
Sudah dua hari Shiena harus istirahat di rumah. Kakinya yang terkilir membuat Shiena harus bed-rest dan izin dari perkuliahan untuk pemulihan selama beberapa hari.
Sejak hari itu, Shiena tak mendengar kabar tentang Willy. Shiena merasa jika itu adalah hal yang bagus. Apa yang terjadi diantara mereka hanyalah kekhilafan semata. Ya, Shiena menganggap dirinya terbawa suasana hingga bersentuhan fisik dengan Willy sedekat itu.
Ketukan di pintu membuat Shiena menoleh. Wulan datang membawa makanan dan obat untuk Shiena.
"Gimana keadaan kamu? Sudah lebih enakan?"
"Udah, Bun. Maaf ya aku jadi ngerepotin Bunda dan semuanya."
Wulan tersenyum. "Gak papa, She. Itu kan musibah, jadi ya kita gak bisa nolak kan?"
Shiena mengangguk paham. Wulan menatap Shiena yang kini sedang menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Oh ya, Shie."
"Kenapa Bun?"
"Soal Wisnu... Ayah kamu sudah memaafkan dia dan menerima dia kembali di perusahaan. Ayahmu bilang perusahaan membutuhkan orang seperti Wisnu. Kamu gak papa kan?"
Sebelumnya Shiena memang meminta ayahnya untuk memecat Wisnu, karena dinilai sudah mengejek Shiena dan juga memprovokasi Shiena hingga dirinya hilang didalam hutan. Shiena hanya ingin membuat Wisnu jera dan tidak meremehkan seorang wanita meskipun dia manja. Menurut Shiena wajar jika seorang wanita memiliki sifat manja.
"Ya udah gak papa. Asalkan dia gak ngulangi perbuatannya lagi aja," balas Shiena.
"Iya. Ya udah sekarang habiskan makannya trus minum obat. Bunda tinggal dulu ya!"
Shiena mengangguk. Ia kembali memakan makanannya dengan lahap. Tiba-tiba Ia teringat dengan sesuatu.
"Bunda..."
Wulan yang berdiri diambang pintu segera menoleh. "Ada apa lagi, Nak?"
"Umm, soal..." Shiena bingung untuk mengutarakan maksudnya.
"Soal Nak Willy?" tanya Wulan dengan senyum penuh arti.
Shiena mengangguk pelan.
"Nak Willy dan Wisnu sudah berbaikan. Mereka sudah saling memaafkan."
Shiena mengerutkan keningnya. "Saling memaafkan?"
Shiena memang tidak diberitahu mengenai insiden yang terjadi antara Wisnu dan Willy. Menurut Prayitno, masalah ini akan diurus secara kekeluargaan saja.
"Ayahmu sengaja gak mau cerita ini ke kamu. Takutnya nanti kamu malah jadi gak enak sama semuanya."
"Maksudnya gimana Bunda?" Shiena makin tak mengerti.
"Saat mendengar kamu hilang, nak Willy begitu marah kepada Wisnu dan dia sempat bersitegang dengan Wisnu. Bahkan nak Willy memukuli Wisnu sampai babak belur."
Shiena melongo tak percaya.
"Bunda juga heran kenapa nak Willy bisa sampai semarah itu pada Wisnu. Mungkin karena dia adalah ketua kelompok di tim kita kali ya. Makanya dia merasa bertanggungjawab dengan anggota timnya."
Shiena diam dan tak menanggapi ucapan Wulan.
"Ya udah, habisin dulu makanannya. Bunda tinggal dulu ya!"
Shiena masih mematung setelah kepergian Wulan. Rasanya ia benar-benar tak percaya jika Willy akan sangat mengkhawatirkan dirinya.
Lalu Shiena mengingat kembali saat Willy yang akhirnya menemukan dirinya di hutan. Ya, Willy nekat mencari dirinya sendirian. Ditambah lagi setelah itu Willy menyatakan perasaannya terhadap Shiena.
Shiena menggeleng cepat. "Apaan sih? Kenapa jadi mikirin dia coba!"
Usai menyantap makan siangnya, Shiena dikejutkan dengan kedatangan kedua sahabatnya, Friska dan Anila.
"Shienaaaaaa!" seru keduanya.
"Aaaaa kaliaan!" Shiena merentangkan tangannya dan menyambut pelukan dua sahabatnya itu.
"Gue kangen banget sama kalian berdua," ucap Shiena.
"Kita juga kangen sama lo. Gimana kondisi kaki lo? Udah mendingan?" tanya Friska.
"Udah lumayan sih. Tapi masih sakit kalo dibuat jalan."
"Lo istirahat aja dulu. Nanti kalo udah sembuh beru deh ngampus lagi," sahut Anila.
"Iya, palingan dua harian lagi sih udah baikan."
