Before Divorce

Before Divorce
Bab 56 - Tak Seindah Impian



Davin terbangun dari tidur karena merasakan suasana yang begitu nyaman dan juga aroma yang berbeda. Davin pun membuka mata.


"Selamat pagi, sayang..." Sapaan hangat istri cantiknya membuat Davin terpesona.


"Se-selamat pagi." Davin terlihat gugup.


"Ayo bangun dan bersihkan dirimu. Hari ini akan ada kejutan untukmu di kantor," Bisik Wilona di telinga Davin.


Davin tersenyum kikuk. Sungguh ia tak pernah mengira jika akan menikahi seorang Wilona. Ya! Wilona Pramudya yang terkenal itu.


Dengan semangat membara, Davin segera membersihkan diri di kamar mandi. Entah berapa lama ia tertidur, dan terbangun dengan situasi yang berbeda. Ia bahkan tidak ingat bagaimana pernikahannya dengan Wilona kemarin.


Davin menuruni anak tangga menuju ke meja makan dimana Wilona berada. Rumah besar ini adalah hadiah pernikahan dari Willy dan Shiena. Tentunya mereka tidak akan membiarkan Wilona hidup susah setelah menikah, karena Wilona tidak akan mampu untuk itu.


Davin sedang berpikir sudah berapa lama ia dan Wilona menikah. Kenapa rumah mereka masih terlihat sepi? Karena waktu yang ia jalani sekarang memang tak bisa ditebak.


"Sayang..." Panggil Davin.


"Eh sayang. Udah selesai mandinya? Sini duduk! Tadi Bi Inem masak nasi uduk. Enak banget lho!"


Davin duduk dan memperhatikan Wilona yang sedang asyik dengan gadgetnya.


"Tadi kamu bilang ada kejutan di kantor. Itu maksudnya apa?"


Wilona tersenyum. "Nanti kamu tunggu aja di kantor."


Wilona menyendokkan nasi untuk Davin. "Itu sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita yang kedua."


"Kedua?" Davin melotot.


"Iya, masa kamu lupa sih tanggal pernikahan kita?"


"Eh? Enggak kok, sayang. Aku gak lupa."


Benar saja firasat Davin. Ternyata ia kembali menjelajah ke waktu ke beberapa tahun ke depan.


"Sayang, apa gak sebaiknya... Kita memikirkan soal..."


"Stop!" Wilona langsung menghentikan kalimat Davin.


"Sejak awal kita sudah sepakat untuk gak membahas soal anak."


"Heh?! Bagaimana kamu tahu kalau aku..."


"Aku tahu. Hanya itu kan yang dipikirkan seorang pria. Mereka menginginkan keturunan dari istrinya. Lalu, setelah istrinya hamil dan melahirkan, pria hanya memikirkan soal anak saja. Apalagi jika tubuh si istri tak lagi proporsional seperti dulu lagi. Mereka tumbuh bengkak karena mengandung dan menyusui. Lalu, pria akhirnya mencari kesenangan di luar sana dengan wanita lain yang ujungnya menghancurkan pernikahan mereka. Aku gak mau mengalami hal menakutkan itu, Kak!"


Kalimat panjang Wilona membuat Davin tertegun. Sungguh sifat Wilona sangat berbeda dengan Devina. Entah kenapa Davin malah memikirkan soal Devina.


Sedang apa dia sekarang. Tinggal dimana. Apakah dia menggapai mimpinya atau tidak. Davin jadi merasa bersalah pada Devina.


"Sudah ya! Jangan dibahas lagi!" Sentuhan tangan Wilona menyadarkan Davin.


Davin mencoba mengulas senyumnya. "Iya, maaf ya."


Wilona melirik jam tangannya. "Sudah jam segini. Aku ada kelas pagi hari ini."


Wilona menyudahi sarapan paginya.


"Mau kuantar?" Tawar Davin.


"Gak usah. Aku berangkat sendiri aja. Kamu hati-hati ya nyetirnya!" Wilona mengecup singkat pipi Davin kemudian berlalu.


Davin juga segera menyudahi sarapannya. Rasanya ia tidak memiliki selera lagi setelah mendengar kata-kata Wilona.


Davin keluar dari rumah dan melihat sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumah.


"Huft! Setidaknya aku gak harus berdesak-desakan naik angkutan umum lagi. Semua hal yang terjadi ada sebab akibatnya bukan? Aku harus menerima itu."


#


#


#


Tiba di kantor, Davin disambut dengan riuh tepukan tangan dari rekan kerjanya.


