Before Divorce

Before Divorce
Bab 38 - Salah Paham Lagi



Satu minggu telah berlalu semenjak insiden salah paham antara Shiena dan Willy. Kini kondisi Willy sudah mulai pulih. Kakinya pun mulai bisa digerakkan meski masih tertatih.


"Makasih ya, Re. Berkat kamu aku bisa jalan lagi."


Renata tersenyum. "Bukan karena aku, Will. Itu karena keinginan kamu yang kuat untuk kembali sehat seperti sedia kala. Aku suka semangatmu itu, Will."


Willy tersenyum. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera menemui Shiena. Willy sudah mendengar kabar jika Shiena sudah pulang ke rumah orang tuanya.


Martha dan Litha datang bersama untuk melihat kondisi Willy sekarang. Martha tersenyum lega karena kakaknya kini sudah bisa berjalan lagi meski masih dibantu dengan tongkat.


"Setelah keluar dari sini, Kakak akan tinggal di rumah kita kan?"


Pertanyaan Martha membuat Willy bimbang. Sudah lama sekali Willy tidak kembali ke rumahnya bersama Shiena. Apa kabar rumah itu sekarang?


"Kamu tenang aja. Tante selalu suruh orang buat bersihin rumah kamu kok. Rumah kamu aman terkendali."


Willy merasa sangat berterimakasih pada Litha. "Makasih, Tante. Sebenarnya aku memang ingin tinggal di rumahku sendiri. Tapi sepertinya kondisiku gak memungkinkan untuk tinggal seorang diri." Willy menundukkan kepala. Setelah semua yang terjadi padanya, Willy harus menekan egonya dan mengikhlaskan semuanya.


"Tante malah senang kalo kamu mau tinggal bersama kami."


...***...


Hari ini Shiena menjenguk Anila yang sudah siuman. Shiena juga sudah menghubungi Friska agar mau datang menjenguk Anila.


Teman Shiena yang satu itu kini sudah menjadi salah satu pengusaha kuliner di daerahnya. Kesehariannya sangatlah sibuk hingga tidak memikirkan soal pernikahan.


"Gimana kondisi lo, Nila? Sudah lebih baik?"


Anila mengangguk. "Iya, She. Maaf ya kalo gue ngerepotin lo."


"Sama sekali enggak kok. Lagi pula ini semua terjadi karena kesalahanku juga. Maaf ya, Nil..."


Anila menggenggam tangan Shiena. "Gue beruntung karena punya temen kayak lo, She."


"Nil, soal apa yang dilakuin suami lo... Apa lo gak pengen nuntut dia? Dia udah nyakitin lo, Nil. Kita harus ngelawan!"


Anila menggeleng. "Udah cukup, She. Gue gak mau berurusan sama dia lagi. Gue berharap dia gak nemuin gue disini. Selama ini dia gak tahu kalo gue punya temen di kota ini..."


Shiena memeluk Anila. "Kalo lo butuh apa-apa, lo kabarin gue ya! Gue akan selalu ada buat lo!"


"Ehem!" Suara dehaman seseorang membuat Shiena mengurai pelukannya.


"Dokter Shandy!" Shiena sangat senang karena bisa melihat sosok mendiang kakaknya dalam diri dokter Shandy.


"Maaf ya, nona Shiena. Pasiennya saya periksa dulu!"


Shiena mengangguk. Shiena memperhatikan dokter Shandy yang sedang memeriksa kondisi Anila.


"Kakinya sudah bisa digerakkan?"


Anila menggeleng. Wajahnya memerah karena dokter Shandy menyentuh kakinya.


Shiena bisa melihat jika Anila masih menyimpan rasa pada kakaknya. Andai saja semua memang bisa terulang. Namun semua hanya sebatas mimpi saja. Atau mungkin Anila akan meraih kebahagiaan bersama dokter Shandy.


"Sudah selesai!" Ucapan dokter Shandy membuat Shiena tersadar.


Shiena mengantar dokter Shandy hingga ke depan kamar.


"Dokter!"


"Iya, ada apa?"


"Boleh saya minta sesuatu?"


"Minta apa?" Shandy merasa bingung.


"Bisakah dokter berbicara santai dengan kami? Kami... Ingin berteman dengan dokter..." Shiena mengatakannya dengan malu-malu.


Dokter Shandy malah tertawa. "Kamu ini lucu sekali, Shiena."


"Tentu saja boleh. Aku senang berteman dengan banyak orang. Lagi pula, entah kenapa aku merasa... Aku ini memang dekat dengan kalian."


"Hah?! Maksudnya?"


Shandy menepuk bahu Shiena. "Aku merasa kalau kita sudah lama saling mengenal. Begitu juga dengan... Aku dan Anila. Ada perasaan aneh yang menuntunku menuju ke Anila..."


Shiena tersenyum lebar. Mungkin Semesta memang mempertemukan mereka karena ada sesuatu diantara mereka. Sebuah ikatan batin yang tidak bisa diputus begitu saja.


Shiena berpamitan pulang pada Anila. Shiena berjalan menuju ke parkiran rumah sakit dan mencari keberadaan Mang Pur yang tadi datang bersamanya.


"She!"


Shiena malah bertemu dengan Alex.


"Kak Alex?"


"Kamu udah mau pulang?" tanya Alex.


Shiena mengangguk. Matanya masih memindai mencari sosok Mang Pur dan mobil keluarganya.


"Mang Pur udah kusuruh pulang!"


Jawaban Alex membuat Shiena mendelik. "Kenapa?"


"Karena udah ada aku yang bakal anterin kamu pulang ke rumah."


Shiena berdecak sebal. Pria di depannya ini selalu saja mendekat tanpa mau peduli perasaan Shiena.


"Ayo masuk, She! Siang ini panas banget lho!" Alex membuka pintu mobilnya.


Shiena masih bergeming. Ia tidak ingin memberi harapan pada Alex meski sebenarnya hatinya kecewa pada Willy.


"She, aku minta maaf ya. Tadi aku ke rumahmu. Tapi bunda kamu bilang katanya kamu ke rumah sakit jengukin Anila. Makanya aku susul kamu kesini. Tadi, bunda juga bilang kalo Mang Pur harus antar bunda kamu ke acara arisan. Jadi ya... Begini deh!"


Tak ingin mendengar alasan apapun lagi dari Alex, Shiena langsung masuk ke dalam mobil. Ditambah siang ini matahari sangat terik. Shiena tidak bisa berlama-lama di bawah sinar matahari.


Alex tersenyum puas penuh kemenangan. Alex memutar dan duduk di kursi kemudia. Alex mulai melajukan mobil keluar dari area rumah sakit.


Shiena hanya diam tanpa ingin mengobrol dengan Alex. Shiena ingin Alex tahu diri dengan dirinya yang selalu menolaknya. Tapi sepertinya Alex ini cukup gigih dan pantang menyerah.


Tiba di halaman rumah, Shiena segera turun dari dalam mobil. Shiena berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


Namun sialnya, kakinya tiba-tiba mengalami kram. Meski sudah dinyatakan pulih oleh dokter, tapi terkadang rasa nyeri sering datang di saat yang tidak tepat.


"She, kamu gak papa?" Alex ikut panik karena Shiena memegangi kakinya.


"Gak apa-apa. Aku cuman..."


Belum sempat Shiena menjawab, Alex segera menggendong tubuh Shiena.


"Kak! Apaan sih? Turunin aku!" Shiena berontak.


"Gak akan! Kamu itu lagi kesakitan, She. Gak usah gengsi kenapa sih?"


Alex tetap menggendong Shiena masuk ke dalam rumah.


Pemandangan yang terlihat romantis itu ternyata tak sengaja ditangkap oleh kedua netra milik Willy yang datang untuk menjenguk Shiena. Tangannya terkepal melihat sahabatnya begitu dekat dengan Shiena.


"Jadi benar kalau kamu akan bersama dengan Alex, She. Kamu akan lebih bahagia jika bersamanya? Kamu bahkan bisa bersentuhan sedekat itu dengannya. Padahal dulu kamu sangat membatasi diri dengan lawan jenis. Apa memang cinta kamu untuk aku udah habis, She?"


Dengan langkah gontai, Willy kembali masuk ke dalam mobil Renata yang bersedia mengantarnya. Renata mengesampingkan perasaannya sejenak demi menolong Willy.


"Ada apa, Will? Kok balik lagi?"


Willy menggeleng. Renata melihat raut kesedihan di wajah Willy.


"Mungkin benar apa yang dikatakan Ayah Yitno. Aku emang harus melepaskan Shiena..."