. "Iya, Ma. Kak Willy sudah bangun. Mama bisa temui dia."


Litha yang duduk di bangku depan kamar rawat inap Willy langsung bergegas masuk. Dengan ditemani Martha, Litha menangis haru melihat anak sambungnya sudah bangun dari komanya.


"Willy..." Panggilan Litha membuat Willy menoleh.


"Tante..."


"Mama jangan ajak kak Willy bicara banyak dulu ya! Kak Willy butuh istirahat!" Ujar Martha.


Litha mengangguk.


"Kalau begitu aku tinggal dulu. Kak, istirahat dulu ya!" Martha mengusap pelan lengan Willy.


Willy mengangguk lemah. Willy menatap kepergian adiknya yang berseragam perawat rumah sakit Harapan Sehat.


Litha duduk di kursi dekat brankar Willy. "Bagaimana keadaanmu, Nak?"


Willy sendiri masih bingung dengan yang terjadi dengannya. Ia terbangun dari mimpi panjangnya di rumah sakit. Dengan kondisi tubuh yang banyak mengalami luka.


"Sudah lumayan, Tante. Dokter bilang, aku mengalami kecelakaan, apa itu benar Tante?"


Litha menghela napas sejenak. "Iya, Nak. Apa kamu sama sekali gak ingat apa yang terjadi malam itu?"


Willy mencoba mengingat semua yang terjadi dengannya. Namun tidak ada yang ia ingat tentang kecelakaan yang menimpanya. Ia malah ingat dengan kebersamaannya dengan Shiena yang mengulang waktu.


Tiba-tiba Willy berseru...


"Tante, tahun berapa ini?"


Litha mengerutkan keningnya. "Kamu masih di tahun 2023, Nak. Kamu koma selama enam bulan."


"Hah?!" Willy tertegun.


"Sudah ya, jangan memikirkan apapun dulu. Perlahan saja mengingat semuanya. Bukannya tadi Martha bilang kalau kamu harus istirahat. Tante akan keluar sebentar untuk membeli makan." Litha beranjak dari duduknya.


"Tante..."


Litha kembali berbalik. "Apa ada yang kamu butuhkan? Kamu ingin minum atau..."


"Terima kasih..."


Litha tersenyum. "Sama-sama, Nak. Sekarang beristirahatlah! Jika butuh apa-apa tekan tombol di dekat brankarmu. Adikmu akan segera datang!"


Willy tersenyum. Ia menatap punggung Litha yang keluar dari kamar rawat inapnya.


(Bagaimana bisa semua ini terjadi? Aku kembali ke tahun yang seharusnya aku berada. Apa selama ini aku hanya bermimpi? Aku koma selama enam bulan dan...)


Willy memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


(Lalu bagaimana dengan Shiena? Apa dia juga mengalami mimpi aneh yang sama denganku? Atau hanya aku saja? Semuanya terasa begitu nyata)


Willy memejamkan mata mengingat semua yang terjadi dalam mimpinya.


(Ini aneh! Aku bahkan tidak ingat sama sekali tentang kecelakaan itu. Tapi, kenapa aku ingat mimpi itu dengan jelas? Apakah ini sebuah pertanda?)


"Hayoo, kakak lagi mikirin apa?" Ucapan Martha membuat Willy menoleh dan menatapnya bingung.


Martha mengecek tekanan darah Willy.


"Martha, apa yang terjadi denganku? Kenapa aku sama sekali gak ingat dengan kecelakaan itu?"


Martha menatap kakaknya lekat. "Mungkin karena kakak memang ingin melupakan hal itu." Martha tersenyum.


"Tha, kakak serius!" Willy merasa kesal dengan adiknya.


"Aku serius! Trauma dalam sebuah kecelakaan bisa saja membekas dalam ingatan seseorang, tapi ada kalanya juga seseorang itu ingin melupakan kejadian yang traumatik itu. Kakak beruntung karena gak ingat soal kecelakaan itu. Mobil kakak saja ringsek dan rusak parah."


"Hah?! Beneran?"


Martha mengangguk. "Oh ya, setelah ini mungkin ada beberapa anggota tubuh kakak yang gak bisa digerakin. Kakak sudah terbaring disini selama enam bulan. Jadi, pastinya otot-otot kakak perlu dilemesin dulu. Tapi kakak tenang aja, kita lakukan perlahan ya! Kalo kakak butuh bantuan terapis, disini punya fisioterapis yang bagus kok!"


Willy hanya diam mendengar celotehan sang adik yang baginya terdengar sedang memberinya dongeng.


"Tekanan darah kakak sudah normal. Sekarang istirahat dulu dan jangan mikirin yang berat-berat."


Martha tertawa. "Iya, benar. Tapi maksudku kakak bisa mulai mencoba menggerakkan anggota tubuh kakak, tapi harus perlahan. Gak boleh langsung keras. Ya?"


Setelah memberikan banyak nasihat untuk sang kakak, Martha keluar dari kamar rawat inap Willy.


(Aku pikir aku akan sendirian setelah berpisah dengan Shiena. Ternyata aku masih memiliki Tante Litha dan Martha)


Air mata Willy perlahan mengalir. Ia ingat bagaimana dulu ia memperlakukan Litha. Bahkan ia tak datang di pemakaman sang ayah.


(Papa, maafkan aku... Andai saja semua yang kualami bukanlah mimpi, aku akan sangat bahagia karena kita masih bisa bersama. Ternyata... Penyesalan memang datang terlambat. Dan semua yang retak tidak akan pernah kembali seperti semula...)


...***...


Di ruang perawat, Martha yang sedang menulis hasil pemeriksaan kakaknya di buku pasien tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan seseorang.


"Tha, ada yang nyari lo tuh!" Ucap Dinda, teman sesama perawat Martha.


"Siapa?"


"Dia bilang namanya Prayitno Sasongko. Lo gak ada hubungan apa-apa kan sama om-om itu?"


"Sialan lo! Mana ada!" Martha memukul lengan Dinda.


"Buruan sana temuin. Dia bilang ada hal penting yang mau dia sampaikan."


"Ck, iya iya. Nih tolong lanjutin tulis keterangan kondisi kakak gue ya!"


Martha segera menemui Prayitno yang duduk menunggu di sebuah bangku rumah sakit.


"Maaf, Om. Ada perlu apa ya?" Ucap Martha.


Prayitno segera bangkit dari duduknya dan menyapa Martha.


"Kamu Martha kan? Adiknya Willy?" Tanya Yitno.


"Iya, Om. Om ini... Papanya kak Shiena? Ada perlu apa mencari saya?"


Yitno mengangguk. "Maaf jika kedatangan saya mengganggu pekerjaan kamu."


"Sama sekali gak, Om." Martha mengulas senyumnya dan meminta Prayitno untuk duduk kembali. Ia tak tega melihat pria paruh baya bicara sambil berdiri.


"Apa Nak Willy dirawat di rumah sakit ini?"


Martha mengangguk. "Om tahu dari mana kalau kakak saya ada disini?"


"Informasi dari pengadilan."


"Oh gitu..." Martha baru tahu jika kakaknya dan Shiena akan bercerai setelah Willy mengalami kecelakaan. Martha tahu dari Alex yang berkali-kali menjenguk Willy ke rumah sakit ketika dia masih koma.


Sebenarnya Martha agak kecewa dengan keluarga Shiena yang sama sekali tidak pernah datang menjenguk Willy. Bahkan Shiena sendiri tak pernah datang untuk melihat kondisi kakaknya.


"Maaf ya kalau selama ini kami tidak datang menjenguk Nak Willy."


Martha tersenyum kecut. "Iya, Om. Gak apa-apa. Aku tahu kak Shiena pasti sibuk kan dengan pekerjaannya."


"Tolong jangan salah sangka. Shiena... Putri kami... Juga mengalami hal yang sama dengan Willy. Shiena mengalami kecelakaan, dan terbaring koma selama enam bulan."


"Hah?! A-apa?!" Martha menutup mulutnya. Selama ini ia malah menutup info tentang keluarga Shiena karena sudah terlanjur kecewa dengan kakak iparnya itu. Memang yang mengajukan perceraian adalah kakaknya, tapi Martha mengira jika penyebab perpisahan itu adalah Shiena.


"Apa Om boleh menjenguk Nak Willy?"


Pertanyaan Prayitno membuat Martha terdiam sejenak.


"Boleh, Om. Tapi, kondisi kak Willy baru saja siuman dari komanya. Jadi, jangan terlalu banyak mengajaknya bicara."


Yitno mengangguk. Yitno mengikuti langkah Martha menuju ke kamar rawat inap Willy. Yitno pikir ini adalah teguran dari Sang Pencipta kepada mereka berdua. Mereka berdua sama-sama mengalami kecelakaan di saat mereka sudah memutuskan sepakat untuk berpisah.


"Ayah...?"


Willy berkaca-kaca begitu melihat sosok senja yang sudah dibuatnya bersedih dan kecewa.


Yitno mendekat kearah brankar Willy. Tangis pria itu pecah sambil memeluk Yitno.


"Maafkan Willy, Ayah..."


Atau mungkin saja ini adalah pertanda, jika Semesta ingin mereka memperbaiki keadaan...