Before Divorce

Before Divorce
Bab 32 - Jangan Pikirkan Apapun



Hari ini kondisi Shiena sudah lebih baik. Ia mulai mencoba menggerakkan anggota tubuhnya perlahan. Kakinya masih terasa kaku untuk digunakan berjalan atau melakukan aktifitas fisik yang lain. Sehingga Yitno memutuskan untuk meminjam kursi roda pada pihak rumah sakit.


Sejak terbangun dari koma, hal yang paling ingin Shiena lakukan adalah menemui Anila. Shiena sangat cemas dengan kondisi Anila yang dikabarkan masih koma.


"Ayah, Bunda. Izinkan aku untuk menemui Anila. Please!" Shiena memohon di depan Wulan dan Yitno.


"Sayang, bukan Bunda gak kasih izin. Tapi, kamu dengar sendiri kan apa kata dokter? Kamu harus banyak istirahat agar cepat pulih. Kaki-kaki kamu saja belum sepenuhnya sembuh." Wulan berusaha memberi pengertian pada Shiena.


Namun bukan Shiena namanya jika harus menyerah. "Aku janji aku hanya ingin melihatnya sebentar saja! Ya? Please!"


Yitno dan Wulan saling pandang. Mereka juga tak tega melihat kegigihan Shiena. Putri mereka memang dikenal sangat menyayangi teman-temannya.


"Baiklah, Bunda akan antarkan kamu menemui Anila."


Wulan mendorong kursi roda menuju ke kamar rawat Anila. Disana mereka bertemu dengan perawat yang mengawasi kondisi Anila.


"Pasien boleh dijenguk, tapi hanya sebentar saja," Ucap si perawat.


"Iya, Suster. Saya hanya sebentar kok. saya hanya ingin melihat kondisi Anila saja," Balas Shiena.


Perawat itu membantu mendorong kursi roda Shiena dan masuk ke ruang isolasi dimana Anila berada. Shiena merasa kasihan melihat kondisi Anila.


Shiena tak kuasa menahan air matanya. Ia menutup mulutnya tak percaya jika kondisi Anila sungguh memprihatinkan.


Shiena ingat jika pertama kali bertemu dengan sahabatnya itu, Anila tak mau membuka masker wajahnya. Anila terus menutupi apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Anila... Bangunlah, kawan. Kita akan hadapi suami brengsekmu itu bersama-sama. Dia harus mendapatkan hukuman atas apa yang sudah dia lakukan padamu," Gumam Shiena.


"Jadi, nona tahu jika pasien adalah korban KDRT?" Tanya si perawat.


Shiena mengangguk. "Iya, dia datang kemari karena ingin meminta bantuanku, Suster. Tapi ternyata kami malah mengalami kecelakaan, dan sekarang Anila malah belum sadarkan diri..."


Tak ingin Shiena terus bersedih, si perawat berinisiatif untuk membawa Shiena keluar dari kamar Anila.


"Oh ya, nona. Akan ada pergantian dokter yang menangani nona Anila. Semoga saja dokter pengganti ini bisa membuat perubahan pada kondisi nona Anila."


"Iya, Sus. Semoga saja... Aku akan merasa bersalah pada keluarga Anila jika dia tak kunjung bangun."


Si perawat berpamitan pada Shiena dan kedua orang tuanya. Wulan segera mendorong kursi roda kembali ke kamar rawat Shiena.


"Oh ya, Ayah, Bunda. Apa kalian sudah menghubungi keluarga Anila? Kenapa Anila gak ditemani siapapun?"


Pertanyaan Shiena membuat Yitno dan Wulan saling pandang.


"Ayahmu sudah menghubungi keluarga Anila, Nak..."


"Terus? Kenapa belum ada yang datang?"


Shiena menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu, Nak. Jangan memikirkan apapun dulu. Ya?" Yitno tak ingin memberitahukan yang sebenarnya pada Shiena.


"Ayah... Tolong katakan apa yang terjadi? Ayah sudah menghubungi keluarga Anila kan?" Shiena memegangi lengan Ayahnya.


Lagi-lagi Yitno menghela napas. Ternyata putrinya sangatlah keras kepala.


