Before Divorce

Before Divorce
Season Finale



Davin dan Wilona duduk berhadapan bersama dengan kuasa hukum masing-masing. Hari ini mereka memenuhi panggilan pengadilan untuk melakukan sidang mediasi dalam proses perceraian mereka.


Malam itu, mereka sepakat untuk berpisah. Mereka sadar jika ada yang aneh dengan pernikahan mereka. Mereka sama-sama mengakui kesalahan mereka. Cinta mereka tidak sekuat yang terlihat di depan orang-orang.


Sidang mediasi hari ini gagal, karena mereka tetap memilih untuk berpisah. Mereka keluar dari ruang mediasi dan menuju ke parkiran. Mereka datang menggunakan satu mobil. Dan pulang pun tetap dengan satu mobil yang sama.


Di rumahnya, Shiena amat sedih setelah mendengar kabar perpisahan putri semata wayangnya.


"Tenanglah, Bun. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka." Willy mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Bunda sudah mengira jika pernikahan mereka itu gak baik-baik saja. Dan ternyata benar." Shiena mengelus dadanya yang terasa sesak. Willy hanya bisa memeluk Shiena dan berusaha menenangkannya.


...***...


Malam harinya, Davin dan Wilona masih tidur dalam satu ranjang yang sama. Bagi mereka, melakukan yang terbaik sebelum berpisah adalah hal yang sudah disepakati bersama.


Wilona menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Mereka sama-sama masih terjaga dengan pikiran yang melayang ke arah yang berbeda.


"Seharusnya sejak awal kita gak perlu bertemu." Wilona membuka suara.


"Kamu benar." Davin menjawab singkat dan datar.


"Seharusnya kita gak perlu menikah kalau ujung-ujungnya kita akan bercerai."


"Kamu benar."


"Jika waktu bisa terulang lagi, sebisa mungkin kita jangan bertemu lagi."


"Kamu benar."


"Jika kita bertemu pun, jangan sampai kita menikah!"


"Kamu benar."


Wilona melirik Davin yang tak memberikan respon apapun.


"Sebaiknya kita tidur, Kak. Aku harap saat terbangun nanti, aku bisa mengubah jalan takdirku."


Wilona merebahkan diri dan menyelimuti tubuhnya. Matanya ia pejamkan dengan posisi membelakangi Davin.


Hingga beberapa saat berlalu, Davin yang berusaha memejamkan mata nyatanya belum bisa untuk terlelap. Davin memilih keluar dari kamar dan menghirup udara segar di taman dekat rumahnya.


Mata Davin mengedar mencari keberadaan kakek tua yang dulu pernah di temuinya. Namun ternyata malam ini hanya di isi kesunyian. Tak ada tanda bahwa kakek tua itu akan datang.


"Aku menyesali semuanya, Kek. Jika waktu bisa kuputar kembali, aku akan melakukan yang terbaik untuk pernikahanku dan Devina. Ini janjiku didepan Semesta."


Setelahnya Davin kembali ke rumah. Dari kejauhan si kakek tua hanya tersenyum mendengar gumaman Davin.


"Bukankah sudah kukatakan, kau akan menyesali apa yang kau lakukan, anak muda. Tapi ego manusia selalu saja tinggi. Sekarang kau tanggung sendiri akibatnya."


...***...


"Ayaaaaahh!"


Pagi hari itu Davin terbangun karena mendengar suara teriakan anak kecil yang memanggilnya ayah.


"Ayah, banguuun!" Sambil menggoyang-goyang tubuh Davin, anak kecil itu meminta Davin untuk membuka matanya.


"Astaga! Anak siapa ini?" Davin membuka mata dengan setengah sadar.


"Hah?! Darrel? Apa ini kamu, Nak?" Davin masih tak percaya jika dirinya kembali bertemu dengan Darrel, putranya.


"Ayah, katanya hari ini mau jalan-jalan ke taman hiburan. Ayo cepat bangun, Ayah!"


Davin masih terlihat bingung. Ia mengedarkan pandang ke seluruh penjuru ruangan. Itu adalah kamarnya. Kamar lamanya. Rumah lamanya.


"Ayaaaah!" Suara cempreng satu anak kecil lain membuat Davin tertegun. Itu adalah Misha. Misha yang belum lancar berjalan merangkak dengan cepat naik ke atas tempat tidur.


"Anak ayah!" Davin langsung menggendong Misha dan menciuminya dengan gemas.


"Kamu udah bangun, Mas?"


Suara khas yang sangat ia kenali menginterupsi kegiatan ayah dua anak itu.


"Devina? Kamukah itu?"


"Iya, ini aku, Mas. Ayo buruan mandi. Katanya mau ajak kita jalan."


Davin beranjak dari tempat tidur dan memeluk Devina.


"Aku sangat merindukanmu, Dev..."


Devina membalas pelukan Davin. "Perasaan baru ketemu tadi deh, kok udah kangen?"


"Hmm, maaf ya. Mulai sekarang aku bakal jadi ayah dan suami yang baik buat kamu dan anak-anak."


"Iya, aku percaya kok. Dari dulu aku selalu percaya kamu! Udah yuk, kasihan anak-anak nungguin kamu."


Davin segera melepas pelukannya dan melenggang menuju kamar mandi. Hari ini ia akan habiskan waktu bersama dengan istri dan kedua anaknya.


