Before Divorce

Before Divorce
Bab 30 - Terbangun



Suara alat-alat medis terdengar bersahut-sahutan di sebuah ruang rawat inap VIP di rumah sakit Harapan Anda. Satu orang pasien yang sudah terbaring koma selama enam bulan tiba-tiba menggerakkan jari-jari tangannya.


"Suster! Anak saya bangun, Suster!" Teriak seorang wanita paruh baya meminta bantuan perawat.


"Sebentar, Bu. Saya akan panggilkan dokter dulu!" Perawat itu segera menekan tombol bantuan yang ada di dalam kamar.


Tak lama kemudian seorang dokter berjalan tergesa beserta seorang perawat memasuki kamar rawat inap itu. Dokter itu segera memeriksa kondisi vital si pasien. Tampak kelopak mata si pasien mulai terbuka.


Dokter wanita itu tersenyum. "Selamat Pak, Bu. Sepertinya putri ibu mulai bangun dari komanya," Ucap dokter itu.


"Syukurlah, Ayah. Shiena kita sudah kembali..." Wanita paruh baya itu langsung memeluk sang suami dan mengucap syukur berulang-ulang.


"Shiena! Kamu bisa dengar Bunda, Nak?" Wulan mendekati brankar sang anak.


Shiena nampak masih lemah. Rasanya matanya masih ingin terpejam.


"Tidak apa, perlahan saja ya," Ucap si dokter.


Shiena mengangguk lemah.


"Sebaiknya jangan mengajak pasien bicara dulu ya, Bu. Pasien masih butuh istirahat. Kalau begitu saya permisi dulu. Jika ada yang diperlukan, nanti tinggal tekan tombol bantuan saja. Permisi!"


Dokter dan perawat itu pun keluar dari kamar.


"Shiena! Syukurlah, Nak kamu sudah bangun. Bunda sama ayah sangat khawatir dengan keadaan kamu..." Wulan tak kuasa menahan tangisnya.


Enam bulan sudah Wulan menunggu Shiena untuk bisa bangun dari komanya. Penantiannya kini sudah terlaksana. Shiena terbangun dari tidur panjangnya.


...***...


Keesokan harinya, kondisi Shiena sudah mulai membaik. Ia mulai bisa merespon orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Wulan dengan penuh cinta mengusap puncak kepala Shiena dengan lembut.


"Bunda... Ayah..." Lirih Shiena yang melihat ayah dan ibunya ada di depan mata.


"Kok kalian cuma berdua disini. Bang Shandy mana?"


Shiena sudah tahu jika dirinya kini berada di rumah sakit. Namun apa penyebabnya berada di rumah sakit, Shiena belum mengetahuinya.


Wulan dan Prayitno akan menunggu hingga Shiena mulai pulih saja dan menceritakan semuanya.


Wulan dan Yitno saling pandang. Bagaimana bisa Shiena menanyakan Shandy di saat seperti ini?


"Sayang, apa kamu lupa? Abangmu sudah lama tiada, Nak. Sudah sepuluh tahun yang lalu..."


Pernyataan Wulan membuat Shiena tertegun.


(Apa?! Bang Shandy sudah meninggal? Ada apa ini sebenarnya? Di tahun berapa aku sekarang? Bukannya aku kembali mengulang waktu? Kenapa Bang Shandy tetap meninggal?)


"Nak, mungkin kamu masih bingung karena kamu terlalu lama dalam kondisi koma. Tapi, perlahan kamu pasti bisa menerima segalanya." Kali ini Yitno ikut bicara.


Shiena memutar otaknya untuk mengumpulkan kepingan puzzle yang rasanya tercecer. Shiena menoleh ke kanan dan kiri. Ia mencari sesuatu.


(Kalender!)


Shiena menatap kalender yang bertengger diatas nakas.


(Tahun 2023? Apa?! Tidak mungkin! Jadi, aku kembali ke tahun yang sebenarnya? Itu artinya aku dan Mas Willy...?)


Shiena memejamkan mata. Sungguh ia masih tak mengerti dengan semua yang terjadi padanya.


(Apa selama ini aku hanya bermimpi karena aku mengalami koma? Tapi, semua hal yang kualami bersama Mas Willy seakan nyata. Aku dan Mas Willy benar-benar mengulang waktu!)


"She, apa yang kamu pikirkan?" Suara lembut Wulan menyadarkan lamunan Shiena.


"Eh? Gak, Bunda. Aku gak mikirin apa-apa. Umm, Bunda. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa ada disini? Aku dengar kemarin kalian menyebutkan kalo aku udah ada disini sejak enam bulan yang lalu. Apa itu benar?"