"Baik, Ayah akan memberitahumu. Tapi setelah itu kamu harus istirahat. Kondisimu belum sepenuhnya pulih, Nak. Tolong pikirkan dirimu juga!" Yitno nampak khawatir karena putrinya malah mencemaskan kondisi orang lain dan bukan dirinya sendiri.


"Iya, Ayah. Aku janji."


"Ayah memang sudah menghubungi keluarga Anila. Tapi, ada aturan di daerah mereka yang sudah Anila langgar."


"Maksud Ayah?" Shiena tak mengerti.


"Seorang anak gadis yang sudah dipersunting oleh laki-laki, sepenuhnya adalah milik suaminya. Dan apapun yang terjadi dengan si anak gadis itu, maka keluarganya tidak berhak ikut campur. Begitu juga dengan yang terjadi dengan Anila. Keluarganya tidak berhak ikut campur meski Anila kini terluka. Dan mereka malah menyayangkan tindakan Anila yang kabur dari suaminya. Karena sejatinya masalah tidak akan selesai jika kita melarikan diri."


Shiena terdiam. Apa yang dikatakan ayahnya ada benarnya juga. Tapi, Shiena tetap tak terima karena suami Anila sudah menyakiti Anila secara fisik dan mental.


"Sekarang kamu istirahat ya! Ayo, bunda bantu naik ke ranjang lagi." Wulan membantu Shiena untuk berbaring lagi di brankar rumah sakit.


...***...


Di sisi lain, Willy mencoba menggerakkan kakinya, tapi tak bisa. Mungkin karena terlalu lama berbaring, membuat otot-otot di tubuhnya belum bekerja secara maksimal.


"Kakak harus menjalani terapi agar kaki kakak bisa bergerak seperti semula." Martha memberi usulan pada Willy.


"Aku akan melakukan apapun yang menurutmu baik untukku, Adikku sayang." Willy mengusap kepala Martha dengan lembut.


"Iya, Kak. Aku akan pastikan kakak kembali sehat seperti sedia kala. Sekarang kakak istirahat ya! Jangan memikirkan hal yang berat-berat, agar kondisi kakak cepat pulih."


"Iya, makasih. Oh ya, dimana tante Litha? Beberapa hari ini, aku gak melihat dia datang."


Martha tersenyum. "Mama lagi sibuk ngurus perusahaan. Sejak kakak mengalami kecelakaan, mama kan bolak balik ke rumah sakit. Jadi, kerjaan di kantor dia abaikan sejenak. Karena sekarang kakak sudah mulai membaik, mama kembali ke rutinitasnya yang lama."


Willy tersenyum kecut mendengar penuturan Martha. Andai saja dirinya mau memaafkan kesalahan Litha sejak dulu. Pastinya kondisi mereka tidak akan seperti ini.


"Kak, jangan memikirkan apapun. Semua yang terjadi di masa lalu, jangan di sesali ya. Kita hidup untuk masa depan, bukan masa lalu..."


"Maaf... Maafkan aku, Martha..."


Martha mengulas senyumnya. "Iya, kak. Aku dan mama sudah memaafkan kakak sejak lama. Setelah ini kita bisa memulai kehidupan yang baru. Ya?"


Willy merasa tercubit hatinya. Ia merasa punya banyak dosa pada Martha dan Litha. Kesalahan yang ia lakukan karena terus membenci Litha selama bertahun-tahun. Tapi ternyata, Litha tidak pernah meninggalkan Willy sebagai keluarga.


"Terima kasih karena kakak gak membenci mama lagi."


"Itu karena aku sudah mengetahui yang sebenarnya."


"Yang sebenarnya? Tentang apa, Kak?"


"Semuanya." Willy tersenyum penuh arti lalu memejamkan matanya.


Meski ia mengetahui kebenaran keluarganya melalui sebuah mimpi, namun Willy percaya jika apa yang dimimpikannya adalah kebenaran yang selama ia tepis kehadirannya.


Tentu nya kebenaran punya caranya sendiri untuk menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi pada Willy. Walau hanya lewat sebuah mimpi di saat dirinya koma.