Di tempat yang berbeda, seorang gadis harus terbangun dari tidurnya karena pesawat yang ditumpanginya telah mendarat di bandara. Dialah Wilona.


Sambutan hangat langsung menyapa dari kedua orang tua Wilona.


"Ayah, Bunda!" Wilona memeluk dua orang terkasihnya.


"Sayang, gimana penerbangannya?"


"Lancar kok, Bun. Ayah sama Bunda kenapa repot-repot jemput aku di bandara segala?"


"Bunda kamu nih! Katanya udah kangen sama anak kesayangannya." Willy melirik Shiena yang terlihat mencebikkan bibirnya.


"Apaan sih, Ayah. Wilona kan anak kita satu-satunya. Apa salah kalau kita menyambut kedatangannya? Udah lama lho Wilona gak pulang ke rumah."


"Udah udah, jangan berantem. Ayo kita pulang ke rumah. Aku udah kangen sama kasur empukku!"


Wilona menggandeng tangan kedua orang tuanya. Sambil berjalan menuju parkiran mobil, mereka saling melempar candaan.


...***...


Davin menjalani harinya sebagai manajer di kantor cabang A. Kehidupan Davin kembali normal dan ia berjanji akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kecilnya.


Sore harinya, Davin keluar dari kantor dan dikejutkan dengan kehadiran seseorang.


"Wilona? Kamu disini?"


"Hai, Kak. Iya, aku baru saja kembali kemari. Gimana kabar kakak?"


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik. Kamu sendiri?" Davin terlihat santai bertemu dengan Wilona.


"Aku juga baik. Syukurlah kalau kakak baik-baik saja. Semoga saja dengan kembali ke masa ini, kakak bisa memperbaiki semuanya."


"Pasti! Aku pasti akan melakukan yang terbaik."


"Mas Davin!" Panggilan dari arah belakang membuat Davin dan Wilona menoleh.


"Maaf ya, Wilo. Aku harus pergi. Keluargaku sudah menunggu."


Wilona mengangguk. "Iya, Kak. Hati-hati. Semoga keluarga kakak selalu bahagia."


"Terima kasih. Kamu juga, Wilona. Kamu harus bahagia dengan cara kamu sendiri."


Davin melangkah pergi meninggalkan Wilona. Davin pergi bersama Devina dan kedua anak mereka. Rencananya hari ini mereka akan makan malam bersama di restoran.


Wilona ikut meninggalkan kantor Davin dan pergi menuju ke sebuah tempat yang pernah ia datangi bersama William. Entah kenapa Wilona ingin bertemu dengan William di masa sekarang.


"Bintang kecil, apa kamu tahu dimana dia sekarang? Apa aku akan bertemu dengannya? Apa takdir masih bisa berpihak padaku?"


Pertanyaan Wilona hanya menjadi suara yang terbawa angin malam. Wilona kembali pulang ke rumah setelah cukup lama menghabiskan waktu disana.


Keesokan harinya, Wilona bersiap untuk pergi ke kampus. Hari ini adalah hari pertamanya mengajar. Wilona cukup nervous menghadapi hari ini.


Bukan karena ia cemas menghadapi mahasiswanya nanti, melainkan karena ia berharap bisa bertemu dengan William di masa ini. Bisakah semesta berpihak pada mereka?


Wilona berjalan menyusuri jalan setapak kampus. Kenangan mengenai tempatnya menuntut ilmu dulu kembali menguar.


Wilona terdiam sejenak ketika menatap taman kampus yang pernah ia jadikan tempat untuk menyendiri.


"Apa aku bisa bertemu dengannya disini?"


Meski ragu, Wilona tetap melangkah menuju taman kampus. Wilona duduk sambil menikmati suasana kampus yang masih sepi. Wilona sengaja datang pagi agar bisa menikmati waktu ini.


Lima belas menit berada di taman, tidak ada apapun yang terjadi. Wilona memilih untuk menuju ke ruang administrasi lebih dulu.


Wilona mengurus beberapa dokumen pribadinya disana. Entah kenapa Wilona penasaran dengan data mahasiswa disana.


"Permisi, apa ada mahasiswa yang bernama William disini?"


Si petugas administrasi mengerutkan keningnya.


"Kenapa memangnya? Disini ada beberapa mahasiswa yang bernama William. Yang mana yang Anda maksud? Bisakah Anda sebutkan nama panjangnya?"


"Umm, kalau tidak salah... William Natasena."


"Ada apa mencariku?"


Suara dari arah belakang Wilona membuatnya terkejut. Wilona segera membalikkan badannya.


"William?" Wilona tertegun. Matanya berkaca-kaca menatap William yang benar-benar ada di depan matanya.


"Senang bertemu Anda lagi, Miss Wilona."


Senyum merekah ditampilkan kedua insan yang saling menatap dalam diam. Seolah dunia hanya milik mereka berdua, tanpa malu William mendekat dan memeluk Wilona.


"Aku mencintaimu, Wilona..."


...Waktu tidak akan bisa terulang lagi, maka dari itu lakukanlah yang terbaik untuk masa sekarang dan nanti...


...Ciptakan bahagiamu sendiri, bukan karena orang lain, tapi untuk dirimu sendiri...


...T A M A T...