
Davin akhirnya memberikan nomor ponselnya pada Wilona. Sebaliknya Wilona juga langsung memberikan nomor ponselnya pada Davin.
"Sudah lama sekali ya, Kak. Apa kakak ... sudah menikah?"
Davin menggaruk tengkuknya. "I-iya, aku sudah menikah. Aku juga sudah punya dua anak."
"Ah, begitu ya. Baiklah, Kak. Kalau begitu, aku duluan ya! Sampai ketemu lagi, Kak Davin!"
Wilona meninggalkan Davin sendiri. Wilona sedikit kecewa dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Haaah! Andai saja dulu aku gak menolak perasaan kak Davin. Mungkin saja aku dan dia..." Wilona menggeleng.
"Aku gak boleh punya pikiran buruk! Mungkin kami memang gak berjodoh."
Wilona memilih untuk pergi dari resto dan kembali ke rumah.
Keesokan harinya, Wilona sudah rapi dengan setelan formalnya.
"Lho, tumben pagi-pagi udah siap, Nak?" tanya Shiena.
"Iya, Bun. Hari ini ada wawancara dari pihak kampus. Sepertinya aku akan mulai mengajar di kampusku dulu."
"Oh ya? Selamat ya!" Shiena memeluk Wilona.
"Hmm, ada apa ini pagi-pagi udah main peluk-peluk aja!" Willy ikut datang dan memeluk kedua bidadarinya.
Sejak masih di luar negeri, Wilona sudah mengirim surat lamaran kerja ke kampus tempatnya kuliah S1 dulu. Kampus yang sama dengan kampus Davin kuliah dulu.
Wilona dan Davin bertemu karena pernah terlibat proyek yang sama dalam program kampus. Mereka mulai dekat dan menjadi teman.
Namun ternyata Davin memiliki rasa lebih terhadap Wilona. Siapa yang tidak menyukai Wilona? Gadis cantik, ramah dan baik itu menjadi idola di kampusnya. Banyak yang mendekatinya dan ingin menjadikannya kekasih. Tapi Wilona selalu menolak mereka dengan alasan tidak ingin berpacaran dan ingin fokus pads kuliahnya.
Sejak dulu impiannya adalah menjadi pengajar. Dan kini Wilona akan mewujudkan mimpinya itu.
Wilona berjalan menyusuri kampus yang penuh kenangan ini. Jalanan setapaknya terasa masih sama dengan dulu saat pertama kali Wilona menapakkan kakinya disini.
Wilona menuju ke ruang HRD dan menyerahkan berkas-berkas miliknya. Wilona menjawab pertanyaan yang diajukan pihak kampus mengenai visi dan misi Wilona sebagai pengajar.
Wilona menjawab dengan baik. Dan ya, Wilona memang cerdas dan pandai menempatkan diri. Sosoknya bisa menyenangkan hati semua orang didekatnya. Bahkan saat berjalan, keanggunan selalu mengikutinya.
Usai wawancara, Wilona duduk di taman kampus. Ia mengambil gambar tempat sekelilingnya. Lalu mempostingnya di sosial media miliknya.
Postingannya langsung dibanjiri berbagai komen dari teman-teman kuliahnya dulu. Dan ya, tidak ketinggalan ada satu orang yang juga mengomentari postingan Wilona itu.
"Kak Davin?" Wilona tersenyum karena Davin ternyata melihat postingan miliknya.
"Kampus siapa itu?" tulis Davin.
Wilona mengetikkan sebuah balasan untuk Davin.
"Kampus kita dong!" balasnya.
"Jadi, dalam rangka apa kamu ke kampus kita?"
"Aku melamar pekerjaan disini."
Meski tak bisa saling melihat, Wilona tahu jika Davin ikut bahagia dengan kepulangannya ke tanah air.
"Serius lah, Kak!"
Setelahnya tak ada obrolan lagi diantara mereka. Davin harus kembali bekerja.
Wilona juga akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Rasanya untuk beberapa hari ini, Wilona ingin bermalas-malasan dulu di rumah sebelum sibuk menjadi pengajar nantinya.
#
#
#
Sebulan kemudian,
Hari ini adalah hari pertama Wilona masuk ke kampus dan menjadi pengajar. Shiena dan Willy sangat antusias dengan pencapaian putri tunggalnya itu.
Shiena bahkan sampai sibuk memasak bekal untuk Wilona.
"Ini bunda bawain bekal aja ya! Kamu jangan makan sembarangan! Kamu kan seorang dosen, harus jadi contoh yang baik buat mahasiswamu. Oh ya, setelah selesai ngajar, kita belanja yuk! Bunda pengen beliin setelan kerja buat kamu. Ya itung-itung kado buat kamu gitu!"
Wilona menggeleng. "Bunda, Wilo udah besar masa bawa bekal! Malu lah sama mahasiswa aku nanti."
"Sudahlah, Nak. Turuti saja keinginan bundamu. Dia melakukan ini karena sayang denganmu."
Dengan senyum merekah, Wilona setuju untuk membawa bekal. Begitulah Wilona, dia bukan anak pembangkang yang akan mempertahankan egonya demi apa yang ia inginkan. Wilona selalu mengalah dan menurut, meski awalnya menolak.
Hari ini Wilona cukup sibuk berada di kampus hingga sore hari. Saat akan pulang ke rumah, ponselnya berdering. Sebuah pesan dari Davin membuat mata lelahnya langsung berbinar.
Davin mengajak Wilona makan malam bersama sekaligus merayakan hari pertama Wilona menjadi seorang dosen. Tentu saja Wilona setuju dengan ajakan Davin.
Mereka bertemu di sebuah resto makanan Korea.
"Jadi kakak masih ingat kalo aku suka makanan Korea?" tanya Wilona.
"Hmm, tentu aku masih ingat. Dulu kamu selalu minta dibelikan Tteokbokki."
Wilona tersenyum karena Davin masih mengingat kenangan mereka bersama. Mereka pun berbincang ringan dan penuh canda tawa.
Setelah makan malam berakhir, Davin pulang ke rumah dengan hati yang gembira. Davin membawa oleh-oleh untuk Devina yang ia beli dari resto korea tadi.
"Sayang, aku pul..."
Belum sempat Davin melanjutkan kalimatnya, Devina sudah menatapnya tajam setajam pisau dapur miliknya.
"Dari tadi di telepon kenapa gak dijawab? Ini anak kamu rewel, badannya panas. Aku mau bawa dia ke klinik tapi Misha udah tidur, gak ada yang jaga dia. Makanya aku telpon kamu, tapi malah gak dijawab. Sebenarnya dari tadi kemana sih? Aku telpon Romi katanya kamu udah pulang."
Seketika kepala Davin berdengung mendengar omelan istrinya. Devina tidak akan berhenti hingga ia puas mengomel dan bahkan mengumpat.
Detik berikutnya Davin malah mengingat tentang Wilona. Gadis yang selalu bertutur kata lembut dan selalu tersenyum saat bicara. Sangat jauh berbeda dengan istrinya yang punya sifat temperamental.