Before Divorce

Before Divorce
Bab 45 - Hari Baru, Cinta Baru



Willy mengantarkan Shiena kembali ke rumah. Mereka berdua disambut hangat oleh Wulan dan Prayitno. Sebelumnya Willy sudah mengirim pesan pada Wulan jika semalam Shiena bersama dengannya. Dengan begitu, Wulan tidak merasa khawatir karena Shiena tak kunjung pulang.


Senyum di wajah Shiena terkembang sempurna ketika mengantar Willy di depan rumah. Wulan bisa melihat jika putrinya lebih bahagia sekarang.


"Semoga saja hubungannya dengan Willy bisa membaik ya, Ayah."


"Kita jangan ikut campur lagi, Bun. Biarkan Shiena memilih cinta dan hidupnya sendiri. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka."


#


#


#


Friska bersiap untuk kembali ke kampung halamannya. Ia sudab berkemas meski penerbangannya masih di sore hari nanti.


Tok tok tok


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar hotelnya. Friska mengernyit bingung.


"Siapa yang datang?" Gumamnya.


Friska menuju pintu lalu membukanya. Betapa terkejutnya gadis itu setelah mengetahui tamu di pagi ini.


"Kak Alex?"


"Hai, Frisk." Alex melambaikan tangan.


Sungguh sesuatu yang tak pernah Friska duga sebelumnya.


"Maaf ya aku ganggu kamu pagi-pagi. Umm, boleh aku masuk?"


Friska masih melongo di depan pintu dan malah tak fokus dengan apa yang dikatakan Alex.


"Friska?! Kamu gak apa-apa?"


"Eh? Ah, iya. Aku baik-baik aja kok. Ayo masuk, Kak!"


Friska membiarkan Alex masuk ke dalam kamar hotelnya. Sebenarnya semalam... Ada banyak hal yang terjadi.


Setelah makan malam bersama, Friska dan Alex banyak bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Alex merasa nyaman dengan sosok Friska yang sekarang lebih kalem.


Setahu Alex, dulu Friska cukup tomboy dan tak memperhatikan penampilan. Tapi kini gadis ini lebih feminim dan bersolek.


"Umm, aku ingin mengantarmu ke bandara," Ucap Alex canggung.


"Ooh." Friska membentuk bibirnya menjadi huruf O. "Tapi... Penerbanganku masih nanti sore, Kak. Kenapa masih pagi kakak kemari?"


Alex nampak tertawa sumbang sambil menggaruk kepalanya. "Aku... Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Boleh kah?"


Hati Friska bersorak ketika mendengar ajakan Alex.


"Ya Tuhan! Apakah aku bermimpi? Kak Alex mengajakku jalan? Apakah ini kencan?" Batin Friska menggila.


"Bo-boleh, Kak. Kalau begitu aku ganti baju dan siap-siap dulu ya!"


Friska segera menuju ke kamar mandi. Di dalam sana Friska menetralkan degup jantungnya yang tak biasa.


"Aku gak bermimpi kan?" Friska mencubit pipinya sendiri.


"Aw! Aku gak mimpi!" Friska memejamkan matanya. "Mungkinkah kak Alex adalah jodohku?" Wajah Friska memerah karena malu dengan dirinya sendiri.


Di tempat berbeda, Anila membantu menyiapkan sarapan untuk keluarga dokter Shandy. Anila merasa berhutang budi dengan dokter Shandy.


"Anila, apa yang kamu lakukan?"


"Ah, ini dokter. Aku membuat sarapan. Silakan duduk, Dok!"


"Tidak perlu repot. Papa dan mamaku sedang tidak dirumah. Tapi... Terima kasih ya, masakan kamu pasti enak."


Dengan senyum merekah, Shandy duduk di meja makan dan dengan lahap langsung menyantap masakan Anila.


"Kamu juga ikut makan sini!"


Anila tersenyum dan menyambut tawaran Shandy. Bik Surti yang melihat kebahagiaan di wajah anak majikannya ikut tersenyum haru.


"Semoga Den Shandy selalu mendapatkan kebahagiaan."


Usai sarapan, Shandy mendapat telepon dari pengacaranya mengenai perceraian Anila dan Raffa.


"Anila, besok adalah hari persidangan. Apa kamu sudah siap untuk menghadapi suamimu?"


Anila mengangguk. "Iya, aku siap."


"Baguslah. Sekarang kamu bersiap dan kita akan menuju ke kampung halamanmu."


#


#


#


Hari persidangan akhirnya tiba. Anila didampingi pengacaranya dan Shandy mulai gugup karena melihat tatapan tajam ibu mertuanya dan juga Raffa.


Pengacara Anila mulai membacakan tuntutan yang diajukan oleh kliennya. Pihak Raffa tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan Anila pada Raffa.


"Mana mungkin anak saya berbuat seperti itu! Wanita itu sudah mengarang cerita untuk menjatuhkan anak saya. Lihat saja dia, malah bersama dengan lelaki lain. Padahal putusan cerai belum juga selesai! Dasar wanita murahan!"


Hakim memberi peringatan kepada ibu Raffa untuk tetap tenang dan tidak mengganggu jalannya persidangan. Semua bukti-bukti ditunjukkan Anila mulai dari bukti visum dari dokter dan juga keterangan dari para saksi yaitu keluarga Anila sendiri. Anila sendiri juga ikut menjadi saksi agar kasus ini segera tuntas dan Raffa dihukum dengan seadil-adilnya.


Selama menikah, Raffa tidak mengizinkan Anila untuk mengunjungi rumah orang tuanya. Dan kini Amina serta Arman menangis haru karena bisa bertemu dengan putrinya kembali.


