
Willy mengajak Shiena kembali pulang usai bernostalgia di kampus mereka dulu. Hubungan yang sempat dingin kini mulai menghangat. Meski belum ada kata jika mereka akan sama-sama mencabut gugatan cerai mereka.
Willy akan melajukan mobil ketika dirinya teringat akan sesuatu. Willy nampak mencari-cari sesuatu.
"Ada apaan, Mas?"
"She, kamu lihat ponselku gak?"
"Ponsel? Gak. Dari tadi Mas gak pegang ponsel. Mungkin ketinggalan di rumah."
"Seingatku aku bawa kok, She. Apa ketinggalan di rumah kita? Kamu gak keberatan kan kalo kita mampir lagi ke rumah lama?"
Shiena menggeleng. "Gak lah. Itu kan masih rumah kita, Mas."
"Tapi sudah resmi kujual, She. Hanya saja aku belum memindahkan barang-barangnya."
Shiena tertawa kecil. "Ya udah buruan gih jalan. Sebentar lagi mau hujan juga."
Tiba di rumah, ternyata benar jika ponsel Willy tertinggal di atas meja ruang keluarga.
"Karena tadi aku melihatmu, aku jadi lupa segalanya, She."
"Haha, apaan sih? Gombal banget! Ayo Mas, antar aku pulang ke rumah. Hari udah mulai gelap, kayaknya mau hujan besar."
Baru saja Shiena melangkah, tiba-tiba saja lampu di rumah itu padam. Suara petir mulai bersahut-sahutan.
Shiena yang takut petir refleks langsung memeluk Willy.
"Mas! Kok lampunya mati?"
"Kayaknya listriknya mati. Gimana? Apa kamu mau pulang?"
Shiena memeluk Willy erat. Mereka melupakan ego masing-masing untuk saat ini.
"Kita duduk di sofa dulu ya! Kamu hubungi Bunda biar beliau gak khawatir."
Shiena mengangguk. Ia membuka tas slempangnya dan mengambil ponsel.
"Yah, kok mati? Kayaknya tadi aku lupa buat isi batre ponselku deh. Gimana dong?"
Suara petir kembali terdengar. Shiena kembali meraih tubuh Willy. Sambil duduk bersama di sofa, mereka saling memeluk.
Willy sangat senang dengan keadaan semesta yang seakan mendukungnya untuk kembali bersama Shiena. Suasana gelap dan dingin mulai menyelimuti.
Hujan akhirnya turun dengan deras. Kedua insan itu kini dilanda rasa canggung.
"She, aku ambil lilin dulu ya!"
Shiena mengangguk. Ia meringkuk diatas sofa. "Duh, hujannya kapan berhenti ya?"
"She!" Willy membawa lilin dan segelas coklat panas untuk Shiena.
"Makasih, Mas. Harusnya gak perlu repot-repot."
"Gak repot, kan tinggal seduh saja!"
Shiena tersenyum. Cahaya temaram lilin membuat wajah ayunya tampak sangat menawan di mata Willy.
"Aku ambil selimut ya?"
Gelegar petir kembali terdengar. "Mas! Jangan pergi! Disini aja!" Shiena menarik tangan Willy agar kembali duduk.
Shiena merekatkan tubuhnya ke tubuh Willy. Sepertinya Shiena lupa kalau hubungan mereka sedang dalam proses perpisahan.
"She, jangan membangunkan singa yang tertidur," ucap Willy.
"Hah?! Maksudnya?"
"Kamu tahu apa maksudku, She..."
Willy meraih dagu Shiena dan mengecup bibirnya sekilas.
"Mas!" Shiena terpekik.
"Aku bisa melakukan yang lebih dari ini kalo kamu terus memancingku."
"A-apa?! Aku gak memancingmu, Mas. Aku memang ketakutan!" Shiena tersipu malu.
"Aku tahu. Tapi setelah ini tolong jangan takut lagi ya!"
"Mas, kamu..."
Shiena tak sempat melanjutkan kalimatnya karena Willy sudah lebih dulu membungkam bibirnya. Ciuman yang tadinya lembut kini berubah menjadi lebih menuntut.
Willy merebahkan tubuh Shiena diatas sofa yang cukup besar itu. Tangannya saling bertaut dengan tangan Shiena bersamaan dengan suara decapan yang memenuhi ruangan itu.
...****************...
Pagi harinya, Shiena membuka mata. Ia merasakan kehangatan yang membungkus tubuhnya. Shiena menatap Willy yang masih terlelap.
Semalaman mereka tertidur di sofa dan saling memeluk. Selimut tebal membungkus tubuh polos mereka.
Wajah Shiena memerah mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Shiena melihat sekeliling dan menatap pakaian mereka yang berserakan di lantai.
Pergerakan Shiena di sofa membuat Willy akhirnya membuka mata.
"She..." Suara seraknya membuat Shiena mendongak keatas.
"Mas... Apa kita..."
"Sstt! Jangan diteruskan! Kita hanya mengikuti naluri kita saja. Kita masih saling mencintai, She."
Shiena terdiam. Willy mengecup puncak kepala Shiena berkali-kali.
"Hujannya sudah reda, Mas. Ayo kita..."
Lagi-lagi Shiena tak mampu berkata, karena Willy kembali mereguk indahnya surga dunia yang sudah lama dinantikannya.
"Kita lakukan sekali lagi ya?" Izin Willy yang membuat Shiena tersipu malu.
Di bawah selimut tebal, dua insan yang saling mendamba itu kembali berbagi peluh dan desah. Shiena memeluk Willy erat ketika pria itu menghujamnya dengan penuh cinta.
...****************...
Friska baru saja kembali ke kota tempatnya menimba ilmu setelah mendapat kabar jika Anila akan keluar dari rumah sakit hari ini. Friska mendorong kopernya dan hendak keluar dari bandara.
Namun langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan seseorang yang ia kenali.
"Kak Alex?"
"Eh?! Kamu Friska kan?" tanya Alex.
"Iya, Kak. Wah, kakak dari luar kota ya?" Friska bertanya karena Alex juga membawa koper sama sepertinya.
"Iya, aku baru aja tiba setelah tugas luar. Kamu sendiri?"
"Ah, aku mau ke rumah sakit. Anila bilang hari ini dia keluar dari rumah sakit."
Alex manggut-manggut. "Gimana kalo bareng aku aja? Kebetulan aku juga ingin lihat kondisi Anila."
Friska bersorak gembira. "Wah, boleh tuh kak. Lumayan irit ongkos!"
"Haha, memangnya kamu gak janjian sama Shiena?"
Friska mengedikkan bahu. "Gak tahu. Dari semalam ponselnya gak bisa dihubungi."
Setelahnya Alex dan Friska menuju ke rumah sakit.
"Jadi, kamu bolak balik nengokin Anila?"
"Sebenarnya aku udah pesan hotel dari lama kak. Karena kemarin ada masalah urgent di resto, makanya aku pulang dulu ke rumah, trus sekarang balik lagi deh!"
Alex tersenyum. "Kamu memang teman yang baik ya!"
"Ah, gak juga!" Friska merona dipuji oleh Alex. Siapa yang tidak klepek-klepek berduaan dengan pria tampan idola kampus dulu. Tentunya Friska juga dulu sempat mengidolakan Alex.
Tiba di rumah sakit, ternyata Anila tidaklah sendiri. Ada dokter Shandy yang menemaninya.
"Nil, setelah ini apa rencanamu? Apa kamu bakal pulang ke rumah orang tuamu?" tanya Friska.
Anila saling pandang dengan dokter Shandy. Meski tanpa kata, tapi Anila tahu jika dokter Shandy peduli padanya.
"Saya akan menjaga Anila hingga putusan cerainya selesai."
Jawaban dokter Shandy mengejutkan Friska dan Alex. Tidak disangka dokter muda itu bergerak cepat untuk meraih hati Anila yang sedang terluka.
Anila hanya tertunduk malu saat dokter Shandy dengan jujur ingin membantunya. Untuk sementara Anila akan tinggal di rumah milik dokter Shandy. Meski terdengar aneh, tapi dengan begini Dokter Shandy bisa menjaga Anila dari ancaman Raffa yang masih terus menerornya.
Usai mengantar Anila, Alex mengantar Friska ke hotel. Rencananya besok pagi Friska akan kembali ke kampung halamannya karena urusannya disini sudah selesai.
"Oh ya, gimana hubungan kakak dengan Shiena? Kudengar kakak masih gencar deketin dia." Friska bicara santai dengan Alex.
Alex tersenyum kecut. "Gak ada yang gimana-gimana, Frisk. Karena kami gak pernah memulainya. Lebih tepatnya... Shiena yang gak bisa memulainya."
"Lho, kenapa? Bukannya Shiena mau pisah sama kak Willy?"
Alex menggeleng. "Meski mereka terpisah, tapi hati mereka masih bersama, Fris. Shiena masih sangat mencintai Willy. Dan gak akan ada kesempatan untukku masuk ke dalam hati Shiena."
Friska menutup mulutnya. "Maaf ya kak. Aku udah lancang bertanya."
"Haha, gak apa. Lagian udah berlalu juga kok!"
Sesampainya di hotel, Alex mengantar Friska hingga di depan kamar.
"Makasih banyak ya, kak. Hari ini aku banyak ngrepotin kakak."
"Ah, jangan sungkan. Aku senang bisa membantumu."
Mendadak suasana menjadi canggung.
"Umm, apa kakak mau mampir dulu? Aku akan pesankan makan dan minum."
Alex berpikir sejenak. "Kayaknya boleh juga!"
Friska tersenyum senang. Keduanya masuk ke dalam kamar hotel Friska. Gadis itu memesan makanan melalui aplikasi online.