Before Divorce

Before Divorce
Bab 22 - Kilas Masa Lalu



Ketika Willy berusia 7 tahun, Arya mendapat panggilan telepon dari Esti yang mengabarkan jika Willy sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Arya yang sedang merintis perusahaannya segera mendatangi rumah sakit tempat Willy dirawat.


Willy yang awalnya sakit biasa, lambat laun mengidap penyakit aneh hingga menyebabkan dirinya lumpuh. Arya yang curiga akhirnya bertanya pada Esti. Tapi ibu kandung Willy itu selalu saja menutupi penyakit Willy dan malah meminta Arya untuk lebih perhatian kepada putranya.


Tahun pun mulai berganti, Arya mulai menyelidiki penyakit putranya yang dinilai aneh. Willy terlahir sebagai bayi yang sehat dan tidak memiliki kelainan apapun. Suatu ketika Bik Sumi pernah bercerita pada Arya jika ia melihat gelagat aneh dari nyonyanya. Tapi saat itu Arya tidak mempercayai Bik Sumi. Tentu saja Arya lebih percaya pada sang istri yang seorang mantan perawat.


Hingga ternyata ucapan Bik Sumi dirasa mulai benar oleh Arya. Kondisi Willy tetap tidak membaik meski Esti selalu memberinya obat yang ia akui sebagai obat generasi baru untuk Willy.


Melihat Willy semakin hari kondisinya semakin memburuk, membuat Arya bertanya langsung pada dokter yang merawatnya tanpa diketahui oleh Esti tentunya. Selama ini Esti selalu melarang Arya untuk bicara dengan dokter yang merawat Willy. Dan akhirnya Arya tahu apa alasan Esti melarangnya.


Betapa terkejutnya Arya ketika dokter mengatakan jika Willy tidak memiliki penyakit apapun dalam tubuhnya. Bahkan sepertinya Willy sengaja dibuat sakit untuk menarik perhatian Arya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya.


Arya menceritakan hal ini pada Litha. Di saat dirinya dan Esti sering bertengkar hanya karena kondisi Willy, Litha selalu ada disampingnya.


Tak ingin memiliki hubungan yang terlarang, akhirnya Arya memperistri Litha dan membuat Esti makin sering mengamuk karena Arya menikah lagi.


"Maafkan aku, Esti. Tapi harusnya kamu tahu, jika sikap kamu ini malah makin menjauhkan aku dari kamu. Tapi kamu tenang saja, aku akan tetap bertanggung jawab dengan Willy. Bagaimana pun juga dia adalah putraku. Dan aku akan membawa dia ke dokter kenalanku saja. Siapa tahu Willy ada perubahan."


Akhirnya Arya memilih untuk datang ke salah satu rumah sakit dan membawa Willy kesana. Esti sama sekali tidak menolak dan menerima saran Arya. Yang Esti pikirkan hanyalah yang penting Arya tidak meninggalkan dirinya.


Dokter di rumah sakit itupun sama. Mereka mendiagnosa jika Willy tidaklah sakit. Willy sengaja dibuat sakit. Arya makin dilema. Akankah apa yang dikatakan Bik Sumi itu benar, jika Esti lah yang sudah membuat Willy sakit?


Dan di usia Willy yang ke 10, Arya mencari tahu tentang masa lalu Esti. Mereka bertemu di kota ini karena sama-sama merantau. Yang Arya tahu jika Esti adalah seorang perawat di salah satu rumah sakit di daerah. Esti merantau karena ingin memiliki kehidupan yang lebih baik.


Sagu persatu bukti mulai didapatkan Arya. Mulai dari kesaksian Bik Sumi dan juga informasi tentang masa lalu Esti yang ia sengaja cari dari tempat Esti bekerja dulu.


Ternyata wanita itu tidaklah mengundurkan diri seperti yang dirinya katakan, melainkan Esti dipecat sebagai perawat karena hampir melakukan pembunuhan kepada pasiennya. Esti diketahui memiliki kelainan mental dalam jiwanya, hingga melakukan apapun agar keinginannya terpenuhi termasuk menyakiti putranya sendiri.


Berbekal dukungan dari Litha, Arya ingin memindahkan Willy ke rumah sakit lain dan merawat Willy dengan benar. Namun niatnya berhasil diketahui Esti.


Alhasil Esti berusaha kabur dengan membawa Willy yang masih belum bisa berjalan. Esti mendorong kursi roda sambil membawa Willy keluar dari rumah sakit.


"Esti, berhenti!" Arya berhasil menghentikan langkah Esti ketika berada di parkiran rumah sakit.


