Before Divorce

Before Divorce
Bab 52 - Bertemu Kembali



Pagi hari itu saat sarapan, Davin meminta izin pada Devina untuk pulang terlambat.


"Hari ini ada pesta perayaan pengangkatan aku. Ingin menolak rasanya gak enak. Karena ini teman-teman yang bikin acaranya." Davin berucap dengan hati-hati. Ia takut Devina akan marah dan tersinggung dengan ucapannya.


"Oh, ya udah. Kamu pergi aja. Cuman makan malam biasa kan?" Kali ini Devina menjawab dengan tenang.


"Iya, hanya makan malam aja."


"Pergilah! Lagi pula ini kan hasil dari kerja keras kamu selama ini, Mas."


"Kalau kamu mau, kamu ikut saja. Sekalian ajak anak-anak juga."


Devina menggeleng. "Gak, Mas. Aku gak punya baju yang bagus buat ketemu teman-teman kamu. Nanti yang ada malah kamu malu."


DEG


Hati Davin terasa tercubit mendengar penuturan sang istri. Selama ini Davin hanya memberikan uang bulanan tanpa tahu apa saja kebutuhan keluarga kecilnya. Ternyata Devina menggunakan semua uang dari Davin hanya untuk kebutuhan keluarga saja, dan bukan untuk dirinya.


Davin mengeluarkan sebuah kartu dan diberikan pada Devina.


"Ini, pakailah! Kamu beli baju yang bagus untukmu dan anak-anak. Kartu yang satunya khusus untuk kebutuhan dapur. Kalo ini, kamu gunakan untuk keperluan pribadimu."


Devina tersenyum sambil menerima kartu dari Davin. Bukan kartu unlimited yang dimiliki orang-orang kaya, karena kebutuhan mereka tak seperti para sultan negeri ini.


"Terima kasih, Mas."


"Sama-sama. Aku berangkat dulu ya! Darrel, Misha! Ayah berangkat dulu ya! Dadaaaah!"


Davin mencium kening sang istri sebelum berangkat. Ia juga mencium pipi kedua anaknya.


#


#


#


Di tempat berbeda, seorang gadis cantik turun dari pesawat yang membawanya ke tanah kelahirannya.


"Ayah! Bunda!"


"Wilona! Putri Bunda!" Shiena berteriak girang saat melihat putrinya berjalan kearah mereka.


"Ayah sama Bunda beneran jemput aku semua? Senangnya!" Wilona memeluk kedua orang tuanya.


"Gimana penerbangan kamu? Lancar Nak?" tanya Willy.


"Lancar, Ayah. Kabar ayah sama bunda baik-baik aja kan?"


"Ayah sama bunda baik kok. Ya udah, kita lanjutin ngobrolnya di rumah aja ya!" Willy mengajak putri semata wayangnya untuk pulang ke rumah.


Sudah dua tahun ini, Wilona melanjutkan studi S2 di luar negeri. Rencananya Wilona ingin menjadi dosen di almamaternya dulu.


Sore menjelang. Wilona meminta izin untuk pergi bersama teman-temannya.


"Hari ini teman-teman ngadain pesta penyambutan untukku. Jadi, gak enak kalo gak datang." Wilona membujuk kedua orang tuanya.


"Ya? Please!" Wilona menangkupkan kedua tangannya.


Shiena dan Willy saling pandang. "Haaah, baiklah. Mau apa lagi? Lagian kita masih punya banyak waktu untuk bersama."


Willy ikut mengiyakan ucapan istrinya. "Kalo para wanita sudah bicara, para pria hanya bisa diam dan mendengarkan saja."


Lalu mereka bertiga tertawa bersama.


#


#


#


"Duh, kalian kenapa bawa aku kesini?" tanya Davin ragu-ragu. Pasalnya ia tak yakin jika uang anggaran makan-makannya akan cukup.


Romi merangkul bahu sahabatnya. "Tenang saja, kawan. Sponsor kita malam ini adalah Pak Bos Toni!"


Davin tersenyum pada Pak Toni yang sudah berbaik hati menjadi sponsor dana malam ini. Davin dan kawan-kawan menuju meja yang sudah dipesan sebelumnya.


Tak lama seorang pelayan mendatangi meja mereka dan mencatat pesanan masing-masing orang.


"Abis ini kita kemana lagi nih?" tanya Sasha.


"Gimana kalo kita karaokean setelah makan," sahut Mitha.


"Wah, ide bagus tuh!" Romi si jomblo ketiga juga ikut menyahut.


Pak Toni malah tertawa. "Jika kalian ingin berkaraoke maka silakan saja. Saya pulang saja bersama Davin," sahut Pak Toni.


Davin menganggukkan kepala. Ia sudah berjanji pada Devina jika malam ini hanya ada acara makan-makan saja.


"Maaf ya, aku gak bisa ikutan. Aku sudah janji pada Devina tidak akan kemanapun setelah makan."


"Yaaah, Kak Davin gak ikutan, gak seru dong!" ucap Sasha kecewa.


"Gak apa, kalian aja!" Davin mengulas senyumnya.


#


#


#


Gelak tawa memenuhi meja milik Davin dan juga Wilona yang sama-sama berada di resto itu. Setelah acara makan malam selesai, satu persatu mereka meninggalkan resto dan menuju ke tempat karaoke yang sudah disepakati Sasha dan Mitha.


Davin yang masih berada di toilet akhirnya ditinggalkan oleh kawan-kawannya. Ia keluar setelah menuntaskan hajatnya.


Karena terburu-buru, Davin malah bertabrakan dengan seseorang yang keluar dari toilet wanita.


"Aw!" pekik wanita itu.


"Eh? Maaf-maaf! Saya gak sengaja!"


Untuk beberapa detik terjadi kontak mata antara Davin dan wanita itu.


"Kak Davin?" Wanita itu mengenali Davin.


"Wilona?" Davin cukup terkejut karena wanita itu adalah orang yang ia kenal.


"Aku gak nyangka kamu bisa ketemu kak Davin disini," ucap Wilona dengan malu-malu.


Davin menggaruk tengkuknya. "Ah, iya. Aku juga gak nyangka bisa ketemu kamu disini. Kamu... Kapan balik? Kudengar kamu melanjutkan studimu di luar negeri."


"Aku baru balik hari ini. Aku kemari karena teman-teman adain acara buatku."


"Ooh, kalo gitu... Aku duluan ya!" Davin memilih untuk pamit undur diri lebih dulu.


"Tunggu, kak Davin!"


"Iya, ada apa?"


"Bisa aku minta nomor ponsel kakak? Siapa tahu aku ... butuh bantuan kakak."


Permintaan Wilona membuat Davin ragu. Namun setelahnya Davin setuju untuk bertukar nomor ponsel dengan Wilona.