
Sesampainya di rumah, Leon dan Leo sangat bersemangat untuk melihat barang apa saja yang di kirim dari Paris, apalagi barang itu milik Paman meraka yang sudah meninggal, yang bahkan belum pernah mereka lihat sekalipun.
Ryan mengirimkan beberapa barangnya, termasuk koleksi jam, sepatu, tas dan sebagainya, juga beberapa lukisan yang pernah Alira lihat di apartement Ryan dulu.
"Wah, Om Ryan seperti Leo ya, Ma. Suka melukis," kata Leo dengan antusias.
"Benar juga," gumam Alira.
"Keponakan siapa dulu...." Alira langsung menoleh saat mendengar suara Ryan, ia melihat pria itu yang sedang menyenderkan punggungnya di dinding dan ia mengedipkan matanya pada Alira. Alira hanya terkekeh kemudian ia membuka sebuah lukisan yang berukuran cukup besar.
"Wow...." gumam Alira saat melihat lukisan itu.
"Wah, ini Tante Viona...." pekik Leon dan Leo bersamaan. "Ma, apa Tante Viona istrinya Om Ryan?" Tanya Leon penasaran.
Alira melirik Ryan dan Ryan hanya mengedikan bahunya. "Seharusnya begitu," jawab Alira kemudian.
"Sepertinya malam ini kita ke rumah Tante Viona dan memberikan hadiah ini, dia pasti sangat senang," tukas Alira kemudian.
"Baik, Mama...." jawab Leo sambil tersenyum sumringah.
"Kamu selalu senang kalau mau ketemu Tante Viona, aneh," sinis Leon.
"Bilang saja kamu iri, karena Tante Viona lebih sayang aku," ejek Leo.
"Hey, tidak boleh seperti itu," sela Alira dengan cepat. "Mama sama Tante Viona sangat mencintai kalian, tidak ada yang lebih di utamakan, baik dalam cinta ataupun perhatian. Dan sebagai saudara, Mama harap kalian juga saling mencintai, tidak boleh iri satu sama lain. Harus saling menjaga...." Alira mendongak dan ia melihat bayangan Daniel juga Ryan dalam halusinasinya.
"Seperti Papa dan Om kalian, meraka bukan saudara kandung apalagi kembar seperti kalian. Tapi mereka saling mencintai, saling menghormati, saking mendukung satu sama lain."
Leon dan Leo menoleh, mengikuti arah pandang sang Mama namun mereka tidak melihat apapun, beda halnya dengan Alira yang justru melihat Daniel dan Ryan tersenyum padanya.
"Baik, Mama." sepasang anak kembar itu kembali menjawab bersamaan.
"Sekarang sebaiknya kalian mandi dan kita pergi ke rumah Tante Viona setelah itu."
.........
Viona menyambut kedatangan Alira dan si kembar dengan hangat, dan ia mengernyit bingung saat melihat si kembar membawa sesuatu yang tampaknya cukup berat.
"Meraka maksa mau bawa sendiri," kata Alira.
"Memang apa itu?" Tanya Viona penasaran.
"Hadiah dari Ryan," jawab Alira sambil tersenyum.
Viona tercengang melihat lukisan Ryan yang ini karena sebelumnya ia tidak pernah melihatnya.
Di lukisan itu, Viona sedang tertidur di sofa memakai kemeja Ryan dengan sebuah buku di tangannya.
"Dia melukisku diam-diam," gumam Viona penuh haru.
"Kamu sangat cantik di sini," kata Alira.
"Lukisan dia yang cantik," ucap Viona sambil terkekeh.
"Sayang, kalian main sana, Mama mau bicara sama Tante Viona," tukas Alira dan anak-anak itu pun langsung berlari ke ruang tengah, dimana disana memang sudah ada mainan meraka.
"Viona, kamu yakin Ryan tidak bisa punya anak?" Tanya Alira dengan wajah serius.
"Kenapa?" Viona balik bertanya dengan bingung.
"Karena sikap Leo mirip sekali dengan Ryan, bahkan dia seperti menuruni bakat Ryan, dia bisa melukis dan suka melukis," tukas Alira.
"Anakmu dan Daniel mirip Ryan mungkin karena kamu dan Daniel sama-sama menyayangi Ryan, sebagai adik, tentunya," ucap Viona sambil terkekeh. "Dan kalau memang Ryan bisa punya anak, aku sudah pasti hamil anak dia."
Alira terdiam sejenak, hingga ia merasakan sebuah sentuhan di pundaknya.
"Dia buah cinta kita, Sayang. Jangan ragukan itu," ucap Daniel dan Alira mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau kamu masih ragu, lakukan saja tes DNA," tukas Viona.
"Tidak, aku yakin Leon dan Leo anakku dan Daniel," jawab Alira yakin.
"Baiklah, sekarang sebaiknya temani aku masak untuk makan malam." ajak Viona dan Alira pun mau-mau saja.
Viona dan Alira masak bersama, tentu dengan si kembar yang tak berhenti merecoki mereka.
Bahkan, kini si kembar mengeluarkan semua barang dari kulkas Viona yang membuat Alira harus mengomel marah.
Walaupun begitu, ke empat orang itu tampak sangat bahagia, meskipun ada bagian yang sangat penting dalam hidup mereka telah hilang.
Tapi, inilah hidup. Tak akan ada yang sempurna, takkan pernah menjadi yang sempurna. Dan semua keputusan yang telah di ambil, ada harga yang harus di bayar yang sepantasnya.
Kini, baik Alira maupun Viona harus memulai semuanya dari awal kembali. Menata kehidupan meraka yang lebih baik dan lebih bermakna, mengambil pelajaran dari masa lalu yang begitu pahit dan menyedihkan, pelajaran yang sangat berharga dan mahal.
...Tamat...