"Ada apa ini? Hari ini aku gak ulang tahun kok!" Davin menatap satu persatu rekan kerjanya.


"Duh, Pak Davin gimana sih? Masa Pak Davin belum tahu?"


Davin menggelengkan kepala.


"Mulai besok Pak Davin dipindah ke cabang utama!"


"Ya bisalah! Kamu beruntung karena memiliki istri seperti Nona Wilona." Salah seorang rekannya menepuk pundak Davin.


Davin merasa jika apa yang terjadi padanya pasti ada campur tangan Wilona. Davin memilih pergi ke ruangannya dan menghubungi Wilona.


Karena Wilona sedang mengajar, maka ponselnya tidak aktif.


"Ah, sial! Wilona mematikan ponselnya. Dia selalu begitu jika sedang ada kelas. Bagaimana jika ada telepon penting? Dasar!"


Davin membanting tubuhnya ke kursi kebesarannya. Davin tak suka dengan sikap dominan Wilona yang mengatur hidupnya.


#


#


#


Di kampus


Wilona sudah selesai mengajar. Ia memeriksa ponsel barangkali saja ada yang penting. Dan ternyata benar. Panggilan tak terjawab dari Davin dan sebuah pesan darinya.


"Hubungi aku jika kelasmu sudah selesai."


Wilona langsung menghubungi Davin.


"Halo, kak. Gimana? Kamu suka kan kejutan dari aku?"


"Wilo, kenapa harus memindahkan aku ke cabang utama? Aku lebih suka bekerja di cabang pembantu A."


"Lho, gak bisa gitu dong! Cabang yang sekarang itu cuman kantor kecil, Kak. Kamu harus bekerja di cabang utama. Supaya orang-orang tahu kalau suami Wilona Pramudya itu orang yang hebat."


"Aku gak suka jadi hebat! Aku lebih suka jadi diriku sendiri!"


Davin mematikan sambungan telepon. Wilona kesal dengan sikap Davin yang sepihak menutup telepon. Wilona mengirim pesan pada Davin.


"Nanti malam ada acara makan malam di rumah Ayah. Jangan sampai kakak mengacaukan semua rencanaku!"


Di sisi Davin, ia menggeram kesal membaca pesan dari Wilona. Ternyata menjadi menantu orang kaya tak seindah yang ia bayangkan. Ia dituntut untuk jadi sempurna agar layak bersanding dengan Wilona.


#


#


#


Malam harinya, Wilona datang ke rumah Willy bersama Davin.


"Senyumlah, Kak! Jangan tampakkan wajah frustrasimu itu didepan ayah dan bunda. Mengerti?"


Davin hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tak bisa menolak saat ini.


Ketika pintu terbuka, Shiena menyambut kedatangan mereka berdua.


"Sayang, mereka sudah datang!" Seru Shiena memanggil Willy.


"Ayo masuk!" Shiena menarik lembut tangan putrinya.


"Eh, anak ayah udah datang!" Willy merentangkan tangannya agar dipeluk Wilona.


"Ayah! Wilo kangen Ayah dan Bunda."


"Ayah juga kangen kamu. Gimana kerjaan?"


"Lancar Yah."


"Davin! Kemari, Nak!" Willy meminta Davin mendekat.


"Iya, Ayah."


Willy memeluk menantunya itu. "Terima kasih karena sudah menjaga Wilona dengan baik."


Kebaikan hati Willy dan Shiena membuat Davin dilema. Satu sisi ia ingin mengakhiri semuanya, satu sisi ia merasa berhutang budi pada Willy dan Shiena.


"Terima kasih karena sudah bersikap baik pada Ayah dan Bunda," Bisik Wilona di telinga Davin.


Davin hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya. Sepanjang makan malam berlangsung, Davin melakukan perannya dengan sangat baik. Mungkin hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menyenangkan hati Willy dan Shiena.


Usai makan malam, Davin dan Wilona kembali ke rumah. Tak ada percakapan selama mereka menempuh perjalanan menuju rumah mereka.


"Sekali lagi makasih ya, Kak! Aku harap kamu akan mulai terbiasa dengan kehidupan baru kita. Aku tahu kamu pasti canggung. Karena kehidupanku sangat berbeda dengan kehidupanmu dulu."


Davin meradang. "Apa maksudmu dengan kehidupanku yang dulu?!" Pastinya ia tak terima jika Wilona menjelekkan kehidupannya dulu yang hanya dipenuhi kesederhanaan.