
PROLOG (Davin - Devina - Wilona)
Pernahkah kalian merasa, jika gadis yang dulu kau nikahi, berubah dari gadis manis yang lugu menjadi seorang monster setelah menikah?
Inilah yang aku alami. Menjadi suami dan ayah yang baik ternyata sesulit itu. Hingga akhirnya aku menginginkan semesta mengubah takdir jodohku.
Aku bertemu kembali dengan seseorang yang dulu pernah menggetarkan hatiku. Aku ingin semesta menjodohkanku dengannya saja.
Sekali saja, aku ingin merasakan menjadi suaminya...
#
#
#
Hijrah ke kota yang lebih besar dari kotanya tinggal adalah impian bagi seorang Davin. Ia berkesempatan untuk kuliah di Kota B, kota metropolitan dengan segala gemerlapnya warna.
Dikota ini Davin bertemu dengan Devina. Gadis lugu dan manis yang masih bertatus sebagai pelajar SMA. Vina tinggal bersama ibunya saja setelah ayahnya meninggal dunia. Menjadi harapan Vina untuk bisa melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi.
Namun karena terkendala biaya, akhirnya Vina memutuskan untuk tidak berharap banyak bisa lanjut kuliah. Vina bertemu Davin yang menawarkan cinta padanya.
Hingga akhirnya Vina menerima pinangan Davin di usianya yang ke 19. Davin dan Vina tinggal di rumah keluarga Vina pada awalnya.
Tahun pun berganti. Davin berhasil membeli rumah kecil untuk keluarga mereka. Darrel adalah putra pertama mereka. Dan di tahun ketiga, mereka dikarunia seorang bayi perempuan yang di beri nama Misha.
Sungguh lengkap kebahagiaan mereka saat ini. Pekerjaan Davin di perusahaan juga sudah lumayan meski hanya karyawan biasa. Sedangkan Vina, karena hanya lulusan SMA, Vina hanya bisa bekerja di sebuah salon kecantikan sambil mengurus kedua anaknya.
#
#
#
Pukul delapan malam, Davin belum juga pulang. Kondisi rumah yang berantakan membuat Vina sedikit kesal dengan tingkah kedua anaknya. Meski begitu, ia tak bisa menyalahkan mereka.
Darrel baru berusia 3 tahun, dan Misha baru berusia 9 bulan. Keduanya sedang aktif berkembang dengan melakukan banyak hal.
"Kemana aja sih ni orang? Udah jam segini belum juga pulang!" gerutu Vina sambil meninabobokan Misha dalam gendongannya.
Sementara itu, Davin baru saja keluar dari gedung kantornya. Bosnya baru saja memberitahu jika esok hari ada tamu penting perusahaan dan Davin menyambutnya dengan baik. Davin akan dipromosikan menjadi manajer jika berhasil mengambil hati Pak Bambang, auditor yang akan datang besok dan juga lulus tes yang diberikan oleh Pak Bambang.
Davin kembali ke rumah dengan hati yang gembira. Ia ingin segera memberitahu sang istri mengenai kabar baik ini.
"Sayang, aku pulang!" Suara riang Davin membuat Vina langsung menemui pria itu.
"Sayang, aku punya kabar bagus buat kita! Aku..."
Belum sempat Davin melanjutkan kalimatnya, Vina sudah melempar mainan anaknya ke arah Davin hingga mengenai pelipis Davin.
"Aw! Sayang, kamu ngapain sih? Kenapa pukul aku pakai mainan Darrel?" Davin memegangi pelipisnya yang lecet.
"Bagus ya! Kukira udah gak ingat pulang! Ternyata masih ingat kalo punya rumah?!"
Napas Vina memburu dengan emosi yang menguasai dirinya.
"Aku tuh capek! Kamu tuh bisa ngerti gak si? Kalo udah waktunya pulang ya pulang, jangan malah kelayapan gak jelas!"
"Sayang, aku gak kelayapan. Tadi itu ada rapat sama Bos Toni. Aku bisa apa? Aku kan hanya karyawan biasa!" Davin mencoba membela diri.
"Rapat rapat mulu alasannya! Memangnya yang kerja cuman kamu aja? Aku juga kerja, aku juga capek. Sekarang beresin itu mainan anakmu! Aku mau tidur!"
Vina melenggang pergi dengan menggendong Misha yang sudah terlelap. Davin hanya bisa menghela napas dengan sikap Vina.
