Before Divorce

Before Divorce
Bab 18 - Bertemu Arya & Litha



Adegan berpelukan antara Shiena dan Willy terlihat oleh kedua sahabat Shiena yaitu Friska dan Anila. Mereka berdua merasa lega melihat kebersamaan Shiena dan Willy yang semakin membaik.


"Mungkin ini awal yang baik untuk mereka ya, Nil." Friska berharap Willy segera bisa diterima oleh Shiena.


Anila hanya menampilkan sebuah senyuman pada Friska. Entah apa yang dipikirkan oleh Anila saat ini. Ada sesuatu yang coba ia sembunyikan dari kedua sahabatnya.


Shiena kembali pulang ke rumah dengan perasaan yang lega. Ia berhasil meyakinkan Willy untuk berbaikan dengan ayahnya. Tapi, Shiena harus memastikan semuanya terlebih dahulu.


Hari ini Shiena sengaja pergi ke kantor milik ayah Willy. Meski Shiena tak tahu apa yang ingin dikatakannya nanti saat bertemu dengan Arya, niat Shiena adalah ingin membantu Willy.


"Selamat siang, Mbak. Bisa saya bertemu dengan Pak Arya?" tanya Shiena dengan sopan kepada resepsionis di kantor itu.


Shiena baru tahu ternyata kantor milik ayah Willy cukup besar. Willy harusnya bisa menggantikan ayahnya menjadi CEO jika saja mereka berbaikan sejak dulu.


"Apa nona sudah membuat janji sebelumnya?" tanya si resepsionis.


Shiena menggeleng. "Belum, Mbak. Tapi, saya ingin bicara hal penting sama Pak Arya. Ini mengenai putranya yang bernama Willy." Shiena mencoba meyakinkan si resepsionis.


Meski tampak mengerutkan keningnya, si resepsionis tetap menyampaikan pesannya pada sekretaris Arya. Sebenarnya ia bertanya-tanya siapakah putra yang dimaksud Shiena. Pasalnya selama ini yang mereka tahu jika Arya hanya memiliki satu anak perempuan saja.


Setelah si resepsionis menghubungi sekretaris Arya, ia menyampaikan pada Shiena jika gadis itu bisa langsung naik ke lantai 5 dimana ruangan Arya berada.


"Makasih ya Mbak," ucap Shiena dengan sopan. Lalu Shiena pergi ke lantai 5 seperti yang sudah dikatakan oleh si resepsionis.


Shiena menghela napas sebelum melangkah maju menuju ruangan Arya. Shiena mengetuk pintu dan muncullah seorang wanita yang ia yakini adalah sekretaris Arya.


"Silakan nona, Pak Arya sudah menunggu Anda."


Shiena mengangguk. Ia melangkah masuk. Sambutan hangat dari Arya yang menyunggingkan senyum membuat rasa gugup Shiena hilang.


"Silakan duduk!" ucap Arya.


Arya nampak memperhatikan sosok Shiena. "Hmm saya baru ingat, kamu adalah gadis yang datang bersama Willy sore itu kan?"


"I-iya, Om. Nama saya Shiena."


Arya mengangguk. "Kamu ... pacarnya Willy?"


"Eh? Bu-bukan, Om." Shiena tersenyum kikuk.


(Aku memang istri mas Willy, tapi bukan di masa sekarang)


"Tapi saya tahu kalo kalian cukup dekat. Meski saya jarang bertemu dengan Willy, tapi saya selalu mengawasi dia dari jauh."


Shiena menelan salivanya.


(Apa? Jadi, Om Arya tahu dong soal hubunganku dan mas Willy yang rumit itu...)


Shiena jadi tak enak hati dengan Arya.


"Saya senang kamu mau menemui saya. Hubungan saya dan Willy memang tidak sebaik hubungan ayah dan anak pada umumnya." Ada raut kesedihan di wajah Arya ketika bercerita tentang dirinya dan Willy.


"Makanya saya datang kesini, Om. Saya ingin Om dan mas Willy bisa berbaikan."


Arya nampak tersenyum. "Dengar, permasalahan kami tidak semudah yang kamu bayangkan."


"Kalau begitu ceritakan! Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga Om? Saya gak pernah bisa mengerti kenapa mas Willy gak bisa menerima keluarganya lagi..."


Shiena kelepasan. Shiena terbawa emosi. Ingatan masa depannya kembali hadir. Bagaimana dulu Willy bahkan tidak mau hadir di hari pemakaman Arya. Shiena tidak ingin Willy menyesali apa yang sudah terjadi untuk kedua kalinya. Shiena ingin Willy bisa menjalin hubungan layaknya ayah dan anak pada umumnya.


Arya berkaca-kaca mendengar pernyataan Shiena. Arya tahu jika gadis muda di depannya sangat peduli pada Willy dan juga sangat mencintainya.