"Makasih banyak ya Nak Shandy. Kami sangat berterimakasih sama Nak Shandy." Arman menepuk bahu Shandy penuh kebanggaan.


Anila dan Shandy mengantar keluarga Anila kembali ke rumah. Sekalian dirinya juga membereskan barang-barang miliknya dari rumah Raffa.


"Aku lega, Bu. Karena sekarang aku bebas dari Raffa."


Amina masih menangis haru karena harus menyaksikan kepahitan hidup yanbg dirasakan putrinya.


"Maafkan kami, Nak. Jika saja dulu bapak tidak berhutang pads keluarga Raffa, semua ini gak akan terjadi." Arman menyesali perbuatannya dulu.


Anila memeluk kedua orang tuanya. "Sudah ya. Jangan dipikirkan lagi. Aku sudah memaafkan kalian. Dan sekarang... Izinkan aku untuk meraih kebahagiaanku sendiri."


Anila menatap dokter Shandy yang sedang mengobrol bersama adik lelaki Anila.


"Apa kamu menyukai dokter itu, Nak?" tanya Amina.


Anila tersenyum. "Iya, Bu. Aku bahkan selalu memimpikannya. Entah ini nyata atau masih mimpi... Tapi semesta mengirimkan dokter Shandy untuk mengobati luka hatiku..."


Shandy menatap Anila yang juga sedang menatapnya. Sebuah senyum terukir di bibir Shandy. Dari kejauhan Anila bisa melihat jika bibir Shandy bergerak mengucapkan sesuatu.


"I love you..."


Anila tersenyum haru melihat perlakuan manis Shandy padanya.


#


#


#


Suara decapan memenuhi kamar apartemen yang berisikan dua orang manusia yang sedang merasakan manisnya jatuh cinta. Dering ponsel mengejutkan aktifitas kedua manusia itu.


Segera si perempuan melepaskan tautan bibirnya karena mendengar ponselnya berdering.


"Hah?! Shiena?!" Si wanita muda yang tak lain adalah Friska terkejut melihat nama sahabatnya ada di layar pipihnya.


"Angkat saja!" ucap si pria yang adalah Alex.


Kepulangan Friska tertunda karena Alex menahannya dan malah membawanya ke apartemen pria itu.


"Tapi, Kak... Shiena manggil pakai panggilan video. Gimana?" Friska takut jika sahabatnya akan marah karena dirinya bersama Alex.


"Angkat saja! Kamu tahu kan gimana Shiena? Nanti dia malah marah kalo kamu gak angkat."


Benar juga apa yang dikatakan Alex. Friska mengikuti arahan Alex dengan hati yang masih was-was. Bagaimana bisa rencananya pulang ke kampung halaman malah tertunda karena Alex. Friska merasakan debaran yang berbeds saat bersama Alex. Begitu juga dengan pria itu. Semua terjadi begitu saja. Dan begitu emosional.


"Halo, She..."


"Ya ampun, Frisk. Lama amat angkatnya! Lo lagi ngapaen? Lo udah balik kampung?"


"Eh? Gue... Gue... gue belum balik, She." Friska nampak melirik pria yang ada disampingnya yang masih tampak santai.


Karena di layar Shiena tak terlihat wajah Alex, Shiena pun bertanya.


"Lo lagi sama siapa?"


"Eh? Gue... Gue lagi sama..."


Karena terlalu berbelit, akhirnya Alex merebut ponsel Friska dari tangannya.


"Friska lagi sama aku, She!"


Mata Shiena membola melihat Alex dan Friska bersama. "Kak Alex? Ngapaen kakak sama Friska?" Raut wajah Shiena mendadak panik.


"Hahaha, kita gak ngapa-ngapain kok. Aku hanya ingin mengenal Friska lebih jauh aja."


"Hah?! Maksud kak Alex?"


"Aku akan melamar Friska. Kami akan menikah!"


Sontak saja pernyataan Alex membuat semua tertegun. Termasuk Friska.


"Aku serius! Setelah ini aku bakal antar Friska ke rumah orang tuanya. Dan aku bakal lamar dia disana. Tolong restui kami ya, She..."


Setelah panggilan video berakhir, Shiena menatap Willy yang sedang bersamanya.


"Mas... Apa gak apa kalo Friska sama kak Alex? Aku takut kak Alex cuman mainin Friska aja..."


Kekhawatiran Shiena pasti ada alasannya. Karena selama ini Alex selalu mengejar Shiena, dan sekarang malah ingin menikahi Friska yang adalah sahabat Shiena.


"Sayang... Friska dan Alex itu sama-sama udah dewasa. Aku yakin mereka tahu apa yang mereka lakukan. Dan Alex itu sebenarnya pria yang baik. Udah, kamu gak usah cemas gitu. Doakan saja yang terbaik untuk mereka."


Shiena akhirnya mengangguk. "Oh ya, besok kita jadi kan datang ke pengadilan bareng?"


Willy tersenyum. "Jadi dong! Kita akan membatalkan gugatan cerai itu. Kita akan kembali bersama..."


Shiena memeluk Willy. "Makasih ya, Mas..."


"Aku yang harusnya makasih. Karena kamu udah mau nerima aku lagi."


Ketika Willy dan Shiena mulai mengikis jarak, suara menginterupsi menggagalkan adegan romantis mereka.


"Ehem! Kalo mau mesra-mesraan, masuk kamar sana!" ucap Wulan hingga membuat Shiena dan Willy malah tertawa bersama.