Davin memahami jika usia Vina masih sangat muda ketika menikah. Dan kini di usianya yang ke 24 tahun, Vina malah sudah memiliki dua orang anak dengan jarak yang cukup berdekatan. Ditambah tekanan yang ia dapatkan dari tempatnya kerja, menjadikan emosi Vina terkadang meledak-ledak.
Davin mengobati lukanya sendiri dan menempelkan plester di dahinya. Setelah membersihkan diri, Davin membereskan mainan Darrel yang berserakan di lantai.
#
#
#
Niat Davin untuk memberi kabar gembira pada Vina akhirnya gagal. Karena Vina masih menunjukkan wajah cemberutnya di depan Davin.
"Haaaah!" Davin menghela napas pelan. Ia tak ingin istrinya bertambah marah karena dirinya.
"Sayang..." panggil Davin.
"Oh ya, nanti siang kamu yang jemput Darrel di sekolahnya ya! Hari ini aku ada klien penting. Dia istri pejabat yang langganan di salon. Kamu bisa kan jemput Darrel?"
Davin menyuap sarapannya dengan melamun. Tak sadar dirinya mengangguk saja.
"Bagus! Darrel itu juga anak kamu. Kamu harus tanggung jawab sama dia juga dong! Jangan cuma aku yang urus dia sepanjang hari!"
Davin hanya bisa mengangguk patuh. "Aku berangkat dulu ya!" Davin berpamitan pada Vina dan kedua anaknya.
Tiba di kantornya, Davin segera menyapa teman-teman kantornya.
"Pak Davin, di cari Pak Toni tuh!" ucap Sasha, teman kantornya.
"Jiyeee, kayaknya yang bakalan jadi manajer baru tuh Pak Davin deh! Lihat aja, dari kemarin Pak Toni nyariin dia terus," sahut Mitha.
Sasha mengedikkan bahunya. "Kita lihat aja nanti siapa yang bakalan dipilih Pak Bambang. Pak Romi juga kinerjanya bagus. Dia kan seangkatan sama Pak Davin."
Kedua wanita muda itu bergosip tentang dua pria rekan kerja senior mereka yang digadang-gadang akan naik pangkat menggantikan Pak Toni yang akan dipindah tugas ke cabang utama. Ada Romi, si pemuda lajang dengan sejuta pesonanya. Ada juga Davin, si bapak muda yang juga berprestasi.
Davin mengatur napasnya sebelum memasuki ruangan Toni. Ia mengetuk pintu terlebih dulu kemudian masuk.
"Selamat pagi, Pak. Saya dengar bapak manggil saya?"
"Ah iya, silakan duduk Davin!"
Davin duduk berhadapan dengan Toni. Rasanya benar-benar gugup. Tak berselang lama, pintu ruangan Toni kembali di ketuk.
Ternyata Romi datang karena dipanggil juga oleh Toni. Romi dan Davin duduk bersebelahan.
"Baiklah, karena kalian sudah datang, maka saya akan langsung pada intinya saja. Kalian pssti sudah dengar kalau saya akan dipindahkan ke cabang utama. Maka dari itu, saya butuh seseorang untuk menggantikan saya di cabang pembantu ini."
Romi dan Davin mengangguk paham.
"Saya memilih kalian berdua karena kalian memiliki potensi yang bagus. Tapi... Untuk bisa menggantikan posisi saya, kalian harus melewati beberapa tes yang akan dimulai hari ini."
Davin dan Romi adalah kawan baik. Pastinya mereka berdua saling mendukung apapun yang terjadi nanti.
Baru saja Davin akan masuk ke ruangan yang akan dijadikan tempay penilaian mereka, ponsel Davin bergetar. Itu panggilan dari Vina.
"Halo, Ayah Darrel!"
"Iya, sayang. Ada apa?" Davin berusaha bersikap manis.
"Ada apa! Ada apa! Kamu lupa ya? Ini udah jam berapa? Gurunya Darrel dari tadi telepon, katanya Darrel belum ada yang jemput. Kamu kan tahu aku hari ini lagi pegang pelanggan penting. Sekarang cepat kamu jemput Darrel!"
"Iya, tapi say..."
"Gak ada tapi! CEPAT!"
Suara menggelegar Vina membuat Davin terdiam.
"Astaga! Siapa dia? Apa benar dia istriku? Atau dia... Adalah seorang monster?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai genks, kita lanjut dengan kisah anak Willy-Shiena yaitu Wilona ya?
Penasaran disini Wilona jadi siapa? Apakah dia masuk ke dalam rumah tangga Davin-Devina? Atau dia menemukan jodohnya sendiri?
Stay tune terus ya! 😘😘😘