"Terima kasih atas perhatianmu. Saya sangat berterimakasih, Shiena..."


Shiena keluar dari kantor Arya dengan hati yang bergemuruh. Shiena bisa melihat jika Arya sangat menyayangi Willy. Tapi, Shiena masih bingung apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Willy.


Saat tiba di lobi kantor, Shiena yang melamun malah bertabrakan dengan seorang wanita yang akan memasuki kantor.


"Ah, maaf. Saya gak sengaja," ucap Shiena sambil menunduk hormat.


Suara lembut wanita itu membuat Shiena membeku. Ia seakan mengenali suara wanita itu.


Ketika wanita itu melangkah kembali, Shiena baru sadar jika ia memang mengenal wanita itu.


"Tante Litha!" panggil Shiena.


Wanita itu menoleh dan menatap Shiena. "Ya?" Wanita itu bingung karena merasa tidak mengenal Shiena.


Wow, nampaknya hari ini Shiena sudah kelewat batas. Ia seakan tidak menyadari tindakan yang ia lakukan hari ini.


Litha menatap bingung dengan sikap Shiena yang kini malah terdiam.


"Maaf, Nona. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Shiena menggeleng lalu sedetik kemudian ia mengangguk. Litha makin dibuat bingung dengan tingkah Shiena.


"Tante, bisakah saya bicara dengan Tante? Sebentar saja!" pinta Shiena.


"Tapi saya harus menemui suami saya."


"Saya yakin Om Arya akan mengerti. Tolonglah!"


Meski tak yakin dengan Shiena, tapi Litha tahu jika Shiena adalah gadis baik-baik.


"Baiklah. Nama kamu..."


"Saya Shiena, Tante. Saya temannya kak Willy."


Mendengar nama anak sambungnya disebut Shiena, membuat Litha tertegun. Litha tahu jika gadis ini pasti sudah menemui suaminya.


Litha dan Shiena duduk berhadapan di sebuah kafe tak jauh dari kantor Arya. Shiena menatap Litha lekat. Kata-kata Willy di masa depan membuat Shiena berkaca-kaca.


Willy tidak pernah mengenalkan Litha secara langsung padanya. Shiena hanya mengenal Martha, adik Willy. Bahkan saat pernikahan mereka, Willy malah tak mengakui Litha dan Arya sebagai orangtuanya. Saat itu Shiena hanya berusaha memahami perasaan Willy. Shiena tahu Willy telah mengalami hal seorang diri, dan dia terbiasa untuk itu.


Namun kini Shiena tidak ingin Willy merasa sendiri seperti dulu. Shiena ingin mengubah semuanya. Takdirnya dan juga takdir Willy.


"Shiena..." Litha menggenggam tangan Shiena karena melihat gadis itu hanya diam.


"Eh? Iya, Tante. Maaf kalo aku melamun..." Shiena menggaruk tengkuknya.


"Kamu ... mengenal Willy?"


Shiena mengangguk. "Iya, Tante."


"Apa kalian dekat?"


Shiena menundukkan wajahnya. Rasanya terlalu malu jika mengakuinya sekarang di depan Litha.


"Saya tahu kamu tadi menemui suami saya. Sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan?"


Shiena menggigit bibir bawahnya. Shiena sadar jika dirinya sudah melibatkan diri terlalu jauh dengan masalah keluarga Willy.


(Tapi keluarga mas Willy adalah keluargaku juga kan? Di masa depan mereka juga orangtuaku sama seperti ayah dan bunda)


Shiena meyakinkan diri jika apa yang dilakukannya saat ini adalah untuk kebaikan semua orang terutama Willy.


"Shiena? Kok malah melamun lagi?"


"Eh, ma-maaf, Tante. Sebenarnya aku... aku tahu ini tidak sopan, tapi aku hanya ingin membantu kak Willy untuk bisa berbaikan dengan kalian..."


Tanpa Shiena bisa duga, ternyata Litha tersenyum haru mendengar keinginan Shiena. Sekali lagi Shiena mendapatkan ucapan terima kasih dari Litha.


"Tante, maaf. Apa aku... boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kak Willy dan kalian? Maaf jika aku lancang, tapi...aku gak mau menyalahkan kalian di masa depan jika memang kalian tidak bersalah."


Litha menghela napas. Bertahun-tahun tidak ada yang pernah bertanya pada dirinya, tentang bagaimana perasaannya, tentang bagaimana ia menjalani kehidupannya selama ini. Mereka semua hanya memandang Litha sebagai istri kedua, dan wanita perebut suami orang.


"Baiklah, Tante akan ceritakan semuanya padamu. Setelah itu, terserah apakah kamu akan percaya pada Tante atau tidak..."