Before Divorce

Before Divorce
Bab 25 - Egois?



Shandy terdiam setelah mendengar pengakuan dari Shiena mengenai perasaan Anila terhadapnya. Selama ini Shandy jarang memperhatikan teman-teman dekat Shiena.


Shandy mengusap kasar wajahnya. "Apa aku harus mengikuti saran Shiena? Untuk membuka hatiku untuk seorang gadis? Selama ini aku tidak membiarkan siapapun mendekat karena aku ingin menjaga Shiena. Apa sekarang aku harus mulai memikirkan diriku sendiri? Lagi pula ada Willy yang akan menjaga Shiena."


Shandy memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya. Esok hari ia akan memulai rencana yang sudah dirancang oleh Shiena.


Hari ini Shandy mendatangi kampus Shiena. Ia ingin mengenal Anila lebih dalam lagi.


Menurut Shiena, Anila adalah gadis baik yang penuh dengan berjuta pesona. Shandy menunggu kedatangan Shiena dan kawan-kawannya yang baru keluar dari kelas.


"Abang!" seru Shiena memanggil Shandy.


Shandy melihat tiga gadis cantik menghampirinya. Satu gadis terus menundukkan wajahnya setelah bersitatap sekejap dengan Shandy.


(Itu pasti Anila!)


Shandy langsung bisa menebak siapa diantara mereka yang sedang Shandy cari.


"Hai, She. Hai Friska. Hai, Anila..."


Shandy mengulas senyum manisnya ketika menyapa Anila.


"Hai juga, Bang. Tumben Bang, mau jemput Shiena ya?" Friska dengan tanpa berdosa bertanya beruntun pada Shandy.


"Iya, mumpung hari ini lagi gak sibuk, aku juga ingin mengenal teman-teman dekat Shiena."


Jawaban Shandy membuat Anila mendongak.


(Apa yang Bang Shandy katakan? Kenapa bicara begitu?)


"Ya udah, kalo gitu Abang anterin kita bertiga gimana?" usul Shiena sambil mengedipkan mata ke arah Shandy.


"Haha, boleh boleh. Ayo semuanya ikut, abang anterin satu-satu ke rumah kos kalian."


Dan akhirnya, Shiena dan kedua sahabatnya ikut bersama Shandy.


...***...


Willy yang baru selesai mengurus administrasi kelulusannya, menemui Shiena yang sedang duduk sendiri di perpustakaan. Sebenarnya sejak tadi Willy sudah melihat kehadiran Shiena di matanya, tapi Willy sengaja mengikuti Shiena dari belakang untuk tahu kemana gadis itu akan melangkah.


Dan ketika Shiena sedang fokus membaca buku, Willy duduk di depan Shiena sambil berdeham.


"Mas Willy? Kamu ngapain disini?" tanya Shiena sambil berbisik.


"Sengaja! Aku pengen kasih surprise ke kamu."


Shiena mencebikkan bibirnya. "Apaan deh!"


"She, hari ini jalan denganku. Mau kan?" ajak Willy tanpa basa basi.


"Maaf, Mas... Aku gak bisa."


"Kenapa?"


"Aku udah punya janji sama Anila dan juga Bang Shandy."


"Memangnya kalian mau kemana?"


"Gak kemana mana. Aku mau jodohin bang Shandy sama Anila."


Willy mengernyitkan kening dalam. "Jodohin Shandy sama Anila? Kenapa?"


Shiena mengedikkan bahu. "Gak kenapa-napa!"


"She, kamu tau kan kalo di masa depan jodoh Anila itu bukan Shandy! Shandy sudah meninggal di masa depan, She!"


Shiena mendelik kesal kearah Willy.


"Anila kembali ke masa ini karena ingin mengubah takdir jodohnya. Dan aku mendukung keputusan dia yang ingin mengungkapkan perasaannya pada Bang Shandy. Sejak dulu Anila menyukai kakakku. Jika di masa depan dia gak sempat menyatakannya, maka sekarang ini dia punya kesempatan. Dan aku akan membantunya!" Shiena beranjak dari duduknya dan meninggalkan Willy.


Willy juga ikut beranjak dan mengejar Shiena.


"She! Tunggu, She!" Willy mencekal lengan Shiena.


"Apaan sih? Kenapa kamu gak dukung aku buat jodohin mereka?"


"Karena urusan jodoh itu bukan urusan kita. Mungkin saja Anila mengulang waktu agar bisa memperbaiki hubungannya di masa depan dengan suaminya. Bukan untuk mencari jodoh baru! Sama halnya dengan kita. Kita tetap berjodoh meski kamu terus menolak. Karena itu memang takdir kita. Kita mengulang waktu karena untuk memperbaiki hubungan yang sempat retak. Apa kamu masih belum paham juga?"


Shiena terdiam. Shiena membenarkan ucapan Willy. Tapi, ia masih tak rela jika Anila harus berjodoh dengan pria jahat bernama Raffa di masa depan.


"Sudahlah! Pokoknya aku akan tetap menjodohkan mereka! Dan kamu sebaiknya jangan muncul di hadapanku dulu! Sebelum aku menyelesaikan misiku untuk menjodohkan bang Shandy dan Anila. Mengerti?!"


Shiena berbalik badan dan kembali meninggalkan Willy. Willy hanya bisa menghela napas kasar.


"Egois sekali kamu, She. Kamu bahkan gak memikirkan bagaimana perasaanku terhadapmu."


Willy mengusap wajahnya kasar. Sejak dulu Willy tahu jika Shiena sangat menyayangi sahabat-sahabatnya dan mengutamakan urusan sahabatnya dibanding urusan percintaan. Tapi Willy tak menyangka jika akan kembali dikalahkan argumen Shiena tentang sahabatnya.


"Mau sampai kapan kamu begini, She? Mungkinkah hubungan kita bisa membaik jika kamu terus begini?"


Willy berjalan gontai menuju tempat parkir kampus. Matanya berkeliling menatap kampus yang sudah empat tahun menemaninya.


"Mungkin benar apa yang dikatakan Shiena. Aku akan fokus dengan tujuanku dulu. Dan dia sibuk dengan tujuannya sendiri. Baiklah, She. Aku akan membiarkanmu menggapai impianmu, dan aku juga akan menggapai impianku..."


(Selamat tinggal, Shiena. Sampai jumpa di lain waktu...)