Pertanyaan Shiena membuat Wulan bersedih. Matanya berkaca-kaca mengingat peristiwa menyedihkan itu.


"Kamu mengalami kecelakaan, Nak." Yitno menjawab menggantikan Wulan yang tak mampu bercerita.


"Apa? Kecelakaan?" Gumam Shiena.


"Kamu ingin menjemput Anila di bandara. Kamu bilang Anila datang kemari. Dia kabur dari suami yang sudah menyiksanya, dan kamu ingin menolong dia."


Yitno menjeda ceritanya.


"Kalian mengalami kecelakaan saat ingin kembali ke rumah. Kondisi kalian sangat parah saat itu..."


Shiena menutup mulutnya. Rasanya ia tak percaya jika semua yang terjadi dengannya hanyalah sebuah mimpi belaka.


"Sekarang dimana Anila?" Tanya Shiena dengan suara bergetar.


"Anila masih belum sadarkan diri, Nak."


Jawaban Yitno membuat Shiena menangis terisak. Bagaimana bisa takdir seakan mempermainkan dirinya?


Wulan memeluk Shiena untuk menguatkan hati putrinya.


"Aku ingin bertemu Anila, Bunda..." Pintanya pada Wulan.


"Sayang, tunggu kondisi kamu membaik dulu ya! Kamu koma selama enam bulan. Jadi, gak mungkin kamu langsung bisa beraktifitas seperti biasa. Kamu harus bersabar. Ya?"


Shiena mengerti jika dirinya tak mungkin menolak permintaan Wulan. Lagi pula seluruh tubuhnya terasa seakan remuk akibat benturan di kecelakaan itu.


Tiba-tiba saja Shiena teringat akan sesuatu...


"Bun..." Panggil Shiena lirih.


"Iya, Nak?"


"Dimana Mas Willy? Apa dia datang menjenguk saat aku koma kemarin?"


Kembali Wulan dan Yitno saling pandang. Setelahnya Wulan menggelengkan kepala pelan.


Shiena menghela napas.


(Benar! Di tahun ini aku dan Mas Willy sepakat untuk bercerai. Bahkan aku sudah menandatangani berkas perceraian itu. Pasti sekarang statusku dan Mas Willy sudah berubah. Kami bukan lagi pasangan suami istri, melainkan mantan)


"Jika kamu mengkhawatirkan soal perpisahan kalian, maka..." Wulan menggantung kalimatnya.


Shiena menatap lekat ibunya.


"Kalian belum bisa bercerai. Karena kalian sama-sama tidak bisa menghadiri sidang perceraian kalian."


Shiena mengerutkan keningnya. Ia tak paham dengan kalimat demi kalimat yang dinyatakan ibunya.


"Kenapa Mas Willy gak datang di pengadilan, Bun? Bukankah dia yang menginginkan perpisahan ini?" Suara Shiena tercekat ketika mengatakannya.


Ternyata semua angannya tidak akan pernah terwujud. Mereka tidak mengulang waktu dan mereka hanya melakukan apa yang sudah dikehendaki oleh semesta.


Wulan menggenggam tangan Shiena dengan lembut.


"Nak Willy juga mengalami kecelakaan. Sama sepertimu..."


"A-apa?!" Shiena kembali syok. Napasnya bergerak tak beraturan.


"She, tenangkan dirimu! Jangan memikirkan apapun dulu ya!"


Shiena menggeleng. Air matanya lolos begitu saja dari sudut matanya.


"Willy juga mengalami koma seperti kamu," Sahut Yitno.


Wulan memeluk erat Shiena. Ia usap punggungnya agar putrinya tak lagi bersedih.


"Aku ingin menemui mas Willy, Bunda..."


Wulan tetap memeluk Shiena dan memilih tak menjawab.


"Tenang, Nak! Ayah akan cari tahu kabar tentang Willy ya. Dia gak dirawat di rumah sakit ini, jadi Ayah akan menghubungi keluarga Willy saja."


Shiena memejamkan matanya.


(Kenapa takdir seakan begitu kejam pada kami? Apa kami akan tetap bahagia meski kami bercerai?)


"She, perceraian kalian dibatalkan, karena dua belah pihak tidak pernah hadir di persidangan."


Jawaban Yitno kembali membuat Shiena mematung.


(Sebenarnya apa yang semesta inginkan dariku? Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini? Mimpi yang kualami, benar-benar terasa sangat nyata...)