Pihak rumah sakit juga ikut membantu Arya untuk mengambil alih Willy dari tangan Esti. Bukan Esti namanya jika tak punya seribu cara untuk kabur.


Esti memegang senjata tajam yang ia arahkan kepada Willy. Litha yang sedang hamil besar pun ikut membantu menenangkan Esti hingga wanita itu terluka.


Akhirnya Esti berhasil diringkus pihak keamanan rumah sakit. Dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi.


Arya memberikan pengobatan terbaik untuk Willy dibantu oleh Litha. Wanita itu begitu menyayangi Willy seperti putranya sendiri.


Saat Martha lahir ke dunia, Willy menunjukkan kasih sayangnya meski Willy membenci Litha. Arya juga melakukan terapi untuk Willy agar melupakan apa yang sudah ibunya lakukan padanya. Arya tidak ingin Willy mengalami trauma.


Namun ternyata usaha Arya kembali sia-sia ketika Esti keluar dari penjara dan sering menemui Willy secara diam-diam. Otak Willy kembali dicuci dengan pemikiran-pemikiran bahwa Arya dan Litha adalah orang jahat.


Hingga Willy berhasil dibawa pergi oleh Esti. Mereka berdua hidup bersama dalam kurun waktu sekitar lima tahunan. Willy menjadi semakin ayahnya dan Litha karena mengira Litha sudah merebut segalanya darinya.


Arya terus melakukan pencarian kepada Willy. Ia tidak terima jika Esti harus merawat putranya dengan diberi doktrin yang buruk dalam pikirannya.


Setelah lulus SMA, Willy keluar dari rumah Arya dan memilih hidup mandiri. Willy masih berpikir jika Litha dan Arya adalah dua orang yang sudah membuat ibunya berada di rumah sakit jiwa.


Dan kebencian Willy terus ia pupuk hingga saat ini. Dan kehadiran Shiena membuat hidupnya lebih berwarna dan berarti. Willy mulai kehidupannya dari nol karena ingin membahagiakan Shiena.


Ya, semua karena Shiena. Satu wanita yang mengubah kehidupan Willy.


#


#


#


Shiena menatap Willy yang terdiam usai mendengar kisah tentang keluarganya di masa lalu. Willy tidak banyak mengingat karena Arya yang sudah membuat Willy melupakan semua masa lalu pahit saat Willy kecil.


"Maafkan papa, Nak. Maafkan papa..." Berulang kali Arya meminta maaf pada Willy.


Willy menatap Shiena seakan meminta persetujuan.


"Aku udah maafin papa. Maafin aku juga karena sudah membenci papa selama bertahun-tahun."


Arya memeluk Willy yang duduk disampingnya. Ketegangan antara ayah dan anak akhirnya selesai di malam ini.


Usai ikut makan malam di rumah Arya, Shiena dan Willy pamit undur diri. Tidak ada percakapan diantara mereka selama motor Willy melaju di jalanan kota.


Shiena ingin bertanya tentang bagaimana perasaan Willy sekarang. Tapi rasanya masih belum tepat. Pastinya Willy sangat syok setelah mendapati kenyataan yang berbeda dari apa yang ia yakini selama ini.


Hingga akhirnya, Willy lah yang membuka percakapan diantara mereka.


"She, masih mau pergi ke tempat lain?" Tanya Willy dengan sedikit berteriak.


"Boleh, emang kita mau kemana?"


Willy tersenyum lalu menarik gas lebih dalam, membuat Shiena refleks memeluk pinggang Willy.


Seperti yang sudah Shiena duga. Willy membawanya ke bukit berbintang. Disana Willy meluapkan semuanya. Berteriak sekencangnya dan menyuarakan isi hatinya selama ini.


Shiena hanya bisa diam melihat Willy meneriakkan kebodohannya selama ini. Setelah puas berteriak, Willy terdiam.


Tangan lembut Shiena menyentuh bahunya.


"Meski Bu Esti sudah menyakitimu, tapi aku minta sama kamu. Jangan sampai kamu membencinya. Bagaimanapun juga, dia tetaplah ibu kamu."


Kata-kata Shiena serasa menampar Willy. Dengan perasaan yang tak menentu, Willy memeluk Shiena. Terdengar isak tangis ketika Shiena mengulur tangan membalas pelukan Willy.


Baru kali ini Shiena melihat Willy begitu lemah.


(Ternyata manusia memang tak sekuat itu. Keluarkan semua kesedihan kamu, Mas. Ada aku disini...)