Setelahnya mereka terlibat percakapan seru tentang banyak hal. Shiena mulai mengembangkan tawa dan senyumnya. Ia melupakan sejenak hal tentang Willy dan pernyataan cintanya.
Di lain tempat, Willy dan Shandy berjalan beriringan keluar dari ruang rapat. Willy ingin sekali mengetahui kondisi Shiena yang sekarang.
Willy bahkan masih ingat saat bibirnya saling menempel dengan bibir Shiena. Wajah Willy langsung memerah mengingat kejadian itu.
"Woy, ngelamun aja lo!" Shandy menepuk pundak Willy.
"Eh, lo, Shan!" Willy mencoba tetap tersenyum.
"Lo mikirin apa? Shiena?"
Seakan tahu apa yang dirasakan oleh sahabatnya, Shandy langsung bertanya tanpa basa basi.
"I-iya," jawab Willy dengan menggaruk tengkuknya.
"Shiena baik-baik aja. Kalo lo mau tahu lebih jelas, lo datang ke rumah."
Willy bimbang. Ia memang ingin melihat kondisi Shiena, tapi sebuah ego menahannya untuk tidak pergi.
"Udah ayo! Lo ikut gue aja ke rumah!"
"Hah?!"
...***...
Mentari mulai naik ke peraduannya. Shiena, Friska dan Anila masih mengobrol seru hingga lupa waktu.
Tiba-tiba pintu kamar Shiena diketuk, dan muncullah Bik Imah dari balik pintu.
"Permisi Non. Dibawah ada den Willy. Katanya pengen jengukin Non."
Mata Shiena membola mendengar nama Willy. Ia berpikir sejenak apakah mengizinkan Willy masuk atau tidak.
Bayangan pernyataan cinta Willy dan ciuman bibir yang mereka lakukan kembali hadir. Namun Shiena menepisnya.
(Gak! Aku gak boleh terbuai sama kata-kata mas Willy. Aku akan tetap ingin mengubah takdirku)
"She, kasihan kak Willy kan? Suruh masuk aja kesini. Ya?" ucap Anila.
"Gak! Gak boleh! Gue capek, gue mau tidur. Sebaiknya kalian juga pulang. Udah malem!" Shiena langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata memeluk guling kesayangannya.
Friska dan Anila saling pandang tak mengerti dengan sikap Shiena yang tiba-tiba berubah menjadi galak.
Tak ingin membuat suasana tak mengenakkan, Friska dan Anila memilih untuk pamit undur diri. Bik Imah yang masih menunggu keputusan Shiena masih berdiri mematung.
"Jadi, gimana Non?" tanya Bik Imah hati-hati.
"Suruh dia pulang! Aku gak mau ketemu sama siapapun saat ini," seru Shiena.
Bik Imah kembali menemui Willy dan meminta maaf.
"Maaf, Den. Non Shienanya lagi istirahat, gak mau diganggu katanya." Bik Imah menundukkan kepala.
Willy tetap tersenyum meski hatinya sedang kecewa. "Oh gak papa, Bik. Mungkin lain kali aja. Sampaikan salam saya untuk tuan dan nyonya Sasongko ya, Bik."
Dengan langkah gontai Willy berbalik badan dan naik keatas motornya. Shandy yang sedang berganti baju mendengar deru motor Willy dan langsung berlari keluar.
"Will! Willy!" Panggilan Shandy tak didengar oleh Willy.
"Bik, Willy kenapa pergi?" tanya Shandy gusar.
"Itu Den. Non Shiena gak mau ditemui siapapun. Jadi, den Willy memilih pulang."
Shandy menggeleng pelan. "Keterlaluan, Shiena!"
Dengan langkah kaki lebarnya, Shandy berjalan menuju kamar Shiena. Tanpa mengetuk pintu Shandy langsung membukanya.
"She, apa-apaan kamu? Kenapa kamu gak mau ketemu sama Willy?"
Shandy tahu jika Shiena hanya berpura-pura tidur.
"Kamu tahu gak dia itu ngorbanin nyawanya buat nyari kamu! Tapi apa balasanmu? Kamu malah nolak ketemu dia!"
"Dia bahkan sampai ribut sama Wisnu karena saking khawatirnya sama kamu. Abang gak percaya kamu seegois ini, She!"
Suara Shandy yang cukup keras mengundang perhatian Wulan dan Prayitno.
"Ada apa sih, Bang? Kok ngomongnya teriak-teriak begitu?" tanya Wulan.
Shandy mengusap wajahnya kasar. "Bunda tanya aja sama anak kesayangan Bunda itu!" Shandy menunjuk Shiena kemudian pergi dari kamar adiknya itu.
Prayitno dan Wulan hanya saling pandang. Mereka memilih diam dan ikut membiarkan Shiena beristirahat di dalam kamarnya.