
Akhirnya hari yang dinanti Shiena tiba juga. Hari kelulusan Shiena dihadiri oleh keluarga tercintanya.
Friska dan Anila yang juga lulus kini sedang ber-euforia bersama Shiena. Mereka saling berfoto bersama dan mengabadikan momen yang tidak akan terulang lagi ini.
Mereka yang sedang bercanda ria dikejutkan dengan sorak sorai para mahasiswi karena kedatangan seseorang yang cukup menghebohkan. Mobil mercedes benz itu memasuki halaman kampus dan membuat siapapun terpana melihatnya.
Sesosok pria tampan turun dari mobil dengan membawa sebuah buket bunga besar di tangannya. Sosok itu berjalan tegap memasuki area kampus yang beberapa tahun lalu juga dihuni olehnya.
"Siapa tuh?" bisik Friska di telinga Anila.
Anila hanya mengedikkan bahunya. Sorakan itu bertambah ramai ketika sosok itu berhenti tepat di depan Shiena.
"Ini untukmu, Shiena."
Suaranya sangat dikenali Shiena.
"Mas Willy?" lirih Shiena sambil menerima buket bunga pemberian Willy.
Sontak saja perlakuan manis Willy membuat mahasiswi lain iris terhadap Shiena.
"Selamat ya Shiena. Akhirnya kamu lulus juga. Saya ikut senang dengan keberhasilan yang kamu capai ini."
"Makasih, Mas. Aku pikir mas gak akan sempat datang ke acara wisuda aku."
"Tentu saja aku akan menyempatkan untuk datang. Oh ya, nanti malam ada waktu?"
Shiena mengangguk. "Nanti malam ada pesta gitu di resto sama temen-temen satu angkatan. Apa mas mau menemaniku?"
Untuk beberapa saat, Shiena dan Willy saling bicara tanpa memperdulikan yang lain. Sudah lama mereka tidak bertemu dan mengobrol panjang lebar.
"Tentu. Aku akan menemanimu sampai pagi kalo perlu."
Shiena tertawa. Sudah lama sekali Willy tak melihat tawa Shiena. Willy merasa ini adalah awal yang bagus untuk hubungan mereka ke depannya.
"Aku jemput jam 7 ya!"
Shiena mengangguk. Anila dan Friska juga Shandy hanya tersenyum penuh bahagia melihat Shiena dan Willy yang nampaknya akan mulai kembali bersama.
Malam harinya, Willy menjemput Shiena di rumahnya. Tak lupa Willy meminta izin pada kedua orang tua Shiena dan juga Shandy.
"Jaga adek gue ya!" ucap Shandy sambil menepuk pelan bahu Willy.
"Pasti! Gue akan menjaga Shiena dengan nyawa gue."
Kemudian mereka berdua tertawa bersama.
"Kalian ngetawain apaan sih?" Shiena datang menghampiri mereka berdua.
Willy nampak terpesona dengan penampilan Shiena malam ini. Gadis yang dicintainya ini sudah lebih dewasa dari sebelumnya.
"Yuk berangkat sekarang, Mas," ajak Shiena.
"Ayo! Shan, gue tinggal dulu ya!"
Shandy mengangguk dan melambaikan tangannya kearah mobil Willy.
Selama perjalanan, Shiena dan Willy tak banyak bicara. Padahal banyak hal yang ingin mereka obrolkan. Tapi nyatanya lidah mereka sama-sama kelu dan tak mampu berkata apapun.
Hingga akhirnya mobil Willy tiba di sebuah resto. Shiena turun lebih dulu dari mobil. Ia melihat suasana resto sudah ramai dengan teman-teman satu angkatannya.
Willy menatap dari kejauhan Shiena sedang menyapa kawan-kawannya. Willy menghela napas kasar.
(Ternyata kebiasaan Shiena belum juga berubah. Dia sangat peduli pada teman-temannya tapi gak pernah peduli padaku)
"Mas! Sini!" Shiena melambaikan tangannya dan meminta Willy untuk mendatanginya.
Senyum Willy langsung mengembang karena ternyata Shiena tidak melupakannya.
Acara malam itu hanyalah makan-makan dan berdansa. Willy mengajak Shiena maju ke lantai dansa.
Meski sempat menolak, tapi bujukan Willy berhasil membuat Shiena luluh. Mereka berdansa dengan sangat mesra mengikuti alunan musik romansa yang mengalun.
Willy menarik pinggang Shiena mendekat ke tubuhnya hingga keduanya saling menempel.
"Terima kasih, Shiena," bisik Willy.
"Untuk apa?"
"Semuanya. Terima kasih atas kesempatan yang kamu berikan padaku malam ini. Aku harap kita bisa memulai semua dari awal."
Shiena terdiam. Ia menundukkan wajahnya.
"Shiena! Tatap aku! Kumohon!" pinta Willy dengan suara lembutnya.
Shiena menurut. Ia menatap manik hitam Willy. Terpancar jelas cinta yang besar disana. Shiena tahu ia tidak akan bisa mundur lagi.
Shiena menyudahi dansanya dan mengajak Willy ke taman belakang resto yang penuh dengan lampu kelap kelip. Tangan mereka saling bertautan seolah bercerita jika cinta mereka kembali bersemi.
"Kenapa mengajakku kesini?" tanya Willy.
Shiena mengedikkan bahunya. "Entahlah. Aku hanya ... melakukan apa yang hatiku katakan."
Willy menatap gadis yang ada didepannya lekat.
"Apa itu artinya kamu sudah siap untuk memulainya lagi denganku?"
Shiena tidak menjawab dan hanya tersenyum. Hingga sebuah anggukan kecil Shiena perlihatkan didepan Willy.
Willy tersenyum lebar dan langsung memeluk Shiena. Malam ini begitu syahdu. Dua hati itu masih saling bertaut. Saling mendamba, saling merindu.
Willy merangkum wajah Shiena yang tidak pernah ia lupa sedetikpun selama dua tahun ini. Willy tahu jika cinta Shiena hanya untuknya saja. Sejauh apapun mereka terpisah jarak dan waktu. Semesta akan tetap menyatukan mereka berdua.
Shiena memejamkan matanya saat hembusan napas Willy terasa begitu dekat. Shiena merasakan sebuah cinta yang besar yang diberikan Willy untuknya.
Dua benda kenyal itu bersatu dan saling bertukar rasa. Tangan Shiena melingkar indah di leher Willy. Ia meremas pelan rambut belakang Willy dengan masih saling berbalas kecupan.
Willy mendekap tubuh Shiena dengan erat karena tak rela malam ini berakhir begitu cepat. Suara kembang api yang menggema membuat kedua insan itu saling tatap dengan napas yang terengah.
"Shiena, will you marry me?"
Mata Shiena membola mendengar kalimat sakral yang diucapkan seorang pria.
"Kenapa kamu..."
Willy tahu Shiena masih ragu padanya.
"Baiklah. Satu bulan! Ah tidak! Satu minggu! Kuberi waktu satu minggu untuk memikirkannya. Aku tidak menginginkan apapun selain kamu, She. Kurasa kamu tahu bagaimana perasaanku selama ini."
Shiena mengangguk.
"Sudah malam. Aku antar kamu pulang ya!" Willy menarik lembut tangan Shiena.
Mereka berjalan bersama menuju ke tempat parkir. Senyum keduanya terus terkembang penuh kebahagiaan. Sepertinya setelah ini mereka punya rencana sendiri untuk masa depan mereka.