Before Divorce

Before Divorce
Bab 16 - Confession



Shiena berjalan gontai mencari taksi yang melintas. Rasanya mood nya hari ini berakhir kacau dan tidak ingin cepat-cepat pulang ke rumah.


"Cemburu? Enak saja dia bilang aku cemburu?"


Shiena masih saja meracau dan mengumpati Willy. Semakin bibirnya mengumpat, semakin hatinya makin bertanya-tanya sebenarnya apa yang ia rasakan terhadap Willy.


Rasa cinta kah?


Tentu saja dulu mereka sangat saling mencintai. Tapi untuk sekarang rasanya begitu sulit.


Shiena menyetop taksi dan memutuskan pergi ke suatu tempat yang bisa membuat hatinya tenang. Shiena hanya diam selama perjalanan. Relung hatinya berkata ingin memulai semua dari awal. Tapi nyatanya ada bayang-bayang masa depan yang menghalanginya.


Sementara itu, Willy sedang berkendara menuju ke rumah kosnya. Sebelumnya Willy mampir ke sebuah warung makan untuk membeli makan malam untuk dirinya.


Ponselnya bergetar saat Willy akan kembali naik ke atas motor. Nama Shandy tertera di layar.


"Halo, Shan. Ada apa?"


"Halo, Will. Gue bisa minta tolong gak?"


"Minta tolong apa?"


"Shiena belum juga pulang. Gue tanya Friska sama Anila katanya Shiena gak sama mereka. Gue bingung harus nyari kemana lagi."


Willy berpikir sejenak.


(Apa mungkin Shiena masih marah?)


"Oke, Shan. Gue bakal bantu lo. Nanti gue kabarin kalo udah ketemu Shiena."


"Thanks ya, Will."


Panggilan telepon terputus.


"Kemana lagi tuh anak?" gumam Willy.


Tiba-tiba Willy teringat dengan suatu tempat yang ia yakini didatangi oleh Shiena. Willy segera tancap gas menuju ke tempat itu.


...***...


Shiena menatap langit malam yang indah dari atas bukit. Bukit ini dinamakan bukit berbintang. Mungkin karena dari atas sini bintang-bintang begitu jelas terlihat.


Shiena duduk sambil menengadah menatap langit. Bahkan Shiena tak menyadari ada orang lain yang datang menghampirinya.


"Saya tahu kamu pasti ada disini..."


Suara seseorang membuat Shiena berdiri dan menoleh.


"Kamu...?"


Willy tersenyum menyapa Shiena.


"Saya gak nyangka kamu masih ingat tempat ini."


Shiena memalingkan wajah. "Dari mana kamu tahu aku ada disini?" Shiena masih saja bicara ketus pada Willy.


"She... Kamu masih belum sadar juga? Kenapa gak mengakuinya saja?"


Shiena masih gamang. Ia menggigit bibir bawahnya karena merasa terciduk.


Willy semakin mendekat hingga mereka saling berhadapan.


"Saya tahu kamu cemburu saat saya dekat dengan Friska. Kenapa tidak mau mengakuinya? Bahkan kamu masih ingat dengan tempat ini. Tempat ini adalah tempat rahasia saya di saat hati saya sedang gundah. Itu artinya kamu masih ingat dengan semua kenangan kita."


Shiena menelisik masuk manik hitam milik Willy. Sebuah tatapan penuh dengan sebuah harapan besar. Namun ketakutan masih saja menggelayuti.


"Siapa bilang aku masih ingat tempat ini? Semua ini hanya kebetulan semata. Jangan terlalu percaya diri!"


Shiena melengos pergi meninggalkan Willy. Akan tetapi Willy menarik tangan Shiena dan membalikkan tubuhnya hingga menabrak dada bidang Willy.


"Aw! Apa yang kau laku..."


Belum sempat Shiena melanjutkan kalimatnya, Willy sudah lebih dulu membungkam bibir Shiena. Satu tangan menarik pinggang Shiena, dan satu tangan lainnya menahan tengkuk Shiena.


Mata Shiena membola karena lagi lagi mereka bersentuhan fisik dan cukup intim. Shiena mulai terbuai. Shiena memejamkan mata merasakan pagutan yang begitu lembut yang dilakukan Willy.


Bintang yang berkelap kelip menjadi saksi jika dua hati yang berseberangan nyatanya masih saling bertaut dan enggan saling melepaskan.


"Terima kasih, She. Tolong jangan menghindar lagi. Seberapa jauh kamu berusaha pergi, maka aku akan tetap mengejarmu. Jadi, jangan pernah pergi lagi dariku."


Shiena tak menjawab. Ia tahu jika hatinya masih tertambat pada Willy. Meski berusaha menepis semua rasa itu, tetap saja rasa itu kembali bersemi dengan caranya sendiri.


...***...


Seharian ini Shiena berdiam diri di rumah. Beruntung hari ini adalah akhir pekan. Biasanya Shiena hanya bersantai ria saat weekend.


"Shie, tumben kamu di rumah aja. Gak pengen kemana gitu?" tanya Wulan menghampiri Shiena di tepi kolam renang.


"Hmm, lagi malas, Bun. Pengennya di rumah aja. Bang Shandy mana Bun?"


"Abangmu ke kantor. Katanya ngerjain pekerjaan yang belum selesai."


Shiena mengangguk paham. "Bun..."


"Ada apa?" Wulan duduk di sebelah Shiena.


"Apa bunda pernah bertengkar dengan ayah?"


Dulu Shiena tidak pernah menanyakan hal ini kepada orang tuanya. Meski hanya pertanyaan biasa, tapi memiliki berjuta makna untuk Shiena saat ini.


"Dua orang berbeda yang disatukan dalam ikatan pernikahan, pastinya pernah mengalami yang namanya ketidakcocokkan. Ayah dan bunda pun pernah mengalaminya. Pertengkaran kecil itu sejatinya dijadikan sebagai pelajaran untuk kami agar sama-sama mau memperbaiki diri."


"Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Tidak ada hubungan yang sempurna di dunia ini. Semua memiliki porsi masing-masing yang harus kita jaga dan takar."


Shiena terdiam. Kerikil kecil yang dikatakan Wulan, saat ini sedang membuat Shiena dan Willy berada berjauhan dan tak sejalan.


"Makasih ya, Bun atas jawabannya. Aku akan belajar lebih banyak hal lagi tentang ini..."


Shiena beranjak dari posisi duduknya. Shiena menuju kamar dan mengambil ponsel.


Shiena mengirim pesan untuk Willy. Sudah saatnya ia mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Meski kenyataan tak seindah yang dibayangkan.


Di sisi lain, Willy yang sedang menikmati liburannya dengan mencuci motor dikejutkan dengan pesan Shiena yang memintanya untuk bertemu. Hatinya bergemuruh senang. Ia yakin jika hubungannya dan Shiena akan segera membaik. Apalagi kemarin malam Shiena seakan memberikan kesempatan untuk Willy.


Dan disinilah mereka kini. Duduk berhadapan di sebuah kafe. Senyum sumringah tak hentinya diperlihatkan oleh Willy.


"She, aku senang kamu memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Terima kasih, She..." Willy membuka obrolan malam itu.


"Mas..." Suara Shiena terdengar tercekat.


"Apakah ada jaminan ... jika kita kembali bersama ... kita gak akan bercerai?"


"Meski kita tahu sepuluh tahun yang akan datang kamu pernah menceraikanku. Aku gak bisa melakukannya lagi, Mas... Aku gak mau merasakan sakit hati lagi."


Willy terdiam. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya. Rupanya Shiena masih dibayangi dengan ketakutan peristiwa di masa yang akan datang.


"Aku minta maaf..."


Willy menghela napas sejenak. Apa yang dipertanyakan Shiena pastinya tak bisa ia jawab dengan pasti.


"Baiklah..." Willy mulai angkat suara.


"Jika kamu masih merasa takut dengan hubungan kita, maka... Bagaimana jika kita berteman saja dulu?"


Shiena mengerutkan kening. "Teman?"


"Benar. Mungkin dulu kita memulainya dengan kurang baik, makanya kita berakhir seperti ini. Hanya saling menuntut satu sama lain, tanpa mau mendengar keinginan orang yang hidup bersama kita."


Shiena masih belum menjawab.


"Jika kamu tetap keberatan, aku..."


"Baiklah, aku bersedia."


"Eh?! Kamu serius, She?"


"Hmm, aku serius. Kita berteman saja dulu." Shiena mengulurkan tangan kearah Willy.


Dengan senang hati Willy menyambutnya. Mereka saling berjabat tangan dan saling melempar senyum.


Sepertinya ini lebih baik, dari pada harus bersama sebagai pasangan, namun hanya saling menyakiti.