Before Divorce

Before Divorce
Bab 33 - Dia Kembali?



Terapi yang dijalani Shiena berjalan dengan baik. Kemajuan yang dibuat Shiena juga bagus. Kedua kakinya mulai bisa digerakkan dengan baik meski masih perlahan. Wulan dan Prayitno sangat senang dengan kondisi putrinya yang mulai pulih.


Shiena melakukan ini karena ingin segera menemani Anila yang tak memiliki sanak saudara di kota ini. Shiena pikir dengan kehadirannya akan membuat Anila cepat pulih dan terbangun dari komanya.


Saat sedang melatih otot kakinya, tiba-tiba Shiena dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang ia kenal. Matanya membola melihat sosok pria tampan ini.


"Kak Alex?" gumam Shiena.


"Hai, She. Syukurlah kondisi kamu sudah membaik." Alex tersenyum menatap Shiena.


Shiena malah bingung dan menatap Wulan.


"Kamu pasti kaget ya lihat Nak Alex? Sejak mengetahui kamu kecelakaan, Nak Alex ini selalu datang menjenguk kamu, She."


Shiena menatap Alex.


(Kenapa begini? Kenapa kak Alex kembali hadir? Tidak! Seingatku kak Alex hanya orang kukagumi saja. Dan dia gak ada di kehidupan lamaku. Jika yang kemarin terjadi... Hanyalah sebuah mimpi saat aku koma. Benar kan?)


"She, kok malah melamun? Di sapa dong Nak Alex nya. Dia selalu nanya ke bunda tentang kondisi kamu selama dia pergi."


"Eh, iya Kak. Halo, kak. Apa kabar?" tanya Shiena canggung. Rasanya sangat aneh bertemu dengan Alex di situasi yang seperti ini.


"Aku baik. Kamu sendiri gimana? Aku senang karena kamu udah ada perubahan. Ayo aku antar balik ke kamar."


Alex meminta izin pada Wulan untuk mendorong kursi roda Shiena. Shiena segera berjalan tertatih menuju ke kursi roda. Namun kakinya yang masih kaku malah membuatnya terhuyung. Beruntung Alex segera menangkap tubuh Shiena.


"Hati-hati, She." Alex malah menggendong Shiena ala bridal.


"Eh, kak! Gak usah gendong aku! Aku..."


"Sudah, She. Jangan menolak. Kamu itu masih lemah. Kaki kamu jugsa belum sepenuhnya pulih." Alex mendudukkan Shiena ke kursi roda, lalu mendorong kursi roda itu kembali ke kamar rawat Shiena.


(Duh, kenapa jadi gini sih?)


Shiena cukup canggung berinteraksi dengan Alex. Mengingat masa lalu mereka yang tidak terlalu dekat. Ya meski dulu Shiena sempat nge-fans dengan Alex, tapi setelah ada Willy dunia Shiena seakan teralihkan kepada Willy.


(Gimana kondisi mas Willy ya? Bukannya Ayah kemarin katanya nyari info tentang mas Willy? Apa Ayah udah dapat info?)


"Sudah sampai!" Karena melamun Shiena malah tak fokus.


"Heh? Sudah sampai ya. Kalo gitu turunin aku, Kak." Shiena berkata dengan enggan. Rasanya sangat malu jika harus sedekat ini dengan Alex.


"Makasih ya, Nak Alex. Jadi, sudah kembali dari kerjaan luar kotanya?" tanya Wulan.


Alex nampak menggaruk tengkuknya.


"Ada apa dengannya?" batin Shiena.


"Sebenarnya... Saya kembali karena saya mendengar kabar kalau Shiena siuman."


Wulan nampak mengulas senyumnya. Sedangkan Shiena hanya tertegun mendengar pengakuan Alex.


"Ada apa dengan hubungan kami di masa ini? Seingatku... Aku dan Kak Alex sama sekali gak dekat. Kak Alex adalah teman kantor Mas Willy. Dan aku tahu hanya sebatas itu saja." Batin Shiena terus menduga-duga.


"She, sebaiknya kamu istirahat ya. Aku akan kembali ke kantor dulu. Nanti malam aku kembali lagi."


Shiena mengangguk pelan. Meski terasa aneh, Shiena tetap menghargai kebaikan Alex.


Sepeninggal Alex, Shiena langsung mencecar ibunya dengan berbagai pertanyaan.


"Bunda, apa maksudnya ini? Kak Alex kok tau kalo aku kecelakaan?"


"Kamu ini! Ada orang baik datang kok malah ditanya begitu. Bunda sendiri gak tahu dari mana Nak Alex tahu mengenai kecelakaan kamu. Tapi yang jelas, dia datang setiap hari untuk memastikan kondisi kamu."


"Hah?! Untuk apa?"


Wulan mengedikkan bahu. "Alex hanya bilang kalau kalian saling kenal saat kuliah dulu. Dia juga kenal Anila kok."


Shiena masih bingung. Wulan mengusap pelan lengan Shiena.


"Udah, jangan dipikirin. Dia itu cerita kalo dia temen kantornya Willy. Dia bilang kalo dia kaget karena Willy ingin..." Wulan tak enak hati melanjutkan kalimatnya.


"Menceraikan aku? Gitu maksud bunda?" Shiena tersenyum kecut.


Wulan mengusap punggung Shiena lembut. "Nak Alex cerita jika dia marah karena Willy ingin berpisah dari kamu. Sepertinya... Nak Alex punya perasaan sama kamu, She."


"Bunda! Ngomong apa sih?! Saat ini statusku masih istri mas Willy kan? Jadi, harusnya ayah dan bunda jangan biarkan pria lain datang mendekatiku! Apa tanggapan orang kalo tahu aku malah dijenguk pria lain dan bukan suamiku?"


Wulan menggeleng pelan. "Harusnya kamu bersyukur karena ada yang peduli denganmu. Nak Alex itu beneran nungguin kamu disini, She. Lagi pula, Willy kok gak ada batang hidungnya. Ayah kamu udah menjenguk dia, tapi kenapa dari pihak dia gak ada yang jenguk kamu?" Wulan terlihat kesal.


Shiena tak menjawab lagi. Lebih baik diam dari pada harus berdebat dengan bundanya karena Willy.


...***...


Keesokan harinya, seperti yang dikatakan oleh Wulan jika Alex datang setiap hari untuk menjenguk Shiena, ternyata benar jika Alex memang datang untuk menjenguk Shiena.


Kali ini Shiena baru saja selesai terapi untuk kakinya. Shiena beruntung jika kondisinya tak lebih parah dari Anila.


"Kak, bisa antar aku ke kamar rawat Anila?" tanya Shiena pada Alex.


"Bisa. Ayo!"


"A-aku... Ingin mencoba berjalan, Kak."


"Baiklah. Ayo coba! Sepertinya kamu mengalami masa penyembuhan yang cepat, She."


Alex membiarkan Shiena berjalan dengan kedua kakinya. Shiena tertawa kecil karena berhasil melangkah meski perlahan.


"Aku bisa, Kak!"


Alex pun ikut tertawa. "Iya, kamu memang hebat, She."


Meski tertatih, akhirnya Shiena tiba di kamar rawat Anila. Shiena menatap sendu wajah sang sahabat yang masih terpejam.


"Bangun, Nila. Ada aku disini! Jangan takut!" bisik Shiena pelan di telinga Anila.


Shiena yakin jika apa yang ia katakan pasti didengar oleh Anila melalui alam bawah sadarnya. Buktinya Shiena merasakan mimpi yang seakan nyata dengan Anila dan Willy.


Saat Shiena masih menyemangati Anila untuk bangun, Shiena menoleh karena pintu kamar diketuk dan dibuka dari luar.


"Selamat siang, maaf Nona. Ini dokter baru yang akan menangani pasien atas nama Anila."


Ucapan perawat itu membuat Shiena menoleh kearah dokter pria yang sedang berdiri di depannya.


"Kenalkan, ini dokter Shandy. Dia yang akan menggantikan dokter Ali yang kemarin merawat nona Anila." Perawat itu kembali menjelaskan.


Shiena masih bergeming ditempatnya dengan menatap dokter pria yang namanya mirip dengan mendiang abangnya. Namun ternyata bukan hanya namanya saja yang mirip, melainkan rupa sang dokter juga hampir mirip dengan Shandy, kakak Shiena.


"Bang Shandy..." gumam Shiena secara tak sadar.


Bahkan kini mata Shiena berkaca-kaca menatap pria yang sudah sepuluh tahun tak